Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lawan dan Lenyapkan (2)
**
Kemampuan kayu milik Elle muncul setelah ia diselamatkan. Kali ini kembali, dengan adanya kesempatan, sekalian saja ia picu lebih awal kemampuan khusunya tersebut. Ditambah ruang yang ia bawa dari dunia kuno, kini ia punya dua kemampuan yang bisa membawanya melewati hari-hari kiamat ini dengan lebih aman.
Pada saat ini, semua orang bangun satu persatu. Bersiap dengan masing-masing senjata yang sebelumnya dirampas dari orang-orang jahat yang terbunuh. 3 orang membawa ransel, kecuali Luca dan Elle hanya membawa diri sendiri dan senjata tanpa ada tambahan ransel.
Luca yang memegang pisau buah yang sama dengan 3 orang laki-laki lainnya. Menatap pisau tersebut dengan penuh penyesalan. Kemudian matanya menatap pedang Elle, dan pisaunya bergantian hingga akhirnya melengos menghela pelan tanpa sepengetahuan yang lain.
"Sesuai rencana sebelumnya, aku akan masuk lebih dulu dan kalian tunggu arahan dariku. Jika dalam waktu 10 menit tidak ada tanda-tanda dariku, kalian harus keluar dari gedung secepatnya. Paham?!" Ucap Elle dengan nada serius, suaranya lebih berat dan tajam seolah ia masih menjadi seorang prajurit yang memberi arahan pada bawahannya.
"Kak" Panggil Darrion dengan tatapan tidak rela. Ia banyak menentang ide Elle sebelumnya, amat sangat keberatan dengan rencana di awal ini karena kakaknya yang seorang perempuan malah memimpin 4 orang laki-laki dibelakangnya.
Elle menggelengkan kepalanya, tersenyum tipis. "Dengarkan aku." Ucap Elle serius, membuat Darrion menahan ucapan lain yang hendak keluar dari mulutnya. Ditambah, dari belakang Luca menepuk bahunya pelan, memberi kode agar ia membiarkan Elle masuk.
Entah kenapa, ia percaya pada kemampuannya. Rencana yang dibuat tidak akan gagal, hanya akan berhasil dengan baik. Kalaupun gagal, Elle punya kemampuan khusus yang bisa membantunya melarikan diri. Dan hal inilah yang membuat Luca yakin akan kepemimpinan sesaatnya ini.
"Hati-hati, ada lebih dari 10 orang di lantai 6. Lantai 5 tidak terlihat." Ucap Luca. Membuat Elle dan 3 lainnya mengernyit.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Elle, ia punya beberapa tebakan saat ini.
Luca mengedikkan bahunya. Membuat Elle melengos sebal. Ia kemudian membuka pintu lantai 6 dari tangga darurat yang menghubungkannya dengan lantai 7. Meninggalkan 4 orang lainnya dibalik pintu.
"Cepat, cepat! Lempar kartunya!"
"Haha, kau tidak mau melempar kartumu apakah karena kau tahu kau akan kalah?"
"Tidak! Jangan sok tahu!"
"Hehe, lalu kau bisa keluarkan kartumu itu?"
"Tunggu, bukankah ini gilirannya?"
"Eh benarkah?"
"Ah sudahlah, cepat main. Permainan hampir selesai, satu botol air dan mie instan ini, aku tidak
sabar memenangkannya!"
"Cih! Makanan seperti ini, sebelum kiamat datang aku bahkan tidak meliriknya."
"Yah, dunia benar-benar mempermainkan kita."
"Apa katamu? Bukan, bukan, dunia ini memperingatkan kita. Terlalu sombong di masa lalu, sepertinya hari ini adalah apa yang manusia tuai dari perbuatannya di masa lalu yang semena mena terhadap alam."
"Hei, jangan merasa suci."
"Aku hanya bicara fakta. Bukankah hal ini wajar saja? Apa yang suci? Aku bahkan sudah meniduri anak-anak itu kemarin, hahaha!"
"Bajingan! Bagaimana rasanya?"
"Yo! Kau sama saja! Dasar bajingan, hahaha!"
Elle yang mendengar percakapan menjijikkan ini, langsung beraksi dengan kedua mata yang penuh kekejaman. Manusia-manusia ini sama sekali tidak pantas hidup. Sungguh, selain kanibalisme kekerasan seksual juga lumrah dilakukan di akhir dunia. Hilangnya moral dan meluapnya keserakahan dihati manusia yang mendasarinya, sebab hukum dan norma didunia sudah tidak berfungsi lagi.
Elle memasukkan pedangnya ke dalam ruang. Sebagai gantinya, ia mengeluarkan belati. Kemudian mengerahkan kemampuan khususnya untuk mengikat para bajingan dihadapannya. Yang bermain kartu ada sekitar 8 orang. Sedangkan sisanya adalah yang berpatroli dan tidur disisi kosong lainnya.
Ke 8 orang ini sama sekali tidak berkutik bahkan untuk sekedar meminta tolong. Mulut dan badanya diikat. Elle juga tidak ingin membiarkan mereka mati dengan mudah. Jadi selain mengikat dan perlahan mengencangkan ikatannya sampai tubuh mereka kesakitan. Elle juga maju dengan belatinya, ia menusuk sana sini sehingga darah mulai bercucuran.
Elle tersenyum dengan mata gelap. "Bajingan tidak pantas hidup." Desisnya. Kemudian mengakhiri hidup orang terakhir sesegera mungkin. Karena orang lainnya mulai sadar akan keanehan dari 8 orang yang bermain kartu, yang tidak lagi berisik.
Elle beralih pada orang-orang yang berpatroli. Ada 4 orang, dan ia langsung membungkamnya denga kemampuan kayunya. Sama persis seperti 8 orang yang bermain kartu sebelumnya. Tapi Kali ini, Elle tidak repot-repot dengan belatinya. Ia langsung membunuh keempatnya dengan kemampuan khususnya.
Membiarkan kemampuan khususnya bekerja, Elle berbelok ke arah kanan, dimana orang-orang yang tertidur didepan sebuah ruangan terlihat. Dua orang laki-laki, seolah sedang menjaga ruangan tersebut agar tidak dimasuki orang. Elle tidak tahu apa yang ada didalam. Sebab di kehidupan sebelumnya ia yang paling akhir diselamatkan karna berada dilantai 8 sendirian.
Keduanya tidur, yang memudahkan Elle. Ia lantas menyayat leher dua orang ini, yang tidak sempat sadar akan situasi yang menimpanya. Langsung terjatuh ke lantai dengan darah muncrat dari lehernya.
Sebelum memasuki ruangan, Elle menatap setiap mayat yang dibunuhnya dengan tatapan dingin. Tidak ada rasa kasihan sama sekali. Elle terlihat kejam, dan berdarah dingin. Seolah hatinya sudah mati. Tapi siapapun yang berada diposisinya, jika punya kemampuan yang sama dengannya, pasti akan melakukan hal yang sama. Apalagi dikehidupan sebelumnya ia tidak berhasil membalas dendam pada orang-orang ini.
Elle berbalik dan membuka pintu perlahan. Kedua matanya sedikit berbinar menatap tumpukan perbekalan didepannya. Meski tidak terlalu banyak, tapi makanan di hari kiamat adalah penyelamat nyawa. Khususnya air yang sebelum kiamat datang, sering dihamburkan.
"Sisakan beberapa mie instan, air mineral, dan coklat bar. Sisanya aku simpan. Khususnya generator, 2 kompan bensin, dan kebutuhan sehari-hari yang tidak menarik perhatian ini." Ucapnya senang, kemudian melambaikan tangannya, membuat barang-barang seketika menghilang.
Disisi lain, waktu sudah mencapai 10 menit. Tiga orang dibalik pintu merasa cemas, karena Elle tidak kunjung memberi tanda. Apalagi, dibalik pintu tidak terdengar suara apapun lagi. Berbeda dengan Luca yang terlihat biasa saja dengan raut tanpa ekspresinya.
"Ayo masuk dan lihat." Ucap Luca kemudian membuka pintu tanpa menunggu ketiganya bereaksi. Membuat ketiganya bertatapan sebelum akhirnya mengikuti jejaknya.
Begitu masuk, terlihat aula lantai 6 sudah dipenuhi dengan darah. Mayat beberapa orang bergeletakan tak beraturan. Meski sudah membunuh sebelumnya, khususnya Darrion dan paman Jergh mulai muntah ditempat. Berbeda dengan Sam yang sudah berpengalaman menghadapi situasi tersebut.
Elle yang mendengar suara muntahan, seketika tertawa geli. Ia kemudian keluar dari ruangan dan menatap keempatnya dengan tangan yang bersedekap. "Kemarilah, ambil perbekalan." Ucapnya to the point. "Biasakan dirimu, kedepannya akan lebih buruk daripada ini." Lanjutnya seraya menyunggingkan sudut mulut kirinya.
Benar, kedepannya akan lebih buruk. Karena yang akan mereka hadapi dan bunuh bukan hanya manusia-manusia bajingan, tapi juga hewan, tumbuhan, dan zombie yang baunya sangat busuk.
Di awal, jika belum terbiasa, muntah seperti itu akan sangat wajar. Tapi lama kelamaan, semua orang akan terbiasa dengannya. Bagaimanapun, manusia harus cepat beradaptasi dengan keadaan jika memang ingin hidup lebih lama.
**