Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Hutan Belantara
Alih-alih menyewa ballroom hotel yang pengap dengan dinding beton, Viona dan Noah memilih sebuah hutan pinus privat di pinggiran kota. Pohon-pohon besar yang menjulang tinggi menjadi saksi alami, dengan ribuan lampu fairy lights yang menggantung di antara dahan, menciptakan atmosfer yang seolah keluar dari negeri dongeng.
Dekorasi serba putih, mulai dari bunga peony sampai kursi kayu yang dipoles cantik, menyatu sempurna dengan warna hijau lumut dan cokelat tanah. Sangat kontras dengan Viona yang tampak seperti dewi hutan dalam balutan gaun putihnya, dan Noah yang terlihat sangat... "mahal" dengan tuxedo hitamnya.
Mereka berdiri berdampingan, menyalami tamu dengan senyum yang dipoles sedemikian rupa sampai-sampai Viona merasa otot pipinya mau kaku.
“Tebakan gue bener, kalian bakal nikah!"
Suara itu milik Zayn. Teman sepermainan mereka yang paling berisik sejak zaman TK. Dia datang dengan setelan jas yang kancingnya dibuka satu, gayanya tetap saja sok keren seperti biasa.
“Ya daripada repot-repot kenalan sama orang baru, Zayn. Capek tau harus deep talk dari awal lagi," jawab Viona santai sambil menyandarkan kepalanya sebentar ke bahu Noah, akting istri penurut dimulai.
“Kayak lo tuh, cari pacar sampai ke benua lain, tapi tetep aja manusia berkhianat, kan? Ujung-ujungnya balik ke sini jomblo juga."
Zayn langsung memegang dadanya, pura-pura kena serangan jantung. "Gila lo! Kesempatan banget ya ngeledek masa lalu kelam gue di hari bahagia lo."
Noah yang sedari tadi diam hanya mendengus geli.
“Fakta emang pahit, Zayn. Makanya gue pilih yang pasti-pasti aja," timpal Noah sambil melirik Viona sekilas. Ada kilatan aneh di matanya yang bikin Viona mendadak salah tingkah.
“Dih, 'yang pasti-pasti aja' kata lo?" Zayn tertawa kencang, nggak peduli sama tatapan tamu undangan lain. "Hati-hati, Noah. Yang pasti-pasti kayak Viona ini biasanya yang paling bikin pusing kalau udah di rumah nanti. Gue doain rumah baru kalian nggak roboh gara-gara kalian berantem soal remote TV."
“Tenang aja, Zayn. Kalau Noah macem-macem, gue tinggal kunciin dia di luar dan biarin dia tidur bareng angsa di danau rumah baru kita," balas Viona enteng.
Zayn menggeleng-gelengkan kepala. "Gila. Belum juga lima jam sah, udah ada rencana KDRT psikis. Gue cabut dulu deh, mau cari makan sebelum denger rencana jahat lo yang lain."
Setelah Zayn pergi, Noah berbisik tepat di samping telinga Viona, "Kunciin gue di luar? Yakin lo berani tidur sendirian di rumah segede itu?"
Musik beralih ke tempo yang lebih lambat dan elegan. Lampu-lampu fairy lights di antara pohon pinus meredup, menyisakan cahaya temaram yang hangat. Noah melingkarkan tangannya di pinggang ramping Viona, sementara Viona meletakkan tangannya di bahu Noah dengan gerakan yang sangat alami.
Mereka mulai bergerak. Satu langkah, dua langkah, selaras.
Noah menunduk, menatap wajah Viona yang tertimpa cahaya bulan. Ternyata, selama puluhan tahun mengenal gadis ini, Noah baru sadar kalau ada binar di mata Viona yang nggak pernah dia perhatikan sebelumnya.
'Nggak pernah terbesit di pikiran gue kalau harus berdansa kayak gini sama lo di hari pernikahan,' batin Noah.
Pikiran Noah melayang ke masa lalu. Dulu, mereka mungkin berdansa karena terpaksa saat acara ulang tahun kolega orang tua mereka, atau sekadar rebutan mainan sampai jatuh bangun di lantai. Tapi sekarang? Tangan yang dia genggam ini bukan lagi tangan teman masa kecil yang suka minta digendong, melainkan tangan seorang istri.
Tidak pernah juga terbesit di pikirannya kalau mulai malam ini, dia akan berbagi satu rumah, satu atap, bahkan mungkin satu kehidupan dengan sahabat sejak belum lahirnya itu.
“Kok bengong?" bisik Viona, suaranya membuyarkan lamunan Noah. "Ganteng sih, tapi jangan sambil ngelamun juga. Malu tuh diliatin Mama Rose, dikira lo nyesel nikah sama gue."
Noah terkekeh pelan, menarik tubuh Viona sedikit lebih dekat sampai jarak di antara mereka nyaris hilang. "Gue cuma mikir, gimana nasib rumah baru kita besok. Bakal tetep utuh atau langsung berantakan gara-gara barang-barang lo?"
Viona mencibir, tapi dia nggak menjauh. Malah, dia menyandarkan dahinya di bahu Noah sambil terus mengikuti irama musik. "Tenang aja. Gue bakal jadi teman sekamar yang baik... selama lo nggak pelit kartu kredit."
Noah menggelengkan kepala. Di tengah romansa yang mulai tumbuh, Viona tetaplah Viona yang oportunis. Tapi anehnya, Noah sama sekali nggak merasa keberatan.
———
Setelah acara pernikahan yang melelahkan tapi indah, Noah mengemudikan mobil menuju rumah baru mereka. Mansion di bukit dengan danau pribadi itu tampak lebih megah di malam hari, dengan lampu-lampu taman yang memantul di permukaan air.
Begitu masuk ke dalam, Viona langsung terkesima.
Interiornya minimalis modern, tapi setiap sudut terasa hangat dan nyaman. Namun, rasa lelah mengalahkan rasa kagum. Viona langsung melemparkan dirinya ke ranjang super besar di kamar utama.
“Capek banget," gerutu Viona, merentangkan tangan dan kakinya di atas seprai putih bersih itu. Aroma lily dari gaun pengantinnya masih samar-samar tercium.
Noah menghela napas, melihat Viona yang bahkan belum sempat melepas veil di kepalanya. "Buka dulu gaun lo, Vio. Yang ada ranjangnya berpasir. Lo lupa kita nikah di hutan belantara?"
Viona mendengus, mencoba meraih resleting gaunnya di punggung. Tapi gaun ketat itu membuat gerakannya terbatas. "Yaudah bantu deh. Resletingnya di belakang, gue nggak sampai."
Noah terdiam sejenak. Baginya, tidur sekamar dengan Viona bukanlah hal yang aneh. Sejak kecil, saat mereka liburan keluarga atau Viona lagi ngambek di rumahnya, mereka sering tidur di kamar yang sama tentu saja dengan ranjang terpisah atau Noah yang tidur di sofa. Tapi ini... berbeda. Ini bukan lagi Viona si anak kecil yang ngambek.
Noah melangkah mendekat. Viona membalikkan punggungnya, membiarkan Noah membuka resleting gaunnya. Jantung Noah mendadak berdebar di luar kendali. Tangannya gemetar sedikit waktu menyentuh resleting dingin itu.
Sreett.
Resleting itu terbuka perlahan, memperlihatkan punggung mulus Viona yang tidak tertutup kain lagi. Kulitnya putih bersih, dengan tulang belikat yang samar-samar terlihat. Ada sedikit bekas tan line dari gaun minim yang sering Viona pakai, tapi itu justru menambah kesan sensual.
Untuk pertama kalinya, Noah melihat punggung Viona sedekat dan sejelas ini. Wangi parfum Viona yang manis dan lembut langsung menyeruak, memabukkan indra penciumannya. Viona berdiri tenang, seolah nggak menyadari betapa Noah menahan napasnya.
“Udah?" tanya Viona pelan, sedikit menoleh.
Noah berdehem, berusaha menguasai dirinya. "Udah. Lain kali jangan pilih gaun yang resletingnya susah digapai sendiri," ucap Noah, suaranya sedikit serak. Dia cepat-cepat memalingkan muka, mengambil bathrobe sutra yang tergantung di belakang pintu dan melemparkannya ke Viona.
Viona menangkap bathrobe itu dan segera memakainya. Dia sama sekali tidak menyadari betapa detak jantung Noah baru saja balapan maraton.
"Gue mandi duluan," kata Noah, berjalan cepat ke kamar mandi yang terhubung langsung dengan kamar utama. Meninggalkan Viona yang kini sudah melepas gaun pengantinnya, berdiri di tengah kamar, dan bertanya-tanya kenapa Noah mendadak buru-buru.