NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 MELAMPAUI BELAS KASIHAN

Udara di ketinggian ini tidak lagi memiliki partikel air, ia kering, tajam, dan steril. Setiap embusan angin terasa seperti amplas yang mencoba mengikis lapisan kulit terakhir dari wajah Abimanyu. Di sini, di zona yang tidak lagi mengenal kompromi, matahari bersinar dengan cahaya yang putih dan kejam, tanpa kehangatan. Abimanyu berdiri di sebuah lorong cadas yang sempit, di mana di sisi kirinya adalah dinding tegak lurus yang seolah menyentuh bintang, dan di sisi kanannya adalah jurang tak berdasar yang menelan segala suara.

Tiba-tiba, dari arah bawah, terdengar sebuah rintihan.

Itu bukan suara angin, juga bukan desisan ular. Itu adalah suara manusia—suara yang sangat dikenal Abimanyu, suara yang membawa beban dari Lembah Nama. Abimanyu berhenti. Di sebuah ceruk sempit beberapa meter di bawah jalurnya, ia melihat sesosok bayangan yang meringkuk gemetar.

Ia menunduk dan tertegun. Sosok itu tampak seperti Dr. Hardi, atau mungkin refleksi dari setiap asisten dosen dan mahasiswa yang pernah menatapnya dengan mata memohon di ruang kuliah. Wajah sosok itu pucat pasi, matanya berair karena ketakutan, dan jemarinya yang tipis mencengkeram batu dengan rapuh, seolah-olah ia adalah selembar kertas yang hampir robek oleh badai.

"Profesor... tolong saya," rintih sosok itu. Suaranya adalah musik dari kelemahan yang murni. "Jangan tinggalkan saya di sini. Tempat ini terlalu dingin. Saya tidak memiliki api. Saya hanya ingin kembali ke bawah, ke tempat yang aman. Tarik saya, Profesor. Berikan tangan Anda."

Abimanyu merasakan sebuah getaran hebat di dadanya—sebuah insting purba yang disebut Belas Kasihan. Selama puluhan tahun, identitasnya dibangun di atas konsep "Melayani" dan "Membimbing". Ia adalah seorang Guru, dan seorang Guru tidak pernah meninggalkan yang lemah. Belas kasihan adalah jubah paling indah yang pernah ia kenakan di universitas, itu memberinya rasa superioritas yang manis.

"Tarik dia," bisik nuraninya yang lama. "Jadilah pahlawan bagi yang menderita. Itulah yang membuatmu menjadi manusia yang baik."

Namun, di saat yang sama, Elang di dalam jiwanya memekik nyaring. Mata elangnya melihat sesuatu yang berbeda. Ia melihat bahwa tangan yang memohon itu sebenarnya adalah jangkar yang akan menariknya jatuh kembali ke dasar jurang.

"Lihatlah mata itu, Abimanyu!" bisik Elang Kehendak. "Itu bukan mata yang ingin mendaki. Itu adalah mata yang ingin menghentikan pendakianmu. Belas kasihan adalah neraka terkecil bagi setiap pencipta. Jika kau turun untuk menyelamatkannya, kau hanya akan memberikan satu hari lagi bagi kelemahannya, dan kau akan kehilangan selamanya puncakmu."

Abimanyu menatap sosok itu tanpa ekspresi. "Apa yang kau bawa untuk mendaki?" tanya Abimanyu, suaranya terdengar asing bagi telinganya sendiri—dingin dan objektif.

"Saya tidak bawa apa-apa," jawab sosok itu sambil terisak. "Saya hanya punya ketakutan saya. Saya hanya punya rasa sakit saya. Bukankah itu cukup untuk membuat Anda kasihan? Bukankah Anda mengajarkan bahwa kita harus saling membantu?"

"Di lembah, ya," jawab Abimanyu. "Di lembah, kami saling membantu agar kami tidak perlu merasa sendirian dalam ketidakmampuan kami. Kami menyebutnya 'solidaritas', padahal itu adalah konspirasi orang-orang gagal untuk menahan siapa pun yang ingin terbang. Kami memuja rasa sakit karena kami terlalu takut untuk mencari kekuatan."

Abimanyu menyadari sebuah kebenaran yang mengerikan: belas kasihan adalah bentuk penghormatan terhadap penderitaan, bukan terhadap kehidupan. Dengan mengasihani orang ini, Abimanyu sebenarnya sedang memvalidasi bahwa kelemahan adalah sesuatu yang pantas untuk dipelihara.

"Belas kasihan adalah racun yang paling halus," gumam Abimanyu. "Ia membunuh sang penolong dengan beban yang tidak perlu, dan ia membunuh yang ditolong dengan membiarkannya tetap menjadi korban."

Sosok itu mulai meratap lebih keras, menggunakan senjata terakhirnya: rasa bersalah. "Anda kejam, Profesor! Anda telah kehilangan kemanusiaan Anda! Anda lebih buruk daripada batu-batu ini!"

Abimanyu tertawa, sebuah tawa yang sekeras granit. "Kemanusiaan yang kau bicarakan adalah kemanusiaan 'Manusia Terakhir'. Kemanusiaan yang hanya ingin kenyamanan, keamanan, dan ketiadaan risiko. Jika 'menjadi manusia' berarti harus berhenti mendaki karena ada seseorang yang menolak untuk melangkah, maka aku memilih untuk menjadi sesuatu yang melampaui manusia."

Ia teringat bagaimana di universitas, kebijakan-kebijakan sering kali dibuat untuk memanjakan mereka yang tidak mau berusaha, atas nama "inklusivitas" atau "keadilan". Hasilnya bukan mengangkat yang lemah, melainkan menarik yang kuat ke bawah hingga semuanya menjadi rata dalam lumpur mediokritas.

"Kau ingin aku menarikmu?" tanya Abimanyu. "Jika aku menarikmu, kau akan tetap menjadi manusia yang butuh ditarik. Kau akan membenciku karena kekuatanku, dan kau akan menjadikanku budak dari kebutuhanmu. Aku tidak mencintaimu, wahai Manusia Kertas. Aku mencintai apa yang kau bisa menjadi jika kau berani melepaskan rintihanmu."

"Enyahlah dari pandanganku, wahai Belas Kasihan!" Abimanyu berteriak ke arah cakrawala. "Aku tidak akan membiarkan jari-jarimu yang dingin mencekik kehendakku!"

Ia menyadari konsep Nietzsche tentang Fernstenliebe—cinta pada yang terjauh, cinta pada manusia masa depan, cinta pada potensi tertinggi. Untuk mencintai manusia masa depan, ia harus berani menjadi "tidak manusiawi" terhadap manusia masa kini yang merangkak.

Ia tidak memberikan tangannya. Ia justru mengencangkan tali sepatunya dan berdiri tegak, memunggungi sosok yang meratap itu.

"Jika kau ingin selamat, mendakilah dengan kakimu sendiri!" kata Abimanyu tanpa menoleh. "Atau jatuhlah ke jurang itu dan jadilah abu yang jujur. Aku tidak akan menjadi jembatan bagi kemalasanmu. Aku hanya akan menjadi jembatan bagi mereka yang memiliki keberanian untuk menyeberang."

Saat Abimanyu melangkah pergi, rintihan di bawah sana berubah menjadi kutukan yang benci. Itu adalah bukti terakhir bahwa belas kasihan sering kali hanyalah topeng dari keinginan untuk menguasai melalui kelemahan.

Abimanyu merasa pundaknya yang tadinya tegang kini menjadi sangat ringan. Beban moralitas "Guru" yang harus menyelamatkan semua orang telah pecah. Ia kini bukan lagi seorang pelayan, ia adalah seorang penguasa atas jalannya sendiri.

"Hati yang paling keras adalah hati yang paling mencintai kehidupan," pikirnya. "Karena ia tidak membiarkan kehidupan itu membusuk dalam rawa belas kasihan. Aku harus menjadi lebih dingin agar apiku tetap murni."

Matahari kini berada di titik yang paling menyengat, namun Abimanyu tidak lagi merasa terbakar. Ia telah melampaui belas kasihan, sebuah sentimen yang paling manusiawi namun paling mematikan bagi sang Übermensch. Di depannya, Tebing Kehendak semakin curam, namun ia mendakinya dengan ketenangan seorang dewa yang baru saja lahir dari reruntuhan moralitas manusia.

Ia meninggalkan rintihan itu jauh di belakang, hingga suara itu hanya menjadi desau angin yang tak berarti. Langkahnya kini memiliki irama yang absolut, tidak lagi ragu karena bayangan orang lain. Ia telah mengubur sang Guru, dan kini, hanya sang Pendaki yang tersisa—dingin, kuat, dan tidak terhentikan.

1
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!