Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'
Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.
Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Perlahan Sembuh
...Happy Reading^^...
...💮...
"Baiklah! Bibi akan memulai kembali pengobatannya ya!" ucap Edelweiss yang telah bersiap akan mengedar kekuatan penyembuhnya kepada keponakan perempuannya itu.
Azalea mengangguk sebagai jawaban. Kini di kamarnya hanya terdapat dirinya, Edelweiss dan dua pelayan yang memang ditugaskan untuk menjaga Azalea.
Aliran kekuatan berwarna hijau masuk ke tubuh Azalea dan memberikan rasa dingin dan nyaman. Kekuatan penyembuh milik Edelweiss bukan hanya berpengaruh terhadap penyembuhan tubuh Azalea saja, tapi juga mempengaruhi hati dan pikiran Azalea yang diberikan ketenangan.
Cukup lama pengobatan kali ini membuat Azalea hampir tertidur jika tidak mendengar seruan dari Edelweiss.
"Nah, sayang! Pengobatan siang ini selesai sampai ini!" seru Edelweis dengan ceria.
Azalea mengerjapkan matanya yang sudah mengantuk, dia menoleh pada Bibinya yang berteriak.
"Nah sekarang, Bibi bantu kamu untuk duduk!" Azalea tidak mendengar perintah Edelweiss dengan jelas karena masih mengantuk, dia mengerjapkan mata berusaha untuk menghilangkan rasa ngantuknya.
Edelweiss membantu Azalea untuk duduk, sementara Azalea hanya menuruti saja perintah Edelweiss tanpa berpikir karena dia masih mengantuk.
Punggung Azalea yang biasanya menempel ke kasur, kini diangkat oleh Edelweiss dan Azalea dibawa untuk menyanderkan punggungnya ke kepala kasurnya.
Azalea butuh beberapa menit untuk sadar apa yang terjadi pada dirinya. Sementara Edelweiss senang dengan perubahan besar pada Azalea.
"Nah, selamat sayang! Karena sekarang kamu mulai bisa menggerakkan tubuhmu tanpa merasakan sakit lagi. Seperti sekarang, kamu bisa menyanderkan punggungmu tanpa merasakan sakit sedikit pun, kan?"
Azalea masih terkejut, mulut dia terbuka sedikit saking syoknya dengan mata yang sedikit terbelalak. Dia menoleh pada Bibinya yang tersenyum padanya.
Edelweiss mengerti maksud reaksi Azalea, karena bukan cuman Azalea pasien yang dia rawat dengan kejadian lumpuh seperti ini.
"Apa kamu merasakan sakit, sayang?"
"Sedikit pun sakitnya?"
Azalea yang mata hijau beningnya mulai berairan tidak bisa membuka suaranya, tapi gadis manis bersurai merah muda itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Dengan suara tersedak-sedak, Azalea berkata. "Ak-aku akhirnya bi-sa duduk lagi,"
Kini wajah cantik dan manis itu basah dengan air mata.
"Akhirnya aku bisa duduk lagi Bibi, hiks!" tangisan Azalea pecah seketika membuat Edelweiss segera memeluk keponakannya itu.
"Iya, sayang! Selamat, ya! Bagaimana rasanya duduk kembali? Apa ada tubuhmu yang rasanya sakit?" tanya Edelweiss yang masih memeluk Azalea. Lalu dia mencium pucuk kepala keponakannya itu.
"Tidak ada yang sakit, Bibi! Terima kasih sudah mengobati Azalea," suara gadis itu terendam karena Azalea membenamkan kepalanya pada bahu Edelweiss.
"Keluargamu terutama Daisy pasti seneng mendengar kesembuhanmu ini, sayang!" seru Edelweiss yang masih memeluk keponakan perempuannya itu sambil mengelus surai merah muda milik Azalea.
Azalea sendiri menempelkan dagunya pada bahu sebelah kanan Edelweiss dengan pelukan mereka yang belum terlepas. Azalea tersenyum karena perlahan tubuhnya mulai bisa digerakkan, dengan begitu dia bisa mulai menyusun rencana dan mulai menjalankan rencananya agar masa depan keluarga Azalea tidak berakhir buruk seperti dalam novel.
"Iya, Mama, Papa dan Asher pasti seneng mendengar bahwa aku sudah bisa duduk!" Azalea dan Edelweiss melepaskan pelukan mereka, mereka saling bertatapan sebelum Edelweiss mengatakan.
"Baiklah! Aku akan pergi dulu, untuk memberitahukan kemajuan kesembuhanmu ini. Kamu hanya perlu istirahat dulu dan jangan memikirkan hal-hal berat, oke?" Edelweiss menjelaskan itu dengan penuh nada peringatan tapi tatapannya masih lembut.
Azalea mengamati Edelweiss yang membereskan peralatannya seperti kain, merapikan kasur dan selimut keponakannya itu sebelum berjalan keluar dari kamar.
Gadis bersurai merah muda itu menghela nafas lelah. "Maaf, Bibi. Tampaknya aku harus melanggar peringatanmu untuk tidak memikirkan hal-hal berat. Karena aku tidak bisa menghentikan pemikiranku ini, ini juga demi kita semua dan wilayah Lorienfield."
Saat sedang melamun sepeninggalan Edelweiss, Azalea mendengar sedikit keributan dari luar jendela. Bukan seperti keributan bertengkar tapi seperti keributan hal lain. Keningnya berkerut bingung dan penasaran, matanya tidak terlepas dari jendela kamarnya.
Bersamaan dengan itu juga, seorang pelayan berpakaian seragam hitam putih yang rapi masuk membawakan buah-buahan yang tampaknya cemilan kecil untuk Azalea.
"Nona! Maaf saya menganggu waktu anda, saya membawakan cemilan untuk anda sesuai permintaan Nyonya Edelweiss," pelayan itu mengangkat meja makan kecil di depan Azalea dengan telaten. Dia tersenyum lembut menatap Azalea yang sudah bisa duduk sekarang.
"Saya seneng sekali melihat nona Azalea sudah bisa duduk dan bisa makan sendiri!" ucapnya dengan ketulusan yang bisa Azalea rasakan dari pancaran matanya.
"Terima kasih!" jawab Azalea dengan sedikit ceria.
Sambil memperhatikan jendela yang masih mendengarkan keributan di bawah, Azalea sesekali melirik pelayan yang masih berdiri di samping kasurnya menemaninya makan cemilan buah.
"Ada keributan apa di bawah sama?" tanya Azalea penasaran karena keributan itu, oleh karenanya dia terpaksa bertanya pada pelayan tersebut.
"Ouh, itu pelatihan prajurit penjaga Nona Azalea." Azalea terkejut mendengarnya.
"Latihan prajurit penjaga? Tapi kenapa terlihat ribut sekali?" Nona muda wilayah Lorienfield itu merasakan perasaan yang tidak nyaman.
"Iya itu....." pelayan itu tampak keberatan menjawab pertanyaan Azalea.
"Itu kenapa? Jawab!"
Melihat keterdiaman pelayan itu membuat Azalea jengah, tampaknya keluarganya memang sengaja membungkam semua pelayan agar masalah yang tidak diketahui Azalea ini tidak pernah diketahui Azalea. Pantas saja kedua pelayan muda yang membersihkan tubuhnya tadi pagi hanya fokus membersihkan tubuhnya saja, tidak seperti biasanya mereka mengocehkan banyak hal termasuk setiap masalah yang ada di tempat ini.
"Katakan padaku ada masalah besar apa yang terjadi sehingga para prajurit dilatih sekeras itu? Aku memerintahkanmu menjawab pertanyaan atas nama Nona muda Lorienfield!" seru Azalea terkesan mengancam pelayan itu dengan posisinya. Dia sebenarnya tidak mau melakukan ini, tapi keadaan memaksanya.
"Ba-baiklah, nona Azalea. Saya akan menceritakan semua yang saya ketahui tentang masalah yang nona ingin tahu," lalu pelayan itu mulai bercerita dengan nada takut tapi berusaha tenang karena Azalea menatapnya dengan mata hijau beningnya yang cukup tajam.
Azalea terdiam setelah pelayan itu selesai bercerita. "Hanya itu saja yang saya ketahui, Nona Azalea." gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Pergilah dan tinggalkan aku sendiri. Aku akan menghabiskan cemilanku sendiri, jadi kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu yang lain. Dan jangan khawatir, aku tidak akan menyebutkan dari siapa aku mengetahui masalah ini." kalimat terakhir Azalea membuat pelayan itu lega hingga bahunya yang tadi tegang dan kaku menjadi turun. Tampaknya hal itu yang dikhawatirkan pelayan itu sehingga dia tidak mau membuka mulutnya sampai Azalea terpaksa harus menekannya.
"Baiklah, nona Azalea. Saya pamit pergi." setelah mengatakan itu, pelayan itu menundukkan tubuhnya sebelum berjalan keluar dari kamarnya Azalea.
...💮...
...Bersambung....
...Thanks For Reading My Story^^...
...Dipublikasikan pada tanggal 25 Januari 2026....