NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: HARAPAN PALSU

#

Piring terakhir.

Aku bilas dengan air yang udah dingin. Tangan aku merah semua. Perih. Kulitnya kering pecah-pecah di beberapa bagian. Kena sabun cuci piring terus menerus bikin kulit tangan kayak kulit buaya.

Pak Hadi datang sambil bawa amplop cokelat tipis.

"Satria, ini. Tiga puluh lima ribu. Bagus kerjamu hari ini. Cepet banget."

Aku terima amplop itu dengan dua tangan. Aku sungkem sedikit. "Terima kasih, Pak Hadi."

Pak Hadi senyum. Dia tepuk pundakku. "Pulang hati-hati ya, Nak. Jangan lupa makan. Kamu terlalu kurus."

Aku cuma senyum. Makan? Dengan uang tiga puluh lima ribu ini aku harus beli beras dua kilo, obat ayah, sama bayar listrik yang udah nunggak dua bulan. Mana ada sisa buat makan?

Aku keluar dari warung. Jam dinding di dinding warung nunjukin pukul sebelas lewat empat puluh menit malam. Jalanan sepi. Gelap. Cuma ada lampu warung kaki lima yang masih nyala di sana-sini.

Aku jalan kaki. Lima kilometer lagi. Kakiku udah pegel. Sepatu yang talinya tali rafia itu udah mulai longgar lagi. Aku ikat ulang di pinggir jalan.

Angin malam dingin. Aku cuma pake kaos tipis. Jaket? Gak punya. Udah dijual tahun lalu buat bayar dokter waktu ayah kejang-kejang.

Sepanjang jalan, aku mikir.

Mikir tentang beasiswa itu.

Dana miliaran.

Untuk siswa miskin berprestasi.

Itu satu-satunya harapan aku bisa kuliah. Satu-satunya jalan aku bisa jadi dokter. Bisa ngobatin ayah. Bisa bikin ibu gak usah cuci baju lagi.

Kalau aku dapet beasiswa itu...

Kalau aku dapet...

Semuanya bakal berubah.

***

Aku sampe di kontrakan pukul setengah satu dini hari.

Pintu gak dikunci. Emang gak bisa dikunci. Kuncinya patah.

Aku masuk pelan.

Lampunya redup. Cuma satu bohlam lima watt yang udah kedip-kedip. Mau mati kayaknya.

Aku liat ibu.

Ibu duduk di lantai. Punggungnya bungkuk. Tangannya melipat tumpukan baju. Baju-baju hasil cucian dari rumah orang kaya. Wanginya harum. Parfum mahal. Tapi tangan ibu... tangan ibu merah, kasar, pecah-pecah. Ada luka-luka kecil yang belum sembuh.

Ibu udah tertidur. Kepalanya nunduk. Napasnya pelan.

Aku mendekat pelan. Aku liat wajah ibu. Keriput di dahinya makin banyak. Rambutnya yang dulu hitam legam sekarang mulai memutih di beberapa bagian. Ibu baru empat puluh dua tahun. Tapi keliatan kayak orang enam puluh tahun.

Aku ambil selimut tipis. Aku selimutin ibu. Pelan. Gak mau bangunin dia.

Ibu bergerak sedikit. Matanya setengah terbuka.

"Sat... kamu udah pulang...?"

Suaranya serak. Capek.

"Iya, Bu. Ibu tidur aja. Aku yang selesaiin lipetan ini."

Ibu geleng pelan. "Gak papa, Nak. Ibu lanjutin. Besok pagi harus dikembaliin ke Bu Lastri..."

Ibu coba bangun. Tapi kakinya... kakinya gak kuat. Dia jatuh lagi.

Aku langsung pegang ibu. "Bu! Ibu kenapa?!"

Ibu mengaduh pelan. Dia pegang kakinya. "Bengkak, Nak... dari tadi siang. Kebanyakan jongkok kayaknya..."

Aku liat kaki ibu.

Bengkak.

Merah.

Kulitnya tegang.

Aku langsung ambil ember. Aku isi air dingin. Aku rendam kaki ibu di ember itu.

"Sakit, Bu?"

Ibu geleng. Tapi aku tau dia bohong. Matanya berkaca-kaca.

Aku pegang kaki ibu. Aku pijat pelan. Ibu mengaduh. Tapi dia diem. Gak ngeluh.

"Bu... ibu jangan terlalu maksa. Nanti sakit."

Ibu senyum. Senyum yang dipaksain. "Ibu gak papa, Nak. Yang penting kamu sehat. Kamu sekolah dengan baik. Itu udah cukup buat ibu."

Aku gak kuat.

Aku nangis.

Air mata jatuh ke kaki ibu yang bengkak.

"Maafin aku, Bu... maafin aku gak bisa bantuin ibu lebih banyak... maafin aku masih sekolah... maafin aku jadi beban..."

Ibu langsung pegang pipi aku. Tangannya yang kasar itu terasa hangat.

"Jangan bilang begitu, Nak. Kamu bukan beban. Kamu harapan ibu. Kamu harapan ayah. Kamu harus sekolah. Kamu harus jadi orang sukses. Biar nanti kamu bisa hidup lebih baik dari ibu dan ayah."

Ibu lap air mataku pake ujung kainnya yang udah lusuh.

"Ibu bangga sama kamu, Satria. Ibu bangga."

Aku peluk ibu.

Erat.

Aku nangis di pundaknya.

Ibu belai rambutku. Pelan. Lembut.

Kami berdua nangis dalam diam.

***

Pagi ini aku bangun kesiangan.

Jam udah nunjukin pukul enam. Aku terlambat. Biasanya aku bangun jam setengah empat.

Aku langsung lompat bangun. Aku liat ayah. Ayah masih tidur. Ibu juga masih tidur. Kakinya masih bengkak.

Aku gak jadi bangunin mereka.

Aku mandi cepet. Pake seragam yang sama. Belum sempet dicuci. Masih bau keringat. Tapi gak papa. Gak ada waktu.

Aku lari.

Lari sekenceng mungkin.

Lima kilometer. Aku lari hampir semuanya. Napas tersengal-sengal. Dada sakit. Tapi aku terus lari.

Aku sampe sekolah pukul tujuh lewat sepuluh menit. Terlambat sepuluh menit.

Satpam di gerbang liat aku dengan tatapan jijik. Tapi dia buka gerbang.

Aku lari ke kelas. Napas masih tersengal-sengal. Keringat bercucuran.

Aku masuk kelas. Semua udah duduk rapi. Pelajaran Biologi udah mulai. Pak Budi lagi nerangin tentang sel.

Pak Budi berhenti ngomong. Dia liat aku.

"Satria. Terlambat lagi?"

Aku nunduk. "Maaf, Pak..."

"Ini udah ketiga kalinya minggu ini. Besok kalau terlambat lagi, kamu saya laporkan ke BK."

"Maaf, Pak. Saya janji tidak akan terlambat lagi."

Pak Budi ngangguk. "Duduk."

Aku jalan ke bangku paling belakang. Aku denger bisikan.

"Bau keringet banget..."

"Ih, bajunya itu-itu lagi..."

"Udah telat, jorok pula..."

Aku duduk. Aku keluarin buku catetan. Aku coba fokus ke pelajaran.

Tapi pikiranku kemana-mana.

Aku mikir tentang beasiswa.

Pengumuman resmi katanya bakal ditempel hari ini.

Aku harus dapet beasiswa itu.

Harus.

***

Jam istirahat pertama, aku langsung lari ke papan pengumuman.

Udah ada kerumunan. Banyak anak-anak berkumpul di depan papan pengumuman.

Aku dorong-dorong badan mereka. Aku coba liat.

Dan...

Ada.

Selembar kertas putih besar dengan tulisan hitam tebal.

**PENGUMUMAN RESMI**

**BEASISWA PRESTASI PENUH PROGRAM STUDI KEDOKTERAN**

**KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN**

Jantungku berdetak keras.

Aku baca terus.

**Syarat:**

Siswa kelas 12 dengan rata-rata nilai minimal 85

Berasal dari keluarga kurang mampu (dibuktikan dengan surat keterangan tidak mampu)

Memiliki prestasi akademik atau non-akademik tingkat nasional

Lulus seleksi wawancara

**Kuota: 10 siswa se-Indonesia**

**Pendaftaran dibuka: 20 Januari 2026**

**Pendaftaran ditutup: 10 Februari 2026**

**Formulir dapat diambil di ruang Tata Usaha**

Aku baca berulang-ulang.

Sepuluh siswa se-Indonesia.

Beasiswa penuh.

Kuliah kedokteran.

Gratis.

Ini dia.

Ini kesempatan aku.

Aku langsung lari ke ruang Tata Usaha.

Ruangannya gede. Ada beberapa meja dengan pegawai yang lagi sibuk ngetik komputer.

Aku mendekat ke meja paling depan. Ada Ibu Diah, pegawai TU yang rambutnya dikonde rapi.

"Permisi, Bu. Saya mau ambil formulir beasiswa prestasi kedokteran."

Ibu Diah liat aku. Dia tersenyum tipis. "Oh, kamu Satria ya? Yang dari keluarga... kurang mampu?"

Aku ngangguk. Malu.

"Tunggu sebentar."

Dia berdiri. Dia ambil map biru dari lemari. Dia buka map itu. Dia ambil satu lembar formulir.

"Ini. Isi dengan lengkap. Jangan ada yang kosong. Lampirkan fotokopi rapor, surat keterangan tidak mampu dari kelurahan, sama surat keterangan prestasi kalau ada. Kumpulkan paling lambat tanggal sepuluh Februari."

Aku terima formulir itu dengan dua tangan. "Terima kasih, Bu."

Aku keluar dari ruang TU sambil megang formulir itu erat-erat.

Aku jalan ke koridor. Koridor yang sepi.

Aku buka formulir itu pelan.

Ada banyak kolom yang harus diisi. Nama lengkap. Tempat tanggal lahir. Alamat. Nama orang tua. Pekerjaan orang tua. Penghasilan orang tua.

Penghasilan orang tua...

Ibu cuma dapet sekitar lima ratus ribu sebulan dari nyuci baju. Ayah gak punya penghasilan. Aku dari nyuci piring dapet sekitar empat ratus ribu sebulan.

Total kurang dari sejuta.

Untuk makan, bayar kontrakan, listrik, air, obat-obatan.

Aku yakin aku masuk kategori kurang mampu.

Aku lipet formulir itu. Aku simpen di dalam buku.

Aku senyum sendiri.

Akhirnya... akhirnya ada harapan.

***

Tapi harapan itu gak bertahan lama.

Aku jalan balik ke kelas. Di tengah koridor, aku papasan sama Bagas dan gengnya.

Bagas liat aku. Dia senyum miring.

"Eh, si anak miskin. Lagi ngapain lu?"

Aku coba jalan terus. Aku gak mau ribut.

Tapi Bagas menghadang. Dia berdiri di depan aku. Tingginya lebih tinggi dari aku. Badannya lebih gede.

"Gue tanya, lu lagi ngapain?"

Aku nelen ludah. "Gak ngapa-ngapain..."

"Bohong. Lu pegang apa di tangan?"

Aku refleks nutup buku yang di dalamnya ada formulir itu.

Bagas nyengir. "Oh... pasti formulir beasiswa kan? Lu mau daftar?"

Aku diem.

"Jawab gue!"

Bagas bentak.

Aku kaget. "I... iya... aku mau daftar..."

Bagas ketawa. Keras. Temen-temennya ikut ketawa.

"HAHAHA! LU? LU MAU DAFTAR BEASISWA KEDOKTERAN? LU PIKIR LU PANTAS?!"

Dia rebut bukuku.

"Eh, jangan!"

Aku coba ambil balik. Tapi temen Bagas yang lain pegang tangan aku. Aku gak bisa gerak.

Bagas buka bukuku. Dia ambil formulir itu.

Dia baca sekilas.

Terus...

SRIIIIT!

Dia sobek formulir itu.

Jadi dua.

Jadi empat.

Jadi delapan.

Sampai jadi potongan-potongan kecil.

Dia lempar potongan-potongan itu ke udara. Kayak confetti.

Potongan kertas jatuh pelan. Bertebaran di lantai.

"Beasiswa ini buat anak miskin yang PANTES. Bukan buat PENIPU kayak lu yang pasti NYONTEK supaya nilainya bagus!"

Bagas dorong dadaku keras.

Aku jatuh terduduk. Pantat sakit.

Bagas dan gengnya jalan pergi sambil ketawa.

Aku duduk di lantai.

Potongan-potongan formulir bertebaran di sekitar aku.

Aku ambil potongan-potongan itu satu per satu.

Tangan gemetar.

Mata berkaca-kaca.

Aku kumpulin semua potongannya.

Gak bisa dipake lagi.

Udah sobek-sobek.

Aku berdiri. Aku lari ke ruang TU lagi.

Aku ketuk pintu.

Ibu Diah keluar. "Ada apa lagi, Satria?"

"Bu... formulir saya... formulirnya sobek, Bu... bisa minta yang baru?"

Ibu Diah liat potongan-potongan kertas di tangan aku.

Dia ngehela napas. "Kamu ini gimana sih. Harusnya dijaga baik-baik."

Dia ambil formulir baru dari map. Dia kasih ke aku.

"Ini yang terakhir. Kalau sobek lagi, kamu fotokopi sendiri ya."

"Terima kasih, Bu. Maaf merepotkan."

Aku keluar dari ruang TU lagi.

Aku pegang formulir baru itu.

Kali ini aku gak langsung balik ke kelas.

Aku jalan ke ujung koridor. Koridor yang sepi. Gak ada orang.

Aku duduk di tangga darurat.

Aku buka formulir itu.

Aku mulai isi.

Nama lengkap: Satria Bumi Aksara.

Tempat tanggal lahir: Jakarta, 15 Mei 2008.

Alamat: Gang Melati Nomor 7 RT 05 RW 03...

Tangan aku gemetar nulis.

Air mata jatuh.

Netes di kertas formulir.

Aku lap cepet. Takut kertasnya basah.

Aku lanjutin nulis.

Nama ayah: Budi Aksara.

Pekerjaan ayah: Tidak bekerja (lumpuh).

Nama ibu: Siti Aminah.

Pekerjaan ibu: Tukang cuci pakaian.

Penghasilan per bulan: Rp 500.000

Aku nangis makin keras.

Gak bisa ditahan.

Semua sakit keluar.

Kenapa... kenapa hidup aku harus sesulit ini?

Kenapa aku harus diinjak-injak terus?

Kenapa aku harus dilecehkan?

Kenapa gak ada yang ngeliat... gak ada yang peduli... gak ada yang ngerti betapa sakitnya?

"Satria?"

Aku dengar suara.

Aku langsung lap air mata cepet-cepet.

Aku noleh.

Bu Ratna. Guru Bahasa Indonesia. Umur sekitar tiga puluhan. Rambutnya pendek. Wajahnya lembut. Matanya penuh perhatian.

"Bu..."

Bu Ratna duduk di sebelah aku. Dia gak ngomong apa-apa. Cuma duduk.

Dia liat formulir di tangan aku. Dia liat coretan air mata di kertas itu.

"Kamu sedang isi formulir beasiswa?"

Aku ngangguk.

"Bagus. Kamu harus daftar. Kamu anak yang pintar, Satria. Nilaimu selalu sempurna. Kamu punya hak untuk dapet beasiswa itu."

Aku geleng. "Tapi Bu... aku... aku gak yakin aku bisa dapet. Pasti banyak yang lebih pinter dari aku. Pasti banyak yang lebih... lebih pantas."

Bu Ratna menggeleng. Dia pegang pundakku.

"Jangan pernah meragukan dirimu sendiri, Nak. Kamu sudah melewati banyak hal yang anak seusiamu gak sanggup lewati. Kamu bangun pagi buta bantu orang tuamu. Kamu jalan jauh ke sekolah. Kamu kerja malam-malam. Tapi kamu tetap bisa dapet nilai sempurna. Kamu luar biasa, Satria. Percaya sama ibu."

Air mataku jatuh lagi.

Bu Ratna peluk aku.

"Menangis itu gak papa, Nak. Menangis itu bukan tanda lemah. Menangis itu tanda kamu manusia. Tanda kamu punya perasaan. Keluarin aja. Jangan ditahan."

Aku nangis di pelukan Bu Ratna.

Untuk pertama kalinya, ada guru yang peduli sama aku.

Yang gak ngeliat aku sebagai anak miskin yang mengganggu pemandangan.

Tapi ngeliat aku sebagai... manusia.

"Jangan menyerah, Nak. Ibu percaya kamu. Ibu akan bantu kamu sebisa ibu."

Aku cuma bisa ngangguk.

***

Setelah tenang, aku balik ke kelas.

Pelajaran udah mau selesai.

Aku duduk di bangku paling belakang. Aku lanjutin isi formulir.

Selesai isi, aku simpen formulir itu di dalem buku. Kali ini aku masukin ke dalam tas. Aku ikat rapat-rapat pake tali karet.

Bel pulang berbunyi.

Semua anak langsung keluar.

Aku juga keluar. Aku jalan ke ruang TU. Aku mau tanya tentang berkas-berkas yang harus dikumpulin.

Di depan ruang TU, masih ada beberapa anak yang antri.

Aku ikut antri.

Giliran aku tiba.

Aku masuk. Kali ini ada Pak Joko. Pegawai TU yang agak tua. Rambutnya udah memutih.

"Permisi, Pak. Saya mau tanya tentang beasiswa prestasi kedokteran. Berkas apa aja yang harus dikumpulin?"

Pak Joko liat aku. Dia senyum tipis.

"Oh, kamu mau daftar juga? Udah banyak yang daftar lho. Persaingannya ketat."

"Iya, Pak. Saya tetap mau coba."

Pak Joko ngangguk. "Bagus. Berkasnya ada di formulir kan? Fotokopi rapor, surat keterangan tidak mampu, surat prestasi kalau ada. Terus nanti ada wawancara."

"Baik, Pak. Terima kasih."

Aku mau balik badan. Tapi Pak Joko manggil lagi.

"Eh, tunggu dulu."

Aku noleh.

Pak Joko liat kanan kiri. Dia pastiin gak ada orang lain.

Dia mendekat ke aku. Dia bisik pelan.

"Nak... ini bapak bilang karena bapak kasian sama kamu. Bapak tau kamu anak yang susah. Bapak sering liat kamu jalan kaki ke sekolah. Jadi bapak mau kasih tau..."

Jantungku berdebar.

"Beasiswa ini... cuma formalitas doang."

Aku bengong. "Apa... apa maksud bapak?"

Pak Joko geleng pelan. "Hasilnya udah diatur. Udah ada nama-nama yang bakal menang. Dari atas. Dari yayasan. Jadi meskipun kamu daftar... kemungkinan kamu menangnya kecil."

Dunia aku runtuh.

"Tapi... tapi kan ini beasiswa dari pemerintah... dari kementerian..."

Pak Joko tersenyum pahit. "Iya, Nak. Emang dari pemerintah. Tapi yang ngatur penerimaannya kan sekolah. Dan sekolah ini... yayasannya gak bersih. Bapak udah kerja di sini dua puluh tahun. Bapak tau."

Aku gak bisa ngomong.

Mulut aku kelu.

Pak Joko tepuk pundakku. "Tapi gak ada salahnya kamu tetep coba, Nak. Siapa tau rejeki. Bapak doain kamu."

Aku keluar dari ruang TU.

Kaki aku lemas.

Aku berdiri di koridor.

Gak bisa gerak.

Pikiranku kosong.

Hasilnya udah diatur.

Udah ada nama-nama yang bakal menang.

Berarti...

Berarti harapan aku...

Palsu?

Aku jalan gontai keluar sekolah.

Aku jalan kaki. Lima kilometer. Tapi kali ini aku gak ngerasa apa-apa. Kaki aku jalan otomatis.

Pikiranku cuma satu.

Harapan palsu.

***

*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!