"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Ketakutan Padmi
Malam dimana badai melanda area pemakaman, warga juga digemparkan dengan penemuan seorang wanita yang tergeletak di tengah jalan desa. Wanita itu adalah Padmi dan warga yang menemukannya pertama kali adalah Rama, murid ustadz Firman.
Saat itu Rama yang pulang dari rumah ustadz Firman nampak melintas di jalan desa pada pukul sembilan malam.
Meski tahu pocong Ginah sedang meneror warga, tapi Rama tetap nekat pulang ke rumahnya. Bukan karena berani, tapi Rama tak punya pilihan. Dia tak mungkin menginap di rumah sang guru karena pasti akan mendapat banyak pertanyaan nanti.
Awalnya perjalanan berjalan lancar. Namun setelah tikungan yang sepi tepat di depan rumah Padmi, Rama terkejut melihat sesosok tubuh berbaring di tengah jalan. Posisinya yang melintang memaksa Rama untuk turun dari motornya. Betapa terkejutnya Rama mengetahui sosok yang berbaring itu adalah Padmi.
Tak ingin timbul fitnah karena Padmi adalah wanita bersuami, Rama segera berteriak memanggil warga. Dalam waktu singkat warga pun keluar dan berkerumun di tempat itu.
"Ada apa Ram. Kenapa teriak-teriak?" tanya salah satu warga.
"Ini Pak, bu Padmi pingsan," sahut Rama sambil menunjuk Padmi yang berbaring di jalan.
"Kok bisa pingsan di sini. Emang kalian darimana?" tanya warga lainnya.
"Jangan salah paham Pak, kami ga dari mana-mana kok. Saya baru aja pulang dari rumah ustadz Firman, eh di jalan saya nemu bu Padmi lagi berbaring di sini. Saya ga sempet ngecek jadi saya ga tau bu Padmi pingsan atau ... " Rama sengaja menggantung ucapannya karena ingin warga lah yang mengecek kondisi Padmi.
Dengan hati-hati warga pun membangunkan Padmi. Sayangnya wanita itu tak merespon sama sekali. Karena khawatir, warga pun membawa Padmi ke bidan desa untuk diperiksa kondisi kesehatannya. Rama terpaksa ikut karena warga curiga dia terlibat dengan apa yang terjadi pada Padmi.
"Bu Padmi mengalami dehidrasi alias kekurangan cairan. Gapapa, setelah diinfus, sebentar lagi juga siuman kok," kata bidan desa.
Warga pun menghela nafas lega. Sambil menunggu Padmi siuman, mereka duduk di teras rumah bidan desa sambil mengobrol.
"Sebentar, kalo bu Padmi ditemuin pingsan di jalan, terus anak-anaknya dimana?" tanya salah seorang warga.
"Ya Allah, kok kita bisa lupa ya. Coba salah satu dari kita ke rumah Bu Padmi. Kalo anaknya ada di rumah, bawa ke sini aja sekalian. Kasian, mereka pasti ketakutan pas bangun tapi ngeliat ibunya ga ada," sahut warga lainnya.
"Biar saya aja yang jemput," kata Rama.
"Boleh, ditemenin sama yang lain ya biar kamu ga kabur," sahut tetangga Padmi.
"Astaghfirullah aladziim, saya ga tau apa-apa soal Bu Padmi. Kenapa saya masih dituduh aja sih Pak?" tanya Rama kesal.
"Maaf, kami terpaksa begini untuk jaga-jaga aja Mas Rama. Semua bakal terjawab kalo Bu Padmi siuman. Kalo emang Mas Rama ga terlibat, kamu bakal kami lepasin nanti," sahut tetangga Padmi.
Meski kesal, Rama terpaksa mengalah. Dia segera bangkit dan mengajak seorang warga untuk menjemput anak-anak Padmi. Tapi belum sempat motor distarter, bidan desa sudah lebih dulu memberitahu kondisi Padmi yang telah siuman.
"Kalo udah siuman bisa dibawa pulang sekalian ga Bu?" tanya tetangga Padmi.
"Boleh Pak. Tapi harus ada yang menemani ya, minimal sampe pagi. Kalo kondisinya memburuk, mau ga mau harus dibawa ke Rumah Sakit untuk ditindak lanjuti," sahut sang bidan.
"Baik. Biar istri saya aja yang nemenin nanti," kata tetangga Padmi.
Warga bersama-sama mengantar Padmi pulang ke rumah. Tiba di rumah Padmi warga dibuat bingung. Pintu rumah masih terkunci dari dalam tapi jendela samping terbuka.
"Aneh. Kalo pintu terkunci dari dalam, terus kamu keluar lewat mana, masa lewat jendela?" tanya tetangga Padmi.
"Aku ga tau Kang," sahut Padmi sambil menggelengkan kepala.
"Nanti aja nanyanya Pak. Sebaiknya cari cara biar Bu Padmi bisa masuk dan berbaring dulu. Kasian, keliatannya Bu Padmi masih pusing," sela Rama tak sabar.
Beberapa warga nampak mengiyakan ucapan Rama.
Setelah mendapat ijin dari Padmi, warga pun mendobrak pintu rumahnya. Betapa terkejutnya warga menyaksikan seisi rumah yang berantakan seperti baru diamuk oleh seseorang. Awalnya mereka mengira itu ulah kedua anak Padmi. Tapi saat menoleh ke kamar, mereka justru melihat kedua anak Padmi sedang tertidur pulas.
Berbagai kecurigaan yang mengarah pada Padmi pun terbit. Warga yakin kekacauan yang terjadi di rumah Padmi mustahil dilakukan oleh anak-anaknya. Warga justru curiga Padmi berselingkuh dengan pria lain karena tak tahan ditinggal suaminya yang bekerja di luar negeri.
Padmi pun panik. Dia khawatir warga tahu hubungannya dengan pria suruhannya dan apa yang telah mereka lakukan.
Karena tak ingin terus dicurigai, akhirnya Padmi pun menceritakan apa yang terjadi. Tentang kehadiran pocong Ginah yang membuatnya jatuh pingsan tadi.
Mendengar cerita Padmi warga nampak terdiam sambil saling menatap. Mereka tak mengerti mengapa Ginah terus menghantui warga setelah kematiannya.
"Sampe kapan almarhumah Bu Ginah terus menghantui warga. Ini ga bisa dibiarin, harus cari cara untuk menghentikannya," kata tetangga Padmi.
"Betul. Tapi gimana caranya?" tanya warga lainnya.
"Mungkin kita bisa minta tolong sama mas Rama untuk omongin ini sama ustadz Firman. Mudah-mudahan beliau bisa ngasih solusi," sahut tetangga Padmi sambil melirik kearah Rama.
"In syaa Allah saya coba obrolin sama ustadz Firman nanti ya Pak," janji Rama.
"Alhamdulillah, makasih Mas," kata warga bersamaan.
"Sama-sama," sahut Rama sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong, kamu bilang kamu pingsan di rumah. Apa kamu ga salah inget Mi?" tanya tetangga Padmi.
"Ga Kang," sahut Padmi cepat.
"Tapi kami nemuin kamu lagi berbaring pingsan di tengah jalan Padmi. Masa iya kamu jalan ke sana sendiri. Kalo iya, lewat mana?. Kan pintu rumah terkunci dari dalam," kata tetangga Padmi.
"Aku juga bingung Kang. Mungkin ga kalo pocong Ginah yang bawa aku ke sana," sahut Padmi asal.
Jawaban Padmi tentu saja membuat warga terkejut. Mereka menganggap Padmi mengada-ada. Tapi mengingat hubungan Padmi dengan almarhumah Ginah sangat dekat, sebagian warga tampak percaya dengan ucapan Padmi.
"Ya wajar lah, mereka kan teman dekat dan sering ngobrol. Ibarat makanan, ngobrol bersama itu adalah menu utama yang ga bisa dilewatkan oleh bu Padmi cs setiap harinya," kata seorang warga dengan nada menyindir.
Padmi terdiam. Dia tahu warga tak nyaman dengan sepak terjangnya dan genknya itu. Mengingat apa yang telah dia dan genknya lakukan, Padmi pun merasa malu.
"Karena terbiasa ngomongin orang, Bu Ginah jadi bingung mau ngapain sekarang. Mungkin almarhumah Bu Ginah kesepian di sana, makanya nemuin teman-teman dekatnya untuk diajak ngobrol," gurau seorang warga
Beberapa warga tertawa mendengar gurauan itu sedangkan Padmi nampak mengkerut ketakutan.
Melihat wajah Padmi yang pucat pasi, Rama pun iba. Khawatir pembicaraan makin tak terkendali, Rama segera keluar dari rumah Padmi sambil mengajak warga untuk pulang.
"Maaf Bapak-bapak, sekarang kan udah larut malam, sebaiknya kita pulang yuk. Bu Padmi pasti capek dan mau istirahat," kata Rama.
Ucapan Rama membuat warga tersadar. Sesaat kemudian mereka mengangguk lalu bergegas meninggalkan rumah Padmi. Tapi baru selangkah melintasi ambang pintu, Padmi kembali memanggil.
"Tolong jangan tinggalin saya sendirian Pak. Saya takut pocong Ginah datang lagi nanti," kata Padmi.
Warga yang mendengar permintaan Padmi terdiam sejenak lalu menggelengkan kepala. Mereka menolak menemani Padmi karena itu bertentangan dengan norma yang berlaku.
"Jangan lupa tutup pintunya Bu Padmi," kata salah seorang warga sebelum berlalu.
Padmi tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa melepas kepergian warga dengan tatapan nanar. Untuk beberapa waktu ke depan Padmi masih berdiri mengamati warga dengan tubuh gemetar.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya