Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Aliansi yang Tidak Terduga
Luka bakar di tangan kanan Ji Zhen masih terasa berdenyut, namun pikirannya jauh lebih panas daripada kulitnya yang melepuh. Duduk di bawah pohon beringin tua yang menjulang di pinggiran area latihan, ia mengamati sirkulasi murid-murid luar yang hilir mudik. Sabotase di ujian kemarin adalah pesan yang sangat gamblang, bahwa Ma Yingjie tidak hanya ingin ia kalah, tapi ingin dirinya tersingkir secara permanen.
Ji Zhen menyadari satu fakta pahit. Kekuatan naga yang bersemayam di dalam tubuhnya memang dahsyat, namun saat ini ia masih berada di tahap awal yang sangat rentan. Bertarung sendirian melawan faksi yang dipimpin oleh putra seorang Tetua Alkimia adalah tindakan bunuh diri. Ma Yingjie punya sumber daya, pengikut, dan dukungan birokrasi sekte. Sementara Ji Zhen? Ia punya seekor naga sombong di kepalanya dan sekeranjang dendam.
Ia butuh mata. Ia butuh telinga. Kekuatan fisik adalah tombak, namun informasi adalah kompas yang menentukan ke mana tombak itu harus diarahkan.
“Menatap kosong tidak akan menyembuhkan tanganmu, Ji Zhen.”
Suara itu datang dari balik batang pohon. Seorang murid perempuan melangkah keluar. Ia mengenakan seragam murid luar yang sudah agak pudar warnanya. Wajahnya tidak mencolok, tipe wajah yang akan segera dilupakan orang dalam sekali lewat. Namanya Lian Shu. Di sekte ini, ia dikenal sebagai murid yang tidak memiliki bakat menonjol dan selalu menghabiskan waktunya di gudang arsip ramuan serta catatan tugas.
Ji Zhen tidak mengubah posisinya, namun ototnya menegang. “Lian Shu. Ada urusan apa kau mencariku? Aku sedang tidak ingin mendengar ejekan tambahan.”
Lian Shu tidak mendekat, ia menjaga jarak yang aman. “Aku bukan tipe orang yang membuang energi untuk mengejek. Aku lebih suka hal-hal yang memiliki nilai tukar. Misalnya… informasi tentang siapa yang memasang jebakan qi di pilar ujimu kemarin.”
Ji Zhen menoleh sepenuhnya, matanya menyipit tajam. “Aku bisa menebak siapa pelakunya tanpa bantuanmu.”
“Menebak adalah pekerjaan orang awam. Mengetahui dengan pasti beserta detailnya adalah pekerjaan ahli,” balas Lian Shu dengan nada datar. “Aku bekerja di arsip catatan tugas. Aku tahu siapa yang bertugas melakukan kalibrasi alat penguji sehari sebelum ujian, siapa yang masuk ke gudang penyimpanan tanpa izin resmi, dan atas perintah siapa hal itu dilakukan. Aku bisa memberimu bukti nyata. Tapi tentu saja, itu tidak gratis.”
Mendengarnya, Ji Zhen mengembuskan napas panjang. Sementara Zulong berbisik di dalam benaknya. “Bocah… gadis ini berbahaya. Ia memiliki niat yang terkubur dalam. Namun, untuk saat ini, ia bisa menjadi alat yang berguna.”
“Apa maumu?” tanya Ji Zhen langsung.
Lian Shu memberikan sebuah senyuman yang penuh perhitungan. “Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kau temukan di Gunung Bingfeng. Tidak ada orang di tahap Pemurnian Tubuh yang bisa kembali dari puncak dengan Bunga Hanling tanpa bantuan sesuatu yang besar. Dan suatu hari nanti, saat kau sudah memiliki posisi yang cukup kuat di sekte ini… aku ingin kau membantuku dalam satu urusan pribadi.”
“Kesepakatan yang cukup berat untuk seseorang yang hanya menawarkan nama pelaku sabotase,” Ji Zhen menyeringai, sebuah ekspresi yang memancarkan rasa tidak percaya. “Aku tidak akan memberitahumu tentang gunung itu sekarang. Rahasia adalah nyawaku saat ini. Tapi kau harus membuktikan bahwa informasimu memang sebanding dengan resiko yang aku ambil.”
Lian Shu mengangguk paham, seolah sudah menduga jawaban tersebut. “Cukup adil. Informasiku yang pertama gratis, sebagai jaminan kepercayaan. Sabotase itu dilakukan oleh Tang Wei. Dia adalah pengikut setia Ma Yingjie. Namun, perintah resminya datang dari Tetua Ma. Dia ingin menguji sampai sejauh mana kau bisa bertahan dan seberapa besar kekuatan yang kau sembunyikan.”
Ji Zhen mematung sambil mengepalkan tangannya sampai perbannya kembali merembeskan sedikit darah. Ternyata dugaannya tentang keterlibatan tetua adalah benar. Ini bukan lagi sekadar pertikaian antar murid; ini adalah penindasan sistematis dari tingkat atas.
“Terima kasih atas informasinya,” ucap Ji Zhen. “Sekarang pergilah sebelum ada yang melihat kita berbicara.”
“Kita akan sering bicara mulai sekarang, Ji Zhen,” sahut Lian Shu sebelum berbalik dan menghilang di antara kerumunan murid dengan langkah yang hampir tidak terdengar.
Malam harinya, Ji Zhen tidak langsung berlatih. Dengan bantuan informasi dari Lian Shu tentang jadwal patroli dan pengawasan gudang, ia mulai bergerak secara diam-diam. Ia tidak menyerang Tang Wei secara fisik. Sebaliknya, ia mulai mengumpulkan bukti-bukti tentang penggelapan ramuan tingkat rendah yang sering dilakukan oleh pengikut Ma Yingjie. Ini tidak akan cukup untuk menjatuhkan mereka, tapi cukup untuk menjadi amunisi jika mereka mencoba memojokkannya lagi di depan umum.
Zulong mengamati tindakan Ji Zhen dengan minat yang besar. “Kau mulai berpikir seperti kultivator sejati, Bocah. Bukan hanya mengandalkan otot, tapi juga strategi yang licik. Aku suka itu.”
“Di dunia yang busuk ini, orang bodoh yang kuat akan selalu kalah dari orang cerdik yang sabar,” jawab Ji Zhen di dalam hatinya sambil menatap rembulan yang bergantung di langit. “Aku pernah menjadi orang bodoh yang hanya tahu bekerja keras tanpa hasil. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.”
Rasa sakit di meridiannya saat ia mulai menarik qi naga kembali muncul, namun kali ini ia menelannya dengan senyuman tipis. Aliansi dengan Lian Shu adalah sebuah langkah berbahaya, namun perlu. Di dunia kultivasi, kemitraan berdasarkan kepentingan adalah satu-satunya hal yang bisa diandalkan daripada janji setia yang palsu.
Ji Zhen tahu bahwa faksi Ma Yingjie akan segera menyadari bahwa ia mulai membangun pertahanannya sendiri. Tekanan akan semakin berat, namun justru dalam tekanan itulah, es naga di dalam tubuhnya akan semakin mengeras.