Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 - Pagi Tanpa Jawaban
Tek tek tek tek…
Langkah kaki itu terdengar jelas di sepanjang koridor Markas Kepolisian Kota. Bunyi sepatu menyentuh lantai keramik memantul pelan, menciptakan gema pendek yang berulang dan teratur. Jam dinding di ujung lorong menunjukkan pukul 04.37 pagi—waktu ketika kota masih tertidur, dan hanya mereka yang terbiasa dengan keadaan darurat yang terjaga.
Lampu neon menyala setengah terang, membuat warna dinding tampak pucat dan dingin. Tidak ada suara lain selain langkah itu sendiri. Tidak ada percakapan, tidak ada radio berbunyi, bahkan mesin pendingin ruangan pun nyaris tak terdengar.
Karina Intan berjalan tanpa ragu.
Ia berhenti di depan pintu ruang rapat utama, menatap sejenak papan nama di samping pintu seolah memastikan dirinya berada di tempat yang benar, meski ia tahu betul ruangan ini. Sudah terlalu sering ia berada di sini, di jam-jam yang tidak normal, untuk alasan-alasan yang tidak pernah menyenangkan.
Tangannya terangkat, mendorong gagang pintu.
Krek…
Pintu terbuka perlahan. Ruangan itu sudah terisi.
Beberapa perwira duduk mengelilingi meja panjang, sebagian berdiri dengan tangan bersedekap atau bertumpu pada kursi. Di ujung ruangan, sebuah layar proyektor menyala, menampilkan gambar-gambar yang kontras dengan ketenangan pagi: lorong sempit yang remang, bercak darah yang telah mengering, dan sesosok tubuh pria yang tergeletak kaku di lantai.
“Ah, Bu Karina,” sapa seorang inspektur begitu melihatnya.
Karina mengangguk singkat. “Maaf, saya terlambat.”
“Tidak apa-apa. Kita baru mulai.”
Ia melangkah masuk dan duduk di kursi kosong di sisi meja. Sebuah map hitam sudah menantinya. Karina membuka map itu, tetapi matanya justru tertuju pada layar. Ia mengamati foto-foto itu dengan saksama, tidak terburu-buru, seolah setiap detail memiliki potensi untuk berbicara.
Tidak ada raut terkejut di wajahnya. Tidak ada ekspresi jijik. Hanya ketenangan yang terlatih—ketenangan seseorang yang tahu bahwa emosi tidak akan membantu apa pun di ruangan ini.
Karina Intan dikenal di internal kepolisian sebagai sosok yang tidak banyak bicara, namun jarang meleset. Selama bertahun-tahun, ia membangun reputasinya bukan dengan cara mencolok, melainkan dengan ketepatan. Ia sering datang ketika kasus sudah mentok, ketika semua jalur terasa buntu.
Dan kali ini, jalur itu benar-benar kosong.
“Kasus ini terjadi dua hari lalu,” ujar inspektur sambil menunjuk layar. “Korban pria, usia diperkirakan sekitar empat puluh tahun. Luka tusuk di bagian perut. Meninggal di tempat.”
“Identitas?” tanya Karina, suaranya datar.
“Belum diketahui. Tidak membawa kartu identitas, dompet, atau ponsel.”
Karina menurunkan pandangannya ke berkas di map. “Lokasi?”
“Lorong penghubung antar gedung tua. Bukan area sepi. Banyak lalu-lalang warga, terutama di malam hari.”
“Perkiraan waktu kejadian?”
“Sekitar pukul delapan malam.”
Karina mengangguk pelan. “Jam sibuk.”
“Betul,” lanjut inspektur. “Tapi tidak ada saksi. Tidak ada yang mendengar teriakan. Rekaman CCTV di sekitar lokasi tidak membantu—beberapa kamera mati, sisanya tidak mengarah ke lokasi.”
Karina menyandarkan punggung ke kursi, matanya kembali ke layar.
“Luka tusuknya tiga kali,” kata petugas forensik. “Presisi. Tidak ada luka tambahan.”
“Tiga tusukan,” ulang Karina pelan. “Tidak berlebihan.”
Ia berhenti sejenak, lalu bertanya, “Ada tanda perlawanan?”
“Minim. Hampir tidak ada.”
Ruangan kembali hening. Tidak ada yang perlu berkata keras-keras bahwa semua itu tidak normal. Semua orang di ruangan itu sudah memikirkannya sejak awal.
“Kita harus segera menangkap pelaku,” kata seorang perwira. “Kalau tidak—”
“Pelaku ini tidak terburu-buru,” potong Karina dengan tenang.
Beberapa kepala menoleh ke arahnya.
“Orang yang membunuh di tempat ramai, dengan tiga tusukan fatal, lalu menghilang tanpa jejak… bukan orang yang panik,” lanjutnya. “Dia tahu apa yang dia lakukan.”
Inspektur mengangguk pelan. “Kami akan mengeluarkan imbauan kewaspadaan ke masyarakat.”
“Silakan,” kata Karina. “Tapi jangan sebarkan detail teknis. Jangan memberi gambaran apa pun.”
Belum sempat rapat berlanjut, suara langkah kaki cepat terdengar dari luar ruangan.
BRAK!
Pintu terbuka keras. Seorang anggota polisi muda berdiri di ambang pintu, napasnya terengah, wajahnya pucat seperti kehilangan darah.
“Pak… S-saya—”
“Tenang,” kata inspektur tegas. “Ada apa?”
“Ada laporan masuk,” jawabnya dengan suara bergetar. “Pembunuhan lagi.”
Karina berdiri seketika.
“Lokasi?” tanyanya.
“Kawasan pemukiman lama, Pak.”
“Korban?”
Anggota itu menelan ludah. “Satu keluarga.”
Tidak ada yang langsung bicara. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang berat.
“Bergerak,” kata inspektur akhirnya.
...----------------...
Sirene meraung memecah keheningan subuh. Jalanan masih lengang, lampu-lampu jalan menyala redup. Mobil patroli melaju cepat, memantulkan cahaya biru-merah di dinding bangunan yang tertutup.
Karina duduk di kursi belakang, menatap lurus ke depan. Tangannya bertumpu di lutut, jari-jarinya saling mengait tanpa disadari. Ia tidak menutup mata, tidak memejamkan diri. Ia hanya berpikir.
Satu korban. Lalu satu keluarga.
Tanpa saksi. Tanpa bukti.
Ia tidak menyukai pola yang bergerak secepat ini.
Ketika mobil berhenti, garis polisi sudah terbentang. Beberapa warga berdiri di kejauhan, sebagian masih mengenakan pakaian tidur. Wajah-wajah mereka tegang, penuh rasa ingin tahu yang bercampur takut.
Begitu Karina melangkah masuk ke area rumah, bau darah langsung menyergap indra penciumannya.
Rumah itu sederhana, tua, dan kini porak-poranda. Pintu depan rusak, engselnya hampir terlepas. Perabotan di ruang tamu berantakan, tetapi tidak tampak seperti hasil perlawanan panik.
“Korban empat orang,” lapor petugas forensik. “Ayah, ibu, dan dua anak.”
Karina mengangguk tanpa komentar.
Ia berjalan perlahan menyusuri ruangan. Setiap langkahnya hati-hati, seolah ia takut melewatkan sesuatu yang nyaris tidak ada. Ia memperhatikan lantai, dinding, sudut-sudut gelap, pegangan pintu.
Tidak ada pesan.
Tidak ada simbol.
Tidak ada benda asing.
Barang-barang berharga masih ada di tempatnya. Televisi masih tergantung. Lemari tidak dibongkar. Ini bukan perampokan.
“Jam kejadian diperkirakan antara tengah malam hingga dini hari,” kata petugas. “Tetangga tidak mendengar apa pun.”
Karina berhenti di ruang tengah. Ia memutar tubuh perlahan, memandang rumah itu sebagai satu kesatuan, bukan sebagai kumpulan detail.
“Pelaku punya waktu,” katanya pelan. “Dan tidak merasa perlu meninggalkan apa pun.”
Inspektur berdiri di sampingnya. “Apakah kita bisa memastikan ini pelaku yang sama dengan kasus pertama?”
Karina terdiam sejenak.
“Kita belum bisa memastikan apa pun,” jawabnya akhirnya. “Tapi kesamaan terbesarnya adalah… ketiadaan.”
Ia menoleh ke arah tubuh-tubuh yang kini tertutup kain putih.
“Tidak ada kesalahan,” lanjutnya. “Dan itu yang paling berbahaya.”
Karina menarik napas dalam.
Kasus ini belum memberikan satu pun petunjuk. Tidak ada jejak yang bisa diikuti. Tidak ada arah yang jelas. Hanya kekosongan yang semakin melebar.
Dan pagi itu, ketika matahari akhirnya mulai terbit di balik atap rumah-rumah tua, kota ini terbangun tanpa menyadari bahwa sesuatu telah berubah.
Bukan karena apa yang ditemukan polisi.
Melainkan karena apa yang tidak mereka temukan sama sekali.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y