Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Mawar Hitam dan Bayangan Masa Lalu
Suasana kamar VIP rumah sakit yang tadinya penuh kehangatan mendadak berubah menjadi dingin saat Arkanza meraih kartu kecil dari buket mawar hitam tersebut. Matanya yang tajam menyipit, membaca deretan kalimat yang tertulis dengan tinta emas yang elegan namun membawa pesan maut.
"Apakah kau siap mengetahui siapa ayah kandung Aira yang sebenarnya, Arkanza? Karena Alan... hanyalah pelindung bayangan."
Arkanza meremas kartu itu hingga hancur di telapak tangannya. Bintik merah yang baru saja mereda di pergelangan tangannya mendadak berdenyut kembali.
"Arkan? Ada apa? Siapa yang mengirim bunga itu?" tanya Aira cemas melihat perubahan ekspresi suaminya yang sangat drastis.
Arkanza segera membuang kartu yang sudah remuk itu ke tempat sampah di samping ranjang. Ia memaksakan sebuah senyuman, meski matanya tetap berkilat penuh kewaspadaan. "Bukan siapa-siapa. Hanya ucapan selamat dari kolega bisnis yang seleranya buruk. Mawar hitam sama sekali tidak cocok untukmu."
"Kau berbohong, Arkanza Malik," Aira mendekat, menatap mata suaminya dalam-dalam. "Aku mengenalmu. Wajahmu berubah kaku. Berikan kartu itu padaku."
"Aira, ini bukan hal penting—"
"Berikan padaku!" Aira merampas kerumunan kertas yang sudah hancur dari tangan Arkanza dan mencoba membacanya. Setelah berhasil menyusun potongan kata tersebut, Aira terdiam. Napasnya tertahan. "Ayah... Alan... bukan ayah kandungku?"
Arkanza mengutuk dalam hati. Ia segera menarik Aira ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah ingin melindungi gadis itu dari kebenaran yang baru saja terungkap. "Dengar, Aira. Siapa pun yang mengirim ini hanya ingin mengacaukan pikiran kita. Kita baru saja menang. Mereka ingin memecah belah kita."
Aira melepaskan diri dari pelukan Arkanza dengan perlahan, matanya berkaca-kaca. "Tapi Arkan, selama ini aku selalu merasa ada yang aneh. Kenapa Ibu tidak pernah menunjukkan foto pernikahan mereka? Kenapa Ayah Alan selalu menatapku dengan tatapan bersalah setiap kali aku bertanya soal masa kecilku di London? Dan yang terpenting... kenapa golongan darahku berbeda dengan mereka berdua?"
Arkanza tertegun. Ia tidak tahu soal detail golongan darah itu. "Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?"
"Karena aku takut, Arkan! Aku takut jika aku bukan anak Ayah Alan, maka satu-satunya ikatan keluargaku di dunia ini akan hilang!" isak Aira.
Sore Hari – Balkon Rumah Sakit
Arkanza yang sudah diizinkan duduk di kursi roda memaksa Reno untuk membawa Alan ke hadapannya tanpa sepengetahuan Aira. Mereka bertemu di area balkon yang tertutup.
Alan berdiri dengan bahu yang merosot, tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Ia menatap mawar hitam yang dibawa Arkanza.
"Jadi, 'dia' sudah mulai bergerak," gumam Alan dengan suara parau.
Arkanza mencengkeram pegangan kursi rodanya hingga buku jarinya memutih. "Katakan padaku sekarang, Alan. Siapa ayah kandung Aira? Dan jangan berani-berani berbohong padaku jika kau masih ingin melihat matahari besok."
Alan menarik napas panjang, menatap langit London yang kelabu. "Riana... dia tidak pernah mencintaiku dengan cara seperti itu, Tuan Arkanza. Aku hanyalah pengawal pribadinya di London. Saat itu, Riana menjalin hubungan rahasia dengan seseorang yang seharusnya menjadi musuh bebuyutan keluarga Sterling."
"Siapa?!" desak Arkanza.
"Seorang pria dari keluarga Vancort. Salah satu klan mafia terbesar di Eropa Utara yang menguasai perdagangan gelap," jawab Alan. "Namanya adalah Lorenzo Vancort. Dia adalah ayah kandung Aira. Itulah sebabnya Riana melarikan diri ke Indonesia. Bukan hanya karena Edward Sterling, tapi karena dia tidak ingin Aira dibesarkan di dunia berdarah Vancort."
Arkanza merasa kepalanya berdenyut hebat. Penyakit bintik merahnya meledak di sepanjang lengannya. Musuhnya bukan lagi sekadar pebisnis serakah seperti Edward atau bajingan seperti Syarif, melainkan penguasa dunia bawah Eropa.
"Lalu kenapa mawar hitam ini datang sekarang?" tanya Arkanza dengan nada mematikan.
"Karena Lorenzo sudah meninggal dua bulan lalu," sahut sebuah suara dari arah pintu balkon.
Arkanza dan Alan menoleh. Arthur Kingsley berdiri di sana, memegang sebuah dokumen tebal. "Dan dalam wasiat terakhir Lorenzo, dia meninggalkan seluruh otoritas 'keluarga' Vancort kepada satu-satunya darah dagingnya yang tersisa: Aira Kirana Malik."
Arkanza tertawa dingin, tawa yang penuh dengan kemarahan. "Istriku... seorang ratu mafia? Ini lelucon paling gila yang pernah kudengar."
"Ini bukan lelucon, Tuan Malik," Arthur melangkah mendekat. "Sekarang, Edward Sterling tidak lagi menjadi ancaman terbesar Anda. Masalahnya adalah, para petinggi Vancort tidak akan menerima seorang 'gadis pelayan dari Jakarta' sebagai pemimpin mereka tanpa ujian. Mereka sedang menuju ke sini untuk menjemput Nona Aira. Atau melenyapkannya jika dia dianggap lemah."
Arkanza berdiri dari kursi rodanya dengan susah payah, menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia berjalan mendekati Arthur dan mencengkeram kerah bajunya.
"Dengar baik-baik, Arthur. Kau, Sterling, atau Vancort... tidak ada satu pun dari kalian yang boleh menyentuh Aira. Aku tidak peduli jika dia putri raja atau putri mafia. Dia adalah istriku!"
"Arkan..."
Mereka bertiga menoleh. Aira berdiri di ambang pintu, mendengar seluruh percakapan itu. Wajahnya pucat pasi, namun tatapannya tidak lagi rapuh. Ada sesuatu yang berubah dalam diri Aira—sebuah aura dingin yang selama ini terpendam, warisan darah dari seorang Vancort.
Aira berjalan mendekati Arkanza, ia meraih tangan Arkanza yang dipenuhi bintik merah dan menciumnya. Seketika, rasa perih di kulit Arkanza menghilang.
"Arkan, jika darah ini memang ada di dalam tubuhku, maka aku tidak akan lari lagi," ucap Aira dengan suara yang tenang namun sangat tegas. "Selama ini kau yang melindungiku. Sekarang, biar aku yang menggunakan 'kekuatan' ini untuk memastikan tidak ada lagi Syarif atau Edward lain yang bisa menyentuh keluarga kita."
Arkanza menatap Aira dengan posesif yang meledak-ledak. "Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke dunia itu, Aira! Itu dunia berdarah!"
"Dunia kita sudah berdarah sejak kita bertemu, Arkan," balas Aira sambil mengelus pipi Arkanza. "Kau suamiku. Dan jika suamiku adalah raja bisnis, maka aku akan menjadi ratu yang melindunginya dari kegelapan."
Arkanza menarik pinggang Aira, mendekapnya dengan sangat posesif di depan Alan dan Arthur. "Jika itu maumu... maka aku akan ikut bersamamu ke neraka sekalipun. Tapi ingat satu hal, Aira... di depan mereka kau mungkin pemimpin Vancort, tapi di mataku, kau tetap milikku yang tidak boleh disentuh siapa pun."
...****************...
Malam itu, saat Arkanza sedang tertidur lelap karena pengaruh obat, Aira keluar dari kamar rumah sakit secara diam-diam. Di lobi rumah sakit, sepuluh mobil hitam antipeluru sudah menunggu dengan pria-pria bersenjata yang berlutut saat melihatnya. Salah satu dari mereka menyerahkan sebuah cincin emas bergambar singa—simbol Vancort.
"Selamat datang, Mademoiselle Vancort. Waktunya membersihkan sisa-sisa pengkhianat Sterling," ucap pria itu.
Aira memakai cincin itu, dan matanya berkilat dingin. "Mulai malam ini, jangan biarkan Arkanza tahu apa yang aku lakukan. Aku ingin dia tetap bersih dari darah ini."