NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Untuk Menikahimu

Kesempatan Kedua Untuk Menikahimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Time Travel / Aliansi Pernikahan / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.

Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.

Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 14 - Ternyata ada Kucing yang Terluka

Ken berdiri beberapa langkah dari mereka, tatapannya berpindah dari telapak tangan Ashilla yang terluka, ke wajah Camila yang masih pucat, lalu kembali pada Ashilla.

Udara terasa membeku.

“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Ken, suaranya rendah, tapi dingin.

Camila bereaksi lebih dulu.

“Ken!” Ia berlari kecil menghampiri pria itu, wajahnya langsung berubah seolah penuh ketakutan. “Mobil kami mogok, lalu… lalu dia hampir membuatku tertabrak!”

Ashilla menatap mereka berdua tanpa ekspresi.

Hampir.

Kata itu terdengar sangat ironis.

Ken mengerutkan dahi. “Membuatmu?”

Camila menggigit bibirnya, seakan menahan tangis. “Aku cuma kesal karena terlambat ke konser, lalu kami bertengkar. Tiba-tiba dia menarikku dengan kasar dan kami jatuh…”

Sopir yang sejak tadi berdiri kaku di dekat mobil, tampak gelisah, tapi tak berani ikut campur.

Ashilla akhirnya bersuara, nadanya tenang tapi datar. “Kamu mau dengar versiku?”

Camila menoleh tajam. “Kamu masih mau berbohong?”

Ken mengangkat tangan, menghentikan Camila. “Bicara.”

Ashilla menatap Ken, matanya tidak lagi menyimpan harap, hanya lelah.

“Mobil hampir menabrak Camila. Aku menariknya agar tidak kena. Setelah itu, dia mendorongku.”

Ia mengangkat tangannya yang tergores. “Ini akibatnya.”

Ken menatap luka itu. Wajahnya mengeras.

“Kamu berani mengada-ada!” bentak Camila. “Kalau aku hampir tertabrak, kenapa aku baik-baik saja?!”

“Karena aku menarikmu,” jawab Ashilla pelan.

Hening.

Beberapa detik yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya.

Ken memejamkan mata sejenak, seolah menahan emosi, lalu menoleh pada sopir.

“Kamu melihat apa yang terjadi?”

Sopir terkejut, tapi akhirnya mengangguk. “Nona Ashilla benar, Tuan. Mobil itu hampir mengenai Nona Camila. Nona Ashilla yang menariknya.”

Wajah Camila langsung berubah.

“Kamu… kamu membelanya?!” teriaknya. “Kamu digaji oleh keluarga kami!”

Sopir menunduk. “Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, Nona.”

Ken menghela napas panjang.

“Camila.”

Nada suaranya membuat Camila terdiam.

“Kamu hampir celaka, dan orang yang menyelamatkanmu adalah Ashilla.”

Camila menatap Ken, matanya mulai berair, tapi bukan karena takut—melainkan karena marah dan tidak terima.

“Jadi sekarang kamu juga di pihaknya?” suaranya bergetar. “Kalian semua selalu di pihaknya!”

Ia menunjuk Ashilla. “Sejak kecil dia selalu jadi anak baik, anak patuh, anak korban. Sedangkan aku selalu jadi yang salah!”

Ashilla tidak membantah.

Karena memang begitulah yang selalu terjadi.

Ken melangkah mendekat ke Ashilla. “Tanganmu… sakit?”

Ashilla refleks menarik tangannya sedikit. “Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja.”

Jawaban itu justru membuat dada Ken terasa makin sesak.

Camila menatap pemandangan itu dengan mata merah.

“Kalau begitu,” katanya tajam, “kalian pergi saja berdua. Aku bisa sendiri!”

Begitu Camila pergi, mereka berdua refleks menoleh ketika terdengar suara rintihan kecil dari balik semak di pinggir jalan.

Suara yang lirih, bergetar, dan jelas bukan suara manusia.

Ashilla lebih dulu bereaksi.

“Itu… suara kucing?”

Ia melangkah cepat ke arah asal suara, berjongkok, lalu menyingkirkan semak dengan hati-hati.

Seekor kucing kecil tergeletak di sana, bulunya kotor, salah satu kakinya tampak tak bisa digerakkan dengan benar. Napasnya tersengal, dan matanya setengah terpejam.

Ashilla menutup mulutnya.

“Ya Tuhan…”

Ken ikut mendekat, wajahnya langsung mengeras saat melihat kondisi hewan itu.

“Itu pasti… mobil tadi,” gumamnya.

Ashilla tanpa sadar melepas tasnya, lalu meraih tubuh kecil itu dengan sangat hati-hati.

“Kita harus bawa dia ke klinik hewan. Sekarang.”

Ken menatapnya. “Di sekitar sini tidak ada klinik.”

“Kalau begitu kita cari yang terdekat. Tolong, Ken.”

Nada suara Ashilla tidak memohon, tapi ada kepanikan yang tidak bisa disembunyikan.

Mobil Ashilla masih mogok, sehingga mobil Ken adalah satu-satunya pilihan.

Ken menoleh sekilas ke arah jalan, lalu kembali pada kucing di pelukan Ashilla.

“Masuk mobil,” katanya singkat.

Tanpa bertanya lagi, Ashilla langsung menurut.

1
Rossy Annabelle
ooh bahagianha hatiku 🥳melihat penderitaan orang lain/Facepalm/
Rossy Annabelle
next,,klo bs Doble up deh 😁tiap hari /Chuckle/
Rossy Annabelle: oke lah,, ditunggu karya lainnya mungkin.semngt 💪😁
total 2 replies
Rossy Annabelle
ditunggu next-nya😁
Lynn_: Ok kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!