Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Dua Puluh Enam
Uap air masih menyelimuti cermin kamar mandi saat Felicia melangkah keluar. Nek Diah menyiapkan satu ember besar air hangat untuk Felicia mandi. Padahal Felicia sudah menolak karena takut merepotkan, tetapi Nek Diah tetap memaksa karena cuaca memang sedang tidak bersahabat.
Rambutnya yang basah terbungkus handuk putih. Ia hendak meraih tas berisi skincare miliknya ketika ponsel di atas meja bergetar pelan. Nama Pak Han berkedip di layar.
Felicia tersenyum tipis, menjemur handuknya dengan gerakan santai sebelum akhirnya menempelkan ponsel itu ke telinga.
"Halo, Pak?" sapanya, suaranya masih sedikit serak khas sehabis mandi.
"Hai, Fel. Kamu di kost?" Suara bariton Pak Han terdengar hangat di seberang sana, ada latar belakang suara mesin mobil yang halus.
"Saya baru saja jalan dari rumah teman, rasanya ingin mampir. Kita makan malam, ya?"
Felicia menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah. "Aduh, Pak... sayang sekali. Saya sedang di rumah orang tua sekarang.
Mungkin besok siang baru balik ke Jakarta."
Hening sejenak.
"Kapan pulangnya? Kok tidak kasih tahu saya?" Nada suara Pak Han berubah sedikit lebih rendah, bukan marah, tapi seperti ada rasa kehilangan disana.
"Iya, maaf ya, Pak. Tadi buru-buru sekali, takut kesorean di jalan. Ini juga mendadak, jadi saya sampai lupa mengabari Bapak," jelas Felicia lembut, mencoba mencairkan suasana.
"Rumah kamu di mana? Saya jemput ke sana besok pagi. Sekalian saya ingin bertemu orang tua kamu," tembak Pak Han langsung tanpa ragu.
Felicia terperanjat, jantungnya berdegup lebih kencang. "Waduh, jangan sekarang, Pak. Rumah saya di luar kota. Nanti saja ya, kita atur lagi waktunya."
Pak Han terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sangat dekat di telinga Felicia. "Saya tahu rumahmu di luar kota, Fel. Tapi luar kota itu luas. Jadi, tepatnya di mana?"
"Di Bogor, Pak..." jawab Felicia pelan.
"Hanya satu jam dari sini kalau jalanan lancar," sahut Pak Han enteng. "Saya ke sana sekarang juga bisa kalau kamu mau."
"Eh, jangan! Jangan sekarang, Pak. Enggak enak sama tetangga kalau Bapak datang malam-malam begini," cegat Felicia cepat.
"Berarti kalau besok, boleh?" tantang Pak Han.
Felicia terdiam sejenak, menimbang-nimbang kesungguhan pria itu. Akhirnya, ia menyerah sambil tersenyum kecil. "Ya sudah. Nanti saya kirim lokasinya ke WhatsApp, ya."
"Baik. Besok saya ke sana." Pak Han menjeda kalimatnya, lalu memanggilnya dengan nada yang jauh lebih lembut. "Felicia..."
"Iya, Pak?"
"Padahal saya kangen sekali. Tadinya saya mau mampir cuma karena ingin lihat wajah imut kamu, sebentar saja."
Seketika semburat merah muncul di pipi Felicia. "Kan kemarin baru saja ketemu, Pak. Masa sudah kangen lagi?"
"Saya sudah bilang, kan? Saya tidak bisa kalau tidak melihat kamu sehari saja. Rasanya ada yang kurang."
Astaga, pria ini. Felicia membuang muka meski Pak Han tak bisa melihatnya. "Bapak bisa saja kalau bicara..."
"Saya serius. Coba nyalakan videonya sebentar, saya mau lihat wajah kamu."
"Aduh, jangan! Saya benar-benar baru selesai mandi, Pak. Rambut masih berantakan, belum sisiran, belum dandan juga. Pokoknya belum siap!" tolak Felicia malu-malu.
Suara Pak Han kembali merendah, kali ini dengan nada menggoda yang sangat intim.
"Memangnya kenapa? Tidak apa-apa, Fel. Nanti juga saya akan melihat tampilan kamu yang seperti itu setiap hari setelah kita menikah. Anggap saja ini latihan untuk saya."
"Nah, kalau begini kan enak. Saya akhirnya bisa lihat wajah kamu," ucap Pak Han begitu layar ponsel menampilkan wajah Felicia yang masih tampak segar.
Felicia menyandarkan ponselnya di cermin meja rias, memberikan sudut pandang yang memperlihatkan bahunya yang masih sedikit lembap. Tangannya meraih sisir, mulai merapikan rambut panjangnya yang agak kusut.
"Izin sambil bersiap ya, Pak." gumam Felicia malu-malu.
Pak Han terkekeh, suaranya terdengar lebih berat melalui speaker ponsel. "Fel, kalau bukan jam kerja, jangan terlalu kaku. Di luar kantor, kamu itu kekasih saya. Panggil nama saja kalau sedang berdua."
Lagi-lagi, pipi Felicia memanas. Untungnya, lampu temaram di kamarnya cukup setuju untuk menyembunyikan rona merah yang kini menjalar hingga ke leher.
"Seandainya saja, saya ada di sana sekarang, pasti saya bantu rapikan rambut kamu, Fel," ucap Pak Han pelan, matanya menatap lekat pada layar saat melihat Felicia sedikit kesulitan menyisir bagian belakang rambutnya yang tebal.
Felicia menghentikan gerakannya sejenak, menatap bayangan Pak Han di layar ponsel. "Pak... Bapak kenapa tiba-tiba jadi begini, sih? Bapak sehat, kan?"
"Memangnya saya kenapa?" Pak Han menaikkan sebelah alisnya, tampak terhibur.
Felicia terkekeh canggung. "Ya aneh saja. Biasanya kan Bapak itu cuek, judes, galak lagi kalau di kantor. Kenapa sekarang tiba-tiba manis begini? Saya sampai agak merinding, tahu."
"Itu karena sekarang posisimu berbeda. Masa harus saya jelaskan lagi?" Pak Han menyandarkan punggungnya, tatapannya melembut.
"Saya tidak memberikan perlakuan semanis ini pada sembarang orang, Fel. Hanya pada orang yang benar-benar saya sayangi."
"BAPAK! Stop, ya! Jangan bikin saya jantungan terus!" seru Felicia spontan sambil menutupi wajahnya dengan sisir.
Tawa Pak Han pecah, renyah dan terdengar sangat tulus. "Sepertinya saya tidak perlu menunggu satu bulan ya, Fel, untuk mendengar jawaban 'iya' dari kamu?"
"Kesepakatannya tetap satu bulan, Pak! Tidak ada diskon," protes Felicia cepat, mencoba mengembalikan kewarasannya. "Bapak curang, selalu bisa melakukan hal-hal di luar tebakan saya. Saya jadi sulit berpikir jernih."
Pak Han memajukan wajahnya, mendekat ke arah kamera hingga tatapannya terasa begitu mengunci. "Itu namanya usaha, Sayang. Saya tidak mau kehilangan waktu lagi."
Felicia berdehem, mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai terlalu panas. "Bapak... katanya tadi mau makan malam?"
"Tidak jadi. Tidak ada kamu di sini," jawabnya singkat.
"Lho, memangnya kalau tidak ada saya kenapa? Bapak kan bisa makan sendiri atau ajak teman yang lain."
"Tidak mood kalau harus makan sendirian," sahut Pak Han dengan nada manja yang tidak pernah Felicia bayangkan sebelumnya.
Felicia melongo, tangannya tertahan di udara. "Pak, serius... bersikap biasa saja, ih! Saya benar-benar speechless lihat Bapak yang mode begini. Mana Pak Han yang hobi marah-marah kalau laporan saya salah sedikit?"
Pak Han tersenyum simpul, tatapannya tidak lepas dari wajah Felicia. "Dia sedang tidur. Yang ada di depan kamu sekarang cuma pria yang sedang rindu kekasihnya. Jadi, besok saya boleh jemput jam berapa?"
Tiba-tiba, binar jenaka di mata Felicia meredup. Ia terdiam, jemarinya yang tadi asyik memainkan ujung rambut kini terpaku. Raut wajahnya berubah mendalam, seolah ada beban yang mendadak hinggap di pundaknya.
"Fel? Ada apa?" Suara Pak Han berubah drastis, nada bercandanya hilang digantikan kekhawatiran yang nyata.
Felicia menarik napas panjang, menatap lurus ke kamera ponselnya. "Sebenarnya... ada yang harus saya bicarakan dengan Bapak. Sebelum Bapak benar-benar bertemu orang tua saya besok."
Wajah Pak Han di layar kini tampak sangat serius. Ia mematikan mesin mobilnya agar bisa fokus sepenuhnya. "Kenapa? Orang tuamu keberatan dengan hubungan kita? Atau ada hal lain?"
"Bukan soal itu. Tapi saya rasa... saya harus jujur tentang sesuatu," gumam Felicia pelan.
"Kalau itu sepenting yang saya bayangkan, saya ke sana sekarang, ya? Kita bicara di luar rumahmu, tidak perlu masuk juga tidak masalah, Fel. Saya hanya ingin kamu tenang," tawar Pak Han, suaranya rendah dan menenangkan.
Felicia menggeleng cepat. "Jangan, Pak. Besok saja. Kita bertemu dulu di suatu tempat sebelum Bapak ke rumah saya, ya?"
Pak Han menghela napas berat, tangannya mengusap wajah. "Kamu bikin saya tidak bisa tidur kalau begini caranya, Felicia."
"Bukan hal yang perlu Bapak khawatirkan sampai segitunya, kok. Saya berani jamin," Felicia mencoba tersenyum, meski tipis. "Ini hanya soal... kondisi keluarga saya. Sesuatu yang mungkin perlu Bapak tahu sebelum masuk ke rumah itu."
Mendengar nada bicara Felicia yang tulus, ketegangan di bahu Pak Han sedikit mengendur. "Ya sudah kalau begitu. Kamu sudah mengantuk?"
"Belum juga, sih."
"Baiklah. Saya jalan pulang dulu kalau begitu. Nanti setelah sampai di mess, saya kabari lagi, ya?"
"Iya, Pak. Hati-hati menyetirnya. Jangan mengebut," pesan Felicia lembut.
Pak Han menatap layar sekali lagi, senyum tipis yang sangat mematikan muncul di bibirnya. "Selamat malam, Sayang."
Felicia terpaku sejenak, jantungnya memberikan reaksi yang berisik. "Selamat malam... Pak."
"Pak?" Pak Han menaikkan alisnya, tidak mau memutuskan sambungan.
"Lalu saya harus panggil apa? Saya benar-benar tidak terbiasa, tahu," protes Felicia dengan wajah memerah.
Pak Han terkekeh, suara tawanya kali ini terdengar sangat intim. "Panggil saya James. Atau 'Sayang' juga boleh, saya tidak keberatan sama sekali."
Felicia menggigit bibir, mengumpulkan keberanian yang entah muncul dari mana. "Selamat malam...James."
Double update!!! Bonus yang manis-manis dulu sebelum badai menerjaaaang 🌊🌊
Jangan lupa like dan komen yaaaa