NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Dua Puluh Lima

Felicia melangkah menyusuri jalanan berbatu menuju rumah sederhana dengan cat putih yang mulai memudar di ujung jalan, kedua tangannya sarat akan beban.

Dua kantung plastik besar berisi harta karun ia bawa dengan penuh perjuangan—mulai dari daster baru untuk Nenek, pakaian anak-anak, hingga stok sembako seperti minyak goreng, gula, dan telur yang kini harganya sedang melambung.

Belum lagi oleh-oleh khas Surabaya pemberian Pak Han beberapa waktu lalu yang sengaja Felicia sisihkan untuk keluarganya. Felicia nampak seperti sudah melakukan belanja bulanan saat ini.

Setelah malam yang emosional di apartemen Pak Han, Felicia tahu ia butuh neneknya. Ia butuh pendapat dari Nenek Diah, satu-satunya sosok orang tua sekaligus wali yang ia miliki, sebelum ia benar-benar mengambil keputusan besar untuk hidupnya.

"Tante Fel! Tante pulang!" sebuah pekikan melengking menyambutnya.

Arimbi, keponakan kecilnya yang lincah, berlari keluar dari pintu samping dan langsung menghambur memeluk kaki Felicia.

"Tante Fel ke mana saja? Kok baru pulang sekarang?"

Felicia tertawa, ia meletakkan kantung belanjanya sebentar agar bisa mengusap puncak kepala Arimbi. "Aduh, maaf ya Sayang. Belakangan Tante lagi sibuk-sibuknya jadi asisten bos galak. Baru sekarang deh bisa curi waktu. Nih, Tante bawain oleh-oleh buat kamu."

Felicia merogoh salah satu kantung dan mengeluarkan kotak brownies premium yang masih tersegel rapi. Mata Arimbi langsung berbinar.

"Wah! Makasih, Tante Fel! Aku bagi sama Abang boleh, ya?" tanya Arimbi bersemangat sambil mendekap kotak itu erat-erat.

"Boleh dong! Sana bawa ke rumah belakang, kasih ke abangmu juga. Bilang sama dia, jangan main game terus! Nanti badannya jadi artefak kalau diam di kamar melulu," canda Felicia, membuat Arimbi tertawa cekikikan sebelum berlari menjauh menuju rumah ibunya di bagian belakang.

Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Nek Diah muncul dengan rambut yang masih agak basah, aroma sabun mandi yang khas menyeruak lembut. Begitu melihat cucunya, raut wajah tuanya langsung berubah cerah.

"Fel... sehat, Nak? Maaf ya, Nenek tadi lagi mandi jadi nggak dengar kamu datang," Nek Diah langsung merengkuh Felicia dalam pelukan yang hangat dan menenangkan.

Pelukan yang selama empat bulan ini sangat Felicia rindukan.

"Aku sehat, Nek. Nenek gimana? Maaf ya baru bisa mampir sekarang, kemarin-kemarin kerjaan lagi benar-benar nggak bisa ditinggal," ucap Felicia sambil mencium tangan neneknya dengan takzim.

Nek Diah mengusap lembut rambut Felicia, menatap wajah cucunya dengan tatapan mata yang seolah bisa membaca segala gundah.

"Nggak apa-apa, Nak. Nenek paham kamu kerja keras buat keluarga. Yang penting kamu sehat dan makan teratur. Gimana bos baru kamu? Dia baik sama kamu? Nggak galak lagi, kan?"

Selama ini, Felicia memang selalu berbagi cerita dengan neneknya. Setiap malam, Felicia tidak pernah melewatkan satu panggilan pun dari neneknya itu. Menurut Felicia, itulah salah satu cara mengatasi kerinduannya dengan rumah.

Felicia terdiam sejenak. Pertanyaan itu seolah membuka pintu gerbang atas semua beban yang ia simpan sendirian di kota. Ia menuntun Neneknya duduk di amben kayu teras depan, lalu menggenggam tangan keriput itu dengan erat.

"Itu dia, Nek... sebenarnya, ada yang mau aku obrolin serius sama Nenek soal bos aku itu."

...*******...

Nek Diah tertegun. Gelas teh hangat yang baru saja diletakkannya di atas meja kayu kecil itu hampir saja terjatuh tangan gemetarnya.

Ia menatap Felicia lama, seolah sedang mencari tanda-tanda kalau cucunya ini sedang bercanda atau sekadar melantur karena kelelahan kerja.

"Fel... kamu nggak salah bicara? Bos kamu itu? Manajer yang sering kamu ceritakan galak itu, mau melamar kamu?" tanya Nek Diah dengan suara yang sedikit bergetar karena kaget.

Felicia mengangguk pelan, wajahnya memerah. "Iya, Nek. Pak Han. Dia... dia bilang dia serius mau menjadikan aku istrinya."

Hening sejenak, lalu perlahan senyum lebar merekah di wajah keriput Nek Diah. Ia langsung merengkuh tangan Felicia dan mengusapnya berkali-kali. "Alhamdulillah... Gusti Allah... Akhirnya, Fel. Nenek itu sudah was-was, kamu di kota kerjanya cuma lembur, urus laporan, sampai lupa kalau umur kamu ini sudah waktunya membangun rumah tangga. Teman-teman sebaya kamu di sini sudah pada gendong anak, kamu malah masih gendong laptop."

Felicia meringis. "Ya kan aku cari uang buat Nenek sama Arimbi juga, Nek."

"Nenek tahu, Nak. Nenek bangga. Tapi mendengar kamu ada yang mau meminang, apalagi orangnya punya niat baik begitu, Nenek rasanya seperti bisa napas lega," Nek Diah mengusap setitik air mata di sudut matanya.

"Dia juga baik banget sama aku Nek. Dia itu orangnya royal, ini aja aku bisa bawa banyak oleh-oleh karena aku dikasih bonus sama beliau. Yang dikantung ini, ini semua oleh-oleh dari beliau pas pulang dari Surabaya." Jelas Felicia sambil menunjuk satu kantong paling ujung.

"Alhamdulillah. Kamu ini anak yang baik banget sama keluarga, jadi gusti Allah memberikan kamu calon suami yang juga baik sama kamu. Ini buah dari kebaikan dan kesabaran kamu selama ini." Nek Diah memeluk Felicia dari sisi.

"Tapi nek... Ada masalah lain yang masih ganjel banget buat Feli."

Nek Diah menatap cucunya itu penuh perhatian, "masalah apa nak? Coba cerita sama nenek."

"Masalahnya, umurnya itu sudah hampir empat puluh Nek. Tiga puluh delapan. Meskipun wajahnya keliatan awet muda sih. Dan lagi, Feli sering ngerasa rendah diri Nek kalau didekat dia." Felicia menjelaskan pada Neneknya. Membagi beban pikiran yang selama ini hanya ia pendam sendirian.

"Usia itu cuman angka, Fel. Justru, pria matang seperti itu biasanya lebih bisa ngemong, memahami dan menjaga kamu dengan baik." ucap Nek Diah memberi nasihat pada cucunya.

"Dan soal perbedaan status sosial, ya nenek paham kamu pasti merasa rendah diri. Tapi, kamu juga harus paham bahwa mungkin itu cara yang Gusti Allah berikan untuk mengangkat derajat kamu."

Felicia terdiam. Berusaha mencerna semua nasihat yang diberikan oleh neneknya. Perlahan, kabut ketidakyakinan di hatinya mulai memudar. Ada secercah harapan, bahwa semuanya akan baik baik saja nanti.

"Tapi, Fel..."

Raut wajah Nek Diah mendadak berubah serius. Ia memutar posisi duduknya agar benar-benar berhadapan dengan Felicia. Tatapannya yang tadi penuh haru kini berubah menjadi tatapan bijak seorang tetua yang sudah makan asam garam kehidupan.

"Nenek memang senang, tapi Nenek juga mau kamu hati-hati. Hidup dengan orang itu bukan cuma soal dia punya jabatan tinggi atau mobil mewah. Itu semua bisa hilang dalam semalam kalau Gusti Allah mau," ucap Nek Diah dengan nada rendah yang penuh penekanan.

"Maksud Nenek?"

"Kamu harus cari tahu dulu sikap aslinya. Jangan cuma lihat dia pas lagi baik atau pas lagi kasih kamu hadiah," Nek Diah menggenggam erat jemari Felicia. "Coba kamu perhatikan, bagaimana cara dia marah? Apakah dia kalau marah itu meledak-ledak dan merendahkan orang, atau dia bisa menahan diri? Terus, lihat cara dia menyelesaikan masalah. Apa dia tipe orang yang lari dari tanggung jawab, atau dia berdiri paling depan buat cari jalan keluar?"

Felicia terdiam, teringat bagaimana Pak Han menghadapi keanehan sikapnya kemarin.

"Laki-laki itu, Fel, kelihatan aslinya bukan pas lagi jatuh cinta, tapi pas lagi di bawah tekanan. Menikah itu ibarat mengarungi laut. Kamu harus tahu, apa kapten kapalmu ini bakal panik dan buang penumpang saat badai datang, atau dia bakal pegang kemudi kuat-kuat sampai kalian sampai di pelabuhan," lanjut Nek Diah.

Felicia terenyuh. Pesan neneknya begitu sederhana tapi menghantam tepat di ulu hati. Ia teringat bagaimana kaku dan dinginnya Pak Han, tapi di sisi lain, ia juga teringat betapa protektifnya pria itu saat melindunginya dari sindiran orang lain.

"Nenek nggak mau kamu cuma silau sama posisinya. Nenek mau kamu bahagia lahir batin. Pastikan dia orang yang bisa menghargai kamu sebagai manusia, bukan cuma sebagai asisten yang cantik," pungkas Nek Diah sambil mengecup kening Felicia.

Waaaah Felicia mulai cerita nih ke neneknya! Kira kira Felicia bakal terima Pak Han lagi nggak yaaaa??

coba tinggalkan komentar disiniii supaya author makin semangat!!

Jangan lupa like nya juga yaaa

Terimakasiiih✨✨✨✨

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!