Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Tingkah
Beberapa hari terakhir, Alvaro merasakan sesuatu yang tidak biasa di tempat kosnya. Setiap kali ia duduk di meja kerja atau bersandar di tempat tidur, pikirannya selalu teringat pada Aurellia. Setiap gerakan kecilnya, senyumnya yang manis, bahkan cara ia menyajikan kopi, membuat Alvaro tersenyum sendiri atau terkadang hatinya berdebar lebih kencang.
Ia menyadari, ini adalah pertama kalinya ia mengalami perasaan seperti ini—tidak pernah ia merasakan kebahagiaan hanya karena memikirkan seseorang.
Hari-hari di kos dipenuhi dengan keruwetan. Ketika menyiapkan kopi pagi, tangannya sering bergetar. Saat membuka laptop, jari-jarinya sering salah menekan tombol. Bahkan ketika melihat foto-foto yang sudah diedit, pikiran tentang Aurellia terus mengganggu. Ia menghela napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri, tetapi senyum spontan selalu muncul di wajahnya.
Alvaro mulai banyak berbicara pada dirinya sendiri, mencoba mengingat semua hal yang ingin ia katakan padanya. Kadang ia membaca pesan yang belum terkirim berkali-kali, menulis catatan, atau berlatih berinteraksi seolah Aurellia ada di hadapannya. "Gimana kalo aku bilang gini…? Atau lebih baik kalo aku bilang gitu…? " gumamnya sambil menggaruk kepalanya.
Setiap malam, ia selalu mengingat kembali momen-momen di kafe dalam pikiran. Detail terkecil seperti cara Aurellia tersenyum, tawa ringannya, atau cara ia mengangguk saat Alvaro berbicara tentang fotonya, membuatnya merasa bahagia dan cemas sekaligus. Ia paham, ini lebih dari sekadar ketertarikan biasa, ada rasa ingin terhubung yang semakin mendalam.
Pada suatu titik, Alvaro menyadari bahwa ia perlu bertindak. Ia tidak bisa terus menerus merasa canggung. Ia ingin mengajak Aurellia berkencan, walaupun hatinya berdebar setiap kali memikirkan hal tersebut. Ia menyadari bahwa ini adalah langkah berani pertama yang sungguh-sungguh ia rasakan untuk membuka diri kepada orang lain. Ia mulai mencari cara-cara sederhana, kalimat yang tidak terlalu berlebihan, tetapi tetap bisa membuat Aurellia merasa nyaman.
Alvaro menghembuskan napas, menatap kamera di atas meja. Ia tersenyum untuk dirinya sendiri, lalu menepuk-nepuk tasnya seolah memberi dorongan pada diri sendiri. "Besok aku bakal ngomong. . . aku bakal ajak dia. . . " gumamnya, merasakan campuran antara kegugupan dan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Hari-hari di kos menjadi tempat latihan bagi Alvaro—menyusun kata, mengatur napas, dan menghadapi rasa gugup yang selalu muncul setiap kali ia membayangkan Aurellia. Keruwetannya meningkat setiap saat, tetapi di balik semua itu, ada keberanian yang perlahan tumbuh. Keberanian untuk mengakui perasaan yang ada dalam hatinya, dan untuk, suatu hari nanti, mencoba mengajak Aurellia keluar.
Malam itu, sebelum tidur, ia tersenyum sendiri di atas tempat tidur. Ia menyadari bahwa perasaan gelisah ini bukanlah hal yang buruk. Justru, itu merupakan tanda bahwa perasaan ini nyata dan ia berani menghadapinya. Alvaro memejamkan mata sambil membawa perasaan campur aduk itu sebagai dorongan untuk langkah berikutnya—keberanian untuk menjadikan momen mereka berdua lebih nyata, yang akan ia lakukan saat waktu yang tepat tiba.
Beberapa hari telah berlalu sejak Alvaro menyadari bahwa ia perlu menemukan keberanian. Setiap kali ia kembali ke kos, pikirannya selalu kembali ke Aurellia. Ia membenahi foto-fotonya, menikmati kopi, atau sekadar duduk menatap jendela, membayangkan senyumnya yang tulus. Dengan setiap harinya, kecemasan di dalam dirinya semakin meningkat, namun di sisi lain, ada keberanian yang mulai tumbuh—keberanian untuk mengajak Aurellia keluar di suatu hari nanti.
Pagi itu, Alvaro terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Ia ingin pergi ke kafe, namun juga merasa perlu menunggu waktu yang baik. Ia tahu bahwa kafe biasanya ramai, dan tidak ingin Aurellia terganggu oleh ajakannya di tengah kesibukan. Ia mandi, sarapan cepat, dan berdandan dengan hati-hati. Kamera tetap digantung di lehernya, meski bukan untuk bekerja. Ini hanyalah semacam ritual yang memberinya ketenangan dan persiapan mental.
Saat tiba di kafe, suasananya terasa berbeda dari biasanya. Meja-meja dipenuhi orang, beberapa pelanggan menunggu kopi mereka, sementara yang lain duduk sambil mengetik di laptop. Aurellia terlihat sangat sibuk, mondar-mandir antara mesin kopi dan rak gelas, dari meja ke meja, menyapa para pelanggan dengan senyum hangat seperti biasa. Alvaro memutuskan untuk duduk di meja dekat jendela, mengeluarkan laptopnya hanya untuk mengalihkan perhatian dan menenangkan pikirannya.
Ia mengamati Aurellia dari kejauhan. Gerakannya cekatan, tangannya luwes dalam memindahkan cangkir dan gelas, suara langkahnya mantap, dan matanya tetap fokus pada pelanggan yang sedang dilayani. Setiap kali Aurellia menoleh ke arahnya dan memberikan senyuman, jantung Alvaro terasa berdebar. Ia menunduk sejenak, menyesap kopinya, dan berusaha menenangkan napas. Hari ini adalah saatnya untuk bertindak. Ia harus sabar menunggu waktu yang tepat.
Satu jam berlalu. Kafe mulai sepi secara perlahan. Beberapa pelanggan telah menyelesaikan urusan dan pergi, ada beberapa meja kosong di dekat kasir. Alvaro menahan napas. Ia merasa ini adalah saat yang tepat. Ia menatap Aurellia yang sedang merapikan gelas-gelas.
"Aurellia," ia memanggil dengan lembut, suaranya sedikit bergetar.
Aurellia menoleh. "Ya, Kak Alvaro? "
Alvaro menelan ludah, berusaha terlihat tenang. "Eh… aku… mau tanya sesuatu, bentar aja. "
Aurellia memandangnya, terlihat ragu sejenak, tetapi kemudian tersenyum. "Oke, silakan. "
Alvaro menatap matanya, merasakan ketegangan. Ia berusaha merangkai kata-kata, tetapi terasa sulit di lidahnya. "Aku… mau ngajak kamu… jalan bareng… kalo kamu nggak sibuk… eh… maksudku… kalo kamu nggak keberatan. "
Aurellia sedikit mengerutkan kening, tetapi tetap memberikan senyuman yang hangat. "Jadi, maksud Kakak… mau keluar jalan bareng? "
Alvaro cepat mengangguk. "Iya… cuma pengen ngobrol… santai aja… tanpa bahas kerjaan. "
Aurellia menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk lembut. "Hmm… aku paham. Tapi sekarang… masih sibuk dikit. Bisa kita liat lagi nanti, waktu aku nggak ada kerjaan? "
Alvaro merasakan merasa lega. Ia menunduk sejenak, menggaruk kepalanya. "Iya, aku paham. Maaf, nggak pengen ganggu. "
"Enggak ganggu kok," ujar Aurellia dengan senyum.
Alvaro tersenyum kecil. "Oke. Aku tunggu kabarnya yaa. "
Percakapan itu sederhana, tetapi cukup membuat hati Alvaro terasa lebih baik. Ia tahu bahwa keberaniannya sudah muncul, meski saat itu belum tepat. Itu lebih berharga daripada memaksakan situasi.
Sore itu, Alvaro tetap berada di meja dan menyesap kopinya dengan perlahan. Ia mulai mengamati suasana di kafe. Pelanggan yang datang, tawa kecil, suara gelas berbenturan, dan langkah Aurellia yang mondar-mandir.
Semuanya terasa akrab, namun sekaligus memberikan kegembiraan. Setiap detik membuatnya semakin yakin bahwa mengajak Aurellia adalah keputusan yang tepat, meski ia harus menantikan waktu yang sesuai.
Pada hari-hari selanjutnya, rutinitas ini bertahan. Alvaro datang ke kafe, menunggu saat yang baik, mengamati Aurellia, mencatat detail-detail kecil dalam pikirannya, dan berusaha untuk bersabar. Ia menyadari bahwa gugupnya setiap kali melihat Aurellia bukanlah suatu masalah. Sebaliknya, itu adalah indikasi bahwa ia benar-benar peduli.
Di malam hari, di kosnya, Alvaro sering menulis catatan pendek tentang apa yang akan diucapkannya nanti. Ia membaca beberapa kalimat kembali, berlatih berbicara seolah Aurellia berada di hadapannya. Setiap malam ia tertawa sendiri, tersenyum, dan merasakan bumbu perasaan yang berbeda—gugup, bahagia, dan sedikit cemas.
Ia mengerti, ini bukan hanya tentang keberanian untuk mengajak Aurellia pergi. Ini mengenai bagaimana ia mulai belajar untuk mengekspresikan perasaannya secara bertahap. Ia belajar menunggu, menghargai momen, dan memahami bahwa tidak segala sesuatu bisa dipaksakan. Setiap detik menunggu peluang yang tepat menjadi proses baginya untuk belajar bersabar dan tetap jujur dengan perasaannya sendiri.
Beberapa hari kemudian, Alvaro kembali ke kafe dengan perasaan yang serupa—perpaduan antara cemas dan bahagia. Ia melihat Aurellia sedang sibuk, tetapi kali ini ia merasa lebih tenang. Ia menyadari bahwa waktu yang tepat akan datang, dan saat itu tiba, ia sudah siap untuk mengambil langkah berikutnya.
Sampai saat itu, ia hanya bisa menunggu, mengamati, dan merasakan perasaan yang terus tumbuh di dalam dirinya, sambil belajar untuk menjadi dirinya sendiri tanpa berpura-pura, tanpa terburu-buru, dan tetap tenang meski hatinya berdebar setiap kali Aurellia tersenyum.