Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-18
"Nona jera syok hingga pingsan akibat kemarahan tuan muda tuan, apa yang harus kami lakukan?" tanya sang maid sari seberang sana.
"Berikan penanganan manual, beri dia kayu putih saya yakin jera wanita kuat ia akan segera bangun dari pingsannya..." ucap pak Benedick yang terdengar santai, namun nyatanya hatinya bergemuruh kalut takut jika sesuatu terjadi pada putri yang amat ia cintai.
Jika saja dokter pribadi keluarga mereka sudah pulang dari Singapura, mungkin keadaan tidak akan semerepotkan ini.
Setelah mengakhiri telepon dari rumah, ia menelepon kembali nomer asing tadi yang ia tahu adalah telepon dari rumah sakit.
"Selamat malam,.. Bagaimana keadaan putri saya?" tanya pak Benedict pada seseorang di seberang sana.
Sang dokter hanya menarik nafas berat, seolah enggan membicarakan apa yang terjadi pada putri konglomerat tersebut.
"Katakanlah, aku bisa bersikap rasional..." ujar pak Benedick meyakinkan dokter diseberang sana agar mau mengatakan tentang kondisi putrinya.
"Putri anda positif narkoba lagi...." jawab seorang dokter dari seberang sana yang langsung membuat pak Benedict membeku tanpa mengucapkan sepatah katapun, tangannya mengepal dengan mata menyalang penuh amarah.
"Penyebab utamanya kejang kejang adalah, karena overdosis obat obatan, putri anda mengonsumsi narkoba jenis cocain serta opioid sekaligus, dapat dilihat dari tangannya terdapat kurang lebih empat bekas suntikan yang saya duga bekas opioid di suntikkan..."
"Bapak, ingin saya mengatakan apa pada istri dan putra anda kali ini?" tanya sang dokter, yang membuat pak Benedict tersenyum simpul saat mendengar jika Aaron berada di rumah sakit juga.
"Kali ini katakan saja yang sebenarnya..." titah pak Benedict lalu menutup teleponnya, dan menyuruh sang sopir agar menghentikan mobilnya di rumah sakit tempat Indri di rawat.
Sedangkan di dalam rumah sakit, Bu Selyn cukup syok hingga terhuyung kebelakang beberapa langkah hingga akhirnya pak Benedict menahan tubuh sang istri agar tidak terjatuh.
"Papahh--- putri kita--" Bu Selyn tak bisa melanjutkan ucapannya karena dadanya yang berdetak lebih cepat hingga membuatnya kesulitan bernafas.
Melihat hal itu tanpa ba-bi-bu ia membopong tubuh sang istri dan membawanya pergi keluar rumah sakit.
Sedangkan Demian ia hanya mengepalkan tangannya mendengar ucapan sang dokter.
"Jangan macam macam kamu, adik saya tidak mungkin mengonsumsi narkoba.." ujar Demian menarik kerah sang dokter hingga memojokkan nya ke dinding tepat di samping sang dokter dengan tatapan yang nyalang.
Sang dokter hanya tersenyum sinis mendapatkan respon agresif dari putra konglomerat yang menyokong nya.
"Anda pikir, ini kali pertama adik anda terjerat narkoba? No, dia bukan hanya pecandu melainkan pengedar..." ucap sang dokter mengempeskan tangan Demian yang mencengkram kerahnya.
Tubuh Demian linglung hingga hampir ambruk, bagaimana bisa seorang Indri menjadi pengedar narkoba, ia tahu Indri cukup dekat dengan Simon tapi itu semua bukan karena Indri menginginkan Simon akan tetapi Simon yang mengancamnya entah dengan ancaman apa hingga Indri pun tidak bersedia mengatakan kepadanya.
Hingga sesuatu terbesit di otaknya, ini pasti akal bulus Simon yang membuat Indri teler hingga overdosis obat obatan. Baru saja kakinya melangkah tubuhnya ikut ambruk ke lantai rumah sakit hingga beberapa perawat yang melihat nya membawanya ke atas palbet.
Sedangkan di sana, di sebuah rumah besar, Bu Selyn tengah menangis histeris di samping Hajeera mengucapkan ribuan kali kata maaf karena sempat berpikir negatif pada putrinya, ia benar benar tidak tahu apa yang dilakukan putrinya di dalam kamar.
"Maafin mamah, mamah pikir kamu ada di dalam kamar hingga mamah berpikir kamu jahat sayang..." ucap Bu Selyn sesenggukan menggenggam erat tangan sang putri dan sesekali mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
"Its okey mah, Jera yang salah, jera sering kabur kaburan tengah malam cuman buat cari kesenangan tanpa mikirin mamah yang mungkin butuh bantuan jera di tengah malam..." ujar jera merasa bersalah karena telah menipu mamahnya bertahun tahun.
"No, no, kamu anak muda, selagi tidak melewati batas buat mamah gak masalah,.." ucap Bu Selyn memeluk tubuh sang putri yang masih lemas di atas ranjang.
"Papah sejak kapan tahu jera sering keluar malam?" tanya jera dengan jantung yang dag Dig dug.
"Apakah papah tipikal orang yang bisa kamu bohongi seperti mamah?" tanya pak Benedict menggoda istri dan putrinya.
"Papah..." ujar Bu Selyn memukul manja lengan sang suami hingga membuat jera tersenyum cekikikan.
"Kamu masih kecil, sudah sepatutnya papah menjagamu 24 jam tanpa membatasi ruang gerak kamu sayang..." ucap pak Benedict dengan senyum yang terlukis di wajahnya.
"Hanya saja papah ingin berpesan, jangan terlalu sering keluar masuk klub tiap malam, sehebat apapun kita menghindar jika di sekeliling kita adalah alkohol dan narkoba maka ada kemungkinan suatu hari mereka yang kita lihat adalah kita, karena dasarnya mata adalah jendela hati, jadi suguhi matamu dengan pemandangan yang tuhan ridhoi..." ucap pak Benedict yang membuat Hajeera meneguk ludahnya kasar karena merasa tersedak dengan ucapannya.
"Sorry pah..." ucap Jera singkat namun penuh penyesalan.
"Papah tidak meminta kamu langsung berhenti sayang, papah tahu jika hobi dan kebiasaan sulit dihentikan, perlahan saja kita bisa mulai dari kurangi..." ucapnya halus yang membuat hati jera tertusuk namun semakin kagum dengan sosok ayah angkatnya.
Bu Selyn memeluk jera seraya berbaring di samping nya setelah memberikan sang putri air minum dan beberapa sendok makanan yang mudah di cerna.
"Mah, pah, kakak siapa yang tunggu?" tanya Hajeera yang langsung membuat tangan pak Benedict berhenti mengusapi pucuk kepalanya.
"Ada Aaron. .." jawabnya yang langsung membuat Jera mengangguk mengerti.
"Emm,.. Jika besok kamu masih ingin bermain malam, lakukan lah seperti biasa jangan melewati pintu utama.." ucap pak Benedict mengingatkan yang langsung membuat Hajeera tersipu malu.
"Papah apaan sih, kok ngajarinnya gitu ya kalo mau main malem gak papa asal jangan pulang kemaleman,.."
"lewat pintu depan apa salahnya? kalo terus terusan naik pohon gede itu, gimana kalo suatu saat nanti dia kepeleset? oh tidak! mamah gak mau tubuh cantik putri mamah lecet..." ucap Bu Selyn mendengus tidak setuju dengan usul sang suami.
"Yah mamah, emang mamah pikir kalo lewat pintu depan, jera mau? Yah pasti enggaklah, apalagi setelah kejadian ini Aaron pasti sering pulang ke rumah..."
"Nanti kalo jera kena amuk Aaron gimana? Alesan nya karena jera gak disiplin padahal Aaron lagi ngeluarin uneg uneg nya karena jera gak bantuin Indri, mamah mau?" tanya Benedict yang membuat Bu Selyn menggeleng.
"Tapi kan gak selamanya jera harus ngehindar dari Aaron..." ucap Bu Selyn cemberut.
"Iyah enggak mah, ini kan situasinya lagi panas, kalo nanti mah yah gimana jera siap nya ajah..."
Hajeera hanya tersenyum lebar melihat kedua orang tuanya yang begitu peduli kepada nya, mereka bahkan tidak pernah mempermasalahkan tindakan Hera yang selalu menghindar dari Aaron, apalagi ia tidak begitu dekat dengan Aaron ditambah dengan adanya insiden 5 tahun yang lalu yang membuatnya semakin jauh dari Aaron bahkan wajah Aaron yang sekarang pun jera tidak terlalu hafal.