SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. SIUMAN
Kesadaran datang perlahan, seperti cahaya yang menembus tirai tipis di pagi hari. Awalnya hanya gelap, lalu suara, suara mesin yang berdetak ritmis, desis halus udara, dan aroma antiseptik yang menusuk hidung.
Kelopak mata Celina terasa berat. Sangat berat. Seakan ada beban tak kasat mata yang menahan matanya untuk terbuka. Kepalanya berdenyut, bukan sakit yang tajam, melainkan nyeri tumpul yang berputar-putar, membuat pikirannya seperti terendam kabut.
Gadis itu mengerjapkan mata sekali.
Cahaya putih menyilaukan menyambutnya.
Langit-langit yang asing. Terlalu bersih. Terlalu terang.
Celina mengerjapkan mata lagi, kali ini lebih lama. Pandangannya perlahan menyesuaikan. Lampu neon, suara monitor jantung yang berbunyi teratur.
Rumah sakit.
Kesadaran itu membuat dada Celina mengencang.
Ia mencoba menggerakkan jarinya ... berhasil. Lengannya terasa pegal, tapi tidak mati rasa. Napasnya masih teratur, meski terasa agak berat di dada. Ada selang infus terpasang di punggung tangannya. Bahunya terasa sangat sakit ketika digerakan.
Celina memutar kepala perlahan ke samping.
Dan di sanalah dia.
Cedric Sanders.
Duduk di kursi di samping ranjang Celina, tubuhnya sedikit membungkuk ke depan, fokus penuh pada layar laptop yang terbuka di pangkuan pria itu. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, wajahnya serius, terlalu serius untuk seseorang yang seharusnya hanya 'menunggu'.
Kemeja yang Cedric kenakan sedikit kusut, cardigan yang sebelumnya dikenakan kini sudah dilepas. Rambut gondrongnya diikat setengah asal, tidak lagi serapi biasanya. Ada bayangan lelah di bawah matanya, samar tapi nyata.
Celina menatapnya beberapa detik, mencoba menyusun kembali potongan ingatan yang tercerai-berai di kepalanya.
Tangga darurat.
Teriakan.
Pegangan tangan.
Dan ... jatuh.
Napasnya tersendat.
Cedric seolah merasakan tatapan itu. Kepalanya terangkat mendadak, mata birunya membelalak sesaat sebelum berubah menjadi sesuatu yang jarang Celina lihat darinya, kelegaan yang nyaris tidak ia sembunyikan.
"Celina?!"
Laptop itu hampir terjatuh dari pangkuannya saat Cedric berdiri dengan tergesa. Kursi di belakangnya bergeser, menimbulkan suara gesekan keras di lantai.
"Kau siuman," ucap Cedric cepat, suaranya sedikit serak. "Akhirnya."
Senyum muncul di wajahnya, bukan senyum sarkastik khas Cedric Sanders, melainkan senyum tulus yang seolah muncul tanpa ia sadari.
Cedric segera menekan tombol panggilan cepat di sisi ranjang. "Perawat! Pasien sudah sadar."
Celina mencoba berbicara, tapi suaranya keluar pelan dan serak. "Cedric ...."
"Ya?" sahut Cedric.
Celina menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Apa ... yang terjadi?"
Cedric kembali duduk, kali ini lebih dekat. Tangannya refleks hampir menyentuh lengan Celina, lalu tertahan di udara, seakan ia sadar batas yang tidak seharusnya ia lewati.
"Kau jatuh, ingat?" jawab Cedric akhirnya, lebih tenang. "Bersama Theo."
Alis Celina berkerut. Fragmen ingatan itu kembali menyeruak, lebih jelas sekarang.
"Pria itu," gumam Celina. "Penyusup ...."
Cedric mengangguk. "Ya. Pria asing yang jadi biang kekacauan di Morelli Corporation. Setelah pingsan, dia sadar dan berusaha kabur lewat tangga darurat."
Celina memejamkan mata sesaat. Ia bisa melihatnya lagi, bayangan Theo yang bergerak terlalu cepat, pijakan kakinya yang meleset.
"Kata Theo kau refleks menarik Theo," lanjut Cedric, suaranya lebih pelan. "Dia hampir jatuh. Dan kalian berdua berakhir jatuh bersama."
Celina membuka mata.
Itu dia.
Kalimat terakhir yang ia ingat.
"Celina?!"
Tubuhnya menegang. "Aku ingat," ucapnya lirih. "Aku menariknya lalu setelah itu ... aku tidak tahu apa-apa lagi."
Cedric mengangguk perlahan. "Kau pingsan. Cukup lama."
Celina menarik napas, lalu pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa ia sempat menahannya. "Theo, bagaimana keadaannya?"
Ekspresi Cedric berubah.
Bukan cemas. Bukan sedih.
Melainkan sesuatu yang lebih dalam.
"Aku tidak pernah," ucap Cedric pelan namun tegas, "melihat Theo sekacau dan sepanik itu selama aku mengenalnya."
Celina terdiam.
Cedric melanjutkan, seakan adegan itu masih terpatri jelas di benaknya. "Dia menggendongmu. Tangannya gemetar. Napasnya tidak teratur. Dia terus mengulang namamu seperti doa yang tidak putus. Dia membawamu ke lantai dasar sendiri, sambil terus meminta agar kau baik-baik saja saat aku menelepon ambulance," beritahunya.
Dada Celina mengencang. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya, perasaan asing yang sulit ia beri nama.
"Dan si kembar mereka benar-benar ikut khawatir saat melihatmu dimasukkan ke ambulans bersama Theo," lanjut Cedric.
Celina menelan ludah. Tangannya mengepal di atas selimut. "Lalu penyusup itu?" tanyanya pelan.
Cedric menghela napas panjang, terdengar kesal. "Berhasil kabur."
Dua kata. Padat. Penuh frustrasi.
"Dia membaur di kerumunan," lanjut Cedric. "Aku mengejarnya, tapi kemudian aku mendengar suara jatuh dari arah tangga. Aku berbalik."
Tatapan Cedric menajam, seakan ia kembali ke momen itu.
"Dan aku melihatmu. Tidak sadarkan diri. Di pangkuan Theo dalam keadaan ... tidak baik-baik saja," ujar Cedric yang melembut diakhir kalimat.
Hening turun di antara mereka.
"Keadaan benar-benar kacau," ujar Cedric akhirnya. "Theo dan Aiden mengurus sisanya. Sistem, keamanan, evakuasi. Dan mereka menitipkanmu padaku."
Celina terdiam cukup lama. Ia menatap langit-langit, mencoba mencerna semuanya. Tubuhnya terasa lelah, tapi pikirannya justru terlalu terjaga.
Lalu, tanpa peringatan, Cedric menutup laptopnya dengan bunyi klik yang pelan namun tegas.
Nada suaranya berubah.
"Sekarang ... jawab aku dengan jujur," kata Cedric serius.
Celina menoleh, bingung.
"Kau Celina Marry Lorenzo?" ujar Cedric langsung.
Dunia seakan berhenti berputar.
Jantung Celina menghantam dadanya keras, sekali, dua kali, tiga kali, seakan mencoba melompat keluar. Napasnya tercekat.
"Apa?" suara Celina nyaris tidak keluar.
Cedric menatap gadis itu lurus. Tidak ada senyum. Tidak ada candaan.
Celina menelan ludah. "Bagaimana ... bagaimana kau tahu?"
Alih-alih menjawab, Cedric membuka kembali laptopnya dan memutarnya menghadap Celina.
Layar itu menampilkan sesuatu yang membuat darah Celina terasa membeku.
Foto dirinya.
Lebih muda. Lebih rapi. Dengan senyum formal khas foto akademik.
Nama lengkapnya terpampang jelas:
Celina Marry Lorenzo.
Di bawahnya; data diri. Riwayat pendidikan. Ijazah. Nilai.
Celina menatap layar itu tanpa berkedip.
"Kau," suara sang gadis bergetar, bukan karena takut, melainkan terkejut. "Kau mencari latar belakangku."
Cedric mengerutkan dahinya. "Kau pikir aku tidak akan melakukannya?"
Napas Celina seakan tertahan.
Nada suara Cedric tidak tinggi, tapi penuh tekanan. "Setelah semua yang aku lihat akhir-akhir ini?" Ia berdiri, berjalan satu langkah mendekat. "Dari postur dan gaya bicaramu saja sudah jelas kau bukan sekadar office girl biasa."
Celina terdiam.
"Kau terlalu kompeten," lanjut Cedric. "Dalam pekerjaan yang berhubungan dengan berkas, data, analisis lintas divisi. Kau mengerti rumus coding. Sampai-sampai aku justru berkonsultasi padamu tentang pekerjaan."
Celina tidak bisa berdebat dengan itu karena Cedric benar.
Cedric menggeleng kecil, seolah masih sulit percaya. "Dan jangan lupakan bagian paling mengejutkan. Kau bisa bertarung. Bela dirimu ... luar biasa."
Ruangan terasa semakin sempit.
"Setelah semua itu," ujar Cedric dingin, "kau pikir aku akan diam saja dan tidak mencari tahu tentangmu?"
Celina memejamkan mata sesaat. Ia tidak menyangka Cedric Sanders, ketua divisi IT yang terkenal sinis dan menyebalkan, akan sejauh ini.
Celina sudah berhati-hati. Sangat berhati-hati. Meminta bibinya untuk membersihkan jejak. Mengaburkan data. Menyembunyikan identitasnya dari dunia maya.
Namun ternyata ...
"Aku tidak menyangka kau bisa menemukannya," ucap Celina jujur.
Cedric menyeringai tipis. "Jangan remehkan aku." Ia menyilangkan tangan. "Kau kira kenapa aku bisa menjadi ketua divisi IT di Morelli dengan usiaku sekarang?"
Celina mendesah pelan, kepalanya kembali terasa berat. "Kau ... hacker?"
Cedric mengangkat bahu. "Menurutmu?"
Celina mengerang pelan. "Kenapa aku selalu dikelilingi para hacker."
Cedric menoleh. "Apa maksudmu?"
Celina membuka mata. "Lupakan saja. Aku hanya mengoceh."
Namun Cedric tidak tersenyum kali ini. "Kau sungguh berasal dari keluarga Lorenzo?" tanyanya serius. "Di San Francisco?"
Celina menatapnya. Tidak ada lagi gunanya menyangkal. "Iya," jawabnya.
Cedric menghela napas pelan, seperti seseorang yang baru saja mengonfirmasi kecurigaan terbesar dalam hidupnya.
"Lorenzo Company," gumamnya. "Perusahaan yang bekerja sama dengan Morelli Corporation sejak generasi sebelumnya. Keluarga termasyhur itu?"
Celina hanya mengangguk.
Cedric tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi pintu kamar terbuka.
Dokter dan dua perawat masuk, membawa clipboard dan alat pemeriksaan.
"Pasien perlu diperiksa lebih lanjut," ujar dokter dengan nada profesional. "Kami perlu rontgen untuk memastikan tidak ada tulang yang patah."
Cedric diminta keluar.
Ia menatap Celina sesaat sebelum melangkah pergi, tatapan yang penuh pertanyaan, kewaspadaan, dan sesuatu yang sulit diartikan.
Celina hanya bisa membalas dengan tatapan lelah.
Pemeriksaan berlangsung cukup lama.
Saat Cedric kembali duduk di ruang tunggu, ia membuka lagi laptopnya.
Data itu.
Celina Marry Lorenzo.
Lulusan terbaik Harvard. Nilai sempurna. Dari awal hingga akhir.
"Gila, dia sehebat ini. Pantas rumus coding bukan hal sulit untuknya," gumam Cedric pelan.
Ia menggulir layar. Dan membaca sesuatu yang membuat Cedric kembali terkejut.
'Menguasai tujuh bahasa asing. Selain Inggris.'
Cedric menghembuskan napas. "Masuk akal ... photographic memory."
Tapi Cedric tahu, itu tidak cukup. Tidak mungkin hanya mengandalkan ingatan tanpa usaha. Ia bersandar di kursi, menatap kosong ke depan.
Keluarga Lorenzo.
Bukan sekadar keluarga penguasa.
Mereka melahirkan generasi emas.
Sayap mereka menjangkau instansi pemerintahan, dan dunia bawah yang ilegal.
Pemilik teknologi masa depan.
Morelli?
Belum ada apa-apanya jika dibandingkan Lorenzo.
Cedric menelan ludah.
Ia hanya berharap satu hal.
Semoga Morelli tidak menjadikan Lorenzo musuh.
Karena menjadikan Lorenzo musuh ... sama saja dengan bunuh diri.
Pikiran Cedric terputus mendadak saat mendengar langkah kaki cepat mendekat.
Cedric mendongak ...
Dan mendapati Theo berlari ke arahnya, wajahnya panik, napasnya terengah.
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️
up lagi
up lagi