Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 - BANGKIT DARI ABU
Jam 4:45 pagi, alarm berbunyi.
Akselia terbangun dengan tubuh masih pegal dari semua yang terjadi. Tapi dia tidak punya waktu untuk merasa kasihan pada diri sendiri. Pak Dharma bilang latihan jam lima, berarti dia harus siap jam lima.
Kamar mandi kecil di sudut kamar, air dingin. Tidak ada pemanas, berbeda jauh dari apartemen yang dulu, yang setidaknya punya shower hangat kalau lagi beruntung. Tapi Akselia tidak peduli, sir dingin justru bikin dia bangun sepenuhnya.
Dia menatap cermin yang berembun. Tubuhnya di balik handuk terlihat kurus, otot-otot yang dulu terdefinisi jelas sekarang menghilang, tergantikan lemak dan kulit kendur. Setahun jadi pelayan, mengangkat nampan dan senyum palsu, mengikis fisik yang pernah dia banggakan.
"Menyedihkan," gumamnya pada pantulannya sendiri.
Keluar dari kamar, Akselia mengenakan kaus oblong hitam dan celana training lusuh, baju dari kardus Pak Dharma. Masih bau deterjen dan sedikit kebesaran, tapi cukup untuk latihan.
Dojo sudah terang. Pak Dharma berdiri di tengah matras, mengenakan kaus tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot yang masih kencang meski usianya hampir lima puluh. Di sampingnya ada seorang perempuan muda... rambut dikuncir kuda tinggi, tubuh atletis, wajah serius.
"Telat tiga menit," kata Pak Dharma tanpa melihat jam.
Akselia mengecek ponselnya. Jam 5:03. "Maaf, Pak."
"Maaf tidak guna di ring. Di ring, telat tiga detik bisa bikin kamu KO." Pak Dharma mengangguk ke perempuan di sampingnya. "Ini Sari, asisten pelatihku. Dia yang akan pantau progress kamu."
Sari mengulurkan tangan, jabatannya kuat, Tegas. "Pak Dharma cerita soal kamu, katanya kamu dulu juara tujuh kali berturut-turut."
"Itu dulu," jawab Akselia datar.
"Lalu kenapa berhenti?"
Akselia tidak menjawab. Pak Dharma yang menyela. "Itu tidak penting sekarang, yang penting dia mau mulai lagi."
Sari menatap Akselia dari atas ke bawah, menilai. Tatapannya skeptis. "Okay. Kita lihat kamu masih punya apa."
"Pemanasan dulu," perintah Pak Dharma. "Lari keliling komplek, lima kilometer Sari akan dampingi."
Lima kilometer... Dulu, Akselia bisa lari sepuluh kilometer tanpa berkeringat, sekarang?
"Mulai," kata Pak Dharma.
Akselia dan Sari keluar dojo. Udara pagi masih dingin, langit masih gelap dengan jejak jingga di timur. Jalanan komplek sepi, cuma ada tukang sapu dan beberapa pedagang kaki lima yang mulai buka lapak.
Sari mulai jogging santai, Akselia mengikuti.
Satu kilometer pertama, oke. Napas masih teratur.
Kilometer kedua, mulai terasa. Paru-paru terbakar.
Kilometer ketiga, kaki mulai berat. Dada sesak.
"Napas lewat hidung, buang lewat mulut," instruksi Sari tanpa menoleh. "Ritme... jaga ritme."
Akselia mencoba, tapi tubuhnya protes. Setahun tidak latihan serius membuat kardionya hancur.
Kilometer keempat, Akselia tersandung hampir jatuh. Sari menangkap lengannya.
"Kamu mau berhenti?"
"Tidak," Akselia menggeleng keras, meski kepala pusing.
"Yakin? Mukamu pucat."
"Aku bilang tidak!"
Sari melepas lengannya. "Okay. Tapi kalau pingsan, aku tidak akan gendong kamu pulang."
Kilometer kelima terasa seperti maraton. Setiap langkah seperti ada beban timah di kaki. Napas Akselia berbunyi ngik-ngik seperti orang asma, keringat membasahi seluruh tubuh.
Tapi dia tidak berhenti.
Tidak akan berhenti.
Kevin yang tertawa meremehkan, Karina yang memanggil pelayan murahan, bayi yang hilang. Apartemen kosong...
Semuanya jadi bahan bakar.
Akhirnya mereka sampai kembali ke dojo. Akselia langsung ambruk di depan pintu, napas terengah-engah, tangan bertumpu di lutut.
"Dua puluh tujuh menit," Sari mengecek stopwatch. "Dulu kamu berapa?"
"Lima belas... menit..." jawab Akselia di sela napas.
"Berarti kamu kehilangan separuh kapasitas." Sari jongkok di samping Akselia. "Tapi kamu tidak menyerah, itu yang penting."
Pak Dharma muncul di ambang pintu, membawa botol air. "Minum! Lima menit istirahat, lalu kita mulai latihan inti."
Akselia meneguk air seperti orang yang tidak minum seminggu, dingin segar. Tapi tidak cukup untuk memuaskan dahaga yang tiba-tiba terasa seperti api di tenggorokan.
"Pak Dharma," panggil Akselia setelah napas agak teratur. "Aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Kenapa Pak Dharma mau bantu aku? Maksudku... balas dendam itu bukan hal yang..."
"Baik?" Pak Dharma menyela, tersenyum tipis. "Kamu benar. Balas dendam bukan hal baik, tapi aku bukan bantu kamu buat balas dendam, Akselia."
"Lalu?"
"Aku bantu kamu menemukan dirimu lagi." Pak Dharma duduk di tangga dojo. "Tiga tahun lalu, kamu kehilangan Aksana dan kamu kabur. Kamu pikir dengan jadi orang lain, rasa sakitnya akan hilang. Tapi nyatanya?"
Akselia terdiam.
"Nyatanya kamu cuma menunda. Rasa sakit tetap ada, cuma terpendam. Terus kamu ketemu Kevin, dan kamu pikir dia obatnya. Tapi dia bukan obat, Akselia. Dia cuma pelarian lain."
Kata-kata itu menohok tepat di dada.
"Sekarang kamu mau balas dendam ke Kevin. Oke, silakan. Tapi yang lebih penting..." Pak Dharma menatap Akselia tajam, "Kamu harus damai dulu sama dirimu sendiri, sama rasa bersalah soal Aksana. Kalau kamu tidak selesaikan itu, kamu akan tetap lari. Entah ke balas dendam, atau pelarian lain."
Akselia merasakan sesuatu mencekik tenggorokannya. Nama Aksana selalu punya efek itu.
"Aku..." suaranya serak. "Aku tidak tahu caranya, Pak. Damai sama diri sendiri."
"Makanya kamu di sini. Latihan fisik itu cuma permukaan, yang sebenarnya kita latih adalah mental, disiplin, kontrol, fokus." Pak Dharma berdiri. "Tiga bulan ke depan, kamu tidak cuma belajar jadi kuat secara fisik. Kamu belajar hadapi setan-setan di kepalamu."
Sari mengangguk setuju. "Pak Dharma selalu bilang, petarung terkuat bukan yang punya pukulan terkeras. Tapi yang punya mental paling stabil."
"Dan kamu, Akselia," Pak Dharma menatapnya, "mentalmu sekarang kacau. Penuh amarah, rasa bersalah, obsesi. Kalau kamu tidak beresin itu, kamu akan jadi petarung yang bagus tapi rapuh. Satu pukulan mental, kamu hancur."
Akselia menelan ludah, dia tahu Pak Dharma benar. Sejak Aksana meninggal, dia memang kacau. Lari dari satu hal ke hal lain. Tidak pernah benar-benar berhenti dan hadapi rasa sakitnya.
"Aku siap, Pak," katanya pelan tapi tegas. "Apa pun latihannya, aku siap."
"Kita lihat." Pak Dharma masuk ke dojo. "Sekarang, push up. Seratus kali."
"Seratus?!" Akselia terkesiap.
"Kamu dengar aku gagap?" Pak Dharma bahkan tidak menoleh. "Seratus... Mulai."
Akselia menatap Sari, berharap dapat simpati. Tapi Sari cuma tersenyum dan berkata, "Dulu aku disuruh dua ratus di hari pertama, kamu beruntung."
Tidak ada pilihan. Akselia merebahkan tubuh di matras. Posisi push up... turun naik.
"Satu."
Turun... Naik...
"Dua."
Sepuluh kali pertama, masih oke. Dua puluh, mulai berat. Tiga puluh, lengan gemetar. Empat puluh, Akselia ambruk.
"Bangun," perintah Pak Dharma dari sudut dojo, sedang bongkar samsak.
"Aku... tidak bisa..."
"Kamu bisa, kamu cuma tidak mau."
"Pak, please..."
"BANGUN!"
Suara Pak Dharma menggelegar. Bukan marah, tapi tegas. Tidak menerima penolakan.
Akselia menggigit bibir, bangkit... Lanjutkan.
Empat puluh lima, lima puluh lengannya terasa seperti jeli. Keringat menetes di matras, napas sesak.
Kevin yang tertawa, Karina yang melengking. Bayi yang tidak pernah sempat dilahirkan.
Enam puluh... Tujuh puluh...
Aksana yang tertabrak, Aksana yang berteriak nama Akselia sebelum meninggal.
Delapan puluh... Sembilan puluh...
Akselia yang lemah, Akselia yang kabur, Akselia yang percaya cinta bisa selamatkan dia.
Sembilan lima... Sembilan enam... Sembilan tujuh...
"TIGA LAGI!" teriak Sari.
Sembilan delapan... Sembilan sembilan...
Seratus...
Akselia collapse di matras, seluruh tubuh gemetar, lengan mati rasa. Tapi ada sesuatu di dadanya, sesuatu yang hangat, sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan.
Bangga.
Bangga sama diri sendiri...
"Bagus," kata Pak Dharma, berjalan mendekat. "Sekarang sit up. Seratus."
"Pak... Anda bercanda..."
"Aku tidak pernah bercanda soal latihan."
Dan dimulailah sesi latihan paling brutal yang Akselia alami sejak tiga tahun lalu.
Sit up... Plank... Squat... Jumping jack... Semuanya seratus kali. Tidak ada kompromi, tidak ada istirahat panjang.
Setiap kali Akselia mau menyerah, Pak Dharma ada di sana... tegas, dingin. Tidak peduli Akselia menangis atau memohon.
"Kamu pikir Kevin akan kasihan kalau kamu lemah? Kamu pikir dunia akan kasihan? TIDAK! Dunia cuma respek sama yang kuat. Maka JADILAH KUAT!"
Tiga jam kemudian, Akselia tergeletak di matras seperti mayat. Seluruh tubuhnya sakit, sakit di tempat-tempat yang dia tidak tahu bisa sakit.
Sari melemparkan handuk. "Mandi. Kamu bau."
Akselia tertawa lemah. Tubuhnya tidak bisa digerakkan, tapi dia tertawa.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Sari penasaran.
"Karena..." Akselia menarik napas, "...aku lupa rasanya sakit karena latihan, bukan sakit karena patah hati."
Sari tersenyum pertama kalinya. "Selamat datang kembali, Akselia."
Pak Dharma berdiri di sudut, memperhatikan muridnya yang tergeletak kelelahan. Dia tidak bilang apa-apa. Tapi senyumnya, senyum tipis yang penuh arti untuk semuanya.
Akselia Kinanti sedang mati.
Dan dari abu-abunya, sesuatu yang lebih kuat sedang terlahir.
author terbaik.. 😍
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.
Terima kasih.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?