Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18-"ASTAGA! ARLAN! ALUNA! APA-APAAN INI?!"
Aluna masuk ke dalam toilet dengan langkah yang dihentak-hentakkan, melampiaskan kekesalannya pada lantai porselen. Di luar, Arlan masih berdiri tegak layaknya patung penjaga, namun matanya sesekali melirik jam tangan dengan raut yang sulit dibaca.
Di dalam, Aluna mulai bekerja dengan barbar. Ia menuangkan cairan karbol dalam jumlah banyak ke lantai hingga bau menyengat memenuhi ruangan yang tertutup itu.
Srak! Sruk! Srak!
Bunyi sikat lantai beradu dengan keramik terdengar begitu bising. Aluna menyikat dengan tenaga penuh emosi, membayangkan wajah datar Arlan adalah lantai yang sedang ia gosok sekarang.
Karena terlalu banyak menuangkan sabun dan air, lantai toilet itu kini berubah menjadi medan perang yang sangat licin. Busa putih meluap di mana-mana. Aluna yang sudah lemas karena belum sarapan, ditambah pusing akibat bau karbol yang terlalu kuat, mulai kehilangan keseimbangan. Napasnya pendek-pendek, dan pandangannya sedikit mengabur.
"Eh—eh! Aduh! Aaaaa!"
Kaki Aluna terpeleset hebat saat ia hendak berpindah ke sudut lain. Tubuhnya oleng ke belakang dengan sangat cepat. Aluna memejamkan mata erat, sudah pasrah jika kepalanya harus beradu dengan lantai dingin. Namun, tepat sebelum gravitasi menariknya jatuh, pintu toilet terbuka dengan bantingan keras.
Grep!
Sepasang lengan kokoh menangkap pinggang Aluna tepat pada waktunya. Aluna merasakan tubuhnya tertahan di udara, aroma parfum maskulin yang segar menggantikan bau karbol yang menyesakkan. Saat ia membuka mata, wajah Arlan hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Tatapan tajam cowok itu tampak sedikit bergetar, ada kilatan panik yang tidak bisa disembunyikan di balik wajah kulkasnya.
"Ceroboh banget sih jadi cewek. Kalau bocor itu kepala, gue yang repot laporan ke bokap lo," suara berat Arlan terdengar rendah, getarannya terasa sampai ke dada Aluna.
Tanpa mereka sadari, di balik celah pintu yang tidak tertutup rapat, Lyra berdiri mematung. Dadanya naik turun menahan amarah yang membakar. Ia mengepalkan tangannya sampai kuku-kukunya memutih melihat adegan penyelamatan yang begitu intim itu. "Awas aja ya lo, Aluna," desisnya pelan sebelum menyelinap pergi dengan rencana licik di kepalanya.
Arlan membantu Aluna berdiri tegak kembali, meski tangannya masih siaga memegang lengan gadis itu. "Bisa berdiri nggak? Makanya kalau kerja pakai mata, jangan pakai emosi."
Aluna memegangi kepalanya yang pening, otaknya mulai memutar rencana cadangan. "Aduh... kaki gue kayaknya terkilir deh, Kak. Terus... duh, tenggorokan gue kering banget. Gue haus parah, asli. Kayaknya gue bisa pingsan di sini kalau Kakak nggak kasih gue minum sekarang," rengek Aluna dengan wajah paling melas sedunia. Dalam hati dia bersorak 'Sana pergi beli minum, gue bakal kabur nanti begitu lo ilang!' batin Aluna.
Arlan menghela napas panjang melihat bibir Aluna yang memang sedikit pucat.
"Tunggu di sini. Jangan coba-coba geser satu sentimeter pun. Kalau gue balik dan lo nggak ada, gua tambahin hukuman lo."
Begitu langkah kaki Arlan menjauh menuju kantin, Aluna langsung menyeringai menang. "Yes! Dasar robot kulkas gampang banget dikibulin kalau soal kemanusiaan!"
Aluna bersiap melangkah jinjit menuju pintu. Namun, saat tangannya baru saja hendak menyentuh gagang pintu...
Brak!
Pintu toilet tertutup dengan sangat keras dari luar.
Ceklek
Suara kunci diputar terdengar jelas. Aluna sontak panik dan menarik-narik gagang pintu. "Heh! Siapa di luar?! Nggak lucu ya! Bukain!"
Tiba-tiba...
PET!
Lampu toilet padam seketika. Lyra telah mematikan saklar utama dari luar.
Suasana menjadi gelap gulita, hanya ada sedikit cahaya remang dari ventilasi tinggi yang tak membantu banyak. Aluna yang memang trauma dengan kegelapan mulai bernapas tersengal-sengal.
"Siapa di sana?! Kak Arlan?! Jangan bercanda ya!" teriak Aluna dengan suara gemetar.
Di luar, Lyra tersenyum puas. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya, lalu memasukkan beberapa ekor tikus dan kecoa melalui celah bawah pintu yang agak renggang. "Selamat menikmati pesta kegelapan, Aluna," gumam Lyra sinis sebelum lari menjauh.
Di dalam toilet yang gelap dan sunyi, Aluna mulai mendengar suara-suara horor.
Cit! Cit! Cit! Suara kuku-kuku kecil yang berlari di lantai yang basah terdengar jelas. Tak lama, Aluna merasakan sesuatu yang bergetar terbang dan hinggap di bahunya.
"KYAAAAA!!! KECOA TERBANG!!! TIKUS!!! MAMPUS GUE!" teriak Aluna histeris. Dalam kegelapan total, ia merasa ada banyak hal merayap di dekat kakinya. Dengan gerakan membabi buta, Aluna melompat ke atas wastafel, jongkok di sana sambil menangis sejadi-jadinya. "KAK ARLAAAAN!!! TOLONGIN GUE!!! GELAP!!! ADA TIKUS!!!"
Tak lama kemudian, terdengar suara deru langkah kaki yang sangat cepat berlari di koridor. Arlan kembali membawa botol minum, namun ia terkejut melihat koridor gelap dan pintu toilet terkunci dari luar.
"Aluna?! Al, lo di dalam?!" Arlan mencoba memutar gagang pintu, tapi nihil.
"KAK ARLAN! BUKAIN! GELAP BANGET! BANYAK BINATANG, KAK! TOLONG!" suara Aluna sudah serak karena trauma dan tangis.
Tanpa pikir panjang, Arlan mengambil ancang-ancang dan menendang pintu kayu itu dengan kekuatan penuh.
BRAKKK!
Pintu itu terbuka paksa hingga engselnya nyaris lepas. Cahaya dari koridor masuk, menerangi sosok Aluna yang sudah gemetar hebat di atas wastafel. Begitu melihat sosok Kak Arlan, Aluna langsung melompat turun dan reflek menghambur memeluk Arlan dengan sangat erat.
Aluna memeluk leher Arlan sekuat tenaga, menyembunyikan wajahnya di dada cowok itu. Kakinya bahkan ikut melingkar di pinggang Arlan karena ia merasa tikus tadi masih berkeliaran di lantai. "KAK ARLAN JANGAN PERGI! TAKUT! GELAP BANGET TADI! HIKS..." tangis Aluna pecah.
Arlan terpaku. Jantungnya berdegup kencang saat merasakan tubuh Aluna yang gemetar hebat di pelukannya. Ia membalas pelukan itu, satu tangannya mendekap kepala Aluna dengan protektif. "Tenang, Al... Gue di sini. Nggak ada yang bakal nyakitin lo lagi."
Namun, di tengah momen dramatis itu, sebuah suara dingin yang melengking menggelegar dari depan pintu.
"ASTAGA! ARLAN! ALUNA! APA-APAAN INI?!"