NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 19

Langit di atas kota itu menggantung rendah, seolah menahan hujan yang tak kunjung jatuh. Awan kelabu bergerak perlahan, membiarkan cahaya matahari tersaring tipis dan dingin. Udara terasa lembap, menempel di kulit, membuat siapa pun yang berjalan di bawahnya melambat tanpa sadar.

Yurie berdiri di balik jendela kaca besar lantai dua, memeluk lengannya sendiri. Gaun berwarna gading yang ia kenakan jatuh sederhana, tanpa hiasan berlebih. Rambut pirangnya dibiarkan tergerai, sedikit bergelombang di ujung, tersentuh cahaya pucat dari luar.

Sejak kejadian di bab sebelumnya—sejak percakapan yang menggantung antara dirinya dan Kaiden—ada sesuatu yang berubah. Tidak besar, tidak mencolok. Hanya rasa asing yang tumbuh pelan di dadanya. Rasa yang tidak menyakitkan, tapi juga tidak sepenuhnya tenang.

Langkah kaki terdengar di belakangnya.

Tidak terburu-buru. Tidak ragu.

Yurie tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.

Kaiden berhenti beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak langsung bicara. Seperti biasa, lelaki itu memilih diam lebih dulu, seolah memastikan kehadirannya tidak mengganggu ruang yang sedang Yurie isi.

“Kau belum makan,” ucap Kaiden akhirnya, suaranya rendah.

Yurie menoleh pelan. Tatapan mereka bertemu. Ada jeda singkat di sana—cukup lama untuk membuat jantung Yurie berdetak sedikit lebih cepat, cukup singkat untuk tidak terasa canggung.

“Aku tidak terlalu lapar,” jawab Yurie jujur.

Kaiden tidak membantah. Ia hanya mendekat satu langkah, lalu berdiri sejajar dengan Yurie, ikut menatap keluar jendela. Bahu mereka tidak bersentuhan, tapi jaraknya cukup dekat hingga Yurie bisa merasakan hangat tubuhnya.

“Ada hal yang mengganggumu,” kata Kaiden.

Itu bukan pertanyaan.

Yurie tersenyum kecil, hampir tak terlihat. “Kau selalu bisa tahu.”

Kaiden mengangkat bahu tipis. “Kau tidak pandai menyembunyikan sesuatu.”

“Dan kau terlalu pandai membaca orang lain,” balas Yurie.

Hening kembali turun di antara mereka. Namun hening kali ini berbeda. Tidak berat. Tidak menekan. Justru terasa seperti ruang aman—tempat dua orang bisa bernapas tanpa harus menjelaskan apa pun.

Yurie kembali menatap langit. “Aku hanya… belum terbiasa dengan ketenangan seperti ini.”

Kaiden menoleh padanya. “Ketenangan?”

“Ya,” Yurie mengangguk pelan. “Hidupku terlalu lama dipenuhi suara. Bentakan. Perintah. Tatapan yang membuatku ingin mengecil.”

Kaiden mengepalkan tangannya tanpa sadar.

“Di sini berbeda,” lanjut Yurie. “Tidak ada yang memaksaku bangun dengan rasa takut. Tidak ada yang membuatku merasa salah hanya karena aku ada.” Ia terdiam, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, “Aku takut ini hanya sementara.”

Kaiden tidak langsung menjawab. Ia memandang wajah Yurie dari samping—garis rahang lembutnya, mata hijau yang menyimpan terlalu banyak hal, dan cara gadis itu menahan diri agar tidak berharap terlalu tinggi.

“Kau tidak perlu takut,” ucap Kaiden akhirnya. “Selama kau di sini.”

Yurie menoleh cepat. “Selama aku di sini… sebagai apa?” Pertanyaan itu menggantung di udara.

Kaiden menatapnya lama. Tidak ada senyum. Tidak ada gurauan. Hanya kejujuran yang telanjang dalam diamnya.

“Sebagai Yurie,” jawabnya.

Jantung Yurie bergetar.

Bukan istri. Bukan alat. Bukan perjanjian.

Hanya… Yurie.

Sesuatu di dada Yurie menghangat. Perasaan yang selama ini ia tahan perlahan merambat naik, membuat matanya sedikit berkaca.

“Aku tidak ingin menyusahkanmu,” katanya pelan.

“Kau tidak menyusahkan siapa pun,” balas Kaiden tegas. “Kehadiranmu bukan beban.”

Yurie tertawa kecil, getir tapi tulus. “Kau tahu? Ini pertama kalinya seseorang mengatakan itu padaku.”

Kaiden mengalihkan pandangannya, menatap keluar jendela. “Mereka bodoh.”

Yurie menatapnya, lalu tersenyum. Senyum yang kali ini tidak dipaksakan.

Beberapa saat kemudian, Kaiden melangkah pergi. Namun sebelum keluar ruangan, ia

berhenti.

“Makanlah,” katanya tanpa menoleh. “Bukan karena aku menyuruhmu. Tapi karena tubuhmu juga layak diperhatikan.”

Pintu tertutup pelan.

Yurie berdiri sendiri lagi, tapi rasa sepi tidak kembali.

Malam turun perlahan. Lampu-lampu di kediaman Reynard menyala satu per satu, menciptakan bayangan hangat di koridor panjang. Di ruang makan, Yurie duduk berhadapan dengan Kaiden. Meja itu terlalu besar untuk dua orang, namun kehadiran Kaiden membuatnya terasa tidak kosong.

Mereka makan tanpa banyak bicara.

Bukan karena canggung. Justru karena ada kenyamanan yang tidak perlu diisi kata-kata.

Sesekali Kaiden menggeser piring Yurie yang hampir kosong. “Ambil lagi.”

“Aku sudah cukup,” jawab Yurie.

“Kau makan seperti burung,” komentar Kaiden datar.

Yurie tertawa kecil. “Aku terbiasa begitu.”

Kaiden tidak berkata apa-apa lagi, tapi ia memastikan Yurie mengambil satu sendok tambahan.

Setelah makan, mereka berjalan keluar menuju taman belakang. Lampu taman menyala redup, memantulkan cahaya ke dedaunan yang basah oleh embun sore.

Yurie berhenti di bawah pohon besar yang daunnya rimbun.

“Tempat ini indah,” katanya.

Kaiden berdiri di sampingnya. “Aku jarang ke sini.”

“Kenapa?”

“Tidak ada alasan.”

Yurie menatap batang pohon itu. “Aku ingin duduk.”

Kaiden melepas jasnya, menggelarnya di bangku kayu. “Duduklah.”

Yurie terdiam sejenak. “Kau tidak perlu melakukan itu.”

“Aku ingin.”

Yurie menurut. Saat ia duduk, Kaiden tetap berdiri di dekatnya, tangannya masuk ke saku celana.

“Kaiden,” panggil Yurie pelan.

“Hm?”

“Apa kau pernah merasa… sendirian, meski dikelilingi banyak orang?”

Kaiden tidak langsung menjawab. Matanya menerawang. “Sering,” katanya akhirnya.

Yurie menatapnya. “Bagaimana caramu bertahan?”

Kaiden menoleh. Tatapan mereka bertaut di bawah cahaya taman.

“Aku tidak bertahan,” jawabnya jujur. “Aku hanya berjalan terus. Sampai bertemu seseorang yang membuatku berhenti.”

Degup jantung Yurie terasa di telinganya sendiri.

Ia menunduk cepat, mencoba menyembunyikan rona tipis di pipinya.

Kaiden tidak melanjutkan. Namun langkahnya mendekat setengah langkah—cukup dekat untuk membuat Yurie sadar bahwa jarak di antara mereka semakin menyempit, tapi masih aman.

“Masuklah. Udara mulai dingin,” ucap Kaiden akhirnya.

Yurie mengangguk.

Saat mereka berjalan kembali ke dalam, lengan mereka sempat bersentuhan. Singkat. Tidak sengaja. Tapi cukup untuk membuat Yurie tersenyum kecil sepanjang koridor. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak merasa sendirian.

......................

Malam semakin larut ketika Yurie kembali ke kamarnya. Cahaya lampu temaram membuat ruangan itu terasa lebih hangat dari biasanya. Tirai jendela setengah terbuka, membiarkan angin malam masuk pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Yurie berdiri di dekat jendela, menatap pantulan dirinya di kaca. Wajahnya terlihat lebih tenang, meski ada sesuatu yang terus bergerak di balik matanya. Percakapan dengan Kaiden di taman berulang di kepalanya, kata demi kata, nada demi nada.

Ia memegang dadanya sendiri.

Degup jantungnya masih tidak teratur.

Bukan karena takut.

Bukan karena cemas.

Melainkan karena perasaan yang perlahan tumbuh—tanpa izin, tanpa aba-aba.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

Yurie menoleh. “Masuk.”

Pintu terbuka. Kaiden berdiri di ambang, kali ini tanpa jas. Kemeja hitamnya sedikit terbuka di bagian kerah, rambutnya tampak lebih berantakan dibanding biasanya. Seolah ia baru saja berhenti dari sesuatu yang membuatnya berpikir terlalu lama.

“Aku mengganggumu?” tanya Kaiden.

Yurie menggeleng. “Tidak.”

Kaiden melangkah masuk, lalu berhenti beberapa langkah dari Yurie. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa berbeda.

“Aku hanya ingin memastikan,” ucap Kaiden, suaranya lebih rendah dari biasanya, “kau baik-baik saja.”

Yurie menatapnya. Lama. “Aku baik.”

Kaiden mengangguk pelan, tapi tidak langsung pergi.

Hening kembali hadir. Namun kali ini, hening itu sarat. Seperti ada terlalu banyak hal yang ingin diucapkan, tapi tak satu pun tahu harus dimulai dari mana.

“Aku tidak terbiasa,” Yurie akhirnya bicara,

“dengan seseorang yang peduli tanpa meminta apa pun sebagai gantinya.”

Kaiden menatapnya lekat. “Kau tidak berutang apa pun padaku.”

“Aku tahu,” jawab Yurie cepat. Lalu suaranya melunak. “Justru itu yang membuatku bingung.”

Kaiden menarik napas dalam-dalam. “Yurie… aku tidak melakukan ini karena kewajiban.”

Ia melangkah satu langkah lebih dekat.

“Aku melakukannya karena aku mau.”

Jantung Yurie seakan berhenti sepersekian detik.

“Kau tidak perlu membalas,” lanjut Kaiden, seolah

membaca pikiran Yurie. “Aku hanya ingin kau tahu.”

Yurie menunduk. Tangannya mengepal di sisi gaunnya. “Bagaimana jika aku tidak tahu harus bagaimana?”

Kaiden tersenyum tipis—senyum yang jarang, dan entah kenapa terasa sangat tulus. “Maka jangan lakukan apa pun. Aku tidak terburu-buru.”

Yurie mengangkat wajahnya. “Kau tidak pernah?”

“Apa?”

“Terburu-buru.”

Kaiden terdiam sejenak. “Aku sudah terlalu lama hidup dengan tekanan. Aku belajar bahwa hal-hal yang dipaksakan hanya akan hancur lebih cepat.”

Kata-kata itu menancap dalam di benak Yurie.

Ia melangkah mendekat, kali ini tanpa sadar. Jarak di antara mereka kini hanya tinggal satu langkah kecil. Yurie bisa melihat detail wajah Kaiden dengan jelas—garis kelelahan di bawah matanya, rahang tegas yang jarang rileks, dan sorot mata yang selama ini selalu dingin… kini terlihat lebih hangat.

“Kaiden,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Apa aku… membuat hidupmu lebih rumit?”

Kaiden tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangannya, lalu berhenti di udara—ragu. Namun akhirnya, punggung jarinya menyentuh ujung rambut Yurie yang jatuh di bahunya, sangat ringan, seolah takut mengagetkannya.

“Kau membuat hidupku lebih hidup,” jawabnya lirih.

Yurie membeku.

Sentuhan itu bukan pelukan. Bukan genggaman. Hanya sentuhan singkat yang seharusnya tidak berarti apa-apa—namun justru membuat dada Yurie terasa penuh.

Ia tidak mundur.

Kaiden pun tidak melanjutkan.

Mereka berdiri begitu dekat, berbagi napas yang sama, waktu seakan melambat.

“Maaf,” ucap Kaiden tiba-tiba, menarik tangannya. “Aku seharusnya—”

“Tidak,” potong Yurie cepat. “Tidak apa-apa.”

Kaiden menatapnya, seolah meminta kepastian.

Yurie mengangguk kecil. Hening kembali turun, tapi kini terasa lebih lembut.

“Aku akan pergi,” kata Kaiden akhirnya. “Istirahatlah.”

Yurie mengiyakan. Namun sebelum Kaiden membuka pintu, ia berhenti.

“Yurie.”

“Ya?”

“Apa pun yang kau rasakan… kau tidak sendirian.”

Pintu tertutup pelan.

Yurie berdiri lama setelah itu. Tangannya naik ke bahunya sendiri, ke tempat yang tadi disentuh Kaiden. Jantungnya berdegup tidak karuan.

Ia tersenyum kecil.

Hari berikutnya, hujan akhirnya turun. Tidak deras, hanya gerimis tipis yang membasahi halaman. Yurie duduk di ruang baca, sebuah buku terbuka di pangkuannya—namun sejak tadi ia tidak benar-benar membaca. Langkah kaki terdengar mendekat.

Kaiden muncul, membawa dua cangkir teh

hangat. Ia meletakkan satu di meja kecil di samping Yurie.

“Terima kasih,” kata Yurie.

Kaiden duduk di kursi seberangnya. “Kau tidak tidur nyenyak.”

Yurie terkejut. “Kelihatan?”

“Kau menguap lebih sering.”

Yurie tertawa kecil. “Mungkin karena hujan.”

Kaiden mengangkat cangkirnya. “Atau karena pikiranmu terlalu ramai.”

Yurie menunduk, lalu mengangguk pelan.

Hujan menimbulkan suara lembut di jendela. Ruangan itu terasa hangat, aman.

“Kaiden,” ucap Yurie ragu, “jika suatu hari aku memutuskan pergi…”

Kaiden menatapnya tajam. “Ke mana?”

“Aku tidak tahu. Mungkin mencari hidupku sendiri.”

Kaiden terdiam cukup lama. “Jika itu yang kau butuhkan, aku tidak akan menahannya.”

Yurie mengangkat wajahnya, terkejut. “Benarkah?”

“Ya,” jawab Kaiden tenang. “Karena aku tidak ingin kau tinggal karena terikat. Aku ingin kau tinggal karena memilih.”

Mata Yurie berkaca-kaca.

“Itu… membuatku ingin tinggal,” katanya pelan.

Kaiden tidak tersenyum. Tapi matanya melembut.

“Kalau begitu,” katanya, “tinggallah. Tidak untuk siapa pun. Hanya untuk dirimu sendiri.”

Yurie mengangguk.

Di luar, hujan terus turun. Di dalam, dua hati perlahan belajar berdampingan—tanpa janji besar, tanpa kata cinta, tapi dengan kehadiran yang semakin nyata. Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!