Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Tanpa Payung
Langit di atas Fakultas Ilmu Komunikasi sore itu nampak seperti tumpahan tinta hitam yang pekat, seolah semesta sedang bersiap untuk menumpahkan seluruh amarah yang sudah lama dipendam. Tak lama kemudian, hujan turun dengan intensitas yang mengerikan. Suara gemuruh air yang menghantam atap beton gedung menciptakan kebisingan yang mencekam, menelan semua suara percakapan manusia di bawahnya dan menggantinya dengan deru statis yang memekakkan telinga.
Di depan pintu lobi utama, sesosok pria berdiri mematung.
Genta Erlangga tidak membawa payung. Ia juga tidak lagi mengenakan jas almamater kebanggaannya, zirah perak yang dulu ia jaga dengan nyawanya. Kemeja putihnya sudah basah kuyup, menempel ketat di kulitnya yang kini nampak lebih pucat, menampakkan betapa ia terlihat jauh lebih kurus dibandingkan beberapa minggu lalu. Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi menggunakan pomade kini lepek, menutupi sebagian matanya yang terlihat sangat lelah, kosong, dan dipenuhi penyesalan.
Ratusan mahasiswa yang berlalu-lalang menatapnya dengan berbagai ekspresi. Heran, kasihan, atau sekadar ingin tahu. Sang Pangeran Es yang biasanya tidak tersentuh dan selalu tampil sempurna, kini berdiri di sana seperti seorang pesakitan yang sedang menunggu vonis mati di tengah badai. Namun, Genta tidak peduli. Ia tidak lagi peduli pada bisikan orang, tidak peduli pada citra BEM yang kini hancur, dan tidak peduli pada rasa dingin yang mulai membuat giginya bergemeletuk hebat. Matanya hanya terpaku pada pintu kaca di ujung koridor, menanti satu-satunya orang yang bisa memberikan obat bagi jiwanya yang kini sedang sekarat.
Pintu kaca itu akhirnya terbuka. Sekelompok mahasiswa semester tiga keluar sambil tertawa dan mengeluh tentang tugas akhir semester yang mencekik. Di tengah-tengah mereka, Rara berjalan sambil memeluk tasnya erat-erat. Wajahnya nampak jauh lebih tenang dan berwibawa sejak ia berhasil membuktikan kekuatannya lewat tulisan esainya yang viral, namun gurat kesedihan dan lelah masih tersisa di sudut matanya yang sembap.
Rara berhenti melangkah tepat di depan lobi. Matanya menangkap sosok Genta yang berdiri di tengah guyuran air yang merembes masuk ke selasar.
Maya, yang berdiri di samping Rara, menyenggol lengannya dengan panik. "Ra... itu Kak Genta. Dia basah semua, Ra. Udah berapa lama dia berdiri di sana?"
Rara menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara dingin agar ia tidak goyah. Ia mengepalkan tangannya di balik tas, kuku-kukunya menekan telapak tangan. Rasa nyeri di dadanya kembali muncul, sebuah denyut luka yang belum kering. Ia teringat dinginnya lobi rektorat beberapa hari lalu, ia teringat pengabaian Genta yang kejam, dan ia teringat draf pernyataan memuakkan yang sempat pria itu tandatangani.
Rara memutuskan untuk tidak berhenti. Ia memasang wajah yang paling dingin yang pernah ia miliki, sebuah topeng yang dulu justru milik Genta, dan mulai melangkah melewati pria itu seolah-olah Genta hanyalah tiang gedung yang tak bernyawa.
"Rara!"
Suara Genta terdengar parau, pecah di tengah deru hujan yang semakin liar. Langkah Rara terhenti sejenak karena kejutan suara itu, namun ia menolak untuk menoleh. Punggungnya tetap kaku.
"Rara, kumohon... sebentar saja," panggil Genta lagi, suaranya kini terdengar memohon, sebuah nada yang belum pernah didengar oleh siapa pun di kampus ini. Ia melangkah maju ke area selasar yang sedikit lebih kering, namun air terus menetes dari pakaiannya, menciptakan genangan kecil di lantai marmer yang bersih.
Rara tidak tahan lagi. Ia tidak ingin melihat wajah itu, karena ia takut pertahanannya akan runtuh. Tanpa aba-aba, ia justru berlari keluar lobi, menembus tirai hujan yang sangat deras dan membutakan mata. Ia tidak peduli jika bajunya basah, tasnya rusak, atau sepatunya terendam air. Ia hanya ingin lari dari suara yang terus memanggil namanya seperti hantu masa lalu itu.
"Ra! Rara, tunggu!"
Genta tidak menyerah. Ia mengejarnya dengan langkah yang terhuyung. Di tengah lapangan fakultas yang tergenang air, Genta berhasil menyusul Rara. Ia menarik lengan Rara, memaksanya untuk berbalik di tengah guyuran air yang menghantam wajah mereka.
"Lepaskan!" teriak Rara, suaranya hampir tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar di atas kepala mereka. "Lepaskan aku, Genta! Apa lagi yang kamu mau?"
"Aku minta maaf, Ra! Aku benar-benar minta maaf!" Genta berteriak balik, suaranya terdengar seperti tangisan yang tersamar oleh hujan. Ia mencengkeram bahu Rara dengan tangan yang gemetar hebat, kali ini tremor itu bukan karena kecemasan sosial, tapi karena keputusasaan yang murni. "Aku pengecut! Aku takut pada Ayahku, aku takut kehilangan beasiswa itu, aku takut kehilangan masa depanku... aku membiarkan Kania mendikteku! Aku tahu aku salah!"
"Salah?" Rara tertawa pahit, air hujan yang asin mengalir masuk ke mulutnya. "Kamu bukan cuma salah, Genta! Kamu membunuhku! Kamu membiarkan satu kampus menghujatku seolah aku sampah paling rendah, sementara kamu diam membeku di balik zirah perakmu itu! Kamu anggap aku cuma alat latihan mentalmu, kan? Kamu sudah hebat sekarang, kamu sudah bisa teriak-teriak di depan anggota BEM, jadi buat apa kamu mencariku lagi? Kamu sudah sembuh, kan?"
"Karena aku tidak bisa hidup tanpa Healer-ku!" Genta tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dan berlutut di depan Rara, di atas aspal parkiran yang dingin, kasar, dan tergenang air.
Rara terbelalak. Sosok Presiden Mahasiswa yang selalu diagungkan kini berlutut di kakinya di bawah guyuran hujan.
"Aku tidak butuh jabatan itu, aku tidak butuh beasiswa Harvard itu kalau harganya adalah kehilangan kamu selamanya," ucap Genta, suaranya bergetar hebat. "Aku sudah menghancurkan semuanya, Ra. Aku sudah melawan Kania, aku sudah menantang Ayahku... aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Kumohon, beri aku satu kesempatan untuk menebusnya."
Rara menatap Genta yang berlutut di kakinya. Hatinya hancur berkeping-keping melihat sang Paladin dalam kondisi sehancur ini. Namun, bayangan saat Genta melewatinya di lobi rektorat dengan mata yang begitu dingin tempo hari terlalu menyakitkan untuk dihapus hanya dengan satu permintaan maaf.
"Semuanya sudah terlambat, Genta," bisik Rara, suaranya mendadak sangat datar dan kosong. "Kamu baru menyadari nilaiku saat aku sudah terlanjur hancur oleh keputusanmu sendiri. Maaf adalah kata yang terlalu kecil untuk luka yang sedalam ini. Pergilah. Jadilah ksatria hebat di menara gadingmu, tapi jangan pernah mencariku lagi."
Rara menyentak tangannya, melepaskan sisa cengkeraman tangan Genta dari bajunya, dan berbalik pergi dengan langkah yang pasti, meninggalkan Genta yang masih berlutut sendirian di tengah badai yang tak kunjung reda.
Genta tidak mengejar lagi. Ia membiarkan Rara pergi hingga sosok gadis itu menghilang di balik gerbang fakultas yang tertutup kabut hujan. Ia tetap berlutut di sana, membiarkan air hujan menghantam tubuhnya yang kini mulai mati rasa.
Rasa dingin yang menusuk tulang kini mulai menjalar hingga ke jantungnya. Pandangan Genta mengabur, bukan hanya karena air hujan, tapi karena kepalanya yang terasa sangat berat. Selama seminggu terakhir, ia tidak makan dengan benar, tidak tidur lebih dari dua jam, dan stres di ruang rapat BEM kemarin telah menguras habis sisa-sisa energi vitalnya.
Genta mencoba berdiri, tangannya menumpu pada aspal yang kasar hingga telapak tangannya lecet. Namun, kakinya terasa seperti jeli yang tak bertenaga. Pandangannya mulai berputar hebat. Area parkir fakultas yang luas itu nampak bergoyang di matanya, seolah-olah dunianya sedang mengalami gempa bumi.
"Ra..." gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara deru angin.
Dunia mendadak menjadi gelap di tepian pandangannya. Tubuh Genta yang tadinya mencoba tegak kini miring ke samping. Dalam satu gerakan yang lambat dan tragis, Presiden Mahasiswa Universitas Nusantara itu ambruk di atas aspal parkiran yang keras. Kepalanya terbentur genangan air dengan suara gedebuk yang tertelan hujan, dan kesadarannya hilang sepenuhnya.
Di dunia virtual, karakter Paladin_Z mungkin memiliki ribuan HP dan bisa pulih dengan cepat. Namun di dunia nyata, Genta hanyalah seorang pemuda yang baru saja kehilangan dunianya, dan kini, ia benar-benar sendirian di bawah guyuran hujan yang tak mengenal ampun, tergeletak di antara genangan air yang mulai mendingin.