Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi dari rumah
"Bagaimana semua ini bisa bocor ke media?!"
Jantungnya berdegup kencang. Ia seperti dihantam dengan pisau. Adrian terhenyak, ia benar-benar terkejut bukan main.
Tangannya memukul kemudi dengan kencang, ia tak bisa menahan emosinya. Semua rahasia yang sudah ia jaga dengan rapat selama ini, kini sudah terungkap.
Adrian melirik ponselnya kembali, memberanikan diri melihat deretan berita yang kini mulai memenuhi berada ponselnya.
Kini berita perselingkuhan antara dirinya dan Erina sudah menjadi topik hangat disana. Bahkan bukan hanya satu gambar antara dirinya dan gadis itu di hotel, namun ada lebih banyak gambar yang mencuat ke media selain itu.
"SIALAN!" umpatnya.
Begitu lampu hijau muncul, pria itu langsung melajukan mobilnya dengan kencang melewati deretan mobil lain disekitarnya dengan kecepatan penuh. Ia tak peduli dengan suara klakson dari pengendara di belakangnya, kini hanya satu yang ada di kepalanya, ia harus segera pulang.
Hujan semakin deras, namun suara itu tak lebih kencang dari isi kepalanya yang mulai berkecamuk. Kini mobilnya sudah hampir mendekati kediaman.
Hanya beberapa meter lagi, namun saat hampir sampai Adrian melihat sebuah mobil putih BMW keluar dari gerbang rumahnya. Itu mobil Arini!
Mobil itu hampir keluar dari sana dan berlalu pergi, namun Adrian dengan cepat mengejarnya dan berhenti tepat di depan mobil itu. Ban mobil Adrian berdecit keras, meninggalkan bekas hitam di atas aspal yang basah, beradu dengan suara hujan yang mengguyur tanpa henti.
Kini mobilnya berada tepat dihadapan mobil Arini. Adrian lekas keluar dari sana, berjalan mendekati mobil putih BMW itu tanpa mempedulikan hujan yang membatasi dirinya.
Adrian berhenti lalu menggedor jendela kemudi dengan keras, berharap Arini bisa mendengar dirinya dari luar sana.
"Arini! Tolong buka jendelanya, Arini!"
"Ada yang perlu aku bicarakan sama kamu, Arini! Arini, are you hear me? Arini!" seru Adrian dengan suara terdengar parau.
Arini terdiam di kursi kemudi. Matanya mulai berkaca-kaca, tangannya bergetar. Ia menarik. napas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya.
Di dalam sana, Arini perlahan menurunkan kaca mobilnya. Hanya sedikit, cukup untuk membiarkan udara dingin dan aroma tanah basah masuk ke dalam kabin. Ia tidak menoleh ke arah Adrian. Pandangannya lurus ke depan, mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bicara apa lagi Adrian?" tanya Arini dengan suara lirih, namun terdengar tajam.
"Kamu mau bahas proyek kantor, dana perusahaan, atau mau menjelaskan foto-foto di hotel itu?"
"Kamu kira aku ini bodoh, Adrian?!"
"Itu semua jebakan, Arini! Media melebih-lebihkannya!" Adrian mencoba membela diri, meski ia tahu kata-katanya terdengar kosong di telinganya sendiri.
"Tolong... Kasih aku kesempatan-"
Arini menyela cepat dengan tatapan tajam. "Shut up, Adrian! Kita tidak perlu bertemu lagi, semua cukup sampai disini!"
Arini menekan cepat tombol untuk menutup kembali jendela mobilnya.
"Arini! Tunggu!" teriak Adrian. Ia memukul kaca yang mulai tertutup itu, namun Arini tak bergeming.
Wanita itu menginjak gas dan dengan cepat mobil itu melaju pergi meninggalkan kediaman itu. Mobil itu melesat membelah hujan, meninggalkan Adrian yang berdiri mematung di tengah jalan.
Adrian terengah-engah. Ia menatap Mobil Arini yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangannya. Dengan tergopoh-gopoh Adrian berbalik dan berjalan masuk ke dalam kediamannya.
Tempat itu tampak sepi, gelap, dan seperti tak ada kehidupan. Ia jatuh terduduk lemas di lantai, matanya mulai menatap setiap sudut rumah itu.
Kenangan antara dirinya dan Arini kala mereka masih awal bersama setelah menikah kembali terlintas dalam kepalanya. Bayang-bayang itu seolah menghantui dirinya.
Senyum dan kebahagiaan mereka kala itu, hanya bertahan di masa lalu saja dan kini semua sudah runtuh. Tidak ada yang bisa Adrian perbaiki kembali. Sudah terlambat.
...****************...
Hujan yang mengguyur Jakarta seolah tidak mampu membasuh rasa sesak di dada Arini. Ia memacu mobil BMW putihnya membelah kemacetan menuju satu-satunya tempat yang ia harap bisa memberinya ketenangan, The Langham Residences. Sebuah apartemen mewah di kawasan SCBD.
Mobilnya hampir mendekat. Namun matanya terbelalak saat melihat pemandangan yang tak jauh dari posisinya. Arini lantas menghentikan mobilnya sebelum akan masuk ke lobby.
Cahaya kamera berkilat di antara rintik hujan. Puluhan wartawan dan fotografer sudah mengepung area depan lobby, tertahan oleh barisan petugas keamanan berseragam safari gelap. Arini menghentikan mobilnya agak jauh dari lobi, napasnya memburu.
"Bagaimana mereka bisa tahu aku ke sini?" batin Arini kesal.
Ia segera meraih jaket trench coat cokelat yang ada di kursi penumpang, memakainya dengan terburu-buru, dan mengenakan masker hitam yang menutupi separuh wajahnya.
Ia tidak mungkin lewat pintu utama. Arini memutar arah, mengemudikan mobilnya menuju area parkir penghuni yang lebih privat dan mencoba masuk melalui pintu akses samping yang biasanya hanya digunakan oleh staf atau pengiriman barang.
Arini turun dari mobil dan berjalan cepat, menundukkan kepala sedalam mungkin. Ia menyelinap di antara pilar-pilar beton besar, berharap tidak ada seorangpun yang akan melihatnya.
Arini berjalan semalin cepat, namun dari kejauhan ia mendengar samar-samar suara sepatu pantofel seolah mendekat. Sepertinya seseorang melihat dirinya.
Ia melirik ke belakang, dan benar seorang gadis dengan membawa kamera berjalan tak jauh darinya. Gadis itu mempercepat langkah saat melihat Arini yang menoleh menatapnya.
"Itu Arini! Mbak Arini, benar itu Anda?!" teriaknya.
"Dasar! Ngapain dia ngejar sampai sini, sih?" Arini mendengus kesal.
Arini mempercepat langkahnya, hampir berlari. Namun, teriakan wartawan itu memancing perhatian yang lain. Beberapa wartawan yang berjaga di sudut lobi mulai menyadari sosok wanita dengan jaket cokelat itu.
"Arini! Mohon konfirmasinya soal foto Adrian dan Erina!"
"Mbak Arini, apakah benar Anda akan menggugat cerai?!"
"Mbak Arini, bagaimana perasaan anda saat melihat bukti perselingkuhan tersebut?"
"Apakah Mbak Arini dan Pak Adrian sudah resmi bercerai sekarang?"
Suara-suara menyebalkan itu menyapa telinganya, membuat Arini semakin kesal. Ia malas berhadapan dengan wartawan-wartawan itu apalagi dengan pertanyaan tidak jelas yang mereka lontarkan.
Langkah Arini terhenti saat ia sampai di depan pintu akses kartu yang macet. Ia panik, tangannya gemetar hebat saat mencoba menempelkan kartu akses.
Saat ia melirik kembali, wartawan-wartawan itu semakin dekat. Tiba-tiba, sebuah tangan besar menarik bahu Arini dengan kuat. Arini hampir berteriak karena terkejut, namun sebelum suara itu keluar, sebuah jaket denim tebal sudah disampirkan di atas kepalanya, menutupi seluruh wajahnya dari jepretan kamera.
"Pergi! Jangan mengganggu privasi orang di sini!" suara itu tegas dan sangat familiar di telinga Arini.
Wartawan-wartawan itu tertegun sejenak oleh aura intimidasi pria tersebut. Memanfaatkan celah itu, sang pria merangkul Arini dengan perlahan, menuntunnya masuk melewati pintu akses yang entah bagaimana sudah terbuka.
Begitu pintu tertutup dan terkunci secara otomatis, suasana menjadi sunyi, hanya menyisakan suara napas Arini yang tersengal-sengal di bawah tutupan jaket. Mereka berjalan cepat menuju lift.
Di dalam lift yang berlapis marmer dan cermin itu, pria tersebut perlahan menurunkan jaket yang menutupi wajah Arini. Arini mendongak, matanya yang sembab menatap sosok di depannya.
"Gio?"
Laki-laki itu menoleh dan tersenyum kepada Arini. Ia mengelus pelan kepala sahabatnya itu, anehnya hal itu membuat Arini merasa jauh lebih tenang.
"I'm here. Ngga usah takut,"