NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / TKP / Komedi
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.15

Tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, mereka pergi ke warga yang lainnya. Warga kedua lebih ramah, Itu kesimpulan awal yang disepakati hampir semua orang, meski tidak ada yang berani mengucapkannya dengan suara keras, seolah takut semesta akan mendengar lalu berkata,

“Oh, kalian pikir ramah? Nih, naik level.”

Mereka memilih untuk bertanya pada seorang yang sedang ibu sedang menjemur pakaian. Jemuran bambu panjang membentang di halaman kecil nya, kain-kain basah itu bergoyang pelan tertiup angin. Halaman itu tidak luas, tapi tertata rapi dengan cara khas rumah desa, tanah dipadatkan, ada bekas tapak kaki ayam yang sudah mengering, dan pot bunga plastik yang warnanya pernah cerah sepuluh tahun lalu. Di sudut halaman, ember biru terbalik menampung sisa air cucian. Bau deterjen dan udara pagi menciptakan aroma yang anehnya menenangkan, setidaknya sampai rombongan posko datang merusaknya.

Paijo mendekat dengan percaya diri memanggil, tapi ternyata ia salah panggil. Kepercayaan diri Paijo pagi itu patut dicurigai. Biasanya ia butuh minimal dua gelas kopi dan satu rokok untuk mencapai level sok kenal seperti ini. Tapi hari itu, mungkin karena dorongan ingin cepat selesai, atau karena merasa warga kedua pasti lebih normal dari yang pertama, Paijo melangkah maju seperti diplomat yang yakin dirinya hafal nama kepala negara.

“Bu Siti!”

Ibu itu menoleh dengan gerakan tidak terburu-buru. Kepala menoleh, tangan masih menjepit ujung kain kaus yang setengah basah, mata menyipit sebentar seperti memeriksa apakah suara itu memang ditujukan padanya atau hanya angin yang iseng.

“Saya Bu Marni.”

Hening sepersekian detik.

“Maaf, Bu Mar, eh, Bu Marmi.”

Bodat menutup wajahnya dengan satu tangan. Ani sudah siap tertawa tapi menahan diri. Juned menoleh ke arah lain, pura-pura tertarik pada jemuran.

“Marni.”

Nada suaranya datar, tidak marah dan kesal karena namanya telah salah disebut. Tapi justru itu yang membuat Paijo panik.

“Iya, Bu Martin.”

Bodat mencubit lengan Paijo tanpa ampun. Cukup keras sampai Paijo mendesis, “Aduh!” tapi tetap tersenyum sopan seolah cubitan itu bagian dari ritual adat setempat.

Mereka pun mulai bertanya pada bu Marni, dan tanpa disadari sebuah formasi dari para mahasiswa KKN tersebut terbentuk dengan sendirinya. Paijo di depan sebagai pembuka (korban). Ani dan Udin di sisi kanan-kiri sebagai pengejar klarifikasi. Sisanya setengah lingkaran, berpura-pura santai tapi telinganya tajam seperti antena parabola.

“Bu, desa ini aman, kan?”

Pertanyaan klasik. Pertanyaan yang seharusnya punya jawaban klasik juga. Aman. Titik.

Ibu Marni tertawa kecil.

Tawanya ringan dan pendek seperti suara sendok menyentuh gelas.

“Aman kok. Dari dulu juga aman.”

Jawaban itu standar. Tapi entah kenapa, tidak satu pun dari mereka merasa lega.

“Dari dulu kapan, Bu?” Ani mengejar.

Nada Ani manis dengan senyum penuh etika, tapi matanya terlalu fokus seperti jaksa yang sudah tahu terdakwanya bohong tapi ingin mendengar versinya dulu.

Ibu marni berhenti sebentar dari aktifitas menjemur, tangannya masih memegang baju basah. Kain itu menggantung di udara, meneteskan satu tetes air yang jatuh tepat ke tanah, meninggalkan bercak gelap kecil.

“Ya… dulu.”

Jawaban itu menggantung lebih berat daripada baju di tangannya.

“Pernah ada kejadian aneh?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa pemanasan. Beberapa orang refleks menahan napas.

“Aneh itu relatif, Nak.”

Kalimat itu seperti batu kecil dilempar ke kolam tenang, riakannya menyebar ke mana-mana di kepala mereka. Juned mendekat sedikit. Langkahnya pelan, hampir tidak bersuara. Ia sudah masuk mode teknis, mode kalau ada yang janggal, gue rekam.

“Yang sering muncul apa, Bu?”

Ibu Marni mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Eh...maksudnya hewan apa yang sering muncul ?.”

Juned tersenyum kaku. Senyum orang yang sadar barusan hampir bertanya hal yang tidak boleh ditanyakan sebelum magrib.

“Oh...Kucing.”

Jawaban itu datang terlalu cepat.

“Kucing lewat jendela lantai dua?” Surya refleks.

Kalimat itu lolos sebelum otaknya sempat menyensor. Ibu Marni menatapnya lama seperti sedang menilai apakah Surya ini bodoh, berani, atau dua-duanya.

“Kucing bisa naik.”

“Lewat dinding?”

“Kalau niat.”

Keadaan kembali sunyi bahkan jemuran pun berhenti bergoyang. Ayam di kejauhan berhenti berkokok. Alam seolah memberi ruang bagi satu kalimat itu untuk meresap ke tulang. Aluh mengangkat tangan pelan, gerakannya seperti murid SD yang tahu pertanyaannya bodoh tapi sudah terlanjur penasaran.

“Bu… kalau rumah kosong di belakang posko?”

Ibu Marni menjemur baju basah yang terakhir dengan gerakan yang sedikit lebih cepat tapi rapi. Seolah ingin menyelesaikan sesuatu sebelum topik itu berkembang.

“Jangan ke situ.”

“Kenapa?”

“Tidak perlu.”

“Kenapa tidak perlu?” Ani mendesak.

Ibu Marni menghela napas pelan.

“Capek.”

“Capek apa, Bu?”

Ibu marni tersenyum. Senyum yang sering muncul pada orang-orang yang sudah menjawab pertanyaan yang sama terlalu sering pada orang-orang yang tahu apa pun jawaban selanjutnya hanya akan memperpanjang urusan.

“Capek urus orang kepo.”

Bodat tertawa dengan keras dan lepas serta sedikit berlebihan. Seperti ingin memecah suasana tapi malah membuatnya retak.

“Bu, jujur aja. Ada apa di desa ini?”

Ibu Marni menatap posko dari jauh. Tatapannya kosong sebentar, seperti ada jeda dalam pikirannya, seperti sinyal yang sempat hilang sebelum kembali normal.

“Kalau malam, jangan ribut.”

“Kalau ribut?”

“Yang dengar bukan cuma manusia.”

Susi merinding sambil tetap merapikan outfit. Tangannya refleks membenarkan kerah, lalu menyadari tidak ada yang salah dengan bajunya, yang salah hanyalah suasananya.

“Oke, cukup,” Udin buru-buru menghentikan percakapan yang ada. “Terima kasih, Bu.”

Nada Udin sudah masuk mode evakuasi, Mereka pun mundur perlahan. Tidak ada yang membalikkan badan sepenuhnya. Tidak ada yang berlari. Tapi langkah mereka sinkron dalam satu kesepakatan tak tertulis cukup.

...🍃🍃🍃...

Dalam perjalanan pulang, imajinasi mulai bekerja tanpa izin dalam tiap benak mereka. Dan begitu imajinasi mereka bekerja, tidak ada satu pun rem darurat yang berfungsi.

“Yang dengar bukan cuma manusia itu maksudnya apa?” Surya berbisik.

“Pendengarnya banyak,” Moren sok santai. “Gema suara.”

“Gema nggak jawab balik,” Bodat menimpali.

Juned memutar rekaman yang tadi ia ambil. Ia sudah menyiapkan ponselnya sejak tadi, ibu jarinya gesit.

“Coba denger ini.”

Dari speaker kecil ponselnya, terdengar suara angin. Langkah kaki dan sesuatu seperti gesekan kain, halus, tapi jelas bukan angin biasa. Suara itu membuat bulu kuduk bekerja lembur.

“Zoom audionya,” Juned serius.

“Jangan!” Juleha refleks.

Paijo menggaruk kepala.

“Mereka jawabnya ambigu semua.”

“Makanya,” Ani tersenyum lebar. “Berarti ada sesuatu.”

“Berarti kamu bahaya,” Susi menyahut.

Sampainya diposko, suasana terasa berbeda. Rumah itu tidak berubah, tapi perasaan mereka lah yang berubah.

Anang sedang memasak untuk mereka, Aroma tumisan menyambut mereka, bau bawang putih, cabai, dan kecap. Normal. Terlalu normal untuk hari yang sudah diisi terlalu banyak hal tidak normal.

“Kalian lama sekali,” katanya. “Tadi ada suara di belakang.”

Semua gerakan yang ada langsung terhenti di tempat.

“Suara apa?” Udin menelan ludah.

“Kayak orang manggil.”

“Nama siapa?”

“Kayak ‘Dan… Dan…’”

“DAN ITU SIAPA?!” Palui hampir pingsan.

“Entahlah,” Anang mengangkat bahu. “Mungkin angin.”

Udin mengangguk cepat.

“Nah! Itu! Angin!”

Bodat menatapnya tajam, manik matanya seakan menyipit.

“Kalau angin bisa manggil nama, kita pindah jurusan aja.”

Wati yang masih tidur akhirnya terbangun.

“Makan?”

Tak ada yang menjawabnya, yang ada hanya sunyi dengan kebingungan masing-masing. Hari itu berakhir tanpa jawaban. Tapi satu hal pasti, Cerita dari beberapa warga yang seharusnya menenangkan justru membuat imajinasi mereka lari tanpa rem. Dan mereka masih harus menjalaninya malam panjang didesa itu selama KKN.

...🍃🍃🍃🍃...

Bersambung....

1
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!