NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Desire

"Di sini. Sangat sakit ketika istriku sendiri ingin mendekatkan diriku dengan perempuan lain."

Kanaya membeku, bersama dengan hatinya yang berdesir tak nyaman. Lalu, pada saat Kalendra meraih tubuhnya agar terduduk di pangkuan laki-laki itu. Saat Kalendra menyembunyikan wajahnya pada leher jenjangnya, entah dengan alasan apa, mata Kanaya memanas.

Lalu, pada saat Kalendra menci-umi tengkuknya bertubi-tubi, tangan Kanaya terangkat. Membalas dekapan laki-laki itu erat. Menumpahkan rasa sesak yang selalu mengganggunya, meskipun Kanaya tidak tahu apa alasannya.

Telapak tangan Kalendra mengusap lembut punggung rapuh istrinya. Pun meyakinkan diri jika Kanaya masih di sisinya. Berada di pelukannya. Dan hanya miliknya.

"Ka--kau jahat." ujar Kanaya dengan suara yang terendam di dada bidang sang suami.

"Kau juga, Kanaya."

satu tetes air mata jatuh ke sang istri. "Kau akan meninggalkanku."

"Bahkan di saat kau sendiri yang memintaku untuk pergi, aku masih berada di tempat yang sama."

"Pembohong." lirih Kanaya hampir tak terdengar.

Kalendra meraih wajah perempuan di pangkuannya itu. Menangkup wajah cantiknya, memaksa agar sang istri menatapnya.

"Apa semua yang terjadi tidak cukup sebagai bukti?" suara Kalendra mengalun rendah. Lembut, seakan tengah membujuk.

"Setelah semua penolakanmu. Setelah pengusiranmu. Setelah semua caci makimu, aku tetap menerimamu di saat kau membutuhkan tompangan. Aku melebarkan tanganku untuk menyambutmu."

Ibu jari Kalendra mengusap air mata yang membasahi pipi istrinya. Gerakannya pelan, seakan takut menyakiti jika dia terlalu kasar.

"Maaf atas semua perangai burukku selama ini. Maaf, aku telah melampiaskan emosiku kepadamu."

Memejamkan matanya, Kalendra benturkan keningnya pada kening Kanaya. Sontak, Kanaya ikut memejamkan matanya. Merasakan nafas mereka yang saling beradu. Mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle rasa yang sulit dicerna. Menyusunnya, mencoba memahaminya. Tentang perasaan sesak yang tak seharusnya ada.

Dirinya hanyalah jiwa yang tersesat. Tidak memiliki ikatan apapun dengan semua tokoh di novel ini. Namun kenapa? Kenapa rasanya seperti...dirinya memiliki ikatan yang kuat dengan Kalendra.

Apakah ini sisa-sisa perasaan dari jiwa Kanaya yang asli?

"Kau tahu, Kanaya? Terkadang aku berpikir, bahwa dunia tidak pernah memihak kepadaku. Aku merasa jika aku adalah laki-laki paling bodoh di dunia ini."

"Setelah rasa sakit yang kudapatkan dari seorang perempuan, aku tetap tidak bisa membencinya. Aku sangat ingin membencinya, Kanaya. Aku sangat ingin menghancurkannya. Namun, saat melihat dia menumpahkan air matanya karena diriku, rasanya sangat sakit."

"Kenapa aku harus mecintai seseorang sebesar itu? Ini tidak adil, Kanaya."

Siapa. Siapa perempuan yang Kalendra maksud. Apa itu, Zana? Atau...ada tokoh lain yang tidak disebutkan di dalam novel.

"Bahkan, di saat dia menyerahkan dirinya kepadaku, aku tahu, dia melakukannya karena terpaksa. Dia tidak benar-benar ingin bersamaku. Dan sialnya, aku tutup mata akan hal itu. Yang ada di pikiranku, selama dia menjadi milikku, maka itu sudah lebih dari cukup."

"Persetan dengan perasaannya. Aku hanya ingin memilikinya."

Sedikit menjauhkan wajahnya, netra gelap Kalendra menyorot dalam. Kanaya ingin masuk ke dalamnya. Mencari jawaban dari setiap pertanyaannya.

"Sekarang, dia kembali berulah. Mungkin, aku bisa memaafkan setiap caci makinya di masalalu. Tapi, aku tidak bisa menerima jika dia mencoba memasukkan orang ketiga di dalam hubungan kami."

"Aku sungguh tidak bisa menerimanya."

Sesaat, Kanaya tertegun. Jantungnya semakin liar berdetak. Sungguh, dia tidak ingin terlalu percaya diri. Namun, kenapa dia merasa bahwa yang dimaksud Kalendra adalah dirinya? Belum lagi, rasa bersalah yang tiba-tiba mencuat.

Sebenarnya apa yang tidak bisa dirinya mengerti? Plot twist apa yang tidak disebutkan di dalam novel?

"Kalendra. Kau dan Zana---emhh."

Kalendra tak mengijinkan Kanaya melanjutkan ucapannya. Dengan rakus, dia panggut bibir mungil itu. Melumatnya menggebu. Tidak kasar, namun tidak juga bisa dikatakan pelan . Mendorong maju tengkuk Kanaya, laki-laki itu memperdalam ciumannya.

Awalnya, Kanaya meronta. Mencoba menjauh walau itu sia-sia. Namun entah setan mana yang merasukinya. Ketika matanya mulai terpejam, membuka mulutnya seakan memberikan akses bagi Kalendra. Dan ya, perempuan yang selalu denial itu membalas ciuman sang suami. Tangannya merambat. Dari yang semula berada di dada Kalendra, kini naik. Melingkar pada leher laki-laki itu.

Kalendra berhenti memberikan jeda, lalu, "Jangan ulangi lagi kesalahan ini, atau aku akan menghukummu." ujarnya memperingati. Kemudian kembali menempelkan bibirnya pada bibir Kanaya.

Kanaya benci mengakui ini. Namun, berada di dekapan Kalendra, membuatnya merasa aman dan terancam di saat yang bersamaan.

Larut dalam ciuman , Kanaya sampai tidak menyadari, Kalendra mengangkatnya. Menggendongnya seperti koala. Dan secara alami, kaki perempuan itu melingkar pada pinggang suaminya, menyebabkan inti mereka saling bersentuhan.

Kalendra berdesis rendah. Sungguh, dia selalu menahan gejolak itu. Dan Kalendra tidak tahu sampai kapan batas kesabarannya akan bertahan.

Kalendra menaiki tangga. Membawa Kanaya ke kamar mereka dengan bibir yang masih saling bertaut. Dan pemandangan itu, tak luput dari penglihatan seseorang yang sedang berada di ujung dapur.

Zana--- dia tidak tahu kenapa dadanya terasa panas seperti terbakar. Bahkan dia sedang memegang pisau. Menggegamnya erat sampai telapak tangannya terluka. Mengeluarkan cairan kental berwarna merah beraroma besi.

Dirinya tidak pernah berinteraksi secara intens dengan Kalendra sehingga rasa terlarang itu harus sangat dalam. Zana pikir, dia hanya iri dengan hidup Kanaya yang sempurna. Perempuan itu pikir, dia hanya mengagumi Kalendra. Namun, saat gemuruh di hatinya semakin pekat, Zana menyadari, dia menginginkan Kalendra.

Benar, Zana. Kalendra adalah milikmu. Rebut dia. Kanaya--- dia hanya pengganggu yang harus di singkirkan.

Dan lagi-lagi, sisi jahatnya hadir memprovokasi. Mendorongnya untuk merealisasikan bayangan-bayangan indah bersama suami orang.

.

.

Kalendra menjatuhkan tubuh Kanaya pada ranjang, menindihnya dan melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda. Bibir Kalendra berpindah, mengecup kedua mata sang istri, lalu turun menuju hidung hingga dagu. Memberikan gigitan kecil di sana, membuat Kanaya mengerang lirih.

Tak merasa puas, ia susuri leher Kanaya menggunakan lidahnya, kemudian memberikan gigitan kecil di daun telinga perempuan itu.

"Bilang 'berhenti' jika kau tidak ingin melanjutkannya." bisik Kalendra dengan suara rendahnya.

Lantas, ia kembali menyambar bibir Kanaya yang sedikit membengkak karena ulahnya. Kali ini lebih kasar dan menuntut. Tangan nakalnya tidak tinggal diam, mengelus pinggang Kanaya menggoda. Menelusup ke dalam pakaian perempuan itu. Semakin naik ke atas, hingga ia menemukan sesuatu yang dicari-carinya.

Kalendra usap puncak Kanaya penuh damba. Meremasnya sampai Kanaya melenguh dibuatnya. Kalendra semakin berani, ia ingin melepaskan pakaian atas sang istri, namun sayangnya tangannya dicekal, membuat laki-laki itu mengumpat di dalam hati.

"Ber--berhenti..." lirih Kanaya.

Menggeram rendah, Kalendra mecoba untuk tidak menyentak tangan mungil itu dan memaksa Kanaya untuk menuruti nafsunya.

"Kenapa?" ujar laki-laki itu serak.

Kanaya menggeleng, nafasnya masih memburu dengan wajah yang memerah. "Ini--- aku ingin berhenti."

Kalendra semakin mendekat. Membubuhkan ciuman pada titik sensitif sang istri. Menyesapnya hingga Kanaya tak kuasa untuk menahan desahan kotornya.

"Yakin mau berhenti?" bisik protagonis itu.

"I--iya. Henti--- hentikan."

"Yakin?" Kalendra semakin gencar menggoda. Memberikan gigitan-gigitan kecil pada leher depan Kanaya.

"Kalen--Kalendra, please...."

Mendengar suara penuh keputusasaan itu, Kalendra menghela nafas panjang. Sepertinya, ini bukan saatnya. Mengecup kening Kanaya lamat, ia usap pipi istrinya itu lembut.

"Aku segera kembali." ujar laki-laki itu pelan. Menyelimuti Kanaya hingga sebatas dada, kemudian dia bangkit. Berjalan menuju kamar mandi. Tak lama, Kanaya dapat mendengar suara shower yang dinyalakan.

Memejamkan matanya kalut, perempuan itu melipat bibirnya frustasi.

Apa yang baru saja ku lakukan? 

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!