NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:395
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanah yang Menelan Jiwa

Perjalanan dari kaki Merapi ke tanah tandus Jawa Tengah memakan waktu lima hari penuh. Mereka menghindari jalan utama, menyusuri hutan lebat dan sungai kering yang dulu pernah menjadi jalur perdagangan kuno. Udara semakin panas dan kering seiring mereka mendekati wilayah yang dulu dikuasai Naga Tanah—tanah yang sekarang gersang, retak-retak seperti kulit monster yang mengering, hanya ditumbuhi rumput liar dan pohon-pohon bengkok yang seolah menyerah pada kutukan.

Kristal biru dan merah di tas Banda terus berdenyut, tapi sekarang getarannya terasa seperti peringatan. Setiap malam, mimpi buruk datang: Banda melihat dirinya berdiri di atas tubuh Jatayu yang dingin, tangannya berlumur api dan darah, sementara ombak di sekitarnya menenggelamkan segalanya. Ia terbangun berkeringat dingin, dan Jatayu selalu ada di sampingnya, memeluknya tanpa kata—pelukan yang semakin sering, semakin dalam, tapi juga semakin menakutkan.

Kirana berjalan paling depan, matanya tajam mencari jejak kuno. Ia jarang bicara, tapi setiap kali melihat Banda dan Jatayu bergandengan tangan, dadanya terasa seperti ditusuk jarum api kecil. Bayu sering berusaha menghiburnya dengan lelucon sederhana atau makanan cadangan, tapi Kirana hanya tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai mata.

Pada hari kelima, mereka tiba di lokasi yang ditunjukkan oleh visi kristal: sebuah lembah kering di antara bukit-bukit batu hitam, di tengahnya terdapat reruntuhan altar tanah yang setengah terkubur. Altar itu berbentuk lingkaran batu raksasa dengan ukiran naga tanah yang melingkar, mata-mata batu hijau beracun yang seolah masih hidup. Di pusatnya, kristal abu-abu berdiri tegak—besar, kusam, tapi berdenyut pelan seperti jantung yang tertidur.

Begitu mereka mendekat, tanah bergetar hebat. Retakan muncul di bawah kaki mereka, dan dari retakan itu naik uap hitam pekat—bau lumpur dan batu panas yang menyengat.

“Naga Tanah,” bisik Jatayu. Goloknya sudah di tangan, api merah menyala di bilahnya.

Banda merasakan getaran itu di tulangnya—seperti panggilan yang tak bisa diabaikan. Ia melangkah maju, kristal biru dan merah di tangannya bercahaya lebih terang. “Kristal abu-abu… itu yang terakhir sebelum cahaya. Kalau kita dapatkan, mungkin kutukan bisa dipatahkan.”

Kirana menggeleng. “Tunggu. Tanah ini hidup. Naga Tanah bukan hanya roh—dia sudah mulai bangkit. Kalau kita ambil kristal itu sekarang, dia akan muncul sepenuhnya.”

Bayu memegang pisau lipatnya, meski tahu itu tak berguna. “Jadi apa? Kita balik aja?”

Jatayu menatap Banda. “Tidak ada jalan kembali. Kalau kita pergi, kutukan akan semakin kuat. Kita harus ambil risiko.”

Banda mengangguk. “Aku yang ambil. Kalian jaga belakang.”

Ia melangkah ke tengah altar. Tanah di bawah kakinya retak lebih lebar, uap hitam naik seperti tangan yang mencoba menariknya ke bawah. Saat tangannya menyentuh kristal abu-abu, dunia seolah terbelah.

Versi datang seperti banjir.

Ia melihat Naga Tanah purba—tubuh raksasa dari lumpur dan batu, mata hijau beracun—berdiri di atas reruntuhan kerajaan lama. Di depannya, Naga Laut dan Phoenix bertarung bersama, api dan air menyatu menjadi badai yang menghancurkan kegelapan. Naga Tanah menggeram, kutukannya meluncur seperti racun: “Darah campuran kalian akan menjadi akhir kalian sendiri. Yang hidup harus membunuh yang lain, atau dunia akan kembali ke kegelapan abadi.”

Versi berganti ke masa lalu Garini: ia berdiri di altar yang sama, hamil besar, memegang kristal abu-abu. “Aku tidak bisa membiarkan kutukan ini berlanjut,” katanya pada ayah Banda. “Kalau anak kita lahir, dia akan jadi kunci—atau kehancuran. Kita harus mati bersamanya.”

Tapi ayahnya menolak. “Tidak. Biarkan dia hidup. Biarkan dia mematahkan kutukan yang kau dan aku tidak bisa.”

Garini menangis, api Phoenix-nya membara di sekitar tubuhnya. Ia meletakkan kristal abu-abu kembali ke altar, lalu melompat ke laut—api-nya padam perlahan, meninggalkan tetesan emas yang tenggelam.

Versi terakhir: Naga Tanah bangkit lagi, tapi kali ini bukan roh—tubuhnya muncul dari tanah, raksasa lumpur dan batu, mata hijau menyala. “Anak campuran… kau sudah mengumpulkan tiga kristal. Sekarang, pilih: bunuh Phoenix terakhir, atau dunia akan tenggelam dalam tanah yang hidup.”

Banda tersentak kembali. Tubuhnya gemetar hebat. Kristal abu-abu sudah di tangannya, tapi tanah di sekitarnya mulai naik—seperti tangan raksasa yang terbentuk dari lumpur dan batu, mencoba menariknya ke bawah.

Jatayu berlari ke depan. “Banda!”

Api Phoenix-nya menyala terang, membakar tangan lumpur itu. Tapi tanah terus naik, lebih banyak lagi. Kirana dan Bayu ikut maju, Kirana melemparkan api penyembuh emas untuk menstabilkan tanah, Bayu memukul batu dengan pisau lipatnya—sia-sia.

Banda merasakan kutukan aktif sepenuhnya. Di dadanya, bara api dan ombak saling bertarung—api Jatayu ingin membakar, ombak ingin menenggelamkan. Tubuhnya mulai berubah: sisik muncul di seluruh kulit, mata birunya menyala terang, dan tangannya—tanpa sadar—mengarah ke Jatayu.

“Tidak…” gumamnya, suaranya serak seperti suara naga. “Aku… tidak bisa kendalikan…”

Jatayu berdiri di depannya, tidak mundur. “Banda… lihat aku. Ini bukan kau. Ini kutukan.”

Tapi tubuh Banda bergerak sendiri. Ombak air dingin muncul dari tanah, membentuk tombak yang mengarah ke Jatayu. Air itu membara—api dingin yang siap membunuh.

Kirana berteriak. “Jatayu, mundur!”

Tapi Jatayu tidak bergerak. Ia malah melangkah maju, tangannya menyentuh dada Banda. Api Phoenix-nya menyala penuh—merah terang, membakar kulitnya sendiri. “Kalau kau harus membunuh seseorang… bunuh aku. Tapi ingat siapa aku. Ingat malam di gua. Ingat Garini.”

Sentuhan itu memicu ledakan. Api dan air bertabrakan di antara mereka—bukan menghancurkan, tapi menyatu. Cahaya emas meledak dari titik kontak, membutakan semua orang. Ombak membara membalik arah, menghantam tangan lumpur Naga Tanah yang mencoba menarik Banda.

Tanah berhenti bergerak. Naga Tanah meraung dari dalam bumi—raungan yang menggetarkan seluruh lembah—lalu surut kembali ke kedalaman, meninggalkan retakan besar dan uap hitam yang perlahan menghilang.

Banda jatuh berlutut, tubuhnya kembali normal. Kristal abu-abu jatuh dari tangannya, tapi Jatayu menangkapnya. Ia berlutut di depan Banda, napas tersengal, luka bakar di tangannya sendiri—api Phoenix-nya telah membakar kulitnya untuk menyelamatkan Banda dari kutukan.

“Jatayu…” Banda menyentuh luka itu. “Kau… kau terluka karena aku.”

Jatayu tersenyum lemah. “Lebih baik aku terbakar daripada kau kehilangan dirimu. Ikatan ini… kita sudah membuktikan bisa mengendalikannya. Tapi harganya… semakin mahal.”

Kirana berlutut di samping mereka, air mata mengalir. “Kau hampir membunuhnya, Banda. Kutukan itu hampir menang.”

Banda menunduk. “Aku tahu. Dan itu… itu yang paling menakutkan. Aku merasakan keinginan itu—untuk membunuhnya agar aku hidup. Kutukan itu nyata. Bukan hanya cerita.”

Bayu mendekat, wajahnya pucat. “Kita dapat kristal ketiga. Tapi kalau kristal cahaya terakhir… apa yang akan terjadi? Apa kita akan saling bunuh di akhir?”

Jatayu menggeleng pelan. “Tidak. Kita sudah punya tiga. Kristal cahaya adalah yang terakhir—dan mungkin kunci untuk mematahkan semuanya. Tapi kita harus ke tempat terakhir: kuil cahaya di puncak gunung tertinggi di Jawa. Di sana… Naga Cahaya yang terakhir masih tidur. Dan kalau kita bangunkan dia… dia mungkin menjadi sekutu. Atau musuh terakhir.”

Banda bangkit pelan, membantu Jatayu berdiri. Luka di tangan Jatayu sudah mulai sembuh—Phoenix yang semi-abadi—tapi bekasnya tetap ada, seperti pengingat bahwa pengorbanan mereka semakin dalam.

“Kita lanjut,” kata Banda tegas. “Tapi kali ini… kalau kutukan aktif lagi, aku ingin kalian janji: kalau aku kehilangan kendali… hentikan aku. Bahkan kalau itu berarti membunuhku.”

Jatayu menatapnya tajam. “Tidak. Aku tidak akan membunuhmu. Kita cari jalan lain.”

Kirana mengangguk. “Kita bertiga—empat—bersama. Kita tidak akan biarkan kutukan menang.”

Bayu menghela napas. “Kalau begitu, ayo. Sebelum Naga Tanah bangun lagi dan menelan kita semua.”

Mereka meninggalkan lembah itu saat matahari terbit. Di belakang mereka, retakan tanah masih mengeluarkan uap hitam tipis—seolah Naga Tanah sedang menunggu, merencanakan langkah berikutnya.

Dan di dalam dada Banda, bara emas itu terus menyala—janji bahwa api dan air bisa menyatu, tapi juga peringatan bahwa satu kesalahan saja bisa menghancurkan semuanya.

Krisis baru saja dimulai.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Kashvatama: semangat 💪
total 1 replies
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!