Tahun 2050, Bencana Besar menyatukan benua dan melahirkan Gelombang Binatang Buas—monster yang memusnahkan dunia lama dalam hitungan bulan. Umat manusia bertahan di balik Kota Basis, benteng raksasa yang menjadi satu-satunya perlindungan dari dunia liar di luar dinding.
Harapan datang dari pulau misterius yang membawa energi kosmik dan seni bela diri, menciptakan para petarung super sebagai tameng terakhir peradaban. Namun ancaman monster purba masih mengintai, menunggu keseimbangan runtuh.
Di Kota Basis 5, Arga hanyalah siswa SMA biasa yang menghadapi ujian hidup-mati masa depan. Tak seorang pun tahu, di dalam dirinya bersemayam sebuah sistem yang perlahan membangkitkan kekuatan terlarang—dan mungkin, nasib baru bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zylan Rahrezi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu Keluarga
Keesokan harinya, Arga bangun pagi dan membersihkan diri. Setelah siap, ia membuka panel statusnya:
[Master: Arga]
Fisik: 61,6
Roh: 61,8
Bakat: Pemahaman Tak Terbatas
Statistiknya kembali berlipat ganda.
Bahkan tanpa melakukan terobosan, Arga telah melangkah ke ranah Master Bela Diri—sebuah pencapaian absurd yang nyaris mustahil.
Di dunia ini, seorang Prajurit Bela Diri Level 9 memiliki kekuatan sekitar 10.000 kg. Setelah menembus kunci gen besar berikutnya dan memasuki Alam Master Bela Diri, kekuatannya akan meningkat lima kali lipat.
Itu berarti Master Bela Diri Level 1 memiliki kekuatan dasar pukulan sebesar 50.000 kg. Setiap terobosan sub-kunci berikutnya menambahkan 50.000 kg lagi.
Level 2: 100.000 kg
Level 3: 150.000 kg
…
Level 9: 450.000 kg
Dan setelah seorang Master Bela Diri menembus ke Grandmaster, kekuatannya akan melonjak lagi—lima kali lipat. Namun itu adalah pembahasan untuk lain waktu.
Saat ini, Arga sudah memiliki 61.600 kg kekuatan mentah, melampaui ambang pertama Master Bela Diri.
Yang lebih penting, dengan Niat Pedang Level 4, ia dapat melepaskan serangan dahsyat setara 245 ton—sebanding dengan puncak Master Bela Diri Level 4!
Sebenarnya, tidak ada konsep “level puncak” yang jelas dalam hal kekuatan mentah di setiap tahap. Seorang Master Bela Diri Level 1 memiliki kekuatan 50 ton. Selama belum membuka sub-kunci gen berikutnya, kekuatan dasar itu tidak bisa ditingkatkan. Jadi tak ada yang memiliki 60 atau 70 ton kekuatan dasar kecuali mereka menggunakan harta atau teknik yang melipatgandakan kekuatan.
Artinya, Level 1 tak akan pernah benar-benar bisa menandingi Level 2 kecuali mereka memiliki artefak atau kemampuan khusus yang memperkuat daya tempur.
Arga turun ke bawah. Kedua orang tuanya sudah duduk di ruang tamu. Mereka sarapan bersama dalam keheningan.
Hari ini, tak satu pun dari mereka pergi bekerja. Wajah ayahnya tampak serius. Ibunya pun sama.
Arga tetap diam, menunggu dengan sabar.
Akhirnya, Jaka menatapnya dan mulai berbicara.
“Arga… ada rahasia tentang keluarga kita yang belum pernah Ayah ceritakan. Kita bukan berasal dari Kota Basis ini.”
Mata Arga berkilat, tetapi ia tidak menyela.
Jaka melanjutkan dengan suara tenang namun berat, “Kamu sering bertanya tentang kakek-nenekmu. Ayah selalu menghindar karena… Ayah tidak ingin membebanimu dengan kesedihan. Tapi sekarang… sekarang setelah kamu menjadi Prajurit Bela Diri hanya dalam satu hari—mungkin satu-satunya di sejarah planet ini—Ayah rasa kamu sudah cukup kuat untuk mengetahui kebenarannya.”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata, “Kampung halaman leluhur kita berada di Kota Super 1. Buyutmu, Alexander Hunt, adalah salah satu generasi pertama seniman bela diri yang terbangun. Sekarang dia berada di tahap akhir Kaisar Bela Diri. Dia telah bertarung dalam tak terhitung pertempuran, bahkan berdampingan dengan Naga dan yang lainnya.”
Jantung Arga berdegup kencang.
Jaka melanjutkan, “Ayahku dan pamanku terbangun tujuh tahun setelah generasi pertama, sekitar usia 15 atau 16 tahun. Keduanya kini juga Kaisar Bela Diri, meski masih tahap awal. Itu berarti ada tiga Kaisar Bela Diri dalam keluarga Hunt—dari sekitar lima puluh yang ada di seluruh dunia.”
Suaranya merendah saat menambahkan, “Bahkan kakak laki-lakiku dan sepupuku adalah Raja Bela Diri yang kuat.”
Arga terdiam, terpaku.
Jaka tersenyum pahit. “Sebagai anak keluarga Hunt, harapan besar diletakkan di pundakku. Tapi aku tidak pernah membangkitkan bakat elemen. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku seperti ikan mas yang lahir di sarang naga…”
Suaranya melunak. “Tapi ayahku tetap mencintaiku dan mendukungku. Aku beralih ke penelitian, dan di sanalah… aku benar-benar bersinar.”
“Aku menciptakan banyak ramuan untuk umat manusia. Pekerjaanku memberiku status Warga Bintang 3.”
Ia terdiam, tenggelam dalam kenangan. Arga mendengarkan dalam diam, hatinya dipenuhi kekaguman.
Jaka berbicara lagi, “Cairan Penguat Tubuh Tingkat Tertinggi—yang kamu dapatkan—sebenarnya adalah salah satu temuanku… meski aku tak pernah menyelesaikan proses akhirnya.”
Arga tertegun.
Ayahnya… sehebat ini?
Lalu mengapa mereka hidup begitu sederhana? Mengapa kekayaan keluarga mereka hanya sekitar 100 juta koin? Seharusnya mereka miliarder!
Namun Arga menahan diri.
Jaka melanjutkan, “Aku pergi ke Kota Basis 7 untuk keperluan penelitian. Di sanalah aku bertemu ibumu. Dia seorang yatim piatu… tapi sejak pertama kali melihatnya, aku jatuh cinta.”
Ia tersenyum tipis. “Pada akhirnya kami saling mencintai setelah aku mengejarnya beberapa kali. Aku kembali ke keluargaku untuk memberi tahu tentang hubungan kami.”
Elina tersenyum kecil mendengarnya.
Namun ekspresi Jaka menggelap. “Tapi ayahku sudah mengatur pernikahanku—dengan putri dari sebuah keluarga pebisnis. Dia membangkitkan bakat jiwa penyembuhan langka—sesuatu yang diinginkan setiap keluarga kuat.”
“Ayahku sangat gembira. Katanya ini adalah kesempatan kita. Keluarga pihak sana juga setuju, meski aku tak terbangun. Mereka menginginkan dukungan kita—dukungan keluarga Hunt.”
Jaka mengepalkan tinjunya. “Saat aku mengatakan tidak akan menikahinya dan bahwa aku mencintai orang lain, ayah dan kakekku murka. Mereka menganggapku mengkhianati kepentingan keluarga.”
“Mereka ingin membawa gadis itu ke keluarga kami agar anak-anak kami kelak mewarisi bakatnya dan garis darah Hunt.”
“Tapi aku tetap pada keputusanku.”
“Jadi… mereka mengusirku.”
“Mereka mencabut statusku. Meski aku Warga Bintang 3, seorang Kaisar Bela Diri memiliki wewenang untuk melakukannya. Mereka mengancam akan membunuhku dan ibumu jika aku menyentuh penelitian lagi.”
“Jadi kami melarikan diri. Datang ke sini. Aku memulai bisnis kecil… dan tak pernah menyentuh penelitian lagi.”
Jaka akhirnya berhenti berbicara.
Arga terdiam tanpa kata. Ayahnya… seperti protagonis tragis dalam sebuah novel. Tanpa kecurangan, tanpa jari emas—namun tetap memilih cinta dan pengorbanan. Dan kini, sang anak memegang kekuatan untuk menulis ulang takdir itu.
Dalam hati, Arga berpikir, Jadi aku berasal dari latar belakang sekuat ini… keluarga Hunt memiliki tiga Kaisar Bela Diri dari hanya lima puluh di dunia. Dan juga Raja Bela Diri…
Tak heran ayahnya berekspresi seperti itu saat melihat cairan tersebut. Itu ciptaannya sendiri…
“Ayah,” kata Arga akhirnya, suaranya rendah namun tegas, “jangan khawatir. Kalau suatu hari Ayah ingin kembali ke keluarga Ayah, aku akan membantu. Kalau Ayah ingin balas dendam… aku juga akan membantumu. Beri aku sedikit waktu.”
Jaka tersenyum. Ia tak menjawab. Apakah ia menyimpan dendam? Ya. Tapi bukan kebencian mendalam. Itu hanya… takdir.
⸻
Pagi itu juga, Arga meninggalkan rumah. Ia telah memutuskan—ia akan mengundurkan diri dari sekolah dan sepenuhnya fokus pada jalur kultivasinya.
Ia menyetir sendiri ke sekolah.
Setelah memarkir mobilnya, ia melihat sosok yang familiar di depan.
Bagas.
Arga hampir melupakannya.
Bagas juga melihatnya dan menyeringai. “Lihat siapa yang akhirnya muncul. Jenius kita Arga, yang membangkitkan tiga elemen dan memutuskan mengultivasi semuanya. Hebat! Semua, beri dia tepuk tangan!”
Beberapa siswa di sekitar menoleh dengan bingung. Bagas tak peduli. Ia gatal ingin pamer.
Ia berkata lantang, “Sekarang kita sama-sama Prajurit Bela Diri kuasi, berani nggak kamu melawanku di arena resmi?”
Ia merasa sangat puas diri. Ia telah memahami garis besar teknik pernapasannya dan yakin akan membuka kunci gen pertamanya dalam dua bulan—atau bahkan lebih cepat.
Sementara itu, Arga memilih jalan “bodoh” dengan mengultivasi tiga elemen. Bahkan jika ia jenius, itu akan membutuhkan tiga kali usaha. Jarak di antara mereka hanya akan semakin melebar.
Bagas tersenyum lebar.
Namun Arga… bahkan tidak meliriknya.
Ia berjalan melewati Bagas seolah-olah pria itu tidak ada.
Ekspresi Bagas terpelintir. Diabaikan lebih menyakitkan daripada dihina.
Ia meraung, “Arga! Kalau kamu laki-laki, terima tantanganku! Atau pakai anting dan nari di bar!”
Beberapa siswa terkekeh. Tawa menyebar.
Arga berhenti berjalan.
Ia sudah mencoba mengabaikan serangga itu, tetapi serangga itu bersikeras untuk dihancurkan.
Ia berbalik dan berjalan ke arah Bagas. Tatapannya dingin dan acuh, seperti menatap seekor serangga.
Bagas refleks mundur selangkah. Untuk sesaat, rasa takut merayap di hatinya. Namun ia segera menenangkan diri. Takut? Pada Arga? Lelucon apa itu!
Ia berteriak, “Ngapain melotot? Takut? Tenang, aku nggak bakal ngebully kamu!”
Ia percaya diri—bagaimanapun juga, ia juga menggunakan sebotol cairan penguat tubuh tingkat tertinggi, hadiah dari kakeknya.
Namun sebelum pikirannya selesai—
Arga mengeluarkan sebuah kartu hitam.
Senyum Bagas membeku.
Bukankah itu token identitas Prajurit Bela Diri?
Tapi ia tak sempat berpikir lebih jauh.
Tiba-tiba—
Aura mematikan menyelimutinya.
BOOM!
Pukulan Arga menghantam lurus dada Bagas.
Bagas terpental seperti peluru meriam, memantul beberapa kali di tanah, lalu menghantam sebuah mobil yang terparkir dengan bunyi benturan mengerikan.
Keheningan memekakkan telinga.
Tak ada yang tahu apakah Bagas masih hidup atau sudah mati.
Arga tak mengatakan sepatah kata pun. Ia benci omong kosong. Ia hanya bertindak.
Para siswa di sekitarnya membeku dalam keterkejutan. Mereka menatap Bagas, lalu Arga… kemudian kartu hitam itu.
Ia telah mengirim seorang prajurit kuasi terbang seperti boneka kain.
Apa… sebenarnya Arga?
Sebagian mengenali kartu hitam itu, tetapi menolak percaya itu miliknya. Ia baru terbangun dua hari lalu. Bagaimana mungkin itu kartunya?!
Namun Arga tak peduli apa yang mereka pikirkan.
Ia berbalik dan berjalan lurus menuju ruang kepala sekolah.