NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15. Terjebak di Antara Peran Istri dan Mahasiswi

Hari itu terasa melelahkan.

Bukan karena tugas kuliah, bukan juga karena jadwal yang padat—

melainkan karena peranku yang terus bertabrakan satu sama lain.

Di kampus, aku adalah mahasiswi.

Di rumah, aku adalah istri.

Dan pria yang berdiri di tengah dua dunia itu… adalah orang yang sama.

Malam itu, aku duduk di ruang belajar rumah. Buku-buku terbuka di meja, laptop menyala, dan Haruka berdiri di samping rak—menyusun beberapa dokumen dengan rapi.

“Kamu terlalu tegang,” kataku sambil menopang dagu.

“Belajar itu bukan perang, Pak Dosen.”

Ia tidak menoleh. “Kalau tidak serius, kamu akan tertinggal.”

Aku mendengus. “Lagi-lagi nada mengajar.”

Aku berdiri, mendekat, lalu menyenggol lengannya ringan.

“Sedikit santai, dong. Aku ini istrimu juga.”

“Alya,” katanya pelan tapi tegas, “jaga jarak.”

Aku mendengarnya.

Tapi entah kenapa, hari itu aku lelah patuh.

Aku melangkah mundur sambil tersenyum jahil.

“Iya, iya. Jarak aman antara dosen dan mahasiswa.”

Namun saat kakiku mundur, tumitku tersangkut ujung karpet.

Semua terjadi terlalu cepat.

Tubuhku kehilangan keseimbangan.

Aku refleks meraih apa saja yang ada di depanku..

Haruka.

Tanganku mencengkeram jasnya. Tubuhku jatuh ke depan.

Ia terkejut, mencoba menahan—

Dan dalam satu detik yang terasa terlalu lama—

Bibir kami bersentuhan.

Bukan ciuman yang direncanakan.

Bukan juga yang penuh gairah.

Hanya sentuhan singkat. Hangat. Nyata.

Aku bisa merasakan napasnya yang tertahan.

Dan ia bisa merasakan tubuhku yang gemetar.

Waktu seolah berhenti.

Aku membeku di dadanya.

Ia juga tidak bergerak.

Lalu Haruka tersadar lebih dulu.

Tangannya memegang bahuku—bukan untuk memeluk, tapi untuk menjauhkan.

“Alya,” suaranya rendah, tertekan,

“cukup.”

Aku mundur cepat, wajahku panas, jantungku berdebar tak terkendali.

“A-aku nggak sengaja,” kataku buru-buru.

“Maaf. Aku—”

Ia memalingkan wajah. Rahangnya mengeras.

“Aku tahu,” katanya singkat.

“Tapi ini tidak boleh terjadi.”

Kalimat itu jatuh berat.

Aku menunduk, jariku saling mencengkeram.

“Karena kamu dosenku?” tanyaku lirih.

“Atau karena aku istrimu?”

Ia terdiam.

Keheningan itu lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

“Kita terlalu dekat,” katanya akhirnya.

“Dan itu berbahaya.”

Untuk siapa?

Untuk kariermu?

Atau untuk hatimu?

Aku tidak bertanya.

Karena aku tahu...

ia juga sedang bertarung.

Dengan peran.

Dengan perasaan.

Dengan dirinya sendiri.

Aku kembali duduk, pura-pura fokus pada buku.

Tanganku masih gemetar.

Haruka mengambil jarak beberapa langkah.

Suara kertas kembali terdengar. Rapi. Terkontrol.

Namun udara di ruangan itu sudah berubah.

Tidak ada yang berkata apa pun setelahnya.

Tapi kami berdua tahu..

Sejak detik itu,

aku tidak lagi hanya terjebak di antara peran istri dan mahasiswi.

Aku terjebak di antara

cinta yang ingin tumbuh

dan batas yang ia bangun demi melindungi kami…

atau mungkin, demi melindungi dirinya sendiri.

Malam itu berakhir dengan jarak yang terasa lebih sempit…

namun juga lebih berbahaya.

Keesokan paginya, rumah itu tidak dipenuhi suara langkah Haruka seperti biasa.

Tidak ada suara air di kamar mandi.

Tidak ada langkah tenang di koridor.

Yang ada hanyalah keheningan—dan sesuatu yang terasa salah.

Aku baru menyadarinya saat hendak berangkat ke kampus.

Pintu kamarnya tidak terkunci.

Ia terbaring di ranjang, kemeja tidurnya basah oleh keringat. Wajahnya pucat, alisnya sedikit berkerut, napasnya berat dan tidak teratur.

“Haruka…” panggilku panik.

Tanganku menyentuh dahinya.

Panas.

Bukan hangat—panas yang membuat dadaku langsung sesak.

“Kamu demam,” gumamku.

Ia membuka mata perlahan. Tatapannya buram, tidak setajam biasanya.

“Tidak apa-apa,” katanya lirih. “Aku masih bisa—”

“Tidak,” potongku tegas. “Hari ini kamu tidak ke mana-mana.”

Ia ingin bangkit, tapi tubuhnya tidak menuruti. Tangannya gemetar ringan saat mencoba menopang diri.

Aku menahannya.

“Hari ini aku juga tidak ke kampus,” kataku. “Selesai.”

Ia menatapku lama. Lelah. Pasrah.

“Jangan membatalkan hidupmu karena aku,” ucapnya pelan.

Aku tersenyum tipis. “Untuk hari ini… hidupku di sini.”

Aku mengompres dahinya, menyiapkan obat, dan memaksanya minum meski ia terlihat kesal.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Haruka tidak melawan.

Ia tertidur kembali saat siang mulai turun.

Aku duduk di sisi ranjang, menjaganya.

Dalam tidurnya, wajahnya terlihat berbeda.

Tidak dingin.

Tidak menakutkan.

Hanya… lelaki muda yang terlalu lelah bertahan hidup.

Bulu matanya panjang. Bibirnya sedikit terbuka saat napasnya turun naik perlahan.

Dan entah sejak kapan, aku berhenti menghitung detik.

Tanganku terangkat tanpa sadar.

Pelan—sangat pelan—aku mencondongkan tubuh.

Hanya satu sentuhan.

Satu ciuman ringan di pipinya.

Bukan nafsu.

Bukan keinginan.

Hanya perasaan yang tidak bisa lagi kutahan.

Namun saat bibirku menyentuh kulitnya—

“Alya.”

Aku membeku.

Matanya terbuka.

Tidak sepenuhnya sadar, tapi cukup untuk tahu apa yang terjadi.

“Jangan lakukan hal yang tidak seharusnya,” katanya lirih, namun tegas.

Dadaku berdegup keras.

“Apa yang tidak seharusnya?” balasku pelan. “Menjaga suamiku?”

Ia menghela napas berat. “Kau tahu maksudku.”

Aku menatapnya—lalu, dengan keberanian yang bahkan mengejutkanku sendiri, aku mencium pipinya lagi.

Dan lagi.

Lebih lama.

Haruka menutup matanya sesaat. Rahangnya mengeras.

“Alya,” ucapnya rendah, “apa kau lupa isi kontrak itu?”

Aku berhenti, hanya sejauh beberapa inci dari wajahnya.

“Aku ingat,” jawabku. “Aku hanya… tidak setuju.”

Matanya terbuka lagi. Terkejut.

“Ini bukan tentang kontrak,” lanjutku, suaraku bergetar. “Ini tentang kamu. Tentang aku. Tentang apa yang kita rasakan meski kita pura-pura tidak ada.”

“Kau sedang emosi,” katanya. “Dan aku sedang sakit. Ini tidak adil.”

Aku tersenyum kecil, pahit. “Sejak kapan hidupmu adil?"

Ia terdiam.

“Aku tidak mencintaimu karena kamu sempurna,” kataku lirih. “Aku mencintaimu karena kamu bertahan. Karena kamu hidup meski dunia tidak pernah lembut padamu.”

Kata itu meluncur begitu saja.

Cinta.

Aku sadar setelah terlambat.

Haruka menatapku lama. Sangat lama.

Lalu ia memalingkan wajah, suaranya hampir tak terdengar.

“Kau membuat segalanya jadi sulit.”

Aku mendekat lagi, menyentuh tangannya dengan lembut.

“Mungkin,” kataku. “Tapi aku di sini. Dan aku tidak akan pergi.”

Ia tidak membalas sentuhanku.

Namun ia juga tidak menariknya.

Dan di hari itu—

di rumah yang sunyi,

di ranjang seorang pria yang tubuhnya rapuh tapi jiwanya keras—

kontrak itu mulai retak.

Bukan karena dilanggar

Haruka tidak membaik keesokan harinya.

Demamnya turun sedikit, lalu naik lagi menjelang malam. Tubuhnya panas, tapi tangannya dingin. Napasnya masih berat, sesekali diselingi batuk pelan yang ia tahan agar tidak membangunkanku—padahal aku tidak pernah benar-benar tidur.

Aku tinggal di sisinya.

Mengganti kompres.

Menyiapkan sup hangat.

Memastikan obatnya diminum tepat waktu.

Dan tanpa sadar… aku memanjakannya.

“Alya,” katanya pelan saat aku kembali menempelkan kain dingin di dahinya.

“Kau tidak harus melakukan semua ini.”

Aku menggeleng. “Diam.”

Ia tersenyum tipis. Sangat tipis.

“Perintah istri?” godanya lemah.

Aku berhenti sejenak.

“Iya,” jawabku ringan. “Istri.”

Kata itu meluncur begitu saja.

Haruka membuka mata, menatapku lama—lalu ekspresinya berubah. Bukan marah. Bukan dingin. Tapi sesuatu yang lebih rumit.

“Jangan,” katanya lirih.

Aku mengernyit. “Jangan apa?”

“Jangan membiasakan dirimu,” ucapnya pelan. “Aku bukan seseorang yang boleh kau manjakan seperti ini.”

Aku duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan kesal yang tertahan.

“Kamu sedang sakit,” kataku. “Dan aku di sini. Itu saja.”

“Itu bukan ‘saja’, Alya.”

Aku menghela napas, lalu menyuapkan sendok sup ke bibirnya.

“Makan.”

Ia menurut. Mungkin karena lelah. Mungkin karena tidak ingin berdebat.

Hari kedua, ia masih belum mengizinkan aku menyentuh kontrak itu—secara harfiah maupun makna.

Setiap kali aku duduk terlalu dekat, ia bergeser.

Setiap kali aku menyentuh tangannya terlalu lama, ia menariknya perlahan.

“Jaga jarak,” katanya pelan.

“Kau lupa?”

Aku pura-pura tidak mendengar.

Bagiku, kontrak itu sudah kabur.

Yang kulihat hanya pria yang tubuhnya masih bertahan… dan pria itu sedang sakit.

Sore itu, aku menyisir rambutnya dengan jari—pelan, hati-hati. Ia memejamkan mata, seolah menikmati, lalu tiba-tiba berkata,

“Kau melanggar kesepakatan.”

Tanganku berhenti.

“Aku tidak mencium,” jawabku defensif.

“Aku tidak memeluk. Aku tidak—”

“Kau peduli,” potongnya. “Dan itu tidak ada di kontrak.”

Dadaku mengencang.

“Kalau begitu,” kataku pelan, “kontrak itu memang bodoh.”

Ia membuka mata, menatapku tajam meski tubuhnya lemah.

“Kontrak itu satu-satunya hal yang melindungimu.”

“Dari apa?” tanyaku.

“Dari kamu?”

Ia terdiam.

“Mungkin,” jawabnya jujur.

Aku tersenyum pahit.

“Aku tidak merasa perlu dilindungi.”

“Kau tidak tahu apa yang kau hadapi.”

“Dan kamu tidak tahu,” balasku, “apa rasanya melihat seseorang yang kamu—”

Aku berhenti sebelum kata itu keluar.

Ia menutup mata kembali.

“Alya,” katanya pelan, hampir seperti permohonan,

“jangan buat aku lupa batas.”

Aku berdiri, menutupi rasa sesak di dadaku dengan senyum kecil.

“Baik,” kataku. “Aku ingat.”

Itu bohong.

Malamnya, ia terbangun karena mimpi buruk. Nafasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya. Aku refleks menggenggam tangannya.

Ia tidak menariknya kali ini.

Namun ia juga tidak menggenggam balik.

“Kontrak,” bisiknya di antara napas berat.

“Ingat kontrak itu.”

Aku mengangguk, meski air mataku jatuh diam-diam.

“Iya,” jawabku. “Aku ingat.”

Padahal sebenarnya—

Aku sudah lupa sejak aku takut kehilangannya.

Dan di antara kami berdua,

akulah satu-satunya yang mulai hidup seolah kontrak itu tidak pernah ada—

sementara Haruka Sakura

terus mengingatnya.

karena ia tahu…

jika kontrak itu runtuh,

yang runtuh berikutnya mungkin adalah dirinya sendiri...

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!