“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 21
Seorang pria tinggi besar berseragam kepolisian masuk dan menyeret Miranda.
"Pak, saya bukan penjahat, Pak. Saya hanya wanita malang yang diceraikan suami, diusir keluarga, Pak. Saya korban jambret, Pak," ratap Miranda panik.
"Plak." Pundak Miranda ditepak.
"Miranda, kenapa kamu jadi ngelamun hanya karena aku nanya KTP?" tegur Ibu Salamah.
Miranda menelan ludah sambil memegang dadanya yang terasa sesak. "Ternyata tadi hanya hayalanku saja," gumamnya lirih.
"Kenapa kamu melamun? Apa karena enggak ada KTP?" selidik Ibu Salamah.
Miranda duduk. Sepintas dia melihat di belakang dapur ada pintu terbuka menuju gang kecil. Rencana lari sempat terlintas, pikirannya menimbang, mungkin bisnis ini memang tidak cocok untuk dirinya.
"Maaf, Bu, saya tidak punya KTP. Mohon jangan laporkan ke polisi," pinta Miranda dengan suara bergetar.
Diluar siang udara terasa panas tapi tangan miranda terasa dingin, dia sudah berani melawan berandalan tapi kalau berhadapan dengan kepolisian dia masih belum siap untuk dipenjara.
Bu Salamah malah tertawa keras.
"Kamu memang luar biasa, Miranda." Tatapan Bu Salamah berbinar menatapnya.
Miranda heran. Ada orang yang justru bahagia mendengar dirinya tidak punya KTP.
"Kenapa dia tertawa apa dia senang akan dapat uang nanti kalau sudah melaporkan aku" pikir Miranda
"Kenapa, Bu?" Miranda bertanya heran. Niat untuk lari dia urungkan. "Mungkin takdirku jadi gembel," batinnya pasrah.
"Aku tebak," Bu Salamah menatapnya lekat, "kamu pasti enggak punya tempat tinggal, ya?"
"Tidak usah ditebak juga sudah ketahuanlah, sandal beda sebelah, baju lusu, bawa karung, aneh saja kalau dia menebak aku punya rumah" gumam miranda dalam hati, Pikiran buruk semakin kuat.
"Ya, Bu. Apa ibu enggak mau terima pesanan saya?" Miranda menyela cemas.
"Kenapa kamu selalu berpikir buruk? Kalau kamu mau jadi orang sukses, kamu harus punya keyakinan yang kuat dan berpikiran positif," nasihat Bu Salamah tegas.
"Aku ini tunawisma, tak punya KTP, tak punya ponsel. Jadi wajar kalau ibu enggak percaya sama saya," ujar Miranda, minder masih tersisa di wajahnya.
"Hanya kurang 90.000," Bu Salamah menanggapi santai. "Kamu pikir aku akan miskin cuma karena uang segitu? Aku justru salut sama kamu. Udah enggak punya KTP, enggak punya tempat tinggal," matanya berbinar, "tapi masih mau berdagang. Itu luar biasa, Miranda. Anak muda sekarang maunya cepat kaya, gengsinya tinggi, malu jualan, sekolah tinggi cuma mau jadi pekerja. Intinya, aku salut sama kamu."
Bu Salamah meneguk air putih setelah panjang lebar berbicara.
Miranda merasa heran, sekaligus lega.
"Jadi ibu percaya sama saya?" tanyanya ragu.
"Tentu saja tidak," jawab Bu Salamah lugas, membuat bahu Miranda kembali jatuh.
"Kepercayaan itu bukan dari kata-kata. Kamu harus buktikan besok. Dalam bisnis jangan 100% percaya. Curiga perlu supaya kita hati-hati."
"Berarti ibu terima pesanan saya?" suara Miranda nyaris tak percaya.
"Nota sudah kamu pegang, uang panjer juga sudah aku terima. Kamu pikir aku masih nolak?"
Miranda mengembuskan napas lega. "Kalau begitu, terima kasih, Bu."
"Minumlah dulu, Miranda. Kamu kira aku main-main nyuguhin makanan dan minuman?" kata Bu Salamah setengah bercanda.
"Terima kasih, Bu," balas Miranda tulus.
Miranda mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya.
"Mir, kamu sudah menikah?"
Pertanyaan itu membuat Miranda hampir tersedak. Wajahnya murung sesaat sebelum ia meletakkan gelas.
"Jangan dijawab," sela Bu Salamah cepat.
"Kenapa, Bu?"
"Karena aku sudah tahu kamu sudah bercerai."
Miranda mengerutkan dahi, penasaran. "Dari mana ibu tahu?"
"Dari wajah kamu. Aku tahu hidup kamu pasti sulit. Aku juga bisa tebak kamu enggak punya saudara, kan?"
Miranda menyandarkan tubuh ke sofa yang sudah tak empuk lagi.
"Tebakan ibu benar semua," akuinya pelan.
Bu Salamah justru tertawa kecil, seolah menemukan sesuatu yang menarik.
"Apakah penderitaanku begitu lucu bagi Ibu Salamah?" batin Miranda.
"Diceraikan suami, hidup menggelandang, sekarang mau berdagang," mata Bu Salamah berbinar hangat. "Kamu hebat, Mir. Kamu enggak terpuruk dan mau bangkit."
Miranda tersenyum getir. Ibu Salamah tak tahu betapa dekatnya dia pernah dengan keputusasaan.
"MIR," panggil Bu Salamah lembut. "Jangan menyerah. Selagi muda, cari uang sebanyak-banyaknya dengan cara benar. Jangan takut salah. Jatuh, bangkit lagi. Kalau sudah tua kayak ibu, jatuh itu susah bangkit."
Miranda merasa hangat mendengarnya. "Kenapa, Bu?" tanyanya penasaran.
"Karena ibu kena asam urat, jadi harus hati-hati jalan," sahut Bu Salamah berkelakar.
"Pokoknya kamu hebat, Mir," lanjutnya tulus.
"Terima kasih, Bu. Tapi yang lebih hebat itu ibu," balas Miranda.
Bu Salamah tersenyum. "Apanya yang hebat dari wanita tua kena asam urat kayak gini?"
"Ibu hebat mau nerima pesanan gembel kayak saya."
Bu Salamah tertawa lepas. "Kamu pandai bicara, Miranda."
Miranda melirik jam. Hari makin sore, sementara rongsokan belum juga terkumpul. Dia masih harus mencari uang 50.000 untuk melunasi pesanan nasi uduk.
"Sepertinya saya harus pergi, Bu," katanya akhirnya.
"Mau ke mana?" Bu Salamah bertanya, terdengar enggan.
"Mau cari rongsokan lagi, Bu."
Mata Bu Salamah berbinar ceria.
"Jangan kecil hati. Terus berusaha. Suatu hari kamu pasti jadi orang sukses, Mir," katanya penuh keyakinan.
"Terima kasih banyak, Bu."
...
...
Hari makin sore. Miranda terus mencari rongsokan. Ia mendapat info dari sesama pemulung bahwa Cak Roni buka dua puluh empat jam karena istrinya juga membuka warung. Lagipula, ciri khas warung Madura memang buka dua puluh empat jam.
“Malam ini aku harus lembur,” ujar Miranda. Ia harus berusaha lebih dulu, soal hasil belakangan. Syukur-syukur bisa dapat uang lima puluh ribu, kalau pun kurang setidaknya bisa mengurangi sedikit utangnya pada Ibu Salamah. Miranda bertekad.
Miranda melihat sebuah jam digital di papan reklame.
“Astaga, sudah jam 17.30. Aku belum salat Asar,” batin Miranda gusar.
Akhirnya, di sebuah taman, ia memutuskan untuk salat. Ia meletakkan karung berisi rongsokan, lalu menggelar kardus dan melaksanakan salat Asar. Waktunya sudah mendekati Magrib, karena begitu ia mengucapkan salam, azan Magrib langsung berkumandang.
Setelah salat Asar, Miranda melaksanakan salat Magrib. Usai itu, ia menengadahkan tangan dan berdoa.
Setelah salat Magrib, dia menggambar sketsa masjid. Masjid besar yang melayani manusia, masjid yang memiliki dapur umum, klinik, tempat menginap, serta taman bermain anak-anak.
Hari makin malam, miranda terus mencari rongsokan, perutnya keroncongan mita di isi.
“Ya Allah, lapangkan rezekiku, kuatkan diriku,” hati Miranda terus berdoa.
Terlihat sebuah tenda pecel lele di pinggir jalan. Miranda menelan ludah. Ia sangat ingin makan pecel lele, tetapi uangnya harus disimpan untuk pelunasan besok. Miranda berniat pergi dan menahan lapar, namun entah kenapa kakinya justru melangkah mendekat ke arah tukang pecel lele.
“Bruk!”
Miranda bertabrakan dengan seorang pria kurus.
“Hati-hati dong kalau jalan,” ucap pria itu ketus.
Miranda heran. Padahal dialah yang ditabrak, tetapi pria itu justru marah. Miranda hendak menjawab, namun pria tersebut sudah lebih dulu melangkah pergi.
“Dasar aneh,” gerutu Miranda kesal.
Karena terbawa emosi, tepat di depan tenda pecel lele Miranda berkata, “Mas, pecel lele satu,” ucapnya, lalu duduk.
Setelah menunggu sebentar, tersaji seporsi pecel lele dengan nasi yang masih mengepul. Itu adalah makanan paling mewah yang Miranda santap sejak terdampar di Jakarta. Ia makan dengan lahap.
“Berapa semuanya, Mas?” tanya Miranda.
“Tujuh belas ribu,” ucap tukang pecel lele.
Miranda lalu merogoh saku dasternya. Ia tertegun. Tangannya merogoh lebih dalam, namun uang itu tidak ada.
“Kenapa uangku tidak ada? Aku tidak pernah menaruhnya di tempat lain, kecuali di daster,” batin Miranda.
Miranda panik.
gemes bgt baca ceeitanya