NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 21

Seorang pria tinggi besar berseragam kepolisian masuk dan menyeret Miranda.

"Pak, saya bukan penjahat, Pak. Saya hanya wanita malang yang diceraikan suami, diusir keluarga, Pak. Saya korban jambret, Pak," ratap Miranda panik.

"Plak." Pundak Miranda ditepak.

"Miranda, kenapa kamu jadi ngelamun hanya karena aku nanya KTP?" tegur Ibu Salamah.

Miranda menelan ludah sambil memegang dadanya yang terasa sesak. "Ternyata tadi hanya hayalanku saja," gumamnya lirih.

"Kenapa kamu melamun? Apa karena enggak ada KTP?" selidik Ibu Salamah.

Miranda duduk. Sepintas dia melihat di belakang dapur ada pintu terbuka menuju gang kecil. Rencana lari sempat terlintas, pikirannya menimbang, mungkin bisnis ini memang tidak cocok untuk dirinya.

"Maaf, Bu, saya tidak punya KTP. Mohon jangan laporkan ke polisi," pinta Miranda dengan suara bergetar.

Diluar siang udara terasa panas tapi tangan miranda terasa dingin, dia sudah berani melawan berandalan tapi kalau berhadapan dengan kepolisian dia masih belum siap untuk dipenjara.

Bu Salamah malah tertawa keras.

"Kamu memang luar biasa, Miranda." Tatapan Bu Salamah berbinar menatapnya.

Miranda heran. Ada orang yang justru bahagia mendengar dirinya tidak punya KTP.

"Kenapa dia tertawa apa dia senang akan dapat uang nanti kalau sudah melaporkan aku" pikir Miranda

"Kenapa, Bu?" Miranda bertanya heran. Niat untuk lari dia urungkan. "Mungkin takdirku jadi gembel," batinnya pasrah.

"Aku tebak," Bu Salamah menatapnya lekat, "kamu pasti enggak punya tempat tinggal, ya?"

"Tidak usah ditebak juga sudah ketahuanlah, sandal beda sebelah, baju lusu, bawa karung, aneh saja kalau dia menebak aku punya rumah" gumam miranda dalam hati, Pikiran buruk semakin kuat.

"Ya, Bu. Apa ibu enggak mau terima pesanan saya?" Miranda menyela cemas.

"Kenapa kamu selalu berpikir buruk? Kalau kamu mau jadi orang sukses, kamu harus punya keyakinan yang kuat dan berpikiran positif," nasihat Bu Salamah tegas.

"Aku ini tunawisma, tak punya KTP, tak punya ponsel. Jadi wajar kalau ibu enggak percaya sama saya," ujar Miranda, minder masih tersisa di wajahnya.

"Hanya kurang 90.000," Bu Salamah menanggapi santai. "Kamu pikir aku akan miskin cuma karena uang segitu? Aku justru salut sama kamu. Udah enggak punya KTP, enggak punya tempat tinggal," matanya berbinar, "tapi masih mau berdagang. Itu luar biasa, Miranda. Anak muda sekarang maunya cepat kaya, gengsinya tinggi, malu jualan, sekolah tinggi cuma mau jadi pekerja. Intinya, aku salut sama kamu."

Bu Salamah meneguk air putih setelah panjang lebar berbicara.

Miranda merasa heran, sekaligus lega.

"Jadi ibu percaya sama saya?" tanyanya ragu.

"Tentu saja tidak," jawab Bu Salamah lugas, membuat bahu Miranda kembali jatuh.

"Kepercayaan itu bukan dari kata-kata. Kamu harus buktikan besok. Dalam bisnis jangan 100% percaya. Curiga perlu supaya kita hati-hati."

"Berarti ibu terima pesanan saya?" suara Miranda nyaris tak percaya.

"Nota sudah kamu pegang, uang panjer juga sudah aku terima. Kamu pikir aku masih nolak?"

Miranda mengembuskan napas lega. "Kalau begitu, terima kasih, Bu."

"Minumlah dulu, Miranda. Kamu kira aku main-main nyuguhin makanan dan minuman?" kata Bu Salamah setengah bercanda.

"Terima kasih, Bu," balas Miranda tulus.

Miranda mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya.

"Mir, kamu sudah menikah?"

Pertanyaan itu membuat Miranda hampir tersedak. Wajahnya murung sesaat sebelum ia meletakkan gelas.

"Jangan dijawab," sela Bu Salamah cepat.

"Kenapa, Bu?"

"Karena aku sudah tahu kamu sudah bercerai."

Miranda mengerutkan dahi, penasaran. "Dari mana ibu tahu?"

"Dari wajah kamu. Aku tahu hidup kamu pasti sulit. Aku juga bisa tebak kamu enggak punya saudara, kan?"

Miranda menyandarkan tubuh ke sofa yang sudah tak empuk lagi.

"Tebakan ibu benar semua," akuinya pelan.

Bu Salamah justru tertawa kecil, seolah menemukan sesuatu yang menarik.

"Apakah penderitaanku begitu lucu bagi Ibu Salamah?" batin Miranda.

"Diceraikan suami, hidup menggelandang, sekarang mau berdagang," mata Bu Salamah berbinar hangat. "Kamu hebat, Mir. Kamu enggak terpuruk dan mau bangkit."

Miranda tersenyum getir. Ibu Salamah tak tahu betapa dekatnya dia pernah dengan keputusasaan.

"MIR," panggil Bu Salamah lembut. "Jangan menyerah. Selagi muda, cari uang sebanyak-banyaknya dengan cara benar. Jangan takut salah. Jatuh, bangkit lagi. Kalau sudah tua kayak ibu, jatuh itu susah bangkit."

Miranda merasa hangat mendengarnya. "Kenapa, Bu?" tanyanya penasaran.

"Karena ibu kena asam urat, jadi harus hati-hati jalan," sahut Bu Salamah berkelakar.

"Pokoknya kamu hebat, Mir," lanjutnya tulus.

"Terima kasih, Bu. Tapi yang lebih hebat itu ibu," balas Miranda.

Bu Salamah tersenyum. "Apanya yang hebat dari wanita tua kena asam urat kayak gini?"

"Ibu hebat mau nerima pesanan gembel kayak saya."

Bu Salamah tertawa lepas. "Kamu pandai bicara, Miranda."

Miranda melirik jam. Hari makin sore, sementara rongsokan belum juga terkumpul. Dia masih harus mencari uang 50.000 untuk melunasi pesanan nasi uduk.

"Sepertinya saya harus pergi, Bu," katanya akhirnya.

"Mau ke mana?" Bu Salamah bertanya, terdengar enggan.

"Mau cari rongsokan lagi, Bu."

Mata Bu Salamah berbinar ceria.

"Jangan kecil hati. Terus berusaha. Suatu hari kamu pasti jadi orang sukses, Mir," katanya penuh keyakinan.

"Terima kasih banyak, Bu."

...

...

Hari makin sore. Miranda terus mencari rongsokan. Ia mendapat info dari sesama pemulung bahwa Cak Roni buka dua puluh empat jam karena istrinya juga membuka warung. Lagipula, ciri khas warung Madura memang buka dua puluh empat jam.

“Malam ini aku harus lembur,” ujar Miranda. Ia harus berusaha lebih dulu, soal hasil belakangan. Syukur-syukur bisa dapat uang lima puluh ribu, kalau pun kurang setidaknya bisa mengurangi sedikit utangnya pada Ibu Salamah. Miranda bertekad.

Miranda melihat sebuah jam digital di papan reklame.

“Astaga, sudah jam 17.30. Aku belum salat Asar,” batin Miranda gusar.

Akhirnya, di sebuah taman, ia memutuskan untuk salat. Ia meletakkan karung berisi rongsokan, lalu menggelar kardus dan melaksanakan salat Asar. Waktunya sudah mendekati Magrib, karena begitu ia mengucapkan salam, azan Magrib langsung berkumandang.

Setelah salat Asar, Miranda melaksanakan salat Magrib. Usai itu, ia menengadahkan tangan dan berdoa.

Setelah salat Magrib, dia menggambar sketsa masjid. Masjid besar yang melayani manusia, masjid yang memiliki dapur umum, klinik, tempat menginap, serta taman bermain anak-anak.

Hari makin malam, miranda terus mencari rongsokan, perutnya keroncongan mita di isi.

“Ya Allah, lapangkan rezekiku, kuatkan diriku,” hati Miranda terus berdoa.

Terlihat sebuah tenda pecel lele di pinggir jalan. Miranda menelan ludah. Ia sangat ingin makan pecel lele, tetapi uangnya harus disimpan untuk pelunasan besok. Miranda berniat pergi dan menahan lapar, namun entah kenapa kakinya justru melangkah mendekat ke arah tukang pecel lele.

“Bruk!”

Miranda bertabrakan dengan seorang pria kurus.

“Hati-hati dong kalau jalan,” ucap pria itu ketus.

Miranda heran. Padahal dialah yang ditabrak, tetapi pria itu justru marah. Miranda hendak menjawab, namun pria tersebut sudah lebih dulu melangkah pergi.

“Dasar aneh,” gerutu Miranda kesal.

Karena terbawa emosi, tepat di depan tenda pecel lele Miranda berkata, “Mas, pecel lele satu,” ucapnya, lalu duduk.

Setelah menunggu sebentar, tersaji seporsi pecel lele dengan nasi yang masih mengepul. Itu adalah makanan paling mewah yang Miranda santap sejak terdampar di Jakarta. Ia makan dengan lahap.

“Berapa semuanya, Mas?” tanya Miranda.

“Tujuh belas ribu,” ucap tukang pecel lele.

Miranda lalu merogoh saku dasternya. Ia tertegun. Tangannya merogoh lebih dalam, namun uang itu tidak ada.

“Kenapa uangku tidak ada? Aku tidak pernah menaruhnya di tempat lain, kecuali di daster,” batin Miranda.

Miranda panik.

1
nunik rahyuni
kok ikut tegang thor 🤣🤣 sdh ikut ngos ngosan lari tp di gantung /Sleep/
Sunaryati
Miranda kamu akan ada jalan menuju sukses karena menolong Dino dan ibunya
nunik rahyuni
duh jenenge kok podo...🤣🤣🤣 jenenge pasaran..😁
nunik rahyuni: /Joyful//Joyful//Joyful/ klo mau msh ada stok nama yg antik thor..nama bahari tu yg akiranya nik kya anik ...nanik..hanik..yanik .menik
total 2 replies
nunik rahyuni
Cerita yg bagus bikin nguras esmosi..mirip dg zaman q masih jahiliyah 😁😁😅
Sunaryati
Semoga langkahmu lancar, sepertinya pemilik ruko itu saudaramu Miranda
nunik rahyuni
lanjut kk ...makin seru
Asphia fia
itu mah Miranda dijadikan budak yg di byr Thor BKN istri
gemes bgt baca ceeitanya
nunik rahyuni
semangat terus berkarya 💪💪💪💪
nunik rahyuni
lanjut thorr double up klo boleh...suka j baca cerita rakyat jelata g selalu ceo coe atau oce / eco 🤣🤣🤣
nunik rahyuni
tega nya..mknya belajar lah menyanyangi diri sendiri
nunik rahyuni
sumpal mulutnya pake lap kompor mertua kya itu ..sayur nya tak kasih racun tikus ben innalillah
nunik rahyuni
awak capek kerja cm di kadih tempe kok ra pinter jadi orang to mir masak karo ngemplok sing enak enak yg lain kasih sisanya saja wong pemalas
santi damayanti: terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
nunik rahyuni
kok kya anak tk...sesayang sayang nya sm laki q emoh yen kokon kya itu..dia punya kaki punya tangan kok kya orang cacat
santi damayanti: terimakasih
total 1 replies
nunik rahyuni
tahanya smpai 10 th..aq j yg bru sebulan di ikuti mertua ja sdh mo tak racun😁
Sunaryati
Jadi kismin sebentar lagi karena dikuras calon istri
Sunaryati
Kau akan dipecat karena pengadaan mesin dan pekerjaan kamu kacau tidak ada yang beres setelah bercerai dengan Miranda. Semoga Miranda diperkerjakan di ruko tempat ia bermalam
santi damayanti: terimakasih sudah berkunjung dan membaca
total 3 replies
Sunaryati
Arka mengingat Miranda karena sudah tidak punya babu gratis
Sunaryati
Doa orang terdzolimi semoga segera terkabul
Sunaryati
Semangat Miranda kamu orang baik, semoga segera terentas dari kemiskinan
Sunaryati
Semoga langkahmu dilancarkan dan menemukan orang baik yang bisa membawa kesuksesan hidupmu dunia akherat, Nak Miranda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!