NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18 Perjanjian dalam Tinta Hitam

Padang putih di dalam Dunia Tulisan itu terasa begitu hampa, namun setiap huruf yang melayang di udara memiliki bobot yang mampu meremukkan jiwa. Saka berdiri terpaku di depan buku tanpa judul yang memuat nama ANITA pada lembaran pertamanya. Di sekelilingnya, kata-kata seperti 'Kehancuran', 'Pengorbanan', dan 'Ketiadaan' berputar-putar seperti gagak yang lapar.

Sosok "Saka sang Raja" masih berdiri di belakangnya, membisikkan racun ke telinganya. "Lihatlah, Saka. Di buku itu tertulis bahwa meskipun kau menyelamatkannya sekarang, takdir akan selalu menemukan cara untuk merenggutnya kembali. Kau hanya menunda sebuah pemakaman. Bacalah, dan kau akan memiliki kekuatan untuk mengubah titik akhir itu menjadi garis yang abadi."

Tangan Saka gemetar hebat. Ia ingin sekali membuka halaman berikutnya. Ia ingin tahu apakah di masa depan nanti Anita akan menua bersamanya, ataukah ia akan kembali terbangun di sebuah lorong gelap dengan darah di perutnya. Namun, peringatan Luna bukan sekadar larangan; itu adalah pelindung. Buku tanpa judul adalah jebakan The Unwritten, narasi yang tidak memiliki kepastian karena memang tidak seharusnya ada.

Ting!

Suara lonceng Sekon terdengar lagi. Kali ini, bayangan hitam Saka merayap keluar dari bawah kakinya, membentuk wujud fisik yang sempurna. Bayangan itu kini memiliki wajah Saka, namun matanya putih polos dan senyumnya begitu bengis.

"Jika kau tidak mau membacanya, maka aku yang akan melakukannya," ucap Sang Bayangan dengan suara yang merupakan pantulan dari suara Saka yang hilang. "Dan setelah aku tahu rahasia takdirnya, aku akan menggantikanmu di dunia nyata. Aku akan mencintai Anita dengan caraku sendiri—cara yang jauh lebih gelap."

Saka menyadari bahwa ia tidak bisa lagi diam. Tanpa suara, ia menerjang bayangannya sendiri. Di dunia tulisan ini, hukum fisika tidak berlaku. Pertarungan mereka bukan lagi tentang tinju dan tendangan, melainkan tentang adu kehendak. Setiap kali Saka menyerang, huruf-huruf di sekitar mereka meledak menjadi serpihan cahaya.

Sang Bayangan jauh lebih kuat karena ia didorong oleh ribuan jiwa The Unwritten yang mendamba eksistensi. Ia mencengkeram leher Saka dan membantingnya ke arah meja batu tempat buku itu berada. "Pilih, Saka! Menjadi abu sejarah, atau hidup sebagai tuhan yang berkuasa di atas tinta hitam ini!"

Saka terdesak. Angka di punggung tangannya berkedip merah: V. Dua hari telah hilang hanya dalam hitungan jam di dimensi ini.

Dalam keputusasaannya, Saka melihat ke arah botol kecil di sudut meja. Itu adalah Tinta Keabadian. Isinya bukan cairan hitam, melainkan cahaya perak yang berdenyut lambat seperti detak jantung semesta. Saka menyadari satu hal: Tinta itu tidak akan bisa diambil jika ia masih terikat pada rasa takut akan masa depan.

Saka berhenti melawan. Ia membiarkan bayangannya mencengkeramnya. Dengan gerakan cepat, Saka meraih botol perak itu dan, alih-alih menyimpannya, ia malah memecahkan botol itu tepat di telapak tangannya sendiri.

PRANK!

Cahaya perak itu tumpah, namun tidak jatuh ke lantai. Cairan itu meresap masuk ke dalam pori-pori kulit Saka, menjalar melalui pembuluh darahnya seperti api dingin. Seketika, suara Saka kembali.

"Aku tidak butuh membaca akhir ceritaku," ucap Saka, suaranya kini terdengar berat dan bergema dengan kekuatan kuno. "Karena aku yang memegang penanya sekarang!"

Cahaya perak itu meledak dari tubuh Saka, menghanguskan sosok "Saka sang Raja" dan memukul mundur bayangannya hingga kembali menjadi hitam pekat yang tak berdaya. Buku tanpa judul itu terbakar habis, abu hitamnya terbang tertiup angin dimensi yang mendadak menderu kencang.

Saka kini berdiri tegak, seluruh tubuhnya memancarkan aura perak yang tipis namun tak tertembus. Tinta Keabadian kini menjadi bagian dari dirinya. Namun, penglihatan Saka mendadak buram. Ia merasakan tarikan gravitasi yang luar biasa dari Alexandria di luar sana.

Alexandria, 48 SM

Theon terperanjat saat melihat tubuh Saka muncul kembali di ruang bawah tanah, namun kali ini dengan kondisi yang berbeda. Mata Saka bersinar perak sesaat sebelum kembali normal. Namun, angka di tangannya kini berubah menjadi IV.

"Kau melakukannya..." bisik Theon dengan nada kagum sekaligus ngeri. "Kau tidak hanya mengambil tintanya, kau menjadikannya darahmu. Tapi Saka, dengarlah... Alexandria sedang membakar diri."

Saka berlari ke luar pilar-pilar perpustakaan dan pemandangan di depannya membuatnya terpaku. Langit Alexandria yang biru kini tertutup asap hitam tebal. Kapal-kapal Romawi di pelabuhan mulai melepaskan panah api. Sejarah sedang bergerak menuju salah satu tragedi terbesarnya: Pembakaran Perpustakaan Alexandria.

"The Unwritten sengaja mempercepat sejarah!" teriak Luna yang tiba-tiba muncul di samping Saka, napasnya tersengal. "Mereka ingin membakar semua pengetahuan manusia agar sejarah menjadi kosong, dan di dalam kekosongan itu, mereka bisa menulis ulang dunia!"

Saka melihat ribuan prajurit yang kerasukan bayangan hitam mulai menyerbu masuk ke perpustakaan dengan obor di tangan. Jika perpustakaan ini hancur sekarang, masa depan Saka—termasuk keberadaan ibunya dan Anita—akan terhapus karena dasar pengetahuan dunia telah hilang.

"Aku harus menghentikan apinya," ucap Saka.

"Kau tidak bisa menghentikan sejarah, Saka!" Luna menahan lengannya. "Perpustakaan ini harus terbakar, itu adalah peristiwa tetap!"

"Aku tidak akan menghentikan apinya," Saka menatap ribuan gulungan papirus di sekelilingnya. "Aku akan menyalin semuanya ke dalam diriku."

Saka mengangkat tangannya. Tinta Keabadian di dalam darahnya mulai bereaksi dengan ribuan tulisan di ruangan itu. Cahaya perak memancar, membentuk pusaran raksasa yang mulai menyedot isi dari setiap gulungan papirus ke dalam kesadaran Saka. Ia menjadi perpustakaan berjalan. Ia menanggung beban seluruh ilmu pengetahuan kuno di pundaknya.

Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Rambut Saka mulai memutih sebagian karena beban informasi yang masuk ke otaknya terlalu besar. Angka di tangannya berputar liar: III... II...

"Cukup, Saka! Kau akan hancur!" teriak Luna.

Tepat saat atap perpustakaan mulai runtuh dalam kobaran api, Saka melihat Sekon berdiri di kejauhan, tersenyum puas. Saka tidak peduli. Dengan satu hentakan kaki, ia menciptakan gelombang kejut kronos yang melemparkan dirinya dan Luna kembali ke lubang waktu, meninggalkan Alexandria yang tenggelam dalam api dan air mata sejarah.

Jalan Braga, Masa Kini

Saka terjatuh di lantai toko Ki Ganda yang gelap. Tubuhnya terasa sangat berat, seolah ia membawa jutaan buku di dalam otaknya. Ia mencoba berdiri, namun lututnya lemas.

Ia melihat ke punggung tangannya. Angka itu kini menunjukkan: I.

Tinggal 24 jam tersisa. Dan saat ia melihat ke cermin tua di pojok ruangan, ia terkejut. Bayangannya di cermin tidak lagi berwarna hitam, melainkan putih perak, dan bayangan itu sedang memegang sebuah jam pasir yang pasirnya hampir habis.

"Tugasmu belum selesai, Sang Penjaga," suara Sekon berbisik dari balik bayangan. "Sekarang, berikan semua pengetahuan itu kepada kami, atau biarkan otakmu meledak karena beban sejarah."

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!