NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Hari-hari di Kota Qinghe tetap berjalan seperti air sungai yang tidak tergesa.

Pagi datang dengan bunyi kayu toko dibuka, suara mangkuk beradu, dan langkah kaki pelanggan yang sudah hafal arah. Yun Ma menyeduh obat seperti biasa, menakar ramuan tanpa salah, tangannya stabil, pikirannya… lebih tenang dari sebelumnya.

Ayin berdiri di samping meja racik, membantu menumbuk akar kering. Gerakannya cekatan, namun matanya beberapa kali melirik nonanya diam-diam.

“Nona,” kata Ayin akhirnya, pelan, “akhir-akhir ini… nona sering melamun.”

Yun Ma mengangkat kepala. “Benarkah?”

Ayin mengangguk kecil. “Biasanya setelah toko tutup. Nona berdiri di ambang pintu cukup lama.”

Yun Ma terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Mungkin aku mulai tua.”

Ayin hampir tertawa. “Nona masih muda.”

Namun ia tidak melanjutkan. Karena ia juga merasakan sesuatu—perubahan yang tidak bisa dijelaskan, seperti udara sebelum hujan.

Hui duduk di rak tertinggi, ekornya melilit tubuhnya sendiri. Rubah kecil itu setengah terpejam, namun telinganya bergerak setiap kali Yun Ma berhenti lebih lama dari biasanya.

“Krr…”

Nada tidak senang.

Serigala malam yang kini dipanggil Yun Ma dengan nama Ye berbaring di depan pintu. Tubuhnya masih kecil, namun bayangannya sering terlihat lebih besar dari ukuran fisiknya, terutama saat malam.

Ia tidak tidur.

Ia berjaga.

Bukan karena diperintah.

Namun karena… ia memilih.

Ayin memperhatikan itu juga.

“Makhluk-makhluk ini,” gumamnya suatu sore, “aneh… tapi rasanya aman.”

Yun Ma menoleh. “Kau takut?”

Ayin menggeleng mantap. “Tidak. Selama mereka berada di dekat nona.”

Malam datang.

Yun Ma dan Ayin makan malam sederhana di dapur belakang—sup hangat dan nasi putih. Hui memakam potongan daging tanpa malu, Ye juga makan dalam diam dan sesekali menatap Hui dengan tenang.

“Tidurlah lebih awal, Nona,” kata Ayin sambil membereskan mangkuk. “Besok banyak pesanan.”

Yun Ma mengangguk.

Saat ia berbaring, Hui meringkuk di dekat lehernya seperti biasa, ekornya melilit pergelangan tangan Yun Ma.

Hangat.

Di dalam kesadarannya, ruang dimensi terbuka pelan.

Langit perak membentang, tanah hitam berkilau tenang.

Shen Yu berdiri dengan kedua tangan di balik lengan jubahnya.

Hui sudah di sana.

Ia duduk, menatap ke arah tertentu arah yang tidak memiliki apa pun.

“Kau menunggunya,” kata Shen Yu.

Hui mendengus.

“Krr.”

“Itu tidak bijak.”

Hui memalingkan wajah.

Serigala malam muncul dari bayangan, berdiri tidak jauh dari mereka. Matanya menyala redup, namun tidak agresif.

Shen Yu menatapnya.

“Dan kau,” katanya pada Ye. “Kau memilih untuk tinggal.”

Ye tidak menjawab.

Namun bayangannya menguat.

Shen Yu menghela napas tipis. “Dua makhluk yang memilih Yun Ma.”

Api Sunyi berdenyut kecil.

Tidak cemburu.

Tidak posesif.

Hanya… mencatat.

Pria itu muncul di Kota Qinghe pada hari ketujuh setelah pembebasan.

Tidak terang-terangan.

Tidak dramatis.

Ia datang sebagai pengembara dengan pakaian sederhana, jubah abu-abu kusam, rambut diikat rendah. Wajahnya tertutup debu perjalanan, namun matanya… tetap sama.

Dalam.

Tenang.

Dan penuh bekas luka yang tidak terlihat.

Ia berhenti di ujung jalan, menatap papan kayu bertuliskan Toko Obat Feng Ling.

Cahaya sore memantul di jendela toko.

Hangat.

Ia tidak masuk.

Ia duduk di warung seberang, memesan teh pahit, dan mengamati.

Dari jauh.

Hari itu, Yun Ma tidak menyadarinya.

Namun Ayin… melihat.

Ia berdiri di dekat pintu, membawa keranjang obat yang hendak dikeringkan, dan matanya menangkap sosok asing itu.

“Ada tamu?” tanyanya saat Yun Ma lewat.

Yun Ma menoleh sekilas. “Tidak.”

Ayin menatap lebih lama.

Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak.

Hui mendesis pelan dari rak.

“Krrrk.”

Hari-hari berikutnya, pria itu kembali.

Selalu dari jauh.

Kadang di warung.

Kadang di bawah pohon.

Kadang hanya berdiri di sudut jalan, seolah menunggu seseorang yang mungkin tidak akan datang.

Ia tidak pernah mendekat.

Tidak pernah menyapa.

Namun setiap kali Yun Ma keluar membawa ramuan untuk pelanggan tua atau anak kecil, ia selalu ada cukup dekat untuk melihat, cukup jauh untuk tidak mengganggu.

Ayin semakin sering menyadarinya.“Nona,” katanya suatu siang, “orang itu… sering datang.”

Yun Ma berhenti menata botol. “Orang yang mana?”

Ayin menunjuk samar ke luar jendela.

Yun Ma mengikuti arah pandangnya.

Ia melihat… seorang pria biasa.

Tidak ada aura berbahaya.

Tidak ada tekanan.

Hanya seseorang yang tampak… lelah.

Yun Ma mengerutkan kening pelan.

“Aneh,” gumamnya. “Kenapa aku merasa…”

Ia tidak melanjutkan.

Ye mengangkat kepala, bayangan di bawah tubuhnya bergerak pelan.

Shen Yu, dari dalam kesadaran, berbisik hampir tak terdengar.“Benang itu bergetar.”

Pada hari kesebelas, hujan turun.

Hujan musim gugur yang dingin, halus, meresap ke pakaian.

Yun Ma menutup toko lebih awal.

Ayin membantu mengunci pintu, lalu berhenti.

“Nona,” katanya ragu. “Orang itu… berdiri di luar. Di bawah hujan.”

Yun Ma menoleh.

Ia melihat pria itu berdiri tanpa payung.

Diam.

Seolah tidak peduli basah.

Yun Ma berhenti.

Hui mendesis keras.

“Krrrss—!”

Ye berdiri, bayangan mengeras.

Namun Yun Ma mengangkat tangan, “Kalian tenang.”

Ayin menatap nonanya, cemas. “Nona…?”

“Aku hanya akan bicara,” jawab Yun Ma pelan.

Ia melangkah keluar.

Satu langkah.

Dua langkah.

Hujan membasahi rambutnya.

“Kau…” Yun Ma membuka suara. Lalu berhenti. “Kau belum pergi.”

Pria itu menunduk sedikit. “Aku… tidak tahu harus ke mana.”Itu bukan kebohongan.

“Kenapa kau di sini?” tanya Yun Ma.

Pria itu berpikir lama.“Karena di sinilah… aku dilepaskan.”

Ayin berdiri di ambang pintu, menahan napas.

Ia tidak maju.

Namun ia tidak menutup pintu.

“Kau seharusnya pergi jauh,” kata Yun Ma.

“Aku mencoba,” jawab pria itu. “Namun setiap langkah… membawaku kembali.”

Yun Ma menatapnya lama.

Lalu berkata, “Masuklah. Hujan dingin.”

Ayin terkejut. “Nona....”

“Aku tahu,” kata Yun Ma lembut. “Percayalah padaku.”

Ayin menggenggam ujung bajunya… lalu mengangguk.

Di dalam toko, aroma ramuan hangat mengisi udara.

Yun Ma menyeduh teh jahe.

Ayin meletakkannya di depan pria itu tanpa berkata apa-apa.

Namun matanya waspada.

“Namamu?” tanya Yun Ma.

Pria itu terdiam lama.“Aku dipanggil Xuan,” katanya akhirnya.

Yun Ma mengangguk. “Baik, Xuan.”

Nama itu bergetar pelan di udara.

Shen Yu menutup mata.

Benang takdir… mengencang.

Malam itu, Xuan tidur di ruang belakang toko.

Bukan sebagai tamu istimewa.

Bukan sebagai tahanan.

Hanya… seseorang yang diberi tempat.

Ayin memastikan pintu terkunci, lalu duduk di sisi ranjang Yun Ma.

“Nona,” katanya pelan, “jika orang itu berbahaya....”

“Aku tahu,” jawab Yun Ma.

“Namun nona tetap membiarkannya tinggal.” ujar Ayin

Yun Ma tersenyum kecil. “Karena jika aku mengusirnya… aku akan mengkhianati diriku sendiri.”

Ayin menatap nonanya lama.

Lalu menunduk. “Kalau begitu… aku akan berjaga.”

Yun Ma menggenggam tangannya. “Terima kasih.”

Di ruang dimensi, Api Sunyi berdenyut lebih terang.

Shen Yu berdiri menatap langit perak.

“Jika dunia tahu,” gumamnya, “apa yang sedang ia biarkan tumbuh…”

Hui tidur di sampingnya.

Ye berdiri di bayangan.

Dan jauh di luar Kota Qinghe

Seseorang tersenyum di balik topeng.

Karena ia tahu.

Pria itu telah bebas.

Dan wanita itu… telah memilih.

Bukan pahlawan.

Bukan penyelamat.

Namun justru karena itulah

Mereka berbahaya.

Bersambung.

1
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
Shai'er
waduh😱😱😱
Shai'er
pengecut 🙄🙄🙄
Shai'er
/Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
Shai'er
Ayin🤧💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!