Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Napas mereka berpacu dengan suara langkah kaki yang menghantam aspal basah. Malam itu tidak lagi sunyi. Raungan sirine pemadam kebakaran membelah udara, menciptakan simfoni kekacauan yang justru menjadi selimut pelindung bagi dua pelarian itu. Raka tidak melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Keyra, menarik gadis itu melewati gang-gang sempit di belakang area sekolah, menjauh dari sorotan lampu rotar yang menyilaukan.
"Raka, tunggu..." Keyra tersengal, kakinya terasa seperti jeli. "Gue... gue nggak bisa napas."
Mereka sudah berlari setidaknya lima blok. Jauh dari jangkauan satpam maupun polisi yang mungkin mulai berdatangan. Raka berhenti mendadak di balik sebuah ruko tua yang tutup, menyeret Keyra masuk ke bayang-bayang pilar beton. Cowok itu menyandar ke dinding, dadanya naik-turun dengan kasar, menahan rasa sakit di tangan kanannya yang gemetar hebat.
"Kita aman," desis Raka, matanya memindai jalan raya yang sepi di depan mereka. "Untuk sekarang."
Keyra membungkuk, menumpukan tangan pada lutut, mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin. Paru-parunya terasa terbakar, bukan hanya karena asap sisa kebakaran tadi, tapi karena adrenalin yang dipompa paksa ke seluruh tubuhnya. Dia mendongak, menatap Raka yang kini sibuk memeriksa perban di tangannya. Darah merembes lagi. Luka itu terbuka.
"Tangan lo," kata Keyra, suaranya parau.
"Nggak penting," potong Raka cepat. Dia menatap Keyra dengan intensitas yang membuat gadis itu merinding. "Lo sadar jam berapa sekarang?"
Keyra mengerjap. Otaknya masih memproses trauma api dan pelarian barusan. Dia merogoh saku celananya dengan panik, mengeluarkan ponsel yang layarnya retak di sudut. Dia menekan tombol daya. Cahaya layar yang redup menerangi wajahnya yang cemong oleh jelaga.
23:58.
Jantung Keyra seolah berhenti berdetak. Matanya membelalak, menatap angka digital itu seakan itu adalah bom waktu.
"Dua menit," bisik Keyra. Suaranya bergetar, kali ini bukan karena lelah. "Di loop sebelumnya... gue nggak pernah lewat dari jam dua belas malam di tanggal ini. Entah gue mati kebakar di gudang itu, atau gue ketabrak pas lari keluar, atau... jantung gue berhenti gitu aja."
Ini adalah garis batasnya. Tembok kematian yang selama ini memenjarakannya dalam siklus berulang. Keyra menatap sekeliling dengan paranoid. Apakah ada papan reklame yang akan jatuh? Apakah ada pengemudi mabuk yang akan membanting setir ke arah trotoar ini? Atau apakah alam semesta akan sekadar mematikan saklarnya?
"Lo nggak akan mati," suara Raka terdengar tegas, memotong kepanikan yang mulai merambat naik di leher Keyra. Raka melangkah maju, berdiri tepat di depan gadis itu, seolah tubuhnya bisa menjadi tameng bagi takdir sekalipun. "Kita udah padamkan apinya. Kita udah ubah variabel utamanya. Lo ada di sini, bukan di dalam kantong mayat."
"Tapi Julian..."
"Lupakan Julian sebentar! Fokus ke sini," Raka mencengkeram bahu Keyra. "Lihat jam lo. Lihat detiknya."
Keyra kembali menunduk menatap layar ponsel.
23:59:15.
Detik demi detik bergulir dengan lambat yang menyiksa. Keyra merasa mual. Setiap kali angka itu berubah, dia menahan napas, menunggu rasa sakit yang familiar—sensasi dingin yang menjalar sebelum dunianya menjadi gelap dan dia terbangun kembali di tempat tidur paginya.
23:59:40.
"Napas, Key," perintah Raka pelan.
Keyra menggeleng. Dia tidak berani. Dia menutup matanya rapat-rapat, tangannya menggenggam ponsel itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
23:59:50.
Suara angin malam terdengar menderu. Suara klakson truk di kejauhan. Suara napas Raka yang teratur. Semuanya terasa begitu tajam, begitu nyata.
23:59:58.
23:59:59.
Keyra menunggu tarikan gravitasi yang akan melemparnya ke masa lalu.
00:00.
Keheningan. Tidak ada kilatan cahaya putih. Tidak ada rasa sakit yang meremukkan tulang. Tidak ada sensasi jatuh dari ketinggian.
00:01.
Keyra membuka matanya perlahan. Dia masih berdiri di depan ruko tua itu. Aspal di depannya masih basah. Raka masih berdiri di hadapannya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara kelegaan dan kewaspadaan.
"Gue..." Keyra menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya berdetak kencang, sangat kencang, tapi berdetak. Hidup. "Gue masih di sini?"
"Lo masih di sini," konfirmasi Raka. Bahunya yang tegang perlahan turun.
Sebuah tawa kecil lolos dari bibir Keyra. Tawa itu terdengar asing, histeris, tapi penuh dengan euforia yang meledak-ledak. "Gue masih di sini! Raka! Gue nggak mati! Loop-nya nggak ngereset!"
Tanpa peringatan, tanpa memikirkan kecanggungan atau status hubungan mereka yang rumit, Keyra melompat dan memeluk leher Raka. Dia menangis dan tertawa bersamaan, menumpahkan segala ketakutan yang telah menghantuinya selama puluhan putaran waktu. Rasa lega itu begitu besar hingga kakinya lemas, dan dia menggantung sepenuhnya pada cowok itu.
Raka terpaku sesaat. Tubuhnya kaku menerima serangan afeksi tiba-tiba itu. Namun, perlahan, tangan kirinya yang tidak terluka bergerak ragu-ragu, lalu menepuk punggung Keyra pelan. Canggung, tapi tulus.
"Kita berhasil," gumam Keyra di bahu Raka, air matanya membasahi jaket denim cowok itu yang bau asap. "Kita beneran berhasil nipu takdir."
"Lo yang berhasil," koreksi Raka pelan. Dia membiarkan momen itu bertahan lima detik lagi sebelum perlahan melepaskan diri. Dia butuh jarak untuk berpikir jernih. Euforia adalah musuh kewaspadaan.
Keyra mundur selangkah, mengusap wajahnya yang kotor dengan lengan baju. Senyum lebar terukir di wajahnya, senyum paling lepas yang pernah Raka lihat sejak gadis itu terjebak dalam masalah gila ini. "Jadi ini rasanya hari esok? Gue lupa rasanya punya masa depan."
"Jangan terlalu nyaman dulu," suara Raka kembali ke mode analitisnya, memecahkan gelembung kebahagiaan itu sedikit, tapi tidak sampai meletuskannya. Dia menunjuk ke arah jalanan gelap di depan mereka. "Kita baru aja masuk ke wilayah buta."
Senyum Keyra sedikit memudar, tergantikan oleh tatapan serius. "Maksud lo?"
"Selama ini, lo punya keuntungan karena lo tahu apa yang akan terjadi. Lo tahu siapa yang mati, kapan, dan di mana. Lo punya contekan masa depan," Raka menjelaskan sambil meringis pelan saat menggerakkan tangan kanannya. "Tapi sekarang? Mulai detik ini, jam 00:02 ini, lo buta total, Key. Nggak ada ingatan masa depan. Nggak ada prediksi. Apapun keputusan yang kita ambil sekarang, konsekuensinya permanen. Nggak ada tombol reset lagi."
Kata-kata itu mendarat berat di benak Keyra. Benar. Dia sudah terbiasa hidup tanpa takut mati karena dia tahu dia akan bangun lagi. Sekarang, jika dia mati... dia benar-benar mati. Game over.
"Dan jangan lupa tulisan di jerigen tadi," tambah Raka, nadanya menggelap. "'Pemanasan'. Julian nggak main-main. Dia bakar gudang cuma buat mancing perhatian. Dia tahu kita, atau setidaknya seseorang, bakal nyoba nyegah dia. Dia selangkah di depan."
Keyra menghela napas panjang, menatap langit malam yang pekat. Euforianya belum hilang sepenuhnya, tapi kini bercampur dengan rasa takut jenis baru. Ketakutan akan ketidaktahuan.
"Setidaknya gue punya kesempatan buat ngelawan dia sekarang," kata Keyra, matanya kembali menyala dengan tekad. "Gue lebih milih hidup dalam bahaya yang nggak ketebak daripada mati berkali-kali dalam skenario yang sama."
Raka menatap gadis itu. Ada perubahan di sana. Keyra yang berdiri di depannya bukan lagi cewek ketakutan yang memohon bantuan di awal pertemuan mereka. Dia adalah penyintas.
"Ayo," ajak Raka, memberi isyarat dengan kepalanya. "Kita nggak bisa diem di sini. Polisi bakal patroli di sekitar sekolah sampai radius dua kilometer. Kita harus cari tempat buat bersihin diri dan ngerawat tangan gue. Sekalian nyusun rencana baru."
"Ke mana? Rumah gue nggak aman kalau Julian mata-matain gue," sahut Keyra.
"Markas lama," jawab Raka singkat. "Tempat yang bahkan Julian nggak tahu pernah ada."
Mereka mulai berjalan lagi, kali ini tidak berlari, tapi dengan langkah cepat dan waspada. Keyra sekali lagi melirik ponselnya. 00:05. Lima menit pertama dalam hidup barunya.
Dia tidak tahu apa yang menantinya di ujung jalan, atau apa isi koper yang dibawa Julian keluar dari sekolah. Tapi satu hal yang pasti: garis waktu tidak lagi mendikte langkahnya. Dia yang memegang kendali sekarang, dan dia tidak akan membiarkan siapapun, termasuk Julian, mengambil hari esok yang baru saja dia menangkan dengan susah payah.