Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 1
Bel istirahat berbunyi nyaring, memecah konsentrasi Keyra yang sejak tadi hanya pura-pura mendengarkan ceramah Pak Herman tentang etika siswa teladan. Begitu guru matematika itu keluar kelas sambil memegangi tali sepatunya yang kembali lepas—seperti prediksi Keyra—gadis itu langsung berdiri.
Targetnya bukan kantin, melainkan punggung cowok berantakan yang baru saja melenggang keluar kelas dengan bola basket diapit di ketiak. Raka Mahendra.
"Key! Lo mau ke mana?" Sisi, sahabat sebangkunya yang masih sibuk merapikan alat tulis, berseru bingung. Di Loop ke-30, Sisi pernah tersedak pentol bakso karena kaget Keyra tiba-tiba membolos, jadi kali ini Keyra hanya melambaikan tangan tanpa menoleh.
"Eksperimen sosial, Si. Lo pesen batagor aja duluan!" sahut Keyra setengah berteriak.
Keyra mempercepat langkahnya, menyelinap di antara kerumunan siswa yang kelaparan. Matanya terkunci pada kepala Raka yang menyembul di antara siswa-siswa lain karena posturnya yang cukup tinggi. Raka tidak berjalan menuju lapangan basket seperti rutinitasnya di 44 kehidupan sebelumnya. Cowok itu berbelok ke kanan. Ke kantin.
"Menarik," gumam Keyra. "Variabel error semakin meluas."
Kantin Bu Ijah adalah medan perang. Uap kuah bakso, teriakan pesanan es teh manis, dan aroma gorengan bercampur menjadi satu. Keyra melihat Raka duduk di meja pojok, bergabung dengan gerombolan anak kelas 12 IPS yang terkenal berisik. Raka meletakkan bola basketnya di bawah meja, lalu tertawa lepas menanggapi lelucon temannya.
Keyra menarik napas panjang. Dia butuh konfirmasi. Ucapan Raka soal "pita merah" di kelas tadi bisa saja kebetulan. Mungkin Raka hanya asal tebak, atau mungkin Keyra pernah memakai pita merah di hari lain yang Raka ingat secara acak. Tapi, intuisi Keyra—yang sudah diasah selama 45 kali pengulangan hidup—mengatakan ada yang tidak beres.
Keyra melangkah menuju stan Bu Ijah. "Bu, soto ayam satu. Kuahnya yang panas banget ya, Bu. Mendidih kalau bisa."
Bu Ijah menatapnya ngeri. "Neng Keyra mau debus?"
"Buat ngeruqyah setan, Bu," jawab Keyra asal.
Semenit kemudian, Keyra sudah memegang mangkuk berisi soto ayam yang mengepul panas. Asapnya cukup untuk membuat kacamata siapa pun berembun. Dia memutar tubuh, matanya membidik sasaran. Meja pojok. Raka duduk di posisi yang strategis, membelakangi jalan utama kantin.
Skenarionya sederhana: Keyra akan berjalan melewati belakang Raka, pura-pura tersandung kaki kursi, dan—oops—kuah soto panas itu akan "tidak sengaja" membasahi seragam Raka. Reaksi normal manusia adalah kaget *setelah* tersiram, atau menghindar *saat* cairan itu sudah di udara.
Tapi jika Raka adalah anomali... jika dia memiliki ingatan atau setidaknya insting yang terbawa dari loop lain, reaksinya akan berbeda.
Keyra mulai berjalan. Jantungnya berdegup bukan karena gugup, tapi karena adrenalin rasa ingin tahu. Langkahnya mantap namun pelan.
Lima meter.
Raka masih tertawa, memukul bahu temannya. Dia tidak melihat ke belakang.
Tiga meter.
Keyra melonggarkan pegangannya pada nampan. Dia menyiapkan kaki kanannya untuk melakukan "akting" tersandung yang meyakinkan. Dia sudah melatih cara jatuh yang estetis di Loop 25 saat mencoba menarik perhatian Julian (yang gagal total).
Satu meter.
"Aduh!" pekik Keyra, dibuat-buat.
Kaki Keyra menghantam kaki meja. Tubuhnya oleng ke depan. Nampan di tangannya miring drastis. Hukum gravitasi bekerja, mengirimkan gelombang kuah soto panas itu meluncur deras ke arah punggung Raka.
Di momen sepersekian detik itu, waktu seolah melambat bagi Keyra.
Normalnya, kuah itu akan menghantam punggung, Raka akan menjerit kepanasan, dan satu kantin akan heboh. Tapi yang terjadi di depan mata Keyra adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Bahkan sebelum kuah soto itu lepas sepenuhnya dari bibir mangkuk, Raka sudah bergerak.
Cowok itu tidak menoleh. Dia hanya tiba-tiba mencondongkan badannya ke depan secara drastis, seolah-olah sedang mengambil sendok yang jatuh, dan di saat yang sama, tangan kirinya menyambar piring batagor miliknya dan menggesernya ke samping dengan kecepatan kilat.
BYUR!
Kuah soto panas itu mendarat mulus di sandaran kursi tempat Raka bersandar setengah detik yang lalu, lalu menciprat ke lantai dan meja kosong di sebelahnya. Tidak ada setetes pun yang mengenai seragam Raka. Bahkan sepatu Raka pun bersih.
Keyra, yang kehilangan keseimbangan, berhasil menahan dirinya agar tidak jatuh telungkup dengan berpegangan pada pinggir meja. Napasnya memburu. Matanya terbelalak menatap kursi basah yang kini kosong dari penghuni.
Keheningan melanda meja pojok itu. Teman-teman Raka melongo menatap kekacauan soto di meja.
Raka menegakkan tubuhnya kembali dengan santai. Dia menoleh ke belakang, menatap Keyra yang masih syok dengan mangkuk kosong di tangan.
Tidak ada ekspresi kaget di wajah Raka. Tidak ada amarah. Justru, ada senyum miring yang menyebalkan di sana.
"Waduh," kata Raka, nadanya datar dan dibuat-buat. "Hampir aja gue jadi soto daging. Lo punya dendam pribadi sama seragam gue, atau emang hobi nyiram orang, Nona Peramal?"
Keyra menatap manik mata Raka dalam-dalam. Itu bukan refleks biasa. Itu bukan keberuntungan. Gerakan Raka tadi terlalu presisi. Dia menghindar ke arah yang tepat, di waktu yang tepat—*sebelum* kejadian itu benar-benar terjadi. Seolah tubuhnya sudah tahu bahaya itu akan datang.
"Lo..." Keyra tercekat. "Lo ngehindar."
"Ya iyalah gue ngehindar," sahut Raka santai, mengambil kerupuk dari toples di meja. "Lo pikir gue mau mandi kuah kunyit jam segini? Panas, tau."
"Lo ngehindar sebelum sotonya tumpah," desak Keyra, suaranya merendah agar tidak didengar orang lain. Dia melangkah maju, mengabaikan tatapan aneh dari teman-teman Raka. "Lo nggak nengok, Raka. Lo nggak liat gue. Gimana caranya lo tau?"
Raka mengunyah kerupuknya dengan tenang. Dia mencondongkan wajahnya mendekat ke wajah Keyra, hingga hidung mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Tatapannya berubah. Kilatan jenaka itu hilang sejenak, digantikan oleh kedalaman yang gelap dan serius.
"Mungkin," bisik Raka, suaranya hanya bisa didengar oleh Keyra, "gue punya mata di punggung. Atau mungkin... gue cuma nggak suka sejarah yang berulang."
Deg.
Keyra membeku. *Sejarah yang berulang.*
Raka menarik wajahnya kembali, lalu tertawa keras seolah baru saja menceritakan lelucon paling lucu sedunia. "Muka lo tegang banget! Becanda elah. Insting basket, Bos! Refleks atlet!"
Dia berdiri, menepuk bahu Keyra yang masih kaku. "Lain kali kalau mau traktir soto, bilang-bilang. Jangan main siram. Sayang kuahnya, mubazir."
Raka menyambar bola basketnya dan berjalan pergi meninggalkan kantin, diikuti teman-temannya yang masih bingung tapi ikut tertawa. Keyra berdiri mematung di tengah keramaian kantin yang kembali bising.
Dia menatap punggung Raka yang menjauh. Keyra mengepalkan tangannya yang masih memegang nampan lengket.
Konfirmasi didapatkan.
Raka bukan NPC. Raka bukan sekadar variabel error. Dia adalah anomali sadar. Gerakan menghindar itu adalah *muscle memory*—ingatan otot dari seseorang yang sudah terbiasa menghadapi bahaya tak terduga, atau seseorang yang sudah tahu skenarionya.
"Oke, Raka Mahendra," batin Keyra, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh tantangan. "Lo nggak suka sejarah yang berulang? Bagus. Karena gue berencana mengacak-acak sejarah ini sampai lo nggak bisa memprediksinya lagi."
Untuk pertama kalinya dalam 45 putaran waktu, Keyra merasa hidup. Garis waktu ini tidak lagi monokrom. Ada warna lain sekarang, dan warnanya adalah warna bahaya yang menyenangkan.