NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Malam turun menyelimuti Kediaman Keluarga Han. Langit tertutup awan hitam tebal, menghalangi cahaya bulan dan bintang. Angin kencang bertiup menggoyangkan pepohonan bambu di sekitar gubuk terpencil Han Feng, menciptakan suara kretek-kretek yang menyerupai suara tulang patah.

Di dalam gubuk, Han Feng tidak tidur.

Sebuah tong kayu besar berisi air panas mendidih telah disiapkan di tengah ruangan. Air di dalam tong itu berwarna merah pekat seperti darah segar dan mengeluarkan uap panas yang berbau anyir logam. Han Feng telah mencampur Rumput Roh Darah dan Cairan Sumsum Harimau ke dalamnya.

Han Feng menelanjangi dirinya dan masuk ke dalam tong.

"Hhhkk..."

Desisan tertahan keluar dari mulut Han Feng. Rasanya seperti masuk ke dalam air keras. Ramuan itu tidak hanya panas karena suhu, tetapi sifat obatnya yang ganas langsung menyerang pori-pori kulit, mencoba merobek otot dan menghancurkan tulang untuk kemudian disusun ulang menjadi lebih kuat.

Bagi orang biasa, rasa sakit ini bisa membuat gila. Tapi Han Feng hanya memejamkan mata dan mulai menjalankan Sutra Hati Naga Purba.

Pusaran energi emas di dalam tubuh Han Feng berputar gila-gilaan, menyedot esensi obat dari air merah itu. Kulit Han Feng yang terendam perlahan berubah warna menjadi merah tembaga. Otot-ototnya berkedut, menyerap nutrisi dengan rakus.

Satu jam berlalu. Air di dalam tong yang tadinya merah pekat kini mulai memudar menjadi bening, tanda bahwa semua khasiat obat telah diserap habis oleh tubuh Han Feng.

Tiba-tiba, telinga Han Feng bergerak.

Di tengah suara angin yang menderu di luar, Han Feng menangkap suara yang sangat halus. Suara telapak kaki yang mendarat di atas genteng gubuk. Sangat ringan, nyaris tak terdengar, seperti kucing yang melompat.

Satu... Dua... Tiga orang.

"Tamu sudah datang," bisik Han Feng. Matanya terbuka. Di kegelapan gubuk yang hanya diterangi sisa bara api tungku, mata Han Feng bersinar dengan kilatan predator.

Han Feng tidak keluar dari tong air. Dia mengambil napas dalam-dalam, menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air, menahan napas di dasar tong.

Sreett!

Bilah pisau tipis diselipkan melalui celah pintu kayu. Dengan gerakan memutar, kunci pintu itu dibuka dari luar tanpa suara.

Pintu terbuka perlahan. Tiga sosok berpakaian hitam ketat dengan wajah tertutup masker kain melangkah masuk. Mereka bergerak dengan koordinasi yang rapi. Di tangan mereka tergenggam pedang pendek yang memancarkan kilau biru—tanda bahwa pedang itu telah diolesi racun.

Ketiga pembunuh itu saling memberi isyarat mata. Sasaran mereka adalah tempat tidur.

Dalam hitungan detik, ketiga bayangan itu melesat serentak menuju tempat tidur Han Feng.

JLEB! JLEB! JLEB!

Tiga pedang menusuk kasur jerami itu dengan kejam, menembus selimut hingga ke papan kayu di bawahnya.

Namun, tidak ada jeritan. Tidak ada cipratan darah. Tidak ada perlawanan.

"Kosong!" desis pemimpin pembunuh itu, matanya membelalak kaget.

Pada saat itulah, air di dalam tong kayu di sudut ruangan meledak.

BYAARR!

Cipratan air panas menyembur ke segala arah, mengaburkan pandangan para pembunuh. Dari balik tirai air itu, sosok Han Feng melompat keluar seperti naga yang bangkit dari laut dalam. Han Feng telanjang bulat, namun aura membunuh yang menyelimuti tubuhnya membuatnya tampak seperti iblis berbaju zirah darah.

"Mencari siapa?" suara Han Feng menggema dingin.

Sebelum para pembunuh itu sempat memutar pedang mereka, Han Feng sudah berada di depan pembunuh yang paling dekat dengannya.

Cakar Naga Pencabut Nyawa!

Tangan kanan Han Feng menyambar leher pembunuh itu. Kecepatannya dua kali lipat lebih cepat dibanding saat melawan boneka kayu. Obat pengeras tulang telah bekerja.

KRAKK!

Hanya satu cengkeraman. Tulang leher pembunuh pertama remuk seketika. Kepalanya terkulai dalam sudut yang tidak wajar. Han Feng menggunakan mayat itu sebagai tameng, mendorongnya ke arah dua pembunuh lainnya.

"Sialan! Bunuh dia!" teriak pemimpin pembunuh.

Dua pembunuh yang tersisa tidak mundur. Mereka adalah profesional dari Kelompok Bayangan Hitam. Mereka segera membelah diri, menyerang Han Feng dari kiri dan kanan. Pedang mereka dialiri Qi tajam yang mampu membelah batu.

Pembunuh di kiri mengincar jantung Han Feng, sementara pembunuh di kanan mengincar kaki untuk melumpuhkan pergerakannya.

Han Feng tidak memiliki senjata. Dia membuang mayat di tangannya ke arah pembunuh kiri, menghambat serangannya sesaat. Namun, pedang pembunuh kanan sudah hampir menyentuh paha Han Feng.

Han Feng tidak bisa menghindar sepenuhnya. Dia membuat keputusan gila. Han Feng mengencangkan otot pahanya sekeras mungkin, mengaktifkan pertahanan maksimal Tubuh Dewa Naga.

Trang!

Suara logam beradu terdengar nyaring.

Pedang itu berhasil merobek kulit Han Feng, menciptakan luka sayatan sepanjang sepuluh sentimeter. Darah segar mengalir. Namun, pedang itu terhenti di sana. Bilah tajam itu terjepit di antara otot-otot Han Feng yang sekeras baja, tidak mampu menembus hingga ke tulang.

Mata si pembunuh terbelalak horor di balik maskernya. "B-Bagaimana mungkin? Tubuh manusia tidak mungkin sekeras ini!"

"Kau terlalu lemah," geram Han Feng.

Mengabaikan rasa perih di kakinya, Han Feng mencengkeram pergelangan tangan si pembunuh yang memegang pedang.

Krak!

Han Feng meremukkan pergelangan tangan itu hingga menjadi bubur. Si pembunuh menjerit, pedangnya terlepas jatuh. Han Feng menangkap pedang itu di udara dengan tangan kirinya, memutarnya, dan dengan gerakan backhand yang sadis, menebas leher si pembunuh.

Srrtttt!

Kepala kedua menggelinding ke lantai. Darah menyemprot, membasahi tubuh Han Feng yang sudah basah oleh air obat, membuatnya tampak semakin mengerikan.

Kini hanya tersisa satu orang. Sang pemimpin.

Pemimpin pembunuh itu gemetar. Dia berada di Pembentukan Tubuh Tingkat 3 Puncak, satu tingkat di atas dua anak buahnya. Tapi melihat bagaimana Han Feng membantai dua rekannya dalam waktu kurang dari lima napas, nyalinya ciut seketika.

"Kau... Kau bukan manusia..." ucap pemimpin itu dengan suara bergetar. Dia mundur selangkah, pedangnya terarah gemetar ke depan.

Han Feng tidak menjawab. Dia melangkah maju perlahan, menginjak genangan darah di lantai. Tatapan Han Feng kosong dan hampa, seolah dia sedang melihat orang mati.

"Siapa yang mengirimmu?" tanya Han Feng datar.

"Pergi ke neraka!"

Pemimpin itu tahu dia tidak bisa lari. Dengan teriakan putus asa, dia mengumpulkan seluruh sisa Qi-nya ke dalam pedang, melancarkan teknik pamungkasnya: Tebasan Bayangan Ular. Pedangnya bergetar, menciptakan ilusi tiga bayangan pedang yang menyerang sekaligus.

Han Feng mendengus pelan.

Di mata Sutra Hati Naga Purba, teknik itu penuh celah.

Han Feng melempar pedang rampasannya ke arah wajah si pemimpin sebagai pengalih perhatian. Saat pemimpin itu menangkis pedang terbang itu, pertahanannya terbuka lebar di bagian dada.

Han Feng menerjang masuk ke dalam jangkauan pertahanan lawan. Tangan kanannya kembali membentuk cakar naga, kali ini dikelilingi oleh aura merah samar—efek dari sisa obat Rumput Roh Darah yang masih aktif di dalam tubuhnya.

Tangan Han Feng menembus dada si pemimpin, tepat di posisi jantung.

Jlebb!

Bukan hanya kulit, cakar Han Feng menembus tulang rusuk dan merobek organ vital di dalamnya.

Pemimpin pembunuh itu mematung. Matanya menatap dada Han Feng, lalu turun ke dadanya sendiri di mana tangan pemuda itu tertanam. Darah berbuih keluar dari mulutnya.

"H-Han... Lie..." bisiknya terbata-bata sebelum cahaya kehidupan di matanya padam.

Han Feng menarik tangannya dengan kasar. Tubuh pemimpin itu ambruk ke lantai, bergabung dengan dua rekannya.

Gubuk itu kini sunyi kembali, hanya suara angin dan tetesan darah yang terdengar.

Han Feng berdiri diam sejenak, mengatur napasnya yang memburu. Luka di pahanya terasa perih, tapi berkat regenerasi tubuhnya, pendarahan sudah mulai berhenti. Lukanya mulai menutup perlahan.

"Tentu saja Han Lie," gumam Han Feng. "Siapa lagi yang sebodoh itu mengirim kroco untuk mengujiku?"

Han Feng mulai menggeledah mayat-mayat itu. Di dunia kultivasi, rampasan perang adalah hak mutlak pemenang.

Han Feng menemukan tiga kantong uang berisi total 50 koin emas—jumlah yang cukup besar, setara dengan biaya hidup setahun keluarga biasa. Dia juga menemukan tiga pedang baja berkualitas menengah dan beberapa botol racun.

Namun, penemuan yang paling menarik ada di saku baju dalam pemimpin pembunuh. Sebuah lencana logam hitam dengan ukiran tengkorak, dan secarik surat perintah yang belum sempat dibakar.

Han Feng membaca surat itu di bawah cahaya bara api yang meredup. Isinya singkat:

"Pastikan sampah itu cacat seumur hidup. Jika dia melawan, bunuh saja. Buat seolah-olah perampokan. — H.L"

Han Feng meremas surat itu hingga hancur menjadi debu.

"Dia ingin aku cacat," Han Feng tertawa kecil, tawa yang tidak mengandung kegembiraan sama sekali. "Baiklah, Han Lie. Kau memberiku hadiah di malam yang indah ini. Tidak sopan jika aku tidak membalasnya."

Tiba-tiba, Pustaka Ilahi di dalam benaknya bergetar hebat.

[Pertarungan Hidup Mati Terdeteksi.] [Menyerap Aura Kematian dan Esensi Darah Musuh...] [Kondisi Terpenuhi.] [Menerobos ke Pembentukan Tubuh Tingkat 3!]

Tanpa peringatan, energi yang tertahan di ambang batas meledak di dalam dantian Han Feng. Pertarungan berdarah ini menjadi kunci terakhir yang membuka pintu tingkatan selanjutnya.

Tulang-tulang Han Feng kembali berbunyi krak-krak. Otot-ototnya semakin memadat. Luka di pahanya menutup sempurna, hanya menyisakan garis putih tipis yang samar.

Kekuatan fisik Han Feng melonjak. Dari kekuatan Lima Banteng, kini menjadi Kekuatan Sepuluh Banteng.

Han Feng mengepalkan tangannya. Udara di dalam genggamannya meletup kecil karena tekanan.

"Tingkat 3," bisik Han Feng. "Sekarang, aku memiliki kualifikasi untuk bermain di panggung utama."

Han Feng menatap mayat-mayat itu. Dia tidak akan membuangnya begitu saja. Dia punya rencana yang lebih baik untuk mengirim "pesan balasan" kepada sepupunya yang tercinta.

Malam itu, Han Feng tidak tidur. Dia menyeret mayat-mayat itu keluar ke dalam kegelapan badai, memulai langkah pertama dari rencananya untuk mengguncang seluruh Keluarga Han.

1
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!