Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singa yang Lapar
"Sarapan?" Arash tertawa pendek, sebuah tawa yang kering dan menyakitkan. Ia melirik Raisa melalui sudut matanya yang tajam. "Jangan coba-coba menyogokku agar aku melupakan kejadian memuakkan di tempat tidur pagi tadi, Raisa. Kau sudah melanggar batas, kau menjadikanku bantal gulingmu sepanjang malam, dan sekarang kau pikir sepotong sandwich bisa menghapus fakta bahwa kau telah menginjak-injak privasiku?"
Wajah Raisa memerah hebat, rasa malu yang ia coba kubur dalam-dalam kini meledak kembali ke permukaan. "Aku sudah bilang itu kecelakaan! Aku tidak butuh apa-apa darimu, aku hanya tidak ingin kau pingsan di depan komisaris dan membuatku harus repot mengurusmu!"
"Tutup kotak itu dan simpan di belakang," perintah Arash tanpa perasaan, matanya kembali lurus menatap jalanan yang mulai padat oleh kendaraan. "Aku tidak makan makanan dari tangan orang yang tidak bisa menjaga batasannya sendiri. Jangan berpikir bahwa tindakan 'manismu' ini akan membuatku melunak di kantor nanti. Kau tetap harus mempertanggungjawabkan revisi laporanmu itu."
Raisa mencengkeram kotak bekalnya hingga plastiknya berderit pelan. Hatinya terasa perih, bukan hanya karena dihina, tapi karena ia merasa bodoh telah menaruh sedikit kepedulian pada pria yang hatinya terbuat dari baja itu. Ia menatap ke luar jendela, melihat deretan gedung pencakar langit yang tampak abu-abu tertutup kabut pagi.
Flashback tentang alasan ia berada di sini kembali terlintas. Ia ingat ayahnya yang memohon agar ia mau menerima pinangan Arash. Ia ingat surat perjanjian yang menyatakan bahwa ia tidak lebih dari sekadar 'kontrak hidup' untuk menghasilkan keturunan demi mengamankan saham dari paman-paman Arash yang licik.
"Aku hanya alat, dan alat tidak seharusnya memberikan sarapan pada pemiliknya," batin Raisa pahit.
Keheningan di dalam mobil terasa begitu mencekam, jauh lebih menyesakkan daripada badai yang mengamuk kemarin. Arash mengemudi dengan kecepatan tinggi, menyalip beberapa kendaraan dengan manuver yang agresif, mencerminkan gejolak emosi yang sebenarnya ia rasakan namun enggan ia akui.
Saat mobil akhirnya berhenti di depan lobi megah Dirgantara Group, Arash membuka kunci pintu mobil. Ia menoleh sedikit pada Raisa, ekspresinya kembali menjadi CEO yang tidak punya hati.
"Ingat aturan nomor tiga," suara Arash merendah, menekan setiap kata. "Keluar dari mobil ini, kau adalah staf administrasi yang tidak kukenal. Jangan berani-berani menyapaku di lift, dan bawa kotak rotimu itu jauh-jauh dari pandanganku. Aku punya standar yang jauh lebih tinggi daripada sekadar makanan rumahan yang kau buat dengan rasa bersalah itu."
Raisa keluar dari mobil tanpa sepatah kata pun. Ia tidak menangis, tapi matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. Ia menutup pintu mobil dengan dentuman keras yang sengaja ia tujukan untuk membalas ucapan Arash.
Sambil memeluk kotak bekalnya yang kini terasa mendingin, Raisa berjalan masuk ke lobi kantor. Ia melihat Arash yang keluar dari pintu kemudi, disambut oleh barisan satpam dan staf yang membungkuk hormat. Arash berjalan melewati Raisa seolah-olah wanita itu hanyalah udara kosong, langkahnya penuh wibawa dan angkuh.
Raisa berdiri di barisan lift karyawan, sementara Arash masuk ke lift pribadi khusus direksi. Sebelum pintu lift pribadi itu tertutup, mata mereka sempat bertemu sesaat. Arash menatapnya datar, sementara Raisa menatapnya dengan kebencian yang murni.
Di dalam hatinya, Raisa bersumpah. Jika Arash menginginkan perang profesional, maka ia akan memberikannya. Ia akan membuktikan bahwa ia bukan sekadar "guling" atau "istri kontrak", melainkan wanita yang mampu berdiri tegak di tengah kehancuran yang diciptakan pria itu.
Namun, saat lift mulai bergerak naik, Raisa tidak sengaja melihat ke dalam kotak bekalnya. Ia menyadari satu hal, ia lupa memasukkan sambal kesukaan Arash. Dan entah mengapa, kesadaran itu membuatnya merasa lebih sedih daripada semua hinaan Arash tadi.
Udara di area kubikel divisi administrasi terasa berat dan menyesakkan, seolah oksigen di lantai itu ikut tersedot habis oleh ketegangan dari ruang CEO di atas sana. Raisa duduk di kursinya dengan bahu merosot, menatap kotak bekal bening di atas meja yang kini terasa seperti monumen kegagalannya. Isian sandwich itu masih tampak segar, namun semangat Raisa sudah layu sejak dihina Arash di dalam mobil tadi.
"Raisa?"
Sebuah suara rendah menyentak Raisa dari lamunannya. Ia mendongak dan mendapati Vino berdiri di samping mejanya. Jas abu-abu yang dikenakan pria itu tampak sedikit kusut, dan wajahnya menunjukkan rona kelelahan yang nyata. Vino memegang beberapa berkas, namun tangannya yang lain tampak memegangi perutnya.
"Eh, Pak Vino. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Raisa, berusaha menyingkirkan kotak bekal itu sedikit ke samping.
Vino tersenyum kecut, sebuah tawa tipis keluar dari bibirnya yang pucat. "Sepertinya saya yang butuh bantuan. Tadi pagi ada kendala di gudang, saya langsung ke kantor tanpa sempat melihat meja makan. Sekarang rasanya lambung saya sedang berdemo, padahal sepuluh menit lagi ada rapat koordinasi."
Mata Vino kemudian tertuju pada kotak bekal di meja Raisa. Aroma mentega dan daging asap yang samar tercium olehnya. "Wah, itu sarapanmu? Kelihatannya enak sekali. Kamu buat sendiri?"
Raisa tertegun. Ia melirik kotak itu, lalu teringat kata-kata kejam Arash, 'Aku tidak makan makanan dari tangan orang yang tidak bisa menjaga batasannya sendiri.' Rasa sakit di hatinya berubah menjadi dorongan untuk memberontak. Jika Arash tidak menginginkannya, kenapa ia harus membuang-buang makanan ini sementara ada orang lain yang membutuhkannya?
"Ini ... sebenarnya untuk—ah, sudahlah," Raisa memotong kalimatnya sendiri. Ia menggeser kotak bekal itu ke arah Vino dengan gerakan tegas. "Ambillah, Pak Vino. Saya sudah kenyang. Daripada mubazir, lebih baik Bapak makan supaya tidak pingsan saat rapat nanti."
Vino membelalakkan mata, tidak enak hati namun binar lapar di matanya tidak bisa berbohong. "Serius? Kamu tidak keberatan? Ini terlihat seperti disiapkan dengan sangat niat."
"Sangat serius, Pak. Silakan diambil," Raisa meyakinkan dengan senyum paksa.
Vino akhirnya menerima kotak itu dengan tangan terbuka. "Terima kasih banyak, Raisa. Kamu benar-benar penyelamat saya pagi ini. Saya akan kembalikan kotaknya nanti setelah saya cuci bersih."
Di Ruang CEO, di lantai teratas gedung, Arash duduk di depan jajaran monitor besar yang menampilkan setiap sudut kantor. Matanya yang tajam mengunci pada kamera koridor administrasi. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang saat ia melihat pemandangan di layar.
Ia menyaksikan Raisa memberikan kotak bekal itu—kotak yang tadi pagi ditawarkan kepadanya—kepada Vino. Ia melihat bagaimana Vino tersenyum lebar, dan bagaimana Raisa membalasnya dengan keramahan yang tidak pernah ia dapatkan di rumah.
Arash menggebrak meja marmernya hingga cangkir kopi di sampingnya bergetar hebat. Rasa panas yang jauh lebih membakar daripada amarah profesional menjalar di dadanya. Posesivitas yang selama ini ia sangkal meledak menjadi api cemburu yang buta. Bagi Arash, kotak itu bukan sekadar makanan; itu adalah bentuk perhatian yang seharusnya hanya menjadi haknya sebagai "pemilik" kontrak tersebut.
Ia menyambar telepon internal di mejanya dan menekan nomor ekstensi Raisa dengan kasar.
"Ke ruanganku sekarang," geram Arash begitu sambungan terhubung. Suaranya terdengar seperti badai yang siap menghancurkan apa pun. "Dan bawa kembali kotak yang baru saja kau berikan pada pria itu. Jangan berani-berani masuk tanpa benda itu di tanganmu!"
Di bawah, Raisa tertegun memegang gagang telepon yang sudah mati. Wajahnya memucat. Ia menoleh ke arah Vino yang baru saja hendak membuka tutup kotak bekal tersebut di meja sebelah.
"Pak Vino ... maaf," suara Raisa mencicit, penuh rasa bersalah yang amat sangat.
Vino mendongak, keningnya berkerut melihat ekspresi horor di wajah Raisa. "Ada apa, Raisa? Kamu kelihatan ketakutan."
"Pak Arash ... dia baru saja menelepon. Dia menyuruh saya membawa kotak itu ke ruangannya sekarang juga," Raisa menggigit bibir bawahnya, merasa sangat terhina karena harus meminta kembali sesuatu yang sudah diberikan.
Vino terdiam sejenak. Ia adalah pria yang cerdas, ia bisa merasakan ketegangan yang tidak biasa antara bos besar dan staf administrasi ini. Ia melirik ke arah kamera CCTV di sudut langit-langit, lalu kembali menatap Raisa. Sebuah pengertian muncul di matanya.
"Begitu rupanya," gumam Vino pelan. Ia tidak tampak marah. Sebaliknya, ia justru menutup kembali kotak bekal itu dengan sangat rapi dan menggesernya kembali ke arah Raisa. "Ambillah. Sepertinya 'singa' di atas sana sedang lapar, atau mungkin hanya sedang ingin diperhatikan."