Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Bayangan Saraf
Li Wei tidak memiliki waktu untuk menoleh. Langkah kaki yang menggema dari lorong gelap di belakang ruang arsip itu terdengar terlalu teratur untuk ukuran sebuah robot. Itu adalah ritme predator—sepasang sepatu militer dengan sol komposit yang dirancang untuk meredam getaran, namun tetap menyisakan denting logam tipis dari taji magnetik.
"Chen Xi, Xiao Hu, bergerak!" bisik Li Wei. Suaranya tidak lebih keras dari gesekan udara, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Tangan kiri Li Wei yang memegang gagang Bailong yang patah mulai mengalami tremor hebat. Denyut sarafnya terasa seperti disengat ribuan tawon—efek samping dari sinkronisasi paksa dengan data saraf tingkat tinggi milik ayahnya beberapa saat lalu. Visi merah statis sesekali berkedip di sudut matanya, sebuah peringatan bahwa sistem sarafnya berada di ambang kolaps.
"Tapi Kak Li, kau terluka," Xiao Hu berbisik dengan nada gemetar sambil memeluk tas berisi modul data kristal itu erat-erat ke dadanya.
"Jangan berdebat. Masuk ke celah rak sejarah, sekarang!" Li Wei mendorong bahu Xiao Hu dengan lembut namun tegas.
"Aku akan memasang kabut pengacau," sahut Chen Xi. Jemarinya masih bergerak di atas tablet saraf yang cahayanya mulai meredup. "Li Wei, tanda panas mereka... mereka tidak menggunakan inframerah standar. Mereka melihat fluktuasi Qi kita."
"Aku tahu. Mereka dari faksi Naga Laut," desis Li Wei. Matanya menajam saat melihat tiga siluet mulai muncul dari balik asap tebal di ujung koridor. "Feng Mian tidak akan membiarkan kita keluar dari sini dengan rahasia ibuku."
Tiga sosok itu tidak bicara. Mereka bergerak dalam formasi segitiga yang sempurna. Jubah kamuflase magnetik mereka membelokkan cahaya, membuat tubuh mereka tampak seperti riak air yang bergerak di udara. Hanya monokel taktis berwarna merah di wajah mereka yang menjadi sasaran empati bagi bilah pedang Li Wei.
"Target terverifikasi," suara mekanis dari salah satu pembunuh itu memecah kesunyian. "Ambil modul datanya. Eliminasi hambatan biologis."
"Aku bukan hambatan, rongsokan," geram Li Wei.
Ia melesat maju. Gerakannya tidak lagi memiliki keanggunan seorang perwira elit; ia bergerak kasar, didorong oleh kemarahan murni setelah mengetahui bahwa dirinya hanyalah 'baterai organik' bagi Kekaisaran selama ini. Bilah Bailong yang patah memancarkan energi Void ungu yang tidak stabil, memercikkan bunga api ke lantai beton.
Clang!
Satu pembunuh menangkis serangan Li Wei dengan pisau magnetik. Kekuatan benturan itu mengirimkan gelombang kejut yang membuat lengan Li Wei semakin bergetar.
"Kau melambat, subjek pelarian," ejek pembunuh itu. "Sarafmu sudah hangus."
"Cukup kuat untuk memenggalmu," balas Li Wei. Ia memutar tubuhnya, menggunakan momentum untuk melepaskan tendangan yang diperkuat denyut kinetik tepat ke arah ulu hati lawan.
"Chen Xi, lakukan!" teriak Li Wei saat dua pembunuh lainnya mulai mengunci posisi Xiao Hu.
"Granat asap kognitif aktif!" seru Chen Xi.
Sebuah dentuman tumpul terdengar, disusul oleh kepulan asap putih pekat yang berbau seperti ozon terbakar. Asap ini tidak hanya menutupi pandangan, tetapi mengandung partikel mikro yang mengacaukan frekuensi magnetik. Seketika, jubah kamuflase musuh berkedip-kedip dan mati, menyingkapkan sosok pria-pria dengan zirah taktis hitam yang ramping.
"Sial! Sensor kita buta!" salah satu pembunuh berteriak.
"Jangan gunakan mata kalian! Gunakan pelacak saraf!" perintah pemimpin unit mereka.
Li Wei bergerak di dalam asap seperti hantu sejati. Ia bisa merasakan keberadaan mereka melalui getaran energi di lantai. Namun, kepalanya mulai berdenyut hebat. Bayangan ayahnya di dalam rekaman tadi, wajah ibunya yang dijadikan eksperimen, dan pengkhianatan mentornya sendiri, Zhao Kun, berputar-putar seperti badai di benaknya.
"Kenapa kalian tetap melayani mereka?" Li Wei muncul dari balik asap, menghujamkan pedangnya ke arah bahu musuh terdekat. "Kalian tahu apa yang mereka lakukan pada prajurit mereka sendiri?"
"Kami dibayar untuk membunuh, bukan untuk berfilsafat!" musuh itu menghindar, lalu menyabetkan pisau energinya yang nyaris mengenai leher Li Wei.
"Mati demi uang adalah akhir yang paling hina," desis Li Wei. Ia menangkap pergelangan tangan musuh, membiarkan energi Void mengalir langsung dari telapak tangannya ke dalam sistem saraf lawan.
Pembunuh itu menjerit saat arus energi ungu merusak sirkuit saraf di lengannya. Ia tumbang, namun pembunuh ketiga sudah melepaskan tembakan senapan stun jarak dekat.
"Li Wei, awas!" Chen Xi menarik kerah baju Li Wei, menyeretnya jatuh tepat saat kilatan listrik menyambar rak di atas mereka.
"Terima kasih," napas Li Wei tersengal. "Xiao Hu, kau aman?"
"Aku di sini, Kak! Tapi tasnya... tasnya mengeluarkan suara bip!" Xiao Hu berteriak dari balik tumpukan berkas tua.
Chen Xi merangkak mendekat, matanya membelalak saat melihat lampu merah kecil berkedip di bawah jahitan tas Xiao Hu. "Bukan tasnya. Xiao Hu, diamlah!"
"Ada apa?" tanya Li Wei sambil tetap mengawasi musuh di dalam kabut asap yang mulai menipis.
"Pelacak mekanis," Chen Xi menyentuh bagian belakang kerah baju Xiao Hu. "Bukan digital, itulah sebabnya scanner-ku tidak menangkapnya. Ini resonansi magnetik pasif. Mereka menanamnya saat kita masih di kamp sektor luar."
"Maksudmu... mereka selalu tahu kita di mana?" suara Xiao Hu bergetar hebat.
"Artinya tidak ada gunanya kita lari jika benda ini masih menempel," Li Wei bangkit berdiri, matanya berkilat marah. "Mereka menjadikan anak ini sebagai mercusuar maut."
"Bisa kau cabut?" tanya Li Wei pada Chen Xi.
"Terlalu berisiko. Ini tertanam di serat mikro bajunya, jika aku memotongnya sembarangan, sinyal darurat akan aktif dan mengirimkan koordinat presisi ke satelit orbital," jawab Chen Xi dengan wajah pucat.
"Berapa lama sebelum mereka bisa mengunci posisi kita kembali?" Li Wei bertanya lagi.
"Dua menit. Kabut pengacau ini hanya menunda mereka sebentar."
Li Wei menatap ke arah lorong keluar yang mulai runtuh. Getaran dari tingkat bawah bunker semakin masif, debu-debu beton jatuh dari langit-langit seperti salju kelabu. Ia bisa mendengar suara dua pembunuh yang tersisa mulai mengatur ulang taktik mereka di balik asap.
"Beri aku tabletmu, Chen Xi," perintah Li Wei.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan memberikan mereka 'makanan' yang lebih lezat dari kita," Li Wei mengambil tablet itu dengan tangan yang gemetar. Ia mulai memasukkan kode perintah yang ia pelajari dari chip saraf sahabatnya yang telah tiada. "Aku akan memindahkan tanda tangan sarafku ke tablet ini, lalu menginduksinya dengan energi Void."
"Li Wei, itu akan menghancurkan sisa saraf di tanganmu!" Chen Xi mencoba meraih tangan Li Wei, namun pria itu menghindar.
"Jika kita tidak melakukan ini, kita tidak akan pernah sampai ke permukaan dengan nyawa utuh," Li Wei menatap Chen Xi, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam di balik ketegasannya. "Aku sudah kehilangan martabatku sebagai manusia di mata mereka. Aku tidak akan membiarkan anak ini kehilangan masa depannya."
"Kak Li, jangan..." Xiao Hu terisak, ia bisa merasakan suhu tubuh Li Wei yang meningkat drastis akibat overclocking saraf yang dipaksakan.
"Diamlah, Xiao Hu. Pegang erat harddrive itu," Li Wei memejamkan mata.
Cahaya ungu mulai berpendar dari ujung jari Li Wei, merambat masuk ke dalam tablet saraf Chen Xi. Suara dengung statis yang menyakitkan telinga memenuhi ruangan. Di saat yang sama, para pembunuh Naga Laut kembali menyerang.
"Mereka di sana! Habisi!"
"Sekarang, lari ke jalur evakuasi!" teriak Li Wei sambil melempar tablet yang kini berpendar ungu terang ke arah berlawanan dari arah pelarian mereka.
Tablet itu jatuh ke dalam genangan air pendingin yang bocor, menciptakan busur listrik yang masif. Para pembunuh itu, yang tertipu oleh sinyal saraf kuat yang terpancar dari tablet tersebut, segera mengalihkan tembakan mereka ke arah sana.
"Ayo!" Li Wei menarik tangan Xiao Hu, menyeretnya menembus pintu baja yang mulai menutup secara otomatis.
Mereka berlari menembus koridor panjang yang dipenuhi uap panas. Li Wei memimpin di depan, mengabaikan rasa perih di bahunya dan tremor yang kini merambat hingga ke dadanya. Setiap langkahnya terasa berat, seolah-olah lantai bunker itu mencoba menelan mereka hidup-hidup.
"Tunggu, Li Wei! Pipa nitrogen di depan bocor!" seru Chen Xi.
Kabut dingin yang mematikan menyembur dari pipa yang pecah, menutupi satu-satunya jalan menuju tangga darurat. Suhu di koridor itu merosot drastis hingga di bawah nol derajat dalam hitungan detik.
"Kita tidak bisa menembusnya tanpa baju pelindung termal!" Xiao Hu menggigil hebat.
Li Wei berhenti tepat di depan kabut nitrogen itu. Ia melihat ke belakang, melihat bayangan para pembunuh yang mulai menyadari tipu muslihatnya dan mengejar kembali dengan kecepatan penuh.
"Tetap di belakangku," bisik Li Wei.
"Li Wei, jangan gila! Kau tidak bisa membakar nitrogen itu dengan Void!" Chen Xi memperingatkan.
"Aku tidak akan membakarnya," Li Wei mengangkat pedang Bailong-nya. "Aku akan menyerap panasnya."
"Apa?"
Li Wei menghujamkan pedangnya ke lantai, menciptakan perisai kinetik yang tidak mendorong udara, melainkan menarik energi termal dari sekitarnya. Ini adalah teknik yang sangat berbahaya—sebuah protokol yang seharusnya hanya dilakukan oleh tingkat kekuatan di atas level 5. Namun, kemarahan dan tekadnya untuk melindungi sisa 'keluarganya' ini membuat batas-batas itu seolah tidak berarti.
Asap dingin nitrogen itu mulai berputar di sekitar pedang Li Wei, membentuk pusaran yang membeku. Wajah Li Wei menjadi pucat pasi, lapisan es tipis mulai menutupi zirah dan alisnya.
"Masuk... sekarang!" suara Li Wei parau, nyaris membeku.
Chen Xi dan Xiao Hu berlari melewati celah tipis yang diciptakan oleh pusaran energi Li Wei. Saat mereka sampai di sisi lain, Li Wei melepaskan energinya dengan satu sentakan kuat.
Boom!
Ledakan hawa dingin menghantam balik ke arah para pembunuh yang baru saja sampai, membekukan mereka di tempat dalam posisi berlari. Li Wei jatuh berlutut, napasnya mengeluarkan uap putih yang tebal. Tangan kirinya kini benar-benar kaku, membiru karena radang dingin yang ekstrem.
"Li Wei!" Chen Xi membantu pria itu berdiri. "Kau berhasil, tapi tanganmu..."
"Jangan pikirkan itu," Li Wei memaksakan sebuah senyum getir. "Tangga itu... kita hampir sampai."
Mereka mulai mendaki tangga baja yang dingin. Bunyi gemuruh dari bawah semakin keras, menandakan bunker kuno itu sedang menghancurkan dirinya sendiri untuk menghapus jejak Project Zero. Saat mereka mencapai pintu keluar rahasia di lereng gunung, angin malam yang membeku menyambut mereka dengan kasar.
Li Wei berdiri di ambang pintu, menatap salju kimia yang mulai menutupi dunia. Di kejauhan, lampu-lampu Megacity Neo-Naga berkedip seperti mata iblis. Ia merasa sangat kecil, namun api di dadanya belum pernah berkobar sedahsyat ini.
"Dunia mengira kita sudah mati di kawah itu," bisik Li Wei pada kegelapan. "Mereka akan segera tahu betapa salahnya mereka."
Namun, saat ia berbalik untuk memastikan Xiao Hu aman, ia menyadari sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Xiao Hu berdiri mematung di salju, matanya menatap ke bawah, ke arah kerah bajunya yang kembali mengeluarkan bunyi bip kecil.
"Sinyalnya... sinyalnya masih aktif," bisik Xiao Hu dengan suara penuh ketakutan.
Li Wei mendekat, namun sebelum ia sempat menyentuh Xiao Hu, sebuah lampu sorot raksasa dari langit menyapu posisi mereka. Deru mesin helikopter tempur mulai terdengar di atas kepala mereka.
"Mereka sudah di sini," desis Chen Xi sambil mengeluarkan pistol bio-nya.
Li Wei mengepalkan tangannya yang gemetar. "Tidak ada tempat aman. Jika mereka menginginkan monster, aku akan memberikan mereka monster yang paling mengerikan."
Suara baling-baling helikopter tempur itu memotong keheningan malam di lereng gunung, menciptakan badai salju kecil yang mengaburkan pandangan. Li Wei berdiri di depan Xiao Hu, melindungi anak itu dari sorot lampu pencari yang menyapu permukaan salju dengan presisi predator. Tangan kirinya yang kaku dan membiru akibat paparan nitrogen cair tadi masih terasa seperti balok es yang disatukan oleh rasa sakit yang membakar.
"Chen Xi, masuk ke celah batu di belakangmu!" perintah Li Wei. Suaranya berat, penuh dengan sisa energi yang dipaksakan.
"Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi helikopter itu sendirian dengan pedang patah, Li Wei!" balas Chen Xi. Ia berdiri dengan kaki kokoh, pistol bio-nya terarah ke langit, meskipun ia tahu peluru organiknya sulit menembus zirah baja unit udara Kekaisaran.
"Sinyalnya... sinyalnya makin kuat!" Xiao Hu menjerit, tangannya gemetar hebat saat mencoba merobek kerah baju mekaniknya sendiri. "Kak Li, sinyal ini yang memanggil mereka! Aku yang membawa mereka ke sini!"
Li Wei menoleh sekilas, melihat air mata Xiao Hu yang membeku di pipinya. "Bukan salahmu, Kecil. Ini cara mereka menghancurkan kita dari dalam."
Satu unit helikopter tempur kelas Vulture merendah, moncong meriam gatling-nya mulai berputar. Li Wei tahu, dalam hitungan detik, lereng ini akan berubah menjadi kuburan massal. Ia merasakan chip saraf Han di dalam tubuhnya berdenyut—sebuah protokol darurat yang tersimpan dalam memori sahabatnya itu mendadak aktif, memberikan kilasan data tentang sistem navigasi helikopter tersebut.
"Chen Xi, berikan aku sisa granat asapsmu. Semua yang kau punya!" Li Wei mengulurkan tangan kanannya yang masih berfungsi.
"Hanya tinggal dua, dan itu tidak akan menjatuhkan mereka!"
"Berikan saja!"
Setelah menerima granat tersebut, Li Wei tidak melemparnya ke arah helikopter. Sebaliknya, ia memicu keduanya di bawah kakinya sendiri. Asap pekat segera menelan posisi mereka, namun Li Wei menggunakan sisa tenaga Void-nya untuk memutar asap tersebut, menciptakan pusaran yang membubung tinggi ke arah baling-baling helikopter.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Chen Xi di tengah kegelapan asap.
"Mengacaukan sensor biometrik mereka dengan partikel asap bermuatan Void. Mereka harus turun lebih rendah jika ingin mengunci posisi kita," jelas Li Wei.
Benar saja, karena kehilangan visual, helikopter itu turun hingga hanya berjarak sepuluh meter dari permukaan tanah. Li Wei tidak menunggu. Dengan satu lompatan nekat yang melampaui batas fisik manusia level 4, ia menerjang menembus kabut asap. Ia menggunakan momentum ledakan kinetik dari kakinya untuk melenting ke arah pijakan helikopter.
Clang!
Tangan kanan Li Wei mencengkeram besi pijakan helikopter. Tubuhnya bergantung di udara, dihantam oleh angin kencang dan suhu ekstrem. Dari dalam kokpit, sang pilot tampak panik, mencoba menggoyang kendaraan untuk menjatuhkan 'hantu' yang menempel di badan pesawatnya.
"Kau ingin data ini?" geram Li Wei. Ia menghujamkan bilah Bailong yang patah ke arah panel sensor di bawah moncong helikopter.
Percikan api listrik meledak, menyambar sistem saraf Li Wei melalui pedangnya. Ia berteriak, namun tidak melepaskan pegangannya. Energi Void-nya mengalir masuk ke dalam sirkuit helikopter, membajak sistem kendali otonomnya selama beberapa detik yang krusial.
"Turun!" perintah Li Wei.
Helikopter itu menukik tajam, menghantam lereng salju dengan guncangan hebat. Li Wei terlempar beberapa meter, berguling di salju yang kasar hingga tubuhnya berhenti tepat di bibir jurang. Helikopter itu tidak meledak, namun sistem penggeraknya lumpuh total, mengeluarkan asap hitam yang membubung ke langit malam.
Chen Xi dan Xiao Hu berlari mendekat. Chen Xi segera memeriksa kondisi Li Wei yang terkapar diam. "Li Wei! Bernapaslah, demi Tuhan!"
Li Wei terbatuk, mengeluarkan sedikit darah yang langsung membeku di salju. "Xiao Hu... kemari."
Xiao Hu mendekat dengan ragu, tubuhnya masih gemetar karena syok. Li Wei meraih kerah baju anak itu dengan tangan kanannya yang bergetar. Dengan satu sentakan presisi yang dibantu oleh sisa energi sarafnya, ia merobek pelacak magnetik pasif yang tertanam di sana. Ia menghancurkan benda sekecil biji kacang itu dengan ujung jarinya hingga menjadi debu logam.
"Sekarang kau bebas," bisik Li Wei parau. "Mereka tidak akan bisa mengikutimu lagi."
"Maafkan aku, Kak Li. Aku hampir membunuh kalian semua," Xiao Hu terisak, memeluk lengan Li Wei.
Li Wei menggeleng perlahan. Ia menatap ke arah tangan kirinya yang kini tidak bisa digerakkan sama sekali, kaku seperti patung es. "Martabat kita memang sudah dicuri, tapi nyawa kalian adalah satu-satunya harta yang masih aku miliki. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilnya juga."
Chen Xi membantu Li Wei berdiri, membiarkan pria itu bersandar pada bahunya. Mereka berdiri di sana, di tengah badai salju yang mulai mereda, menatap bangkai helikopter dan jauh ke bawah, ke arah labirin bunker yang baru saja mereka tinggalkan.
"Bunker itu sudah runtuh," ucap Chen Xi pelan. "Semua bukti fisik tentang orang tuamu sudah terkubur. Tapi kita punya datanya di sini." Ia menepuk tas yang dibawa Xiao Hu.
"Lalu sekarang apa?" tanya Xiao Hu sambil menatap hamparan hutan gelap di bawah mereka.
Li Wei menatap lurus ke arah cakrawala, di mana cahaya Megacity Neo-Naga masih berpendar angkuh. "Kita masuk ke dalam perut naga itu. Kita akan bersembunyi di tempat yang paling mereka anggap aman. Di antara kerumunan orang-orang yang menganggap kita sudah mati."
"Identitas baru?" Chen Xi mengangkat alis.
"Bukan hanya identitas," Li Wei mengambil sisa kain jubahnya dan membebat tangan kirinya yang kaku. "Kita akan menjadi bayangan yang merayap di bawah kulit mereka. Sampai saatnya tiba untuk merobek jantung Kekaisaran dari dalam."
Mereka mulai melangkah menuruni lereng gunung, meninggalkan jejak kaki yang perlahan tertutup oleh salju baru. Di belakang mereka, sisa-sisa kejayaan klan Li telah terkubur, namun di dalam diri Li Wei, sebuah kekuatan baru mulai berakar—bukan lagi sebagai perwira yang patuh, melainkan sebagai algojo bagi mereka yang telah mencuri kehidupannya.
Bayangan saraf yang ditinggalkan ayahnya kini bukan lagi sekadar beban, melainkan peta jalan menuju balas dendam yang akan membakar seluruh negeri.