Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 14.
Milea belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat tubuh Rangga sedikit oleng. Pria itu menutup mata, rahangnya mengeras, satu tangannya mencengkeram pelipis seolah kepalanya hendak pecah.
“Rangga… lihat aku,” suara Milea menurun, panik tak lagi bisa ia sembunyikan.
Jenny refleks mendekat. “Ada apa dengannya?”
Tiba-tiba saja sesuatu melintas di kepala Rangga, dia membuka mata dengan napas memburu. Pandangannya buram sesaat, lampu restoran, suara orang-orang, lalu… potongan gambar yang tidak utuh.
Hujan, di sebuah tangga gedung. Jenny menangis sambil berkata, ‘Aku capek, Rangga!’
Rangga mendesis pelan, lututnya melemas. Milea cepat memeluk pinggang suaminya agar tidak jatuh.
“Duduk dulu,” ujar Milea tegas, nyaris memerintah.
Rangga mengangguk samar, mereka duduk di kursi terdekat. Milea berjongkok di depannya, memegang wajah Rangga dengan kedua tangan. “Fokus, tarik napas...”
Rangga menuruti, dia menarik nafas sekali... dua kali. Rasa nyeri itu perlahan mereda, menyisakan denyut aneh di kepala dan perasaan tidak nyaman di dada.
Jenny berdiri sedikit menjauh, wajahnya cemas tapi ragu untuk ikut campur.
Rangga mengangkat wajah, menatap Jenny lama. Bukan tatapan rindu, bukan juga benci. Lebih seperti seseorang yang berusaha mengingat mimpi yang hampir hilang saat bangun.
“Jadi, kamu Jenny?” ucap Rangga lirih.
Jenny merasa bingung. “Iya.”
Milea berdiri, masih memegang tangan Rangga. “Ayo kita pergi.”
Jenny menahan pergelangan tangan Milea.
“Tunggu! Rangga kenapa, Mil?”
Milea menoleh, sorot matanya tajam namun lelah. “Dia baik-baik saja.”
Milea memapah Rangga keluar. Di belakang mereka, Jenny hanya bisa memandang dengan wajah cemas sekaligus penuh tanya.
Di dalam mobil, Rangga menghela napas panjang. Kepalanya dipenuhi potongan ingatan yang datang tanpa permisi. Sangat buram, tak beraturan. Bahkan beberapa hari ini, bayangan tentang Radit muncul di antara denyut nyeri itu. Wajah adiknya dipenuhi oleh darah, hanya itu yang ia ingat.
Dan tanpa seorang pun tahu, Rangga mulai mencari kebenaran tentang kematian adiknya... diam-diam.
“Kita ke rumah sakit saja,” ucap Milea pelan, nada suaranya bergetar menahan takut.
Rangga menggeleng. Ia menoleh, menatap Milea lama, seolah wajah itu satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap berdiri. Bibirnya melengkung tipis, berusaha menenangkan Milea.
“Aku nggak apa-apa, asal kamu ada di sampingku.” Ucap pria itu lembut.
“Tapi—”
Rangga condong mendekat. Jarak mereka menyempit, cukup dekat hingga Milea bisa merasakan napas suaminya.
“Aku cuma butuh kamu, Lea. Selama kamu nggak pergi dariku, sesakit apa pun rasanya bisa aku lawan.”
Jantung Milea berdegup lebih cepat. Ia menelan ludah, menahan gelombang perasaan yang tiba-tiba menyerbu.
Kalau nanti ingatanmu kembali sepenuhnya… apa kamu masih akan memandangku penuh cinta seperti ini?
Milea menghela napas panjang. Mobil terus melaju, membawa mereka ke restoran lain untuk melanjutkan makan malam, meski pikiran Milea tak pernah benar-benar tenang.
Saat malam berakhir dan mereka pulang, suasana di antara mereka berubah menjadi hening yang sarat makna. Milea takut membuka hati terlalu jauh, takut kehilangan lagi. Sementara Rangga justru semakin sulit berpura-pura biasa saja.
“Lea…” Rangga menahan tangan wanita itu ketika Milea hendak masuk kamar.
Sentuhan itu membuat Milea terdiam, ia pun berhenti melangkah.
Rangga masih memegang tangannya. Tidak erat, seolah takut Milea akan menarik diri jika ia terlalu berani. Wajahnya terlihat ragu, seperti seseorang yang ingin mengatakan sesuatu tapi tak tahu bagaimana caranya.
“Aku…” Rangga menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Aku mulai mengingat beberapa hal, meski nggak ingat banyak. Bahkan kadang aku nggak yakin mana yang benar-benar pernah terjadi dan mana yang cuma ada di kepalaku.”
Tubuh Milea bergetar saat mendengarnya.
“Tapi setiap kali kamu mau pergi ke kamarmu dan ninggalin aku sendirian seperti saat ini, dadaku rasanya nggak enak. Kayak… ada yang kurang.”
Milea menelan ludah, tangannya masih berada dalam genggaman Rangga.
“Kamu nggak mau tidur sendirian?” tanya Milea pelan.
Rangga mengangguk, sedikit malu. “Mungkin, atau aku cuma takut kamu semakin menjauh dariku...”
Pria itu lalu tertawa kecil, canggung. “Dulu kayaknya aku gini juga ya sama kamu, jahat banget, ya?”
Ucapan itu membuat hati Milea terasa perih. Ia menarik napas, lalu menggeleng pelan. “Kamu cuma… terlalu dingin.”
Rangga mengangguk. Ia terdiam sejenak, lalu menatap Milea lagi. Kali ini lebih serius, meski sorot matanya tetap lembut.
“Kalau aku sekarang begini, nggak dingin padamu tapi juga belum sempurna dalam mencintaimu... itu nggak masalah, kan?”
Milea tak langsung menjawab. Ia hanya menatap tangan mereka yang masih saling bertaut. Perlahan, Milea menarik tangan Rangga ke arah kamar pria itu. “Ayo ke kamarmu, aku temani masuk.“
Rangga tersenyum lega, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen.
Di dalam kamar, Rangga duduk di tepi ranjang dengan posisi kaku. Milea berdiri tak jauh darinya sama-sama canggung, sama-sama bingung dengan perasaan masing-masing.
Rangga tak melakukan apa-apa, hanya duduk di sana. “Makasih.”
Milea tak menjawab.
Lampu kamar diredupkan, hanya cahaya temaram dari lampu meja yang tersisa. Cukup untuk membuat suasana terasa tenang, dan sedikit canggung.
Milea merapikan selimut, lalu berbalik. “Cepat tidur, jangan banyak pikiran.”
Rangga mengangguk. Ia berbaring setengah duduk, punggung bersandar pada kepala ranjang. Tangannya diletakkan rapi di atas selimut, terlalu rapi untuk seseorang yang seharusnya santai. Dia malah terlihat seperti bocah yang penurut saat ditidurkan ibunya.
Milea hendak melangkah pergi ketika Rangga bersuara pelan, hampir ragu.
“Lea…”
Milea berhenti. “Kenapa?”
Rangga menatap sisi ranjang yang kosong di sebelahnya, lalu kembali menatap Milea. “Kamu… bisa di sini sebentar nggak?”
“Sebentar aja,” tambah Rangga cepat, seolah takut Milea salah paham. “Aku cuma… susah merem.”
Milea terdiam beberapa detik. Lalu ia duduk di tepi ranjang, memberi jarak yang aman. Tidak dekat, tapi juga tidak jauh.
Rangga tersenyum kecil, lega. “Maaf kalau aku jadi manja."
“Malam ini, kamu lagi nggak sehat,” jawab Milea pelan. “Wajar aja.”
Hening kembali turun, hanya suara napas mereka yang terdengar. Rangga melirik Milea dari sudut matanya.
“Kalau aku bersikap begini... aku nggak bikin kamu nggak nyaman, kan?”
Milea menggeleng. “Nggak.”
Rangga menghela napas, bahunya perlahan mengendur. Ia memejamkan mata lalu membukanya lagi, seperti orang yang belum sepenuhnya yakin.
Tanpa berkata apa-apa, Milea berbaring di sisi ranjang, di atas selimut. Punggungnya menghadap Rangga. Jarak mereka masih ada, cukup untuk menjaga batas.
Rangga terkejut. “Kamu mau tidur disini?”
“Aku cuman nemenin sampai kamu tidur,” jawab Milea.
Rangga mengangguk, ia tak berani banyak bergerak. Tangannya mengepal pelan di atas bantal, menahan keinginan memeluk tubuh istrinya.
Beberapa saat kemudian ia berbisik, hampir tak terdengar. “Kalau aku terbangun dan kamu masih ada di sini… itu berarti aku nggak mimpi, ya?”
Milea tersenyum tipis, meski Rangga tak bisa melihatnya. “Iya.”
Tak ada sentuhan, tak ada kecupan. Hanya dua orang yang sama-sama menahan diri, tapi memilih tetap berada di tempat yang sama. Dan malam itu, Rangga tertidur lebih cepat dari biasanya dengan perasaan aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Milea tetap terjaga, menatap langit-langit. Ia menahan satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Saat kau mengingat semuanya nanti… apakah aku masih akan menjadi tempatmu pulang?
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌