Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simbol dan Bayangan
Debu yang beterbangan akibat kedatangan All Might perlahan menipis. Dalam sekejap mata kecepatan yang bahkan membuat mata ninja Mitsuki harus fokus ekstra All Might sudah menyapu bersih para penjahat di sekitar air mancur, mengambil tubuh Aizawa yang terluka, dan membawa Izuku serta yang lainnya ke tempat yang lebih aman.
"Semuanya, pergilah ke pintu keluar!" perintah All Might. Wajahnya tidak lagi tersenyum. Itu adalah wajah seorang pahlawan yang siap memikul beban dunia.
Namun, All Might berhenti sejenak saat melihat Mitsuki. Remaja itu masih berdiri hanya beberapa meter dari Nomu. Tangan Mitsuki masih mengeluarkan percikan listrik biru yang memudar.
"Muda Mitsuki," suara All Might berat. "Terima kasih telah bertahan. Tapi sekarang, biarkan aku yang mengambil alih."
Mitsuki menatap All Might, lalu melirik Nomu yang mulai bangkit kembali setelah serangan sarafnya tadi. "Hati-hati, All Might. Makhluk itu... dia tidak hanya menyerap pukulan. Dia sedang beradaptasi dengan frekuensi serangan. Jika kau hanya menggunakan kekuatan kasar, kau hanya akan memberinya 'makan'."
All Might tidak menjawab, tapi ia mengangguk kecil. Ia melesat maju.
"CAROLINA... SMASH!"
Pertempuran Dua Raksasa
Ledakan udara akibat adu jotos antara All Might dan Nomu menciptakan badai di dalam kubah USJ. Todoroki, Izuku, dan murid lainnya terpaksa menutupi wajah mereka agar tidak terhempas.
Mitsuki tetap di posisinya, kakinya seolah tertanam di tanah menggunakan Chakra. Ia tidak ikut mundur. Matanya yang kuning terus bergerak, memindai setiap pergerakan.
Satu... dua... sepuluh pukulan dalam satu detik, hitung Mitsuki dalam hati. Nomu menyerap 80% energi kinetiknya. Sisanya diubah menjadi panas yang diregenerasi.
"Kenapa dia tidak hancur?!" teriak Bakugo yang baru saja sampai di plaza pusat bersama Kirishima. "All Might memukulnya dengan kekuatan penuh!"
"Bukan tidak hancur," sahut Mitsuki tanpa menoleh. "Dia hanya sedang menunda kehancurannya. All Might sedang mencoba melampaui batas regenerasi makhluk itu."
Tiba-tiba, Kurogiri mencoba mengintervensi dengan membuka gerbang di bawah kaki All Might untuk membelah tubuhnya.
"All Might!" teriak Izuku.
Namun, sebelum kabut itu menutup, sebuah bayangan melesat. Mitsuki melemparkan sebilah kunai yang sudah dipasangi kertas peledak (Paper Bomb) sesuatu yang ia rakit sendiri dari bahan kimia di lab sekolah.
BOOM!
Ledakan itu kecil, tapi cukup untuk mendistorsi konsentrasi kabut Kurogiri. Di saat yang sama, Mitsuki memanjangkan lengannya, bukan untuk menyerang, tapi untuk menarik jubah All Might, memberikan dorongan momentum agar All Might bisa keluar dari jebakan ruang-waktu tersebut.
"Kerja bagus, Nak!" seru All Might.
Shigaraki Tomura mulai merasa frustrasi. Rencananya yang seharusnya sempurna terganggu oleh variabel yang tidak masuk akal. Matanya yang merah menatap benci ke arah Mitsuki.
"Kau... bocah pucat..." desis Shigaraki. "Kau bukan pahlawan. Kau bergerak seperti kecoa... mengganggu... menjijikkan. Kurogiri, lupakan All Might sebentar. Bunuh bocah itu. Dia merusak ritme permainanku."
Kurogiri segera berputar ke arah Mitsuki. "Sesuai keinginanmu, Shigaraki Tomura."
Mitsuki menyadari ancaman itu. Ia merasakan udara di belakangnya mendingin. Todoroki muncul di sampingnya, tangan kirinya untuk pertama kalinya mengeluarkan uap panas yang tipis, meski ia belum menggunakan apinya.
"Aku akan membantumu," ucap Todoroki pendek.
"Jaga jarakmu, Todoroki-kun," kata Mitsuki. "Dia bisa memindahkan seranganmu kembali padamu."
Mitsuki melakukan serangkaian segel tangan yang sangat cepat. "Fūton: Daitoppa!" (Elemen Angin: Terobosan Besar).
Angin puyuh raksasa tercipta, bukan untuk menyerang Kurogiri, tapi untuk menciptakan pusaran tekanan udara yang mengacaukan bentuk kabut Kurogiri. Dalam kekacauan itu, Mitsuki bergerak di dalam angin, menghilang dari pandangan.
Sret!
Mitsuki muncul di belakang Shigaraki yang sedang menggaruk lehernya. Pedang pendeknya sudah berada di leher pria itu.
"Permainan berakhir," ucap Mitsuki dingin.
Namun, Shigaraki tidak takut. Ia justru tertawa kecil. "Berakhir? Tidak... kau lupa satu hal, Bocah Ninja."
Nomu, yang tadinya sedang beradu jotos dengan All Might, tiba-tiba berhenti dan—dengan kecepatan yang melampaui logika—berbalik arah menuju Shigaraki untuk melindunginya. All Might mencoba mengejar, tapi ia terbatuk darah; batas waktunya hampir habis.
"Mitsuki! Menjauh!" teriak All Might.
Cengkeraman raksasa Nomu hampir mengenai kepala Mitsuki. Mitsuki terpaksa melepaskan Shigaraki dan melakukan Body Replacement Technique (Kawarimi) dengan sebuah bongkahan batu es sisa serangan Todoroki.
Brukh! Batu es itu hancur menjadi debu di tangan Nomu.
Melampaui Batas
All Might melihat bahwa murid-muridnya masih bertarung meski mereka ketakutan. Keberanian Mitsuki yang dingin dan tekad Izuku yang membara memberinya kekuatan tambahan.
"Kalian benar..." All Might berdiri tegak, otot-ototnya menegang hingga pembuluh darahnya terlihat. "Pahlawan tidak boleh membiarkan muridnya bertarung di baris depan sendirian!"
All Might melesat ke arah Nomu untuk ronde terakhir. Setiap pukulannya menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan kaca-kaca di langit-langit USJ.
"PLUS... ULTRAA!"
Pukulan terakhir All Might menghantam perut Nomu, mengirim makhluk raksasa itu melesat menembus atap gedung, terbang jauh ke cakrawala hingga menghilang dari pandangan.
Hening.
All Might berdiri di tengah kawah, uap panas keluar dari tubuhnya. Ia sudah mencapai batasnya. Shigaraki gemetar karena marah. "Curang... dia benar-benar curang... dia bahkan tidak melemah..."
"Sekarang tinggal kalian," ucap Mitsuki, melangkah maju bersama Todoroki dan Bakugo yang juga sudah bersiap.
Shigaraki menatap Mitsuki untuk terakhir kalinya, sebuah tatapan yang penuh dengan janji dendam. "Mitsuki... aku akan mengingat namamu. Kau adalah bug dalam sistem ini. Dan bug harus dihapus."
Kurogiri segera menyelimuti Shigaraki saat para Pro-Hero lainnya (Iida dan bantuan dari UA) akhirnya tiba di pintu masuk. Para penjahat itu menghilang ke dalam kegelapan tepat sebelum mereka tertangkap.
USJ kembali sunyi, hanya menyisakan reruntuhan. Tim medis mulai berdatangan. Izuku duduk di tanah, menangis karena lega.
Mitsuki berdiri di dekat All Might yang kini berdiri memunggungi murid-muridnya—mencoba menyembunyikan wujud aslinya yang mulai mengecil. Mitsuki mendekat, berdiri cukup dekat untuk membisikkan sesuatu.
"Waktumu sudah habis, kan?" bisik Mitsuki.
All Might tersentak, namun tidak berbalik. "Kau... kau menyadarinya?"
"Aliran energimu merosot drastis," jawab Mitsuki. "Aku akan berdiri di sini menutupi pandangan mereka sampai kau bisa pergi ke tempat aman. Sebagai sesama orang yang memiliki 'rahasia' tubuh, aku mengerti."
All Might menghela napas panjang, sebuah senyum kecil muncul di wajahnya yang letih. "Kau anak yang luar biasa, Mitsuki. Terima kasih."
Mitsuki hanya menatap langit yang bolong akibat pukulan All Might. Ia melihat awan yang berarak pelan. Di dunia ini, pahlawan adalah cahaya yang sangat terang, namun cahaya itu memiliki harga yang mahal.
Aku adalah Bulan, pikir Mitsuki. Dan tugasku adalah memastikan cahaya Matahari tidak padam sebelum waktunya.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen