Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Pagi itu, udara Jakarta terasa lebih berat dari biasanya. Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, namun kegelisahan sudah memenuhi rongga dada Amara. Hari yang selama berbulan-bulan ini ia takuti sekaligus ia nantikan akhirnya tiba: Hari Pelaksanaan UTBK.
Amara berdiri di depan cermin kamarnya, menatap pantulan dirinya yang mengenakan kemeja putih rapi dan celana kain gelap. Wajahnya sedikit pucat. Tangannya yang dingin berkali-kali meremas ujung kemejanya.
"Bisa... aku pasti bisa," bisiknya pada diri sendiri, namun suaranya bergetar.
Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu merapalkan doa yang sudah ia baca berulang kali sejak bangun tidur. Di kepalanya, rumus-rumus matematika, logika penalaran, dan deretan kosakata bahasa Inggris berputar-putar seperti badai. Ia takut semua yang sudah ia pelajari mendadak hilang tertiup angin gugup.
Saat Amara turun ke bawah, suasana rumah sudah sangat mendukung. Bunda menyiapkan sarapan bergizi lengkap—nasi kuning dan telur balado kesukaannya—sementara Ryan duduk dengan wajah yang tidak biasanya terlihat serius.
"Makan yang banyak, Ifa. Otak butuh glukosa buat mikir nanti," ucap Bunda sambil mengelus bahu Amara dengan lembut.
"Ifa nggak nafsu makan, Bun. Perut Ifa rasanya kayak diaduk-aduk," keluh Amara, tangannya masih gemetar saat memegang sendok.
Ryan menggeser segelas susu hangat ke depan adiknya. "Dengerin gue, Dek. Lo udah belajar sampe kayak orang gila. Lo udah khatamin semua buku latihan. Sekarang tinggal masalah mental. Jangan biarin rasa takut lo lebih gede daripada ambisi lo."
Amara menatap kakaknya. "Bang... kalau aku nggak lulus gimana?"
"Kalau lo nggak lulus, dunia nggak bakal kiamat. Tapi kalau lo nyerah sebelum perang, itu baru masalah," jawab Ryan tegas. "Udah, makan sedikit aja. Nicholas udah di depan."
Mendengar nama itu, jantung Amara berdetak sekali lebih kencang. Nicholas. Sejak semalam, pria itu tidak berhenti mengiriminya pesan semangat, meski Amara jarang membalas karena terlalu fokus berdoa.
Begitu Amara keluar pagar, ia menemukan Nicholas sudah bersandar di motornya. Namun, ada yang berbeda. Nicholas tidak memakai kaos oblong atau jaket denimnya yang biasa. Ia memakai kemeja rapi dan celana gelap, seolah ia juga akan menghadiri acara formal.
Nicholas tidak tersenyum jahil. Ia menatap Amara dengan pandangan yang sangat tenang dan menenangkan.
"Tarik napas, Amara," ucap Nick saat gadis itu sampai di depannya.
Amara melakukan apa yang diperintahkan. Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya sejenak, lalu membuangnya. "Aku takut, Kak."
Nicholas melangkah mendekat, ia memegang kedua bahu Amara, memberikan tekanan kecil yang mantap. "Liat mata gue."
Amara mendongak, menatap manik mata hitam Nicholas yang dalam.
"Lo adalah orang paling gigih yang pernah gue kenal. Lo bisa ngadepin gue yang 'monster' aja sanggup, masa cuma ngadepin soal pilihan ganda lo gemeter begini?" Nick memberikan senyum tipis yang tulus. "Gue bakal tunggu lo di depan lokasi ujian sampai lo keluar. Gue nggak bakal ke mana-mana."
"Kakak nggak kuliah?"
"Gue udah izin asdos buat telat. Hari ini prioritas gue cuma satu: mastiin lo tenang pas masuk ruangan."
Perjalanan menuju pusat UTBK di salah satu universitas negeri itu terasa sangat cepat. Nicholas tidak memacu motornya kencang, ia membiarkan Amara menikmati hembusan angin pagi agar lebih rileks.
Sesampainya di sana, ribuan peserta lain sudah berkumpul dengan wajah yang sama tegangnya. Amara turun dari motor, kakinya terasa lemas melihat kerumunan itu.
"Ini air putih sama cokelat. Simpan di tas. Diminum pas istirahat kalau boleh," Nick menyerahkan tas kecil.
Amara menerima tas itu, lalu menatap Nicholas dengan mata berkaca-kaca. "Kak, makasih ya buat semuanya. Buat bantuan belajarnya, buat anter jemputnya... maaf kalau aku sering galak."
Nicholas tertawa kecil, ia mengacak poni Amara dengan lembut—gerakan yang sekarang sudah menjadi favoritnya. "Galak lo itu energi buat gue. Udah, masuk sana. Jangan noleh ke belakang. Fokus ke depan, fokus ke mimpi lo."
Tepat sebelum Amara melangkah masuk ke dalam gedung, Nicholas menahan tangannya sebentar. Ia melepaskan jam tangan yang ia pakai dan melingkarkannya di pergelangan tangan Amara.
"Jam tangan ini bawa keberuntungan pas gue ujian masuk Teknik dulu. Sekarang, jam ini punya lo. Tiap lo ngerasa gugup pas liat waktu, inget kalau gue ada di luar lagi doain lo," bisik Nick.
Amara mengangguk mantap. Ia memegang jam tangan yang terasa besar di tangannya itu, menarik napas panjang untuk terakhir kalinya, lalu berjalan masuk ke dalam gedung ujian tanpa menoleh lagi.
Di dalam ruangan yang dingin dan sunyi, Amara duduk di depan monitor komputer. Suara detak jam tangan Nicholas di pergelangan tangannya terdengar seperti irama penyemangat. Saat pengawas memberikan aba-aba untuk memulai, Amara memejamkan mata sejenak.
Bismillah.
Jemari Amara mulai menari di atas keyboard dan mouse. Ia membaca soal satu per satu. Awalnya sulit, namun perlahan ingatan-ingatan saat ia belajar bersama Nicholas, saat Ryan menjelaskan rumus di sofa, dan saat ia begadang di kamar, muncul satu per satu.
Setiap kali ia merasa buntu pada soal yang rumit, ia melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Ia membayangkan Nicholas yang sedang duduk di parkiran motor, menunggunya dengan sabar. Rasa aman itu membuatnya kembali fokus.
Tiga jam berlalu. Amara menekan tombol 'Selesai' dengan tangan yang sudah tidak lagi gemetar. Ia keluar dari ruangan dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Entah apa hasilnya nanti, yang jelas ia sudah memberikan seluruh kemampuannya.
Begitu ia keluar dari pintu utama gedung, matanya langsung mencari satu sosok. Dan di sana, di bawah pohon besar dekat gerbang, Nicholas berdiri tegak sambil melambaikan tangan.
Amara berlari kecil menuju arahnya, dan tanpa memikirkan pandangan orang di sekitar, ia langsung memeluk Nicholas dengan erat.
"Udah selesai, Kak... aku udah lakuin yang terbaik," bisik Amara di dada Nicholas.
Nicholas membalas pelukan itu, mengelus rambut Amara dengan penuh rasa syukur. "Gue tahu lo bisa, Ra. Gue selalu tahu."
Malam itu bukan lagi tentang ambisi, tapi tentang kelegaan. Amara sadar bahwa perjuangan besarnya bukan hanya tentang masuk universitas, tapi tentang bagaimana ia menemukan dirinya sendiri dan seseorang yang bersedia berdiri di sampingnya melalui badai apa pun.