NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 9

Angin sore di lapangan basket itu tidak lagi terasa menyegarkan bagi Raka; rasanya seperti udara berat yang dipenuhi data biner yang tidak bisa ia baca. Kertas di tangannya sudah ia remas menjadi bola kecil, namun isi pesannya—prediksi akurat yang mengerikan itu—sudah terpatri di korteks otaknya. Raka menatap Keyra. Gadis itu tidak tampak seperti penyihir atau peramal. Dia hanya tampak seperti siswi SMA biasa yang terlalu jenius untuk kebaikannya sendiri, berdiri dengan postur tubuh yang sedikit membungkuk karena beban tas punggungnya.

"Kita tidak bisa bicara di sini," kata Keyra tiba-tiba, memutus keheningan yang canggung. Dia memindai sekeliling lapangan dengan mata menyipit, seolah mencari kamera pengawas yang tidak kasat mata. "Terlalu terbuka. Variabel gangguan terlalu tinggi."

"Variabel gangguan?" Raka mendengus, meski kakinya otomatis bergerak mengikuti Keyra yang sudah berbalik arah menuju gerbang sekolah. "Lo ngomong kayak kita lagi di dalam simulasi komputer."

"Siapa bilang enggak?" sahut Keyra tanpa menoleh. Jawaban itu membuat bulu kuduk Raka meremang.

Raka menyampirkan tas olahraganya di bahu, menyusul langkah cepat Keyra. "Tunggu. Lo bilang gue harus dengerin lo. Oke, gue dengerin. Tapi kita mau ke mana? Dan apa maksud lo dengan 'Pemicu Reset'?"

Keyra berhenti mendadak di dekat parkiran motor, membuat Raka hampir menabrak punggungnya. Gadis itu berbalik, matanya yang tajam menatap Raka lurus-lurus. "Kafe di seberang jalan. Meja pojok. Jangan pesan kopi yang terlalu manis, itu bikin lo lambat mikir. Gue butuh otak lo berfungsi seratus persen."

***

Lima belas menit kemudian, mereka duduk berhadapan di sudut kafe yang bising oleh suara mesin espresso dan obrolan siswa yang baru pulang sekolah. Namun, bagi Raka, kebisingan itu terasa jauh. Fokusnya terkunci pada buku catatan tebal yang baru saja digebrak Keyra ke atas meja.

"Ini," Keyra mengetuk sampul buku itu dengan jari telunjuknya. "Adalah log dari empat puluh dua iterasi terakhir. Gue berhenti menghitung detail kecil di iterasi ke-tiga puluh karena membosankan, tapi intinya sama: Waktu berulang. Dan setiap kali berulang, ada satu titik pusat yang memulai kekacauan."

"Dan lo butuh gue buat... apa? Menghentikan waktu?" Raka bertanya skeptis, meski tangannya meraih buku itu dan membukanya. Halaman-halamannya penuh dengan grafik, diagram alur, dan daftar nama. Tulisannya rapi tapi padat, seolah penulisnya takut kehabisan kertas sebelum kehabisan ide.

"Gue butuh lo buat jadi otot dan mata-mata. Gue pinter, Raka, tapi gue nggak invisible. Orang-orang memperhatikan gue karena gue 'aneh'. Tapi lo?" Keyra menunjuk Raka dengan garpu kue yang baru diambilnya. "Lo itu Raka. Kapten basket, populer, mudah berbaur. Lo bisa masuk ke tempat-tempat yang nggak bisa gue masuki tanpa dicurigai."

Raka mengerutkan kening, sedikit tersinggung tapi menyadari kebenaran di balik ucapan itu. "Jadi gue cuma alat kamuflase?"

"Lo mitra," koreksi Keyra tegas. "Karena lo satu-satunya anomali. Di semua catatan gue, lo nggak pernah sadar. Tapi hari ini, lo sadar. Itu artinya variabelnya sudah berubah. Kita punya peluang."

Keyra membalik halaman buku itu dengan cepat hingga sampai di sebuah halaman yang ditandai dengan tinta merah tebal. Di sana, terpampang sebuah nama yang dilingkari berkali-kali: JULIAN.

"Julian?" Raka membaca nama itu dengan nada tidak percaya. "Ketua OSIS kita? Julian yang itu? Yang senyumnya kayak iklan pasta gigi dan nilainya selalu sempurna?"

"Tepat," jawab Keyra. Dia memajukan tubuhnya, suaranya merendah menjadi bisikan konspirasi. "Pernah nggak lo perhatiin kalau Julian itu terlalu... stabil?"

"Stabil gimana?"

"Dalam setiap iterasi," jelas Keyra, matanya berbinar dengan intensitas analitis, "Semua orang punya variasi kecil. Doni kadang pakai sepatu merah, kadang biru. Guru Matematika kadang telat lima menit, kadang sepuluh. Tapi Julian? Dia presisi mutlak. Dia datang jam 06:45:00 setiap pagi. Dia memesan menu yang sama di kantin setiap Selasa. Dia mengucapkan kalimat pidato yang sama persis, intonasi yang sama, jeda napas yang sama."

"Mungkin dia cuma disiplin?" sanggah Raka.

"Atau dia bukan pemain, Raka. Dia bagian dari sistem," balas Keyra dingin. "Atau lebih buruk, dia adalah Pemicu Reset-nya. Gue curiga, setiap kali ada yang melenceng terlalu jauh dari skenario—seperti gue yang mencoba ngasih tahu orang lain tentang loop ini—Julian ada di sekitarnya. Dan setelah itu... *blip*. Dunia gelap, dan gue bangun lagi di hari Senin."

Raka terdiam. Bayangan Julian yang ramah dan berwibawa tiba-tiba terasa menyeramkan. "Jadi, lo mau kita ngapain? Labrak dia?"

"Jangan bodoh," desis Keyra. "Kita selidiki dia. Hari ini hari Jumat di garis waktu ini. Julian selalu pulang paling akhir setiap Jumat. Katanya mengurus administrasi OSIS. Tapi gue pernah cek log satpam di iterasi ke-20, dia nggak pernah keluar lewat gerbang depan sebelum jam 7 malam. Padahal lampu ruang OSIS mati jam 5 sore."

"Dua jam," gumam Raka, otaknya mulai bekerja cepat, naluri kompetitifnya mengambil alih. "Dia ada di suatu tempat di sekolah selama dua jam tanpa terdeteksi."

"Bingo," Keyra tersenyum tipis, senyum yang pertama kali Raka lihat tidak mengandung unsur ejekan. "Dan kita bakal cari tahu di mana dia sembunyi."

***

Sekolah sudah sunyi ketika mereka kembali. Langit mulai berubah menjadi jingga tua, menciptakan bayangan panjang di koridor-koridor kosong. Raka memimpin di depan, langkah kakinya nyaris tanpa suara berkat sepatu basket mahalnya. Keyra mengikuti di belakang, memegang ponselnya yang menampilkan denah sekolah.

"Ruang OSIS kosong," bisik Raka setelah mengintip dari celah jendela. "Gelap."

"Sesuai prediksi. Jam 17:15. Dia sudah bergerak," Keyra mengecek jam tangannya. "Kita harus cari pola pergerakan yang tidak wajar."

Mereka menyusuri koridor utama. Suara angin yang bergesekan dengan ventilasi terdengar seperti bisikan hantu. Raka merasa jantungnya berpacu lebih cepat daripada saat final basket. Ini bukan permainan poin; ini permainan realitas.

"Tunggu," Raka menahan lengan Keyra saat mereka mendekati persimpangan menuju laboratorium sains dan perpustakaan. Dia menunjuk ke lantai dengan dagunya. "Lihat itu."

Di lantai keramik yang baru dipel, ada jejak samar debu sepatu. Bukan jejak biasa. Itu jejak sepatu formal, mengarah ke sayap kiri bangunan—area yang jarang digunakan karena berisi gudang lama dan ruang arsip yang konon berhantu.

"Julian pakai pantofel," kata Raka pelan. "Anak-anak lain pakai sneakers."

Keyra mengangguk, matanya berkilat kagum. "Observasi bagus, Kapten. Gue mungkin terlalu sibuk liatin data sampai lupa liat lantai."

Mereka bergerak ke sayap kiri. Udara di sini lebih dingin dan berbau kertas tua. Pintu-pintu kelas di sini terkunci rapat, berdebu. Namun, di ujung lorong, pintu ruang arsip sedikit terbuka. Hanya celah sempit, tapi cukup untuk memancarkan cahaya biru redup yang berkedip-kedip dari dalamnya.

"Cahaya biru?" bisik Keyra, keningnya berkerut. "Di ruang arsip nggak ada komputer. Cuma tumpukan kertas nilai tahun 90-an."

"Sstt," Raka menempelkan jarinya di bibir. Mereka merapat ke dinding, mendekati pintu itu inci demi inci. Raka bisa mendengar suara dengungan rendah, seperti suara server komputer yang sedang bekerja keras, diselingi bunyi ketikan keyboard yang sangat cepat.

Raka memberanikan diri untuk mengintip. Jantungnya serasa mau meledak.

Di dalam ruangan yang seharusnya penuh debu itu, Julian sedang berdiri menghadap sebuah dinding yang... tidak terlihat seperti dinding. Sebagian rak arsip telah digeser, menampakkan sebuah panel logam tertanam di tembok bata tua. Panel itu menyala dengan antarmuka holografik yang rumit. Julian, si Ketua OSIS teladan, sedang mengetikkan sesuatu di udara, jari-jarinya menari di atas keyboard cahaya.

"...Sinkronisasi data subjek 404 gagal," suara Julian terdengar, tapi nadanya berbeda. Dingin, datar, tanpa emosi manusia. "Mencoba kalibrasi ulang memori kolektif. Estimasi reset: 48 jam."

Raka mundur dengan napas tertahan, wajahnya pucat pasi. Dia menatap Keyra yang berdiri di belakangnya. Keyra tidak terlihat takut; dia terlihat seperti seseorang yang baru saja menemukan kepingan puzzle terakhir yang hilang selama bertahun-tahun.

"Dia bukan murid," Keyra membisikkan kata-kata itu tanpa suara, membaca gerak bibir Raka. Gadis itu mengeluarkan ponselnya, mematikan suara rana kamera, dan bersiap mengambil bukti.

Namun, tepat saat Keyra mengangkat ponselnya, lantai kayu tua di bawah kaki Raka berderit. Suara 'krak' kecil itu terdengar seperti ledakan bom di keheningan lorong.

Suara ketikan di dalam berhenti seketika. Cahaya biru padam. Kegelapan total menyelimuti ruang arsip.

"Siapa di sana?" Suara Julian terdengar. Kali ini bukan suara robotik, tapi suara ramahnya yang biasa—yang sekarang terdengar seribu kali lebih mengerikan.

Raka menyambar pergelangan tangan Keyra. Tidak ada waktu untuk berpikir. Insting atletnya mengambil alih. "Lari," bisiknya tegas.

Mereka berbalik dan memacu langkah secepat mungkin, menjauh dari sayap kiri, menjauh dari kebenaran yang terlalu besar untuk mereka telan malam ini. Di belakang mereka, terdengar langkah kaki pantofel yang tenang namun cepat, mengejar dalam kegelapan. Aliansi mereka baru saja dimulai, dan target operasi mereka ternyata jauh lebih berbahaya dari sekadar 'Pemicu'.

Malam ini, Raka tahu satu hal: Prediksi Keyra tentang bola basket hanyalah puncak gunung es. Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!