NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Angin dingin yang menusuk tulang bukan satu-satunya hal yang menghantam wajah mereka. Jakarta, atau setidaknya versi Jakarta yang sedang rusak ini, melemparkan segalanya ke arah mereka. Potongan baliho digital yang melayang tanpa gravitasi, serpihan aspal yang terkelupas dan berubah menjadi piksel ungu, hingga suara klakson yang terdengar seperti rekaman kaset kusut yang diputar berulang-ulang.

Motor Ninja Raka meraung, sebuah anomali mekanis di tengah orkestra kehancuran. Jarum speedometer terus menanjak, menantang logika keselamatan berkendara. Namun, keselamatan adalah konsep yang sudah kedaluwarsa sejak lima belas menit yang lalu, tepat ketika langit di atas mereka mulai retak seperti kaca jendela.

"Kiri! Masuk jalur busway!" teriak Julian dari posisi paling belakang. Suaranya timbul tenggelam di telan deru angin.

"Lo pikir gue supir angkot?!" balas Raka berteriak, meski tangannya patuh membelokkan setang dengan kasar. Ban motor miring tajam, nyaris mencium aspal yang kini tertutup lapisan es tipis.

Keyra menahan napas. Genggamannya pada jaket denim Raka semakin erat, buku-buku jarinya memutih. Di sebelah kanan mereka, sebuah bus TransJakarta terlihat berkedip—sepersekian detik ia ada, lalu menghilang, lalu muncul kembali dengan posisi miring lima derajat, seolah-olah server dunia sedang *lagging* parah.

"Julian! Lo bilang Perpus Kota aman?" tanya Keyra, mencoba mengalahkan suara gemuruh.

"Relatif aman!" koreksi Julian. "Di sana ada simpul memori kolektif! Arsip sejarah bikin realitas lebih padat. Di sini terlalu cair! Kita bisa kehapus kapan aja kalau grafisnya gagal *render*!"

"Bahasa lo bikin gue sakit kepala!" gerutu Raka. Dia menarik gas lebih dalam saat melihat celah di antara dua truk kontainer yang sedang meluncur tak terkendali. "Pegangan! Gue mau nyalip!"

Mereka melesat seperti peluru hijau di antara dua raksasa besi itu. Keyra memejamkan mata sejenak, merasakan sensasi perutnya diaduk-aduk. Ketika dia membukanya kembali, pemandangan di depan mereka semakin surealis. Bundaran HI di kejauhan tidak lagi memancarkan air, melainkan aliran kode biner berwarna biru neon yang memancar ke langit.

Namun, bukan itu yang membuat jantung Keyra berhenti berdetak sesaat.

"Raka..." panggil Keyra lirih, matanya membelalak menatap trotoar.

Seorang pejalan kaki—seorang ibu yang sedang menggandeng anaknya—terlihat aneh. Mereka tidak berjalan. Mereka juga tidak berdiri diam. Mereka *terhenti*.

Kaki si ibu terangkat setengah langkah, rambutnya yang tertiup angin membeku dalam posisi horizontal yang melawan gravitasi. Anaknya sedang menunjuk ke arah langit, mulutnya terbuka membentuk huruf O, tapi tidak ada suara, tidak ada gerakan. Seperti patung lilin yang sangat realistis.

"Gue liat!" sahut Raka tajam. Dia tidak melambatkan laju motornya, tapi kewaspadaannya meningkat dua kali lipat.

Fenomena itu menyebar cepat. Seperti gelombang kejut yang tidak terlihat, 'kebekuan' itu merambat dari trotoar ke jalan raya.

Di depan mereka, sebuah mobil sedan merah yang sedang mengerem mendadak karena jalan licin, tiba-tiba berhenti total secara instan. Bukan berhenti karena rem, tapi berhenti dalam ruang dan waktu. Asap knalpotnya menjadi gumpalan awan abu-abu yang statis, tidak memudar, tidak bergerak.

"Julian, ini kenapa?!" Keyra menoleh ke belakang untuk bertanya pada si penjelajah waktu.

Namun, pertanyaan itu tersangkut di tenggorokannya.

Julian juga membeku.

Cowok itu terdiam dengan mulut terbuka, tangannya yang satu menunjuk ke arah gedung UOB, matanya melotot panik. Dia tidak berkedip. Dada Julian tidak naik turun. Bahkan ujung syalnya yang tadi berkibar liar kini kaku seperti dipahat dari batu.

"Julian?!" Keyra mengguncang bahu Julian yang ada di belakangnya. Keras. Seperti menyentuh manekin.

Seketika itu juga, suara dunia mati.

Tidak ada lagi deru angin. Tidak ada suara gemuruh langit runtuh. Tidak ada klakson.

Hanya ada suara mesin motor Raka yang masih menderu halus, dan napas Keyra sendiri yang terdengar sangat keras di telinganya.

"Raka, berhenti!" teriak Keyra panik.

Raka membanting setang, melakukan *drift* panjang di atas aspal beku sebelum akhirnya berhenti tepat di tengah perempatan Sarinah.

Mereka sendirian. Benar-benar sendirian di tengah keramaian.

Keyra turun dari motor dengan kaki gemetar. Dia melihat sekeliling. Pemandangan ini mengerikan sekaligus indah. Ribuan butiran salju menggantung diam di udara, tidak jatuh ke tanah. Seekor burung gereja terjebak melayang di atas lampu merah, sayapnya terbentang diam. Orang-orang di dalam mobil, pejalan kaki, polisi yang sedang mengatur lalu lintas, semuanya menjadi objek statis.

"Ini gila," gumam Raka. Dia melepas helmnya, menyugar rambutnya yang lepek oleh keringat dingin. Matanya menyapu sekeliling dengan tatapan tidak percaya. "Woi! Julian! Jangan bercanda lo!"

Raka menepuk pipi Julian yang masih duduk kaku di jok belakang. Tidak ada respon. Kulit Julian terasa dingin, tapi bukan dingin mayat, melainkan dingin benda mati.

"Dia nggak gerak, Ka. Semuanya nggak gerak," suara Keyra bergetar. Dia mengulurkan tangan, menyentuh butiran salju yang melayang di depan hidungnya. Butiran itu hancur saat disentuh, lalu sisanya tetap melayang diam. "Kenapa cuma kita?"

Raka turun dari motor, membiarkan Julian tetap menjadi patung di sana. Dia berjalan mendekati Keyra, lalu mencengkeram bahu gadis itu, seolah memastikan Keyra nyata.

"Gue nggak tau," kata Raka, suaranya terdengar asing di tengah kesunyian total ini. "Si Julian bilang lo 'Jangkar', kan? Mungkin itu sebabnya lo sadar. Tapi gue... gue nggak ngerti kenapa gue juga nggak ikut jadi patung."

"Mungkin karena lo pegang gue?" tebak Keyra.

"Julian juga pegang lo tadi, Key. Liat dia sekarang," Raka menunjuk Julian yang masih dalam pose panik komikalnya.

Mereka berdua berdiri di tengah perempatan yang membeku. Di sebelah kiri, ada tabrakan beruntun yang tertunda. Kaca mobil yang pecah berhamburan di udara, kepingannya berkilauan memantulkan cahaya matahari yang redup, diam tak bergerak. Itu adalah seni instalasi bencana yang paling mengerikan.

"Kita harus jalan," kata Raka tiba-tiba, memecah keheningan. "Gue nggak tau berapa lama 'pause' ini bakal bertahan. Kalau tiba-tiba tombol 'play' ditekan lagi, tabrakan di depan itu bakal lanjut."

"Tapi Julian..."

"Kita bawa dia. Dia cuma beku, bukan mati. Semoga," Raka kembali naik ke motor, menarik tangan Keyra. "Naik. Cepetan."

Keyra baru saja akan naik ketika dia melihat sesuatu di kejauhan. Di arah Monas, langit tidak membeku. Ada pusaran awan hitam yang berputar pelan. Satu-satunya hal yang bergerak selain mereka. Dan pusaran itu terlihat seperti mata raksasa yang sedang mencari sesuatu.

"Ka, liat langit..." tunjuk Keyra.

Raka menoleh, matanya menyipit. "Sialan. Itu pasti yang bikin sistemnya *hang*. Ayo, Key!"

Keyra melompat naik, duduk di antara Raka dan patung Julian. Dia harus memeluk pinggang Raka sambil menahan tubuh kaku Julian agar tidak jatuh. Rasanya seperti membawa boneka *display* toko baju.

"Pegangan yang kenceng. Gue bakal manfaatin momen ini buat nembus macet," ujar Raka. Dia menyalakan kembali mesin motornya. Suara knalpot memecah kesunyian sakral itu dengan kasar.

Raka memacu motornya meliuk di antara mobil-mobil yang diam. Rasanya seperti bermain *video game* di mana semua rintangan berhenti bergerak. Mereka melewati bus yang menggantung miring, melewati kerumunan orang yang sedang berlari menyelamatkan diri dengan ekspresi teror yang abadi di wajah mereka.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Mereka berhasil melewati blokade terparah di jalan Thamrin.

"Awas, Ka!" Keyra memekik refleks saat Raka membelokkan motor hanya beberapa sentimeter dari spion mobil sport yang pintunya terbuka.

"Gue tau, gue liat!" balas Raka.

Tepat saat mereka melintas di bawah jembatan penyeberangan menuju Perpustakaan Nasional, Keyra merasakan getaran aneh di punggungnya. Tubuh Julian yang kaku mulai terasa hangat.

"Ka! Julian!"

Dan boom.

Suara dunia kembali meledak masuk ke telinga mereka. Angin menderu, klakson menjerit, dan suara tabrakan beruntun di belakang mereka terdengar susul-menyusul seperti petasan raksasa.

"WAAAAAA!!" Julian berteriak, melanjutkan kalimatnya yang terpotong sepuluh detik yang lalu. "...BELOK KANAN DI DEPAN!"

Julian tersentak kaget, tangannya refleks mencengkeram bahu Keyra. "Lho? Kok kita udah di sini?! Tadi gue liat gedung UOB masih di sebelah kiri!"

Raka tertawa, tawa yang terdengar sedikit gila karena adrenalin. "Selamat datang kembali di dunia nyata, Tuan Penjelajah Waktu! Lo baru aja ketinggalan aksi gue nyalip maut!"

"Apa yang terjadi?!" Julian berteriak di telinga Keyra, bingung melihat posisi mereka yang sudah jauh dari titik sebelumnya.

"Dunia berhenti, Julian! Cuma gue sama Raka yang sadar!" teriak Keyra menjelaskan, suaranya serak.

Wajah Julian memucat, terlihat dari spion motor. "*Freeze frame*? Itu nggak mungkin... kecuali..." Julian menelan ludah. "Kecuali kalian berdua bukan sekadar anomali pasif. Kalian berdua punya *admin privilege* di garis waktu ini."

"Ngomong bahasa manusia!" bentak Raka sambil mengerem mendadak di depan gerbang Perpustakaan Nasional yang tingginya menjulang.

Gerbang itu setengah terbuka. Namun, halaman perpustakaan tidak terlihat seperti biasanya. Rumput di sana tidak hijau, melainkan berwarna abu-abu metalik. Gedung perpustakaan yang megah itu terlihat bergetar, seperti bayangan di atas air yang terkena riak.

"Kita sampai," kata Raka, napasnya memburu. Dia menurunkan standar motor dengan kasar. "Sekarang, tolong bilang sama gue kalau di dalem sana ada AC dan nggak ada monster piksel yang mau makan kita."

Julian melompat turun, kakinya sedikit goyah. Dia menatap gedung itu dengan tatapan horor sekaligus takjub. "Di dalam lebih buruk, Raka. Tapi itu satu-satunya jalan keluar."

Keyra turun dari motor, kakinya terasa seperti jeli. Dia menatap Raka. Cowok itu juga menatapnya. Ada pemahaman diam-diam di antara mereka. Kejadian 'freeze' tadi telah mengonfirmasi sesuatu: di dunia yang gila ini, hanya mereka berdua yang benar-benar 'ada'. Sisanya, termasuk Julian, mungkin hanyalah variabel yang bisa dipadamkan kapan saja.

"Jangan jauh-jauh dari gue," bisik Raka pada Keyra, tangannya menggenggam tangan gadis itu. Kali ini bukan karena takut, tapi karena dia tidak mau satu-satunya hal yang nyata baginya hilang lagi.

Keyra mengangguk. "Ayo. Sebelum dunia beku lagi."

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!