kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU MASTER HEPHAESTUS
Seluruh ksatria melompat turun dari pelana mereka, menarik pedang panjang dari sarungnya dengan suara sring yang membelah kesunyian.
Mereka segera memasang kuda-kuda tempur, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi di tempat terpencil ini.
"Lindungi Pangeran!" perintah Von Gardo dengan suara bariton yang tegas kepada anak buahnya.
Sang kusir yang sejak tadi duduk di depan kereta pun berdiri, menghunus sebilah pedang pendek dengan tatapan mata yang tajam.
Mereka membentuk formasi lingkaran, mengelilingi vion yang masih berdiri di dekat pintu kereta. Keadaan di sekitar rumah tua itu sebenarnya sangat sepi, nyaris tanpa suara kehidupan.
Hanya terdengar gesekan dedaunan pohon cemara yang saling bersentuhan saat angin dingin bertiup lewat, menciptakan suara mendesing yang menambah kesan angker.
Rantai-rantai besi yang tergantung di halaman berdenting pelan, menimbulkan suara logam yang beradu, seolah memberi peringatan bagi siapa pun yang datang.
Menit demi menit berlalu dalam ketegangan yang menyesakkan, namun tidak ada tanda-tanda serangan. Keadaan yang terlalu tenang ini justru membuat naluri tempur Von Gardo bergejolak. Ia tidak bisa hanya menunggu.
Tak berselang lama, pintu kayu ek yang berat itu berderit terbuka. Seorang pria tua muncul dari balik kegelapan ruangan. Rambutnya yang berwarna abu-abu—ah, lebih tepatnya hampir memutih sepenuhnya—tampak berantakan tertiup angin.
Ia berdiri bersedekap dengan angkuh, sementara salah satu tangannya memegang sebuah seruling tua yang terbuat dari kayu yew berwarna kekuningan.
Tatapannya yang tajam dan jeli langsung terarah ke dalam kereta kuda, di mana kain penutup jendelanya sedikit tersibak oleh embusan angin, menampakkan wajah vion yang tegang.
Perlahan, tangan pria tua itu bergerak mengelus janggut putih panjang yang menutupi dagunya. Sebuah sunggingan senyum tipis nyaris tak terlihat, tersembunyi di balik kumis tebal berwarna putih yang menutupi bibirnya.
"Pulanglah! Rumahku bukan tempat bagi para pesiar!" ucapnya dengan nada yang sangat santai, seolah tidak peduli dengan belasan pedang yang sedang terhunus ke arahnya.
Ia kemudian mengangkat sebuah botol kulit bundar berisi arak gandum dari tangan kanannya, lalu meneguk isinya dengan nikmat sembari menatap remeh ke arah Von Gardo dan ksatria lainnya.
Mendengar pengusiran yang ketus itu, vion menyibak tirai beludru yang menutupi pintu kereta. Ia keluar dari sana, membungkuk sedikit untuk menjaga keseimbangan, lalu menatap lekat lelaki tua yang ia yakini sebagai Master Hephaestus.
Meski ini adalah pertemuan pertama mereka di dunia ini, entah mengapa suara serak lelaki itu terasa sangat familiar, seolah pernah menggema dalam mimpinya.
Vion segera turun dari tangga kereta, melangkah mantap di atas tanah yang becek untuk mendekati sang pandai besi. Namun, baru dua langkah berjalan, Von Gardo segera mengadang jalannya dengan lengan berbaju besi, menatap tuannya dengan raut penuh kewaspadaan.
"Pangeran, kita harus hati-hati. Kita tidak tahu siapa sebenarnya dia di balik janggut putih itu," bisik Von Gardo memperingatkan, matanya tetap terpaku pada tangan Hephaestus yang memegang seruling kayu.
Mendengar bisikan lirih dari sang ksatria, Hephaestus kembali mencibir. Ia malah tertawa kecil, suara tawanya kering seperti daun musim gugur, sambil melirik vion dengan tatapan meremehkan.
"Lihatlah, peliharaanmu yang berbaju besi itu sudah memperingatkanmu, Nak," ejek Hephaestus sembari mengusap sisa arak di kumis tebalnya.
"Bahkan dia tahu bahwa mendekati rumah tua ini jauh lebih berbahaya daripada menghadapi kawanan serigala di hutan tadi."
Vion dan Von Gardo sama-sama menatap ke arah Master Hephaestus dengan rasa penasaran yang memuncak.
Vion dengan perlahan menepis ujung pedang Von Gardo yang masih menghalangi jalannya.
"Von Gardo, aku yakin sekali. Dialah Hephaestus, sang maestro yang menempa pedang itu. Biarkan aku berbicara padanya secara pribadi," ucap vion mantap.
"Tapi, Yang Mulia..." suara Von Gardo tertahan di kerongkongan. Terlihat jelas guratan kecemasan di wajahnya; ia sangat mengkhawatirkan keselamatan tuannya yang kini tampak jauh lebih nekat dari biasanya.
Vion tersenyum tipis sembari memberikan anggukan kecil, sebuah isyarat yang meyakinkan sang ksatria bahwa ia akan baik-baik saja. Dengan berat hati, Von Gardo menurunkan pedangnya dan membiarkan vion melangkah maju, mendekati Hephaestus yang kini berdiri bersandar di pinggiran sumur batu tua.
Awalnya vion merasa canggung. Ia bingung harus bersikap seperti apa sebagai seorang bangsawan di tanah Eropa kuno ini, mengingat ia hanyalah pemuda biasa dari masa depan.
Akhirnya, ia hanya sedikit membungkukkan badan—sebuah gestur hormat yang tulus—lalu terdiam sembari menatap wajah Hephaestus yang dipenuhi kerutan dalam.
Keduanya kini saling terpaku dalam keheningan. Hephaestus menatap vion dengan sorot mata yang menyelidik, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang di balik manik mata sang Pangeran. Mereka sama-sama saling tatap dengan rasa heran yang menggantung di udara dingin pegunungan itu.
"Tuan," ucap vion pelan dengan nada ragu, "apa benar... Anda adalah Master Hephaestus? Sang maestro pandai besi? Penempa pedang legendaris itu?"
Hephaestus tidak langsung menjawab. Ia justru melengos, membuang muka seolah pertanyaan itu adalah gangguan yang tidak penting. Ia kembali mengangkat botol kulit bundarnya tinggi-tinggi, lalu meneguk arak gandumnya dengan kasar.
Saking banyaknya, cairan kuning kecokelatan itu menetes dari sudut bibirnya, membasahi janggut putih tebal yang menutupi dagu dan lehernya.