NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Jantung yang ingin melompat.

Langit masih gelap ketika Haikal bangkit.

Jam di dinding menunjukkan 04.12.

Gerakannya pelan, terlatih, hampir tanpa suara. Ia turun dari ranjang, merapikan selimut sebentar—kebiasaan yang kini selalu ia lakukan—lalu berjalan menuju sudut kamar.

Lian setengah sadar.

Ia tidak membuka mata, tapi ia tahu.

Ia selalu tahu ketika Haikal bangun.

Suara kain.

Langkah ringan.

Dan satu gerakan yang selalu sama.

Sajadah dibentangkan.

Lian membuka mata pelan.

Haikal berdiri menghadap kiblat, punggungnya tegak, rahangnya tenang. Cahaya lampu kamar yang redup membuat bayangannya jatuh panjang di lantai.

Ini bukan pertama kalinya.

Sejak mereka tinggal bersama, Lian sudah sering melihatnya.

Setiap subuh.

Setiap isya.

Kadang magrib.

Dan setiap kali pula—

Haikal selalu menoleh padanya.

“Sholat?” tanyanya sederhana. Tidak pernah mendesak.

Lian selalu menjawab dengan gelengan. Atau pura-pura tidur. Atau candaan ringan.

Dan Haikal selalu menerima.

Tidak ada wajah kecewa.

Tidak ada ceramah.

Tidak ada paksaan.

Pagi ini pun sama.

Haikal menoleh sebentar.

“Subuh,” katanya pelan.

Nada itu datar.

Tidak menghakimi.

Tidak berharap.

Ia lalu kembali menghadap sajadahnya, seolah jawaban Lian—apa pun itu—tidak akan mengubah apa pun.

Lian menatap punggung Haikal.

Ada sesuatu di dadanya yang bergerak pelan.

Bukan rasa bersalah.

Bukan takut.

Lebih seperti…

panggilan yang tidak berisik.

Haikal tak pernah bertanya kenapa Lian selalu menolak.

Tak pernah menyinggung masa lalu.

Tak pernah memanggilnya dengan nama yang melukai.

Ia hanya… konsisten.

Lian menghela napas.

Ia duduk.

Tidak berkata apa-apa.

Haikal tidak menoleh.

Namun ia tahu—

gerakan di belakangnya berbeda dari biasanya.

Lian berdiri.

Langkahnya menuju kamar mandi.

Haikal tetap di tempatnya.

Ia tidak mengikuti.

Tidak memastikan.

Tidak berharap.

Ia hanya menunggu waktu subuh tiba.

Air wudhu mengalir.

Lian membasuh wajahnya. Tangan. Kepala. Kaki.

Air itu dingin.

Namun untuk pertama kalinya, dingin itu tidak membuatnya ingin mundur.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

Wajahnya tenang.

Tidak sempurna.

Tidak dipaksa.

Ia mengambil mukena dari lemari.

Putih.

Sederhana.

Masih rapi.

Lian kembali ke kamar.

Haikal baru saja meluruskan sajadahnya.

Tanpa kata, Lian membentangkan sajadah kedua di sampingnya.

Gerakannya tenang.

Tidak ragu.

Haikal berhenti sejenak.

Ia tidak menoleh.

Namun napasnya tertahan sepersekian detik—

lalu kembali stabil.

“Terima kasih,” katanya pelan. Bukan pada Lian. Seperti pada Tuhan.

Mereka berdiri berdampingan.

Tidak bersentuhan.

Namun jaraknya cukup dekat untuk merasa ada.

Takbir pertama terucap.

Lian mengikuti.

Suaranya pelan.

Sedikit bergetar.

Namun nyata.

Dalam sujud pertama, dahi Lian menyentuh sajadah.

Dan entah kenapa—

air matanya jatuh.

Tanpa isak.

Tanpa suara.

Ia tidak meminta apa-apa.

Tidak pengampunan.

Tidak kekuatan.

Ia hanya… diam.

Dan untuk pertama kalinya, diam itu tidak terasa kosong.

Selesai salam, Haikal tetap duduk.

Lian juga.

Tidak ada kata-kata besar.

Tidak ada pertanyaan.

Haikal hanya berkata pelan,

“Kalau besok kamu tidak mau, tidak apa-apa.”

Lian mengangguk kecil.

Namun di dalam dadanya, sesuatu sudah berubah.

Ia memilih.

Bukan karena disuruh.

Bukan karena takut.

Melainkan karena ia ingin.

Dan pagi itu, untuk pertama kalinya,

nama apa pun tidak lagi terasa berat.

Ia hanya Lian.

Dan itu cukup.

_____

Pagi itu tidak berbeda.

Rumah masih sama.

Sedikit berantakan.

Sedikit hangat.

Cahaya matahari masuk dari sela jendela, menimpa lantai dengan warna keemasan. Udara masih membawa sisa dingin subuh.

Haikal duduk di ruang tengah, membaca sesuatu di ponselnya—berita singkat, kebiasaan lama yang belum sepenuhnya ia lepaskan. Posturnya tegak, tenang, seperti biasa.

Lian keluar dari kamar mandi.

Mukena sudah dilipat rapi di tangannya. Rambutnya masih sedikit basah. Wajahnya tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya—lebih jernih, lebih… hadir.

Ia berjalan mendekat.

Haikal mendongak.

“Sudah?” tanyanya ringan.

Lian mengangguk.

Ia berdiri di depan Haikal.

Tidak langsung bicara.

Ada jeda kecil. Seperti seseorang yang sedang menguatkan diri untuk melakukan sesuatu yang sederhana, tapi penting.

Lalu—

tanpa aba-aba—

Lian berlutut sedikit dan mengambil tangan Haikal.

Haikal tidak langsung paham.

Sampai Lian mencium punggung tangannya.

Pelan.

Hormat.

Tulus.

Untuk pertama kalinya.

Tubuh Haikal membeku.

Bukan karena tidak ingin.

Bukan karena kaget semata.

Melainkan karena satu kenyataan menghantamnya sekaligus—

Saat akad dulu,

Lian tidak pernah mencium tangannya.

Bukan sekali pun.

Ia tidak menuntut.

Tidak bertanya.

Tidak menyimpan kecewa.

Ia mengira itu hanya bagian dari jarak yang belum selesai.

Namun pagi ini—

Lian melakukannya.

Atas pilihannya sendiri.

Haikal menelan napas.

Tangannya refleks bergetar sedikit di genggaman Lian.

Ia lalu melakukan sesuatu yang bahkan tidak ia rencanakan.

Tangannya yang lain terangkat, memegang kepala Lian, menahan dengan lembut—tidak memaksa, tidak menekan.

Dan ia mencium kening istrinya.

Untuk pertama kalinya.

Ciuman itu singkat.

Namun penuh.

Seperti penutup kalimat yang terlalu lama tertunda.

Lian memejamkan mata.

Dadanya terasa hangat.

Tenang.

Haikal masih memegang kepalanya beberapa detik setelah itu.

Di dalam hatinya, ia membaca doa.

Doa yang seharusnya ia baca setelah akad dulu,

namun tidak sempat—

karena semuanya terlalu cepat, terlalu dingin, terlalu penuh amarah yang bukan miliknya.

Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi…

Ya Allah,

aku memohon kebaikan darinya,

dan kebaikan dari apa yang Engkau tanamkan di dalam dirinya.

Doa itu mengalir tanpa suara.

Tanpa tuntutan.

Tanpa permintaan berlebihan.

Hanya satu harapan sederhana—

Aku ingin menjadi tempat aman baginya.

Haikal menurunkan tangannya perlahan.

Lian masih menunduk.

Namun kali ini, menunduknya bukan karena takut.

Melainkan karena hormat.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Bukan pada ciuman tangan itu.

Bukan pada ciuman keningnya.

Melainkan pada kesabaran yang tidak pernah memaksanya menjadi siapa pun.

Haikal menggeleng kecil.

“Kita belajar pelan-pelan,” katanya.

Lian tersenyum.

Tidak lebar.

Tidak berisik.

Namun nyata.

Dan pagi itu, di rumah kecil yang belum sepenuhnya rapi,

di antara dua orang yang sama-sama membawa luka—

Doa yang tertunda akhirnya sampai.

Tanpa saksi.

Tanpa sorak.

Namun dengan hati yang mulai saling percaya.

______

Baik 🤍

Ini BAB 11 (lanjutan) dari POV Lian, nuansanya berisik di kepala, tapi sunyi di luar, tentang perubahan kecil yang membuat jantungnya ingin melompat keluar—tanpa drama berlebihan, hanya rasa yang belum punya nama.

 

Kampus selalu berisik.

Suara langkah kaki.

Tawa keras.

Obrolan yang saling tumpang tindih.

Namun pagi ini, semua terasa… terlalu jauh.

Lian berjalan menyusuri koridor fakultas dengan tas selempang di bahu. Langkahnya stabil, wajahnya biasa saja. Tidak ada yang tahu—bahkan satu orang pun—bahwa jantungnya berdetak tidak normal sejak tadi pagi.

Sejak—

Ia menggeleng pelan.

Tidak.

Jangan dipikirkan.

Ia masuk kelas, duduk di bangku favoritnya—pojok dekat jendela. Sinar matahari masuk setengah, cukup hangat tanpa menyilaukan.

Dosen mulai bicara.

Lian membuka buku.

Namun pikirannya tertinggal di rumah.

Di satu ciuman kening yang singkat.

Di satu doa yang tidak ia dengar, tapi entah kenapa ia rasakan.

Tangannya mencengkeram pulpen sedikit lebih kuat.

Fokus, Lian.

Ia menulis.

Namun setiap kali ujung pulpennya menyentuh kertas,

bayangan itu kembali.

Cara Haikal membeku sesaat.

Cara tangannya menahan kepala Lian dengan lembut.

Cara ia mencium keningnya—bukan tergesa, bukan juga ragu.

Bukan seperti kewajiban.

Seperti… keputusan.

“Lian.”

Namanya disebut.

Ia tersentak.

“Hah?”

“Jawabanmu,” kata dosen.

Ruangan sunyi.

Puluhan mata menatapnya.

Jantung Lian melonjak.

Bukan berdebar manis.

Bukan gugup kecil.

Ini seperti ingin melompat keluar dari dadanya.

Ia berdiri.

Menjawab seadanya—entah benar atau tidak. Ia bahkan tidak yakin.

Namun dosen mengangguk.

“Duduk.”

Lian duduk.

Napasnya belum kembali normal.

Ia menunduk, menyentuh dadanya pelan.

Kenapa sih begini…

Biasanya ia santai. Biasanya ia tidak peduli. Biasanya detak jantungnya hanya kacau saat tawuran atau lari.

Bukan karena satu ciuman kening.

Bukan karena satu doa yang bahkan tidak ia dengar.

 

Jam istirahat.

Lian duduk di kantin bersama teman-temannya. Tawa terdengar. Gosip ringan. Obrolan soal tugas.

“Eh, Lian,” salah satu dari mereka menyenggol lengannya. “Lo kenapa sih hari ini bengong mulu?”

“Nggak,” jawab Lian cepat.

“Keliatan kayak orang abis jatuh cinta,” goda yang lain.

Lian tersedak minumannya.

“Gila,” katanya, terkekeh paksa. “Ngaco.”

Ia tertawa.

Semua ikut tertawa.

Namun hanya Lian yang tahu—

tawa itu tidak sampai ke dadanya.

Tangannya tanpa sadar menyentuh punggung tangannya sendiri.

Tempat ia mencium tangan Haikal pagi tadi.

Ada rasa hangat yang belum pergi.

Bukan panas.

Bukan berdebar manis berlebihan.

Lebih seperti…

tenang yang mengganggu.

Tenang yang tidak ia kenal.

 

Selesai kelas terakhir, Lian berjalan sendirian menuju parkiran.

Langit mulai mendung. Angin bertiup pelan.

Ia mengeluarkan ponsel.

Layar menyala.

Satu pesan masuk.

Haikal:

Sudah selesai?

Hanya itu.

Tidak ada emotikon.

Tidak ada basa-basi.

Namun jantung Lian meloncat lagi.

Kali ini lebih keras.

Ia berhenti berjalan.

Menatap layar itu terlalu lama.

Balasan sederhana.

Lian:

Iya.

Titik.

Ia mengunci layar.

Namun senyumnya muncul begitu saja.

Tipis.

Bodoh.

Tidak bisa ditahan.

“Aneh,” gumamnya pelan.

Ia mengusap wajahnya sendiri.

Ini cuma perhatian biasa.

Ini cuma sopan.

Ini cuma…

Namun pikirannya berhenti.

Karena jauh di dalam, Lian tahu—

Ia tidak pernah terbiasa ada seseorang yang menunggunya pulang.

Tidak pernah terbiasa ditanya tanpa dituntut.

Tidak pernah terbiasa disentuh tanpa diminta berubah.

Dan itu… menakutkan.

Karena untuk pertama kalinya,

ia ingin kembali ke rumah.

Bukan untuk bersembunyi.

Bukan untuk menghindar.

Tapi karena ada seseorang di sana

yang membuat jantungnya berdetak terlalu kencang

hanya dengan satu pesan singkat.

Lian melangkah lagi.

Langkahnya cepat.

Seolah jantungnya benar-benar ingin melompat keluar

dan pulang lebih dulu.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!