Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Amara menerima kartu itu dengan mata berbinar. "Terima kasih, Hannan! Sampai bertemu lagi!"
Hannan mengangguk sopan lalu segera berbalik menuju kedai kopi. Setelah mendapatkan dua cup kopi hangat, ia menghampiri Gus Malik.
"Lama sekali, Nan? Sampai-sampai aku lihat kamu asyik mengobrol dengan gadis bergaun pink," goda Gus Malik begitu Hannan duduk di sampingnya. "Siapa dia? Mahasiswi juga?"
Hannan menyerahkan kopi pesanan Gus Malik. "Namanya Amara, Gus. Tadi tidak sengaja tertabrak. Dia orang Indonesia juga."
Gus Malik menyeruput kopinya sambil tersenyum penuh arti. "Di Amerika yang seluas ini, Allah pertemukan kalian dengan cara 'tabrakan'. Kamu tidak percaya pada kebetulan kan, Hannan?"
Hannan hanya terdiam, pandangannya lurus menatap matahari yang kini sudah separuh tenggelam di cakrawala. Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya: Apakah pertemuan ini hanyalah angin lalu, atau awal dari sebuah takdir yang baru dimulai?
Sementara itu, beberapa meter dari sana, Amara masih berdiri memandangi kartu nama di tangannya. Ia tersenyum kecil, lalu menyimpan kartu itu dengan sangat hati-hati di dalam tasnya.
Suasana hangat di pinggir pantai itu seketika pecah.
Plakk!
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Amara tepat setelah ia memasukkan kartu nama Hannan ke dalam tasnya. Tubuh Amara terhuyung ke samping, rasa panas menjalar di pipinya, namun rasa takut yang menghujam jantungnya jauh lebih menyakitkan.
"Mau lari ke mana lagi kamu, hah?!" bentak seorang pria paruh baya dengan wajah bengis.
Itu adalah Bastian, papa tiri Amara. Pria yang selama ini menganggap Amara tak lebih dari barang dagangan. Amara nekat kabur hingga ke Amerika hanya untuk menghindari rencana gila Bastian yang ingin menjualnya demi melunasi hutang judi. Namun, ia tak menyangka bahwa pria itu sanggup melacaknya sampai ke Santa Monica.
"Pa... tolong lepaskan Amara..." isak Amara sambil memegangi pipinya yang memerah.
"Diam! Ikut papa sekarang! Pembeli itu sudah menunggumu di Vegas!" Bastian mencengkeram lengan Amara dengan kasar, menyeretnya menjauh dari keramaian pantai.
Amara memberontak, "Lepas! Tolong! Tolong!"
Suara teriakan itu lamat-lamat sampai ke telinga Hannan dan Gus Malik yang baru saja akan beranjak dari bangku kayu mereka. Hannan menghentikan langkahnya, telinganya menangkap suara yang sangat ia kenali.
"Gus, sepertinya itu suara Amara," ujar Hannan dengan raut wajah cemas.
Gus Malik mengasah pendengarannya. "Di sana, Nan! Di dekat area parkir!"
Tanpa pikir panjang, Hannan berlari. Jiwa pelindungnya bangkit. Di area parkir yang agak sepi, ia melihat Amara sedang diseret paksa masuk ke dalam sebuah mobil hitam oleh seorang pria bertubuh besar.
"Berhenti!" teriak Hannan dengan suara menggelegar.
Bastian menoleh dengan tatapan meremehkan. "Jangan ikut campur, anak muda! Ini urusan keluarga!"
"Urusan keluarga tidak melibatkan kekerasan dan paksaan," sahut Hannan yang kini sudah berdiri di depan Bastian, menghalangi pintu mobil. Pandangannya tajam, namun ia tetap berusaha mengontrol emosinya.
"Hannan... tolong aku..." rintih Amara dengan air mata yang mengalir deras.
Bastian yang merasa terancam langsung melayangkan pukulan ke arah Hannan. Namun, Hannan dengan sigap menghindar. Sebagai anak pesantren, ia tentu dibekali ilmu bela diri untuk situasi darurat seperti ini. Sementara itu, Gus Malik dengan cepat menelepon polisi setempat.
"Lepaskan gadis itu sekarang juga, atau urusan ini akan diselesaikan oleh pihak berwajib," ancam Gus Malik sambil menunjukkan ponselnya yang sudah tersambung ke layanan darurat.
Melihat ada orang lain (Gus Malik) yang ikut campur dan menyadari mereka berada di tempat umum, Bastian mulai panik. Ia mendorong Amara hingga terjatuh ke aspal dan segera masuk ke mobilnya.
"Urusan kita belum selesai, Amara! Papa akan kembali!" teriak Bastian sebelum memacu mobilnya pergi dengan kencang.
Amara tersungkur di aspal, tubuhnya bergetar hebat karena trauma. Hannan segera mendekat, namun tetap menjaga jarak suci agar tidak menyentuh Amara secara langsung.
"Amara, Anda aman sekarang. Tenangkan diri Anda," kata Hannan dengan nada bicara yang sangat lembut, berusaha memberikan rasa aman.
Gus Malik datang menghampiri, "Nan, kita tidak bisa membiarkan dia sendirian. Pria tadi itu sangat berbahaya."
Amara mendongak, menatap Hannan dengan tatapan hancur. "Dia... dia papa tiriku. Dia ingin menjualku, Hannan..."