Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Malam itu juga, suasana di kediaman Pak Lurah berubah menjadi sangat tegang dan sakral. Tak ada tenda mewah, tak ada musik rebana, hanya ada beberapa saksi dari pengurus pesantren, Pak RT, dan keluarga inti. Ruang tamu yang biasanya menjadi tempat Keyla menggoda Hilman, kini berubah menjadi tempat eksekusi takdir mereka.
Hilman duduk bersila di depan Pak Lurah. Ia mengenakan jas hitam dan sarung putih yang dipinjamkan Arkan, lengkap dengan peci hitam yang ditarik rendah hingga menutupi dahinya yang terus berkeringat dingin. Wajahnya pucat pasi, bibirnya tak henti membacakan istighfar dalam hati.
Di sisi lain, di balik tirai kayu yang membatasi ruang tamu, Keyla duduk bersimpuh. Ia mengenakan kebaya putih milik Bunda Sarah yang sedikit kebesaran, dan sebuah kerudung yang dipasang asal-asalan oleh ibunya. Sifat hyper-nya mendadak hilang, digantikan oleh rasa takut yang nyata saat melihat Abah Kiai duduk dengan wajah yang begitu teduh namun menyimpan kekecewaan.
"Bagaimana, Gus Hilman? Sudah siap?" tanya Pak Lurah dengan suara berat, menahan sesak di dada.
Hilman hanya mengangguk pelan. "Insya Allah, Pak."
Pak Lurah menjabat tangan Hilman dengan sangat erat. Getaran tangan keduanya terasa hingga ke sanubari.
"Ananda Muhammad Hilman bin Abdullah, saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Keyla Naila binti Ahmad, dengan mas kawin berupa seperangkat alat shalat dan perhiasan emas seberat sepuluh gram, dibayar tunai!"
Hilman menarik napas panjang, seolah seluruh pasokan oksigen di dunia ia kumpulkan di paru-parunya. Dengan satu tarikan napas yang mantap namun bergetar, ia mengucap
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Keyla Naila binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"SAH!"
Suara para saksi menggema di ruangan itu. Bunda Sarah langsung memeluk Keyla sambil menangis sesenggukan. Arkan hanya bisa mengusap wajahnya, tak menyangka adiknya yang nakal kini sudah menjadi istri seorang Gus..
"Al-Fatihah..." Abah Kiai memimpin doa.
Setelah doa selesai, Keyla dituntun keluar dari balik tirai. Ia berjalan pelan, menunduk dengan jantung yang berdegup kencang. Ini bukan lagi permainan "kucing-kucingan" di ruang tamu. Ini adalah kenyataan.
Hilman berdiri saat Keyla mendekatinya. Untuk pertama kalinya, secara halal, Hilman mengulurkan tangannya. Keyla meraih tangan suaminya itu, mencium punggung tangan Hilman dengan takzim.
Saat itulah, Hilman meletakkan tangan kanannya di atas kepala Keyla, membacakan doa yang biasanya ia baca di kitab-kitab, namun kini ia tujukan untuk gadis yang hampir membuatnya celaka namun kini menjadi tanggung jawabnya dunia akhirat.
"Gus..." bisik Keyla saat mereka berdiri berdekatan.
Hilman menatap mata Keyla. Tak ada lagi godaan nakal di sana, hanya ada binar air mata yang menggantung. Hilman menghela napas, ia menyentuh dagu Keyla dengan lembut, memaksa istrinya itu menatapnya..
"Mulai detik ini, Mbak bukan lagi murid privat saya. Mbak adalah makmum saya. Dan saya... tidak akan lagi lari dari Mbak," ucap Hilman dengan suara rendah yang sangat berwibawa
Keyla sedikit tersentak. Ia melihat sisi lain dari Hilman—sisi seorang suami yang siap "menaklukkannya" dengan cara yang benar.
Setelah prosesi akad nikah yang penuh ketegangan itu selesai, suasana sedikit mencair saat keluarga besar berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan syukur. Meskipun sudah sah menjadi suami istri, kecanggungan masih menyelimuti Hilman dan Nayla (Keyla).