NovelToon NovelToon
Rintik Di Barisan Belakang

Rintik Di Barisan Belakang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.

Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.

“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”

Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.

Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.

Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Tanpa Jawaban

Malam ini Dhira nggak bisa tidur.

Udah jam sebelas malam. Kamarnya gelap, cuma lampu tidur yang nyala redup di sudut. AC nyala tapi Dhira tetep gerah. Nggak tau kenapa.

Dia rebahan di kasur, tangan di belakang kepala, ngeliat langit-langit kamar yang... polos. Cat putih bersih. Nggak ada retak. Nggak kayak kamar Elang yang...

*Elang.*

Dhira geleng-geleng kepala. Kenapa dia mikirin Elang?

Nggak. Bukan Elang yang dia pikirin sekarang.

Aruna.

Gadis itu... gadis yang... entah kenapa nggak bisa keluar dari kepala Dhira sejak tadi sore.

Sejak dia baca tulisan di jurnal itu.

*"Aku berharap dia melihatku. Tapi aku tahu itu mustahil. Cinta ini seperti buih—indah sesaat, tapi akan hilang sebelum sempat menjadi apa-apa."*

Siapa... siapa yang Aruna maksud?

Dhira guling-guling di kasur. Frustasi.

*Kenapa gue kepikiran sih? Kenapa gue... peduli?*

Tapi dia peduli.

Peduli banget.

Dan itu... yang bikin bingung.

Dhira ambil hapenya dari meja samping tempat tidur. Buka aplikasi game—game yang biasa dia mainin kalau lagi gabut atau nggak bisa tidur.

Masuk ke game. Pilih hero Granger—hero favoritnya.

Ada notif masuk grup voice chat. Temen-temennya udah pada nunggu.

Dhira pencet gabung.

"Akhirnya si Sultan99 masuk juga!" suara Dimas dari voice chat. Kenceng. Kayak biasa.

"Lama banget lu, Dhir. Udah nunggu dari tadi," kata Riko, temen satu tim basket Dhira juga.

"Iya iya, maaf. Gue lagi... lagi sibuk," jawab Dhira sambil pilih hero.

"Sibuk apaan? Mikirin cewek ya?" goda Dimas, ketawa.

Dhira nggak jawab. Soalnya... bener.

Game dimulai.

Tapi... Dhira nggak fokus.

Jari-jarinya gerak di layar hape tapi otaknya... nggak di situ. Otaknya masih di jurnal Aruna. Masih di kalimat itu.

*Siapa yang dia maksud?*

*Apakah... aku?*

*Atau... cowok lain?*

Granger yang dia mainin jalan sembarangan. Nggak ngikutin strategi tim. Nggak bantuin mage yang lagi diserang. Malah maju sendiri—bodoh—terus mati kena gank musuh.

"Anjir, Sultan99! Lu ngapain sih?!" teriak Dimas dari voice chat.

"Granger tolol malah diem!" sambung Riko, kesel.

"Eh, lu main apa mikir cewek sih?!" kata yang lain—akun bernama xXShadowXx—suaranya nyinyir banget.

Dhira... diem aja. Respawn lagi. Main lagi. Tapi tetep nggak fokus.

Tim mereka kalah terus. Turret pada hancur. Jungle dikuasai musuh.

"Apalah anjir MM beban banget!" teriak Dimas lagi, frustasinya udah puncak.

"Sultan99 beban tim! Laporan!" kata xXShadowXx, suaranya makin nyinyir. "Gue laporin lu abis game ini!"

Dhira... masih diem.

Nggak ngebales. Nggak ngejelasin.

Karena gimana mau jelasin? Mau bilang apa? "Maaf gue lagi mikirin cewek yang gue gatau suka sama gue atau nggak"?

Nggak mungkin.

Dan akhirnya...

Layar hapenya muncul tulisan besar berwarna merah:

**KALAH**

Suara nyaring dari hape: *"Defeated."*

Dhira... napas panjang.

Keluar dari game. Keluar dari voice chat tanpa ngomong apa-apa. Matiin hapenya.

Lempar hape ke kasur sebelahnya.

"Anjir... gue beneran jadi beban tim..." gumamnya pelan, mengelus wajahnya kasar.

Dia rebahan lagi. Ngeliat langit-langit.

Dan... pikirannya balik lagi.

Ke Aruna.

Ke wajah gadis itu yang sering kelihatan sedih. Ke matanya yang... kosong. Ke tangannya yang gemetar kalau lagi gugup. Ke cara dia peluk jurnalnya... kayak itu satu-satunya temen sejatinya.

"Gue kenapa sih?" gumam Dhira, frustasi sama diri sendiri. "Kenapa... kenapa gue peduli banget sama dia?"

Tapi nggak ada jawaban.

Cuma... suara AC yang mendengung pelan.

Cuma... suara jangkrik di luar jendela.

Cuma... detak jantungnya yang... nggak bisa tenang.

Hapenya bunyi lagi. Notifikasi.

Dhira ambil hapenya. Layar nyala.

Pesan dari Elang.

Elang: Dhir, besok lu ada waktu? Gue mau ngomong sesuatu.

Dhira ngeliat pesan itu lama.

Ada sesuatu di nada pesan Elang yang... aneh. Serius. Beda dari biasanya.

Dhira ketik balesan.

Dhira: Oke, Lang. Gue tunggu di kantin jam istirahat pertama.

Elang: Makasih.

Dhira taruh hapenya lagi.

Tapi... dadanya nggak enak.

Ada firasat... firasat yang nggak enak.

*Lang mau ngomong apa ya...*

---

Keesokan harinya.

Jam istirahat pertama.

Dhira duduk di kantin, di meja pojok yang agak sepi, nungguin Elang.

Beli es teh manis—kebiasaan—tapi nggak diminum. Cuma diaduk-aduk aja pake sedotan.

Lima menit kemudian...

Elang dateng.

Cowok itu jalan pelan, tangan di saku celana, kepala nunduk, wajahnya... pucat. Pucat banget. Kayak orang yang udah nggak tidur berhari-hari.

Dhira langsung khawatir. "Lang... lu oke? Wajah lu pucat banget."

Elang duduk di depan Dhira. Nggak ngangkat kepala. Tangannya... gemetar dikit.

"Gue... gue oke kok..." jawabnya pelan.

"Bohong. Lu kelihatan nggak oke." Dhira nunduk dikit, nyoba liat mata Elang. "Ada masalah?"

Elang... diem.

Lama.

Tangannya menggenggam ujung bajunya. Erat. Napasnya... pendek-pendek.

*Ini kesempatannya.*

*Kesempatan buat jujur.*

*Buat bilang... bilang kalau dia juga suka sama Aruna.*

*Buat bilang... bilang kalau dia... dia sakit ngeliat Dhira deket sama gadis itu.*

Tapi...

Elang ngeliat mata Dhira.

Mata sahabatnya yang... bersih. Tulus. Nggak ada niat jahat.

Mata yang... peduli.

Dan Elang... nggak bisa.

Nggak bisa ngancurin sahabatnya sendiri.

Nggak bisa... egois.

Keberaniannya... runtuh.

Kayak gedung yang ambruk. Hancur. Jadi debu.

"Nggak apa-apa, Dhir," kata Elang akhirnya, suaranya gemetar. "Gue... gue cuma mau ngingetin..."

"Ngingetin apa?"

Elang tarik napas dalam. "Lu harus jaga Aruna baik-baik."

Deg.

Dhira... diem.

Ngeliat Elang dengan tatapan... bingung.

"Maksud lu?"

"Dia... dia cewek yang baik." Suara Elang makin gemetar. Matanya... berkaca-kaca tapi dia tahan. "Jangan sampe lu sakiti dia."

Dhira mengernyit. "Lang—"

"Lu tau kan," Elang potong cepet. "Lu tuh punya pengaruh besar. Banyak yang suka sama lu. Banyak cewek yang... yang ngejar lu. Kalau lu sakiti Aruna... dia... dia bisa hancur."

Dhira... menatap Elang lama.

Ada sesuatu dalam nada suara sahabatnya yang terdengar... sedih. Terlalu sedih.

"Lang, lu kenal Aruna?" tanya Dhira pelan.

"Nggak." Elang geleng cepet. Terlalu cepet. "Gue cuma... gue cuma ngeliat dia kayaknya cewek yang rapuh. Udah gitu aja."

Bohong.

Dhira tau itu bohong.

Tapi dia nggak maksa.

"Oke..." Dhira ngangguk pelan. "Gue... gue bakal jaga dia. Gue janji."

Elang... senyum tipis. Senyum yang... dipaksa.

"Bagus. Makasih, Dhir."

Elang berdiri. Cepet. Sebelum air matanya jatuh di depan Dhira.

"Gue... gue harus balik ke kelas. Ada tugas," katanya sambil jalan mundur.

"Lang, tunggu—"

Tapi Elang udah pergi. Jalan cepet keluar kantin. Punggungnya... membungkuk. Kecil. Kayak... kayak orang yang... kalah.

Dhira duduk di situ.

Sendirian.

Ngeliat punggung Elang yang menjauh.

Dan... dadanya nggak enak.

"Ada yang lu sembunyiin, Lang," gumam Dhira pelan, suaranya cuma buat diri sendiri. "Tapi gue nggak tau apa."

---

Elang jalan cepet di koridor.

Kakinya lemes. Tangannya gemetar parah. Napasnya... sesak.

Matanya... basah.

Air mata udah mulai jatuh. Satu tetes. Dua tetes.

Dia percepat langkahnya. Masuk ke toilet. Bilik yang sama. Kunci pintunya.

Duduk di lantai.

Peluk lutut.

Dan... nangis.

Nangis keras.

Nggak peduli kalau ada yang denger.

Dia benci dirinya sendiri.

Benci karena dia... pengecut.

Benci karena dia nggak bisa jujur.

Benci karena dia... lemah.

*Kenapa... kenapa gue nggak bisa bilang...*

*Kenapa gue... nggak berani...*

*Kenapa gue harus... harus ngasih Aruna ke Dhira...*

*Kenapa...*

Tapi dia tau jawabannya.

Karena Dhira... lebih baik.

Lebih terang. Lebih sempurna. Lebih... pantas.

Dan Aruna... Aruna berhak dapet yang terbaik.

Meskipun itu bukan... bukan dia.

Elang nangis sampai nggak ada air mata lagi.

Sampai napasnya pelan.

Sampai dadanya... mati rasa.

Dan dia bisik pelan:

"Ya Allah... maafkan aku..."

"Maafkan aku karena... karena aku nggak bisa berhenti mencintai dia..."

"Padahal aku tau... aku nggak berhak..."

"Aku... aku nggak pantas..."

Tapi cinta...

Cinta nggak peduli pantas atau nggak.

Cinta dateng tanpa izin.

Dan pergi... dengan ninggalin luka yang nggak akan pernah sembuh.

---

Malam itu.

Elang di kamarnya.

Rebahan di kasur tipis. Ngeliat langit-langit yang retak.

Tangannya... sakit lagi. Dia mukul dinding tadi. Frustasi. Marah sama diri sendiri.

Hapenya bunyi. Notifikasi.

Pesan dari Dhira.

Dhira: Lang, makasih udah ngingetin gue tadi. Lu bener. Gue bakal jaga Aruna. Gue janji.

Elang... ngeliat pesan itu lama.

Tangannya gemetar.

Dia nggak bales.

Cuma... tutup matanya.

Dan air mata... jatuh lagi.

Diam-diam.

Tanpa suara.

Cuma... jatuh.

Karena cinta yang terpendam...

Adalah pisau yang perlahan menusuk dari dalam.

Dan Elang...

Sudah terluka...

Sebelum perangnya bahkan dimulai.

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏 Aruna kamu kuat ada Author dan Reader yang stay with you 😇
Mentari_Senja: mkasih, kak🙏
total 1 replies
checangel_
Ghibah itu ............... ya seperti itu🤧, terkadang kita suka nggak sadar bahwa apa yang kita bahas itu termasuk dalam rumpun ghibah 🤧
checangel_: No comment🤭/Silent/
total 2 replies
checangel_
Rasanya gimana sih, nangis tanpa air mata /Sob/, pasti berat banget 🤧
checangel_: Waduh, beneran nangis bawang itu🤧/Hey/
total 6 replies
checangel_
Singgah hanya untuk mampir dan nitip salam 'Assalamu'alaikum' gitu ya🤭/Facepalm/🤧
Mentari_Senja: waalaikumsalam🤭
total 1 replies
checangel_
Karena cintamu hanya lewat 🤧
checangel_
Aruna/Facepalm/
checangel_
Bahkan sampai sekolah dong berita anginnya 🤧
checangel_
Wah, stalker kah /Facepalm/
checangel_: Begitulah kehidupan sekarang, banyak yang kepo /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Nah, benar itu kata Ibu 🤧, jangan dipendam jika menyimpan perasaan pada seseorang 😇, tapi tetap ingat ya, imanmu tetap yang paling utama
Mentari_Senja: kata2 seorang ibu emang gk pernah salah😌
total 1 replies
Risa Sangat Happy
Dhira jangan sedih ya karena bapak kamu suatu saat akan menyesal selalu membenci kamu
Yayang Risa Always Together
Dhira ngga usah patah semangat biarkan saja ayahmu mau ngomong apa
Risa Yayang Married
Dhira semangat tunjukkan bahwa kamu bisa membanggakan ayah kamu
Yayang Risa 💏👨‍👩‍👧‍👦
Dhira hidup kamu menyedihkan banget kamu di salahkan sama ayah kamu terus
Risa Imuet
Dhira kamu ngga usah pikirkan omongan ayah kandungmu
Risa Selalu Beautiful
Dhira ngga usah sedih masih ada teman kamu yang menyayangi kamu
Risa Happy With Yayang
Dhira kasihan ngga pernah dapat kasih sayang dari orang tuanya
Risa Selalu Teristimewa
Kasihan Dhira ngga pernah dapat kasih sayang dari ayahnya
Yaris Cinta Sampai Selamanya
Ternyata hidupnya Dhira menyedihkan banget ya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Dhira abaikan saja ayah kandungmu suatu saat ayahmu menyesal karena menghina kamu dan menuduh kamu pembawa sial
Suamiku Paling Sempurna
Dhira biarkan saja ayah kandung kamu menuduh kamu apa tapi kamu tunjukkan ke dia bahwa kamu bisa jadi orang hebat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!