alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
delapan belas
Apa kabar putramu, bocah tampan itu?" Tanya langit memecah keheningan, matanya menatap jalanan fokus.
Alia menoleh, posisi duduknya yang merapat ke pintu mobil, menunjukkan betapa tidak nyamannya ia berada di sana, berduaan dengan pria yang paling ia benci.
"Baik" jawab alia singkat, ia kembali mengalihkan perhatiannya ke jalanan yang basah oleh derasnya hujan.
Langit, pria itu tahu jika alia tidak nyaman berada di sisinya, ada sesuatu di hatinya yang terasa sangat mengganggu, entah itu karena alia atau karena bara yang menunjukkan ketertarikannya kepada wanita itu, sungguh langit tidak tahu.
Namun yang pasti langit sangat tidak menyukai perasaan yang ada di hatinya saat ini, sebenarnya ia ingin mengabaikannya, namun kehadiran alia selalu mengusik, dan itu sangat menyebalkan dan juga, indah.
Yah benar langit selalu merasa dari semua wanita yang pernah hadir dalam hidupnya, baik yang datang dengan sukarela atau dengan di paksa seperti alia, wanita ini yang selalu melekat di ingatannya.
"Apakah kamu memiliki hubungan dengan bara?"
Pertanyaan langit tiba-tiba membuat air muka alia berubah, ada rasa risih yang menyergap hatinya.
"Saya rasa itu bukan urusan bapak dan bapak terlalu masuk ke dalam ranah pribadi saya" jawab alia sedikit ketus, tanpa menoleh ke arah langit yang terlihat sedikit terkejut.
"Ayolahhh alia, ini sudah diluar jam kerja, bicaralah seperti biasa"
"Maaf pak langit, anda adalah atasan saya, tidak sopan rasanya kalau saya bicara tidak formal kepada bapak. Lagipula kita juga tidak pernah sedekat itu pak" jawab alia datar, terlihat tatapannya begitu penuh antisipasi.
Ada rasa yang menyeruak di hati langit, melihat tatapan penuh permusuhan dari alia, entah mengapa ada rasa yang tidak familiar.
Ini bukan iba atau simpati namun dengan jelas langit selalu merasa jantungnya berdenyut sakit, jika alia begitu terlihat ketakutan dan menjaga jarak darinya.
"Saya turun di persimpangan itu saja pak langit" pinta alia menunjuk sebuah persimpangan menuju rumahnya.
Alia sengaja meminta turun di persimpangan, ia tidak ingin pria ini mengetahui dimana rumahnya.
"Kenapa tidak sampai ke rumah kamu saja?" Tanya langit mengernyitkan keningnya heran,
"Ahh maaf..maaf, kamu takut suami kamu tahu yah" sambungnya dengan senyum separuhnya itu.
Alia tidak mengangguk ataupun menggeleng, hanya tangannya dengan cepat berusaha meraih handle pintu mobil, begitu mobil langit berhenti.
"Terima kasih pak" ujar alia sopan.
Begitu kakinya melangkah menjauhi mobil langit, terdengar helaan nafas dan raut wajah yang terlihat lega.
"Hufffttt" alia menghembuskan nafasnya lega, begitu ia duduk di teras rumahnya.
Alia tidak mendengar suara apapun dari dalam rumah, ia menajamkan pendengarannya, namun alia tidak mendengar apapun.
Alia melirik jam yang melingkar di tangan kanannya, sebentar lagi maghrib, kemanakah luka dan narida.
Alia berdiri menggapai handle pintu seraya meletakkan benda pipih di telinganya, mata indahnya memicing penuh tanya, pintu rumah terkunci dan nomor narida juga diluar jangkauan, alia merogoh tasnya mencari kunci rumah yang memang selalu standby di dalam tas.
Teriakan luka membuat alia membalikkan tubuhnya, putranya itu terlihat keluar dari mobil mewah berwarna hitam, narida yang juga ikut turun, terlihat tersenyum menatap mata alia yang penasaran.
"Bundaaaa..." anak laki-laki alia itu berlari ke dalam pelukan alia yang membentangkan tangannya.
Mata alia terlihat terperanjat, bara bosnya itu turun belakangan dengan tatapan yang terlihat berbeda dari tatapannya pagi tadi. Pria itu berjalan di belakang narida dengan kedua tangannya penuh bawaan, senyum manisnya terlihat sedikit malu-malu mendapat tatapan penuh tanya dari alia.
"Pak bara..," panggil alia setengah berseru.
"Kenapa bapak bisa bersama nari dan luka?"tanyanya penasaran.
"Dipersilahkan masuk dulu dek" tegur narida mengingatkan, alia tersentak.
"Maaf pak.." pinta alia dengan wajah memerah menahan malu,
"Silahkan masuk pak bara"
Narida membuka pintu rumah dan mempersilahkan bara yang mengangguk, alia ikut melangkah masuk, dengan luka masih berada dalam pelukannya.
"Saya siapkan minum dulu yah" ucap narida dengan memberi kode dengan matanya ke arah alia, meminta gadis itu duduk menemani bara.
"Ini punya luka.." ucap pria itu menyerahkan bawaannya kepada nari yang berjalan seraya merangkul luka yang jejingkrakan, mulut bocah tampan itu tak henti mengucapkan terima kasih kepada bara yang tersenyum lebar.
Mata alia masih menatap penasaran adegan yang sedang terjadi di hadapannya, mulutnya memang diam, namun tidak dengan tatapan matanya.
"Maaf pak bara...silahkan duduk" pinta alia setelah melihat pria itu tak kunjung duduk,
"Terima kasih, alia" sahut bara dan duduk dengan sopan.
"Silahkan pak" ujar narida meletakkan 2 gelas teh hangat di atas meja, dan duduk di sisi alia.
Mata alia hanya mengamati gerak-gerik sahabatnya itu, sementara pria tampan dengan wajah aristokrat yang duduk di hadapan alia, menggapai gelas teh yang berada di hadapannya. Ia menyesap teh hangat itu dan menghirup aroma tehnya, terlihat wajah senyum puas di wajahnya menikmati teh buatan narida.
"Sebenarnya, bagaimana kalian bisa bersama pak bara?" Tanya alia masih dengan raut wajah penasarannya, matanya bergantian mengamati nari dan bara yang baru saja meletakkan gelas tehnya.
Pria itu menarik nafasnya sebelum akhirnya menjawab, sorot matanya masih terlihat malu.
"Kami berjumpa di swalayan tadi, saya melihat luka sedang makan dengan seorang wanita yang bukan ibunya, saya hampiri karena penasaran, ehh ternyata saya mengenal bu narida" Jelas bara singkat namun jelas, terlihat narida menganggukkan kepalanya.
"Saya nggak menyangka loh, pak bara masih mengenal saya" kata nari terdengar kagum.
"Padahal saya hanya wakil manager di perusahaan cabang milik keluarga bapak" sambungnya tersenyum kagum dengan menunjukkan kedua ibu jarinya.
Terdengar tawa bara yang renyah, alia sampai tertegun menatap wajah pria yang sedang tertawa itu. Entah mengapa pak bara, pria itu selalu terlihat berbeda jika tidak dalam keadaan formal, ia terlihat lebih manusiawi dan hangat.
"Ehhh..dek..udah mau maghrib, aku harus pulang, takutnya ludwig nanti kecarian" pamit narida beranjak dari duduknya.
"Pak bara, saya pamit dulu." Ujar narida sopan pamit ke bara yang juga ikut berdiri sopan,
"Bentar yah pak, saya temani nari keluar dulu" ujar alia meminta ijin, bara dengan cepat mengangguk dengan senyum manisnya.
"Dek...aku lihat pak bara sangat menyukaimu, dan beliau juga sangat dekat dengan luka" bisik nari pelan seraya melangkah perlahan ke arah taksi yang dipesannya.
Alia menghela nafasnya berat, ada gundah di mata indahnya itu.
" bagaimana aku bisa menerima perasaan pak bara, nari. Sementara dia adalah kakaknya langit" keluh alia dengan lesu,
"Aku tidak mau terlibat dengan apapun yang berhubungan dengan langit"
Mata alia terlihat meredup, narida menatap pilu, helaan berat juga keluar dari mulutnya.
"Tapi mereka berbeda, dek. Aku berharap kamu bisa berpikir jernih"
Kata-kata narida masih terngiang-ngiang di benak alia, ia masih berdiri menatap taksi yang membawa narida hilang di tikungan.
"Alia..."
Panggilan bara membuat alia tersentak, ia membalikkan tubuhnya, pria di hadapannya itu berdiri di ambang pintu, alia berjalan menghampiri bara yang masih berdiri.
"Tadi pagi, saya ingin pamit. Besok pagi saya harus kembali ke jakarta" ucap bara memulai pembicaraan yang sejak pagi ingin ia sampaikan.
"Saya tahu permintaan saya sedikit mendesak kamu, kali ini saya hanya minta tolong pertimbangkan perasaan saya alia. Saya serius menyukai kamu, berpikirlah sepuas dan selama yang kamu inginkan, nanti saya akan datang kemari lagi, untuk mendengar jawaban kamu"
Alia hanya menatap bara, ia tahu bara berbeda dengan langit, namun alia benar-benar tidak ingin terlibat lagi dengan segala hal yang berhubungan dengan langit.
Alia tidak menjawab, ia tidak ingin memberikan harapan kepada pria baik itu, bara masih menatap ke arahnya menanti jawaban, namun teriakan luka dan pelukan bocah tampan itu di kaki jenjang bara, memecah fokus mereka.
"Besok-besok, oom main ke mari lagi yah!, biar luka bisa pamer ama teman-teman kalau luka punya ayah" pinta bocah itu menengadahkan kepalanya menatap bara dengan tatapan penuh harapan.
Mulut alia terperangah mendengar ucapan putranya, sementara bara tertawa senang sembari mengangkat tubuh luka dalam gendongannya.
"Siap..pak komandan" sahut bara singkat.
Bersamaan tawa riang bara dan luka terdengar indah di sore itu.
Bersambung...