NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: LAGU YANG DITERUSKAN

Musim hujan berlangsung lebih lama tahun itu. Tapi bukan hujan yang membuat tanah basah tapi air mata yang akhirnya keluar setelah lama tertahan. Setelah surat-surat Maya terbaca, seolah sumbat emosi yang selama ini menahan segalanya akhirnya copot.

Bima menangis di pangkuan Laras suatu sore. Tangisan yang tidak terkontrol, seperti banjir yang meluap setelah bendungan jebol.

"Aku... aku marah pada Mama," bisiknya di antara isakan. "Marah karena dia meninggalkan kita. Marah karena dia sakit. Marah... karena dia tidak berjuang lebih keras."

Laras hanya membelainya. "Boleh marah, Sayang. Marah itu bagian dari cinta."

"Tapi aku juga cinta Mama."

"Cinta dan marah bisa hidup bersama. Seperti hujan dan matahari. Bergantian."

Kinan, yang mendengar dari kamarnya, keluar dengan mata merah. "Adek juga marah. Marah karena Mama nggak ingat Adek sebelum pergi."

Aku memeluk mereka berdua. Dan untuk pertama kalinya, aku juga mengakui: "Om juga marah. Marah pada takdir. Marah pada penyakit. Marah... karena tidak bisa melakukan lebih."

Pengakuan itu membebaskan. Seperti kami akhirnya diizinkan menjadi manusia bukan pahlawan yang selalu kuat, bukan keluarga sempurna yang selalu tabah, tapi hanya manusia yang terluka dan mencoba sembuh.

---

Tapi penyembuhan datang dengan caranya sendiri seringkali melalui jalan yang tidak terduga.

Suatu pagi, Alika putri Laras membawa buku lagu dari sekolahnya. Dan di halaman tertentu, ada lagu yang membuat Kinan terpaku.

"Ini... lagu Mama," bisiknya.

"Lagu apa?" tanya Laras.

"Lagu yang Mama nyanyi waktu Adek kecil. Tentang bulan dan bintang."

Alika tersenyum. "Ibu guru ajari kita. Katanya lagu dari Sulawesi."

Laras memandangiku, lalu mengambil gitar kecil peninggalan suaminya yang jarang disentuh. "Aku bisa mainkan. Ibu dulu guru musik."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak Maya meninggal, lagu itu kembali hidup. Laras memainkan gitarnya, Kinan menyanyikan liriknya, Bima ikut bersenandung, Aisyah tertawa riang.

Suara mereka tidak sempurna. Tapi indah. Karena membawa Maya kembali bukan sebagai hantu yang menyedihkan, tapi sebagai melodi yang hidup melalui anak-anaknya.

Setelah lagu selesai, Kinan berkata: "Seperti Mama masih di sini."

"Karena musik adalah ingatan yang hidup," kata Laras. "Setiap kali kita menyanyikannya, dia hidup lagi."

Bima mengangguk. "Boleh kita buat album? Kumpulan lagu-lagu Mama? Biar tidak terlupakan."

Ide itu tumbuh menjadi proyek keluarga. Setiap malam, kami berkumpul. Laras dengan gitarnya. Kinan dengan suaranya. Bima mencatat lirik. Aku dan Aisyah sebagai pendengar setia.

Kami kumpulkan semua lagu yang pernah dinyanyikan Maya: lagu pengantar tidur, lagu permainan, lagu daerah yang diajarkan ibunya, bahkan lagu pop yang sering dia nyanyikan sambil masak.

Dan dalam proses itu, sesuatu yang ajaib terjadi: kami tidak hanya mengingat Maya. Kami menemukan bagian dari diri kami yang selama ini terpendam.

---

Proyek album membawa perubahan lain: Rangga, yang mendengar tentangnya, menawarkan bantuan.

"Perusahaan kami punya studio rekaman kecil," katanya. "Bisa kita gunakan. Gratis."

Awalnya ragu. Tapi Bima mendorong. "Papa bisa ikut nyanyi. Kan Papa dulu juga suka nyanyi bareng Mama."

Rangga terkejut. "Kamu ingat?"

"Iya. Waktu Adek Kinan masih bayi. Papa dan Mama nyanyi bareng di teras."

Kenangan itu yang selama ini terkubur di bawah tumpukan kenangan buruk kembali hidup. Dan dengan itu, datanglah pengampunan.

Di studio, Rangga berdiri di depan mikrofon, gugup. Laras memainkan intro. Dan ketika Rangga mulai menyanyi suaranya dalam, emosional semua yang hadir terdiam.

Dia menyanyikan lagu pernikahan mereka. Lagu yang tidak pernah lagi dinyanyikan setelah pernikahan rusak. Tapi sekarang, dinyanyikan lagi bukan sebagai pengakuan cinta, tapi sebagai penghormatan pada sejarah.

Setelah selesai, Rangga menangis. "Aku tidak pernah meminta maaf padanya. Tidak pernah bilang bahwa aku menyesal."

"Tapi sekarang Mama tahu," kata Kinan, memegang tangan ayahnya. "Dari surga."

Mungkin memang begitu cara pengampunan bekerja: tidak selalu datang sebelum kematian. Kadang datang setelahnya, melalui tindakan, melalui nyanyian, melalui penerusan warisan.

---

Album selesai dalam dua bulan. Dua belas lagu. Dua belas cerita. Kami buat dalam bentuk CD sederhana dengan sampul gambar Kinan: keluarga kami dengan Maya sebagai cahaya di tengah.

Kami bagikan ke keluarga besar. Ke teman-teman. Ke sekolah anak-anak. Dan responsnya di luar dugaan.

Guru Kinan menangis saat mendengarnya. "Suara Kinan... seperti suara ibunya."

Tetangga yang dulu sering menggosipkan kami datang minta maaf. "Kami tidak tahu... betapa beratnya."

Bahkan Bu Tari, psikolog Kinan, meminta izin menggunakan album itu dalam terapi anak-anak lain yang kehilangan orang tua.

Tapi efek terbesar ada pada kami sendiri.

Malam pertama setelah album selesai, kami putar di rumah. Lampu dimatikan. Hanya cahaya lilin. Dan ketika lagu pertama mengudara lagu pengantar tidur Maya untuk Aisyah, yang sekarang dua setengah tahun, berkata dengan jelas: "Mama."

Kami semua terkejut. Karena Aisyah tidak pernah benar-benar mengenal Maya. Tapi mungkin, melalui lagu, dia mengenali ibunya.

"Mama nyanyi," lanjut Aisyah, tersenyum.

Dan dalam senyum itu, ada sesuatu yang utuh. Seperti puzzle keluarga kami yang selama ini kehilangan satu keping, akhirnya menemukan penggantinya bukan keping yang sama, tapi keping yang cocok.

---

Album itu juga menjadi jembatan terakhir antara masa lalu dan masa depan.

Suatu sore, Laras dan aku duduk di teras sementara anak-anak bermain di halaman.

"Raka," mulanya, suara serius. "Aku sudah pikirkan panjang."

"Apa?"

"Aku mau menikah dengan kamu."

Aku terkejut. "Kamu... yakin?"

"Yakin. Tapi dengan syarat."

"Syarat apa?"

"Bahwa kita tidak melupakan Maya. Bahwa album itu akan kami putar di pernikahan kita. Bahwa anak-anak akan tetap bebas bicara tentang ibunya. Bahwa... bahwa cintaku padamu tidak akan pernah menggantikan cintamu padanya, hanya menemani."

Air mata menggenang di mataku. "Kamu tidak takut hidup dalam bayang-bayang?"

"Tidak. Karena bayang-bayang itu yang membuatmu menjadi dirimu sekarang. Dan aku mencintai dirimu sekarang."

Itu mungkin tawaran terindah yang pernah kuterima. Bukan tawaran untuk melupakan, tapi untuk mengingat bersama. Bukan tawaran untuk mengganti, tapi untuk melengkapi.

"Aku perlu tanya anak-anak," jawabku.

"Tentu."

---

Malam itu, kami adakan rapat keluarga. Aisyah masih terlalu kecil, jadi yang memutuskan terutama Bima dan Kinan.

"Bagaimana perasaan kalian kalau Om menikah dengan Bu Laras?" tanyaku.

Bima diam sejenak. "Aku... senang. Tapi aku mau Bu Laras tahu: aku akan selalu sayang Mama."

"Dan dia tahu itu," kataku.

"Kalau gitu, aku setuju. Karena Bu Laras baik. Dan Alika seperti saudara."

Kinan lebih emosional. "Adek mau Bu Laras jadi ibu kita? Bukan ganti Mama, tapi... ibu tambahan?"

"Ibu tambahan," konfirmasi Laras yang ikut duduk. "Seperti guru tambahan di sekolah. Mama tetap guru utamanya."

Kinan tersenyum. "Kalau gitu boleh. Tapi Adek mau satu hal."

"Apa?"

"Di pernikahan, kita nyanyi lagu dari album. Dan... dan kita kasih kursi kosong untuk Mama. Biar dia lihat dari surga."

Permintaan yang sederhana. Tapi penuh makna. Kursi kosong itu bukan simbol kesedihan, tapi simbol kehadiran. Simbol bahwa Maya tetap diundang. Tetap bagian dari keluarga. Tetap diingat.

"Janji," kata Laras, memegang tangan Kinan. "Kursi paling depan untuk Mama Maya."

---

Pernikahan itu sederhana. Di rumah, dengan keluarga dan beberapa teman dekat. Seperti pernikahanku dengan Maya dulu, hanya lebih kecil, lebih tenang, lebih... dewasa.

Di depan, seperti janji, ada kursi kosong dengan bunga matahari bunga kesukaan Maya. Dan di atas kursi itu, album CD kami.

Upacara berjalan lancar. Tapi puncaknya adalah ketika, sesuai permintaan Kinan, kami semua menyanyikan lagu dari album. Lagu tentang bulan dan bintang lagu pertama yang diajarkan Maya pada Kinan.

Laras memainkan gitar. Rangga ikut menyanyi. Bima dan Kinan menyanyikan vokal utama. Aku memegang Aisyah yang ikut bersenandung.

Dan di tengah lagu, angin bertiup pelan, menggerakkan bunga matahari di kursi kosong itu. Seperti persetujuan. Seperti restu.

Setelah lagu selesai, Kinan berbisik: "Mama senang, Om. Adek bisa rasakan."

Mungkin memang begitu. Mungkin Maya, dari mana pun dia sekarang, senang melihat keluarganya tidak terperangkap dalam kesedihan. Senang melihat anak-anaknya tetap bernyanyi. Senang melihat cinta tetap hidup, meski dalam bentuk berbeda.

---

Malam pertama sebagai suami-istri yang baru, Laras dan aku duduk di kamar yang sama tapi berbeda. Karena kami memutuskan: kamar Maya tetap seperti adanya. Kami tidak akan tidur di sana. Itu akan menjadi ruang kenangan. Tempat album, surat-surat, foto-foto. Tempat anak-anak bisa datang ketika rindu.

"Tidak keberatan?" tanyaku.

"Justru aku menghormati itu," jawab Laras. "Karena dengan menghormati masa lalumu, aku menghormati dirimu."

Itulah kunci segalanya, akhirnya: penghormatan. Bukan penggantian. Bukan pelupaan. Tapi penghormatan pada apa yang telah terjadi, sambil membangun apa yang akan datang.

---

Bulan-bulan berikutnya adalah masa penyesuaian. Laras dan Alika pindah ke rumah kami. Kamar Bima dibagi untuk Alika. Kinan senang punya "saudara perempuan" baru.

Tidak selalu mudah. Ada malam ketika Kinan terbangun dan mencari Laras, bukan aku. Ada hari ketika Bima marah karena aturan baru dari Laras. Ada saat ketika aku sendiri bingung antara masa lalu dan masa kini.

Tapi seperti lagu dalam album kami: ada nada naik, ada nada turun. Yang penting melodi tetap berjalan.

Dan melodi itu indah. Karena dibuat dari banyak suara: suara Maya dari kenangan, suara Laras dari kenyataan, suara anak-anak dari masa depan.

---

Suatu hari, setahun setelah pernikahan, Kinan membuat gambar baru: keluarga besar. Ada aku, Laras, Bima, Kinan, Aisyah, Alika. Dan di atas kami, seperti malaikat pelindung, Maya dan ayah Alika.

"Dua keluarga jadi satu," jelasnya. "Karena kehilangan menyatukan kita."

Benar. Kehilangan Maya menyatukan kami dengan Rangga dalam cara baru. Kehilangan suami Laras menyatukan kami dengan ceritanya. Dan dari semua kehilangan itu, tumbuh keluarga baru lebih besar, lebih kompleks, tapi lebih kaya.

Album lagu Maya sekarang punya volume kedua: lagu-lagu baru yang dibuat bersama Laras. Lagu tentang keluarga gabungan. Lagu tentang bunga di retakan. Lagu tentang cinta kedua yang tidak kurang indahnya dari cinta pertama, hanya berbeda.

Dan setiap kali kami menyanyikannya, kami ingat: hidup ini seperti lagu.

Ada stanza yang sedih.

Ada refrain yang riang.

Ada bridge yang menegangkan.

Dan ada coda yang penuh harapan.

Tapi yang terpenting: lagu itu terus berlanjut.

Meski penyanyi berganti.

Meski instrumen berubah.

Melodi tetap hidup.

Seperti cinta.

Seperti keluarga.

Seperti ingatan.

Selalu berlanjut.

Selalu hidup.

Selalu... dinyanyikan.

END

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!