Nando menatap tubuh sang istri yang terbaring dengan tubuh penuh nanah dan tidak pernah berhenti merintih, sudah dua bulan ini Yuli terus aja menderita dengan rasa sakit begitu panjang dan ini semua tidak tahu datang dari mana.
Yuli adalah wanita yang tipe tidak pernah keluar rumah untuk urusan jalan-jalan atau yang membuang waktu, dia hanya diam di rumah dengan penampilan sederhana serta tidak banyak bertingkah namun mendadak saja sekarang jadi sakit seperti itu dan kabar beredar bahwa dia sedang di santet.
Siapa kah yang sudah menyantet Yuli?
Benarkah bahwa Yuli memang terkena santet?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Berdebat
"Kemana ya kok bau Sadewa ini bisa menghilang?" Maharani masih sibuk mencari kesana kemari.
"Apa mereka masuk alam ghaib ya? kan kata Purnama juga bahwa wanita itu sedang di rawat dalam rumah sakit ini." ujar Nilam yang masih tengah duduk santai di atas meja resepsionis.
"Aku malah takut kalau tadi kita salah masuk ruangan." lirih Maharani.
"Dewa ini bau dia agak kurang kuat karena telah berubah menjadi manusia." ujar Nilam ya memang bau Sadewa telah berkurang.
"Sialan, datang ke kota tapi malah kita di buat bingung seperti ini karena tidak berhasil bertemu dengan dia!" kesal Maharani karena mereka tak kunjung ketemu dengan Sadewa.
Nilam masih diam saja karena dia sedang berpikir agar bisa bertemu dengan Sadewa dan melihat bagaimana keadaan wanita yang sedang menderita karena santet itu, bila memang nanti bisa disembuhkan maka mereka pasti akan berusaha keras untuk menolong Yuli dari gangguan sihir atau bahkan dengan nama lain yaitu santet.
Kadang mereka juga harus berusaha keras karena tidak semua hal bisa terasa begitu mudah ketika sedang menjalani pekerjaan seperti ini, ada kesengsaraan atau bahkan resiko mereka akan musnah juga ada tapi para member tidak putus asa dan terus berusaha untuk menolong para manusia yang memang membutuhkan bantuan mereka semua.
Ini lah salah satu alasan yang kadang membuat mereka mudah emosi ketika sedang menolong orang namun malah mendengar perkataan yang tidak enak dari manusia lain sehingga emosi langsung meledak begitu saja, padahal mereka sudah berusaha keras agar bisa membantu namun tetap ada yang tidak tahu terima kasih dan mencela mereka semua.
Kegagalan saat sedang berjuang menolong itu adalah hal yang wajar dan para member ingin semua manusia memaklumi hal itu karena mereka juga membutuhkan usaha, namun kadang saat gagal untuk pertama kali mereka langsung di hujat begitu saja tanpa memikirkan bahwa ini semua harus di lakukan dengan sangat gesit dan juga lincah tanpa ada cela sama sekali.
"Pena dia bagus jadi mau aku ambil saja." Nilam meraih pena.
"Jangan banyak tingkah, ini kita saja masih belum tahu tentang lawan." bentak Maharani.
"Yang santai gitu kenapa sih, kau kok terlihat panik gitu?" Nilam saja sampai heran.
"Aku kasihan dengan wanita itu dan sebenarnya aku juga punya firasat yang tidak enak." jawab Maharani.
"Yang santai saja seperti biasa karena kita juga akan berusaha untuk membantu." nasihat Nilam yang sedang waras.
"Sebab aku merasa ini sedikit rumit, tapi hanya perasaan ku saja karena belum tau secara pasti." ujar Maharani sambil menatap sekitar rumah sakit.
"Hahaaaa ada hantu dari desa, ih dandan nya pasti sengaja di buat lebay begitu." kuntilanak rumah sakit mengejek mereka.
"Eh bangsat itu mengejek kita kah karena kita dari desa?" Nilam langsung kesal karena di tunjuk seperti itu.
"Ya pasti lah, dia pasti geli melihat rambut mu yang warna merah wine itu." sahut Maharani.
Nilam tidak berpikir dua kali sehingga dia langsung menghampiri kuntilanak yang tadi habis mengejek dia begitu saja, padahal tadi Nilam sama sekali tidak ada mengisi kuntilanak lain karena dia ingin fokus dengan pekerjaan ini tapi ternyata masih ada saja yang usil dengan mereka berdua di rumah sakit ini.
Kuntilanak yang tadi habis mengejek hanya terlihat diam saja karena dia yakin merasa lebih tinggi atau bahkan lebih unggul dari Maharani dan juga Nilam, ternyata di dalam dunia hantu juga ada saling mengejek ketika ada yang baru datang dari desa seperti ini sehingga dia tadi langsung terkeluar begitu saja omongan yang sangat menyakitkan hati.
Nilam ini sangat pantang di ejek sehingga dia tidak terima dan langsung menghampiri begitu saja, sebab dia merasa tadi sama sekali tidak ada usil kepada arwah lain tapi malah mendadak saja kuntilanak itu datang dan mengejek mereka sebagai arwah yang lebay karena baru saja datang dari desa.
Aduh alamat gelut dulu ini, kenapa lah kuntilanak tadi kok pakai bicara seperti itu." Maharani bangkit untuk mendekati juga.
"Siapa yang kau katai lebay karena datang dari desa?!" Nilam menatap penuh amarah.
"Tentu saja kau, mana ada arwah lebay di kota besar ini." sahut kuntilanak.
"Sialan, mati mu di tabrak kuda saja banyak tingkah!" Nilam kembali menghina.
"Heh sopan kah kah bicara soal kematian seseorang, dalam rumah sakit ini banyak orang yang berjuang untuk rasa sakit." bentak kuntilanak.
"Wahai kuntilanak yang mati di pijak kuda dan tidak lebay, apa kau tidak sadar kalau ucapan mu juga sangat sengit?!" Maharani membuka suara.
"Alamak yang ini malah warna biru pula rambut nya." kuntilanak itu tambah kaget lagi.
"Urusan mu apa kalau rambut yang ada di kepala ku ini berwarna biru atau hijau? aku saja tidak ada berkata tentang kaki mu yang bengkok ini." Nilam langsung menyerang secara fisik saja.
Kuntilanak kota segera menutup kaki dia yang bengkok menggunakan gaun putih itu agar tidak bisa dilihat lagi oleh mereka berdua, tadi dia tidak menyangka bahwa mental yang dimiliki oleh para arwah dari desa ini begitu kuat sehingga ketika dia selesai berbicara maka langsung didatangi begitu saja tanpa berpikir kedua kali.
Salah dia sendiri karena berani mencari masalah kepada dua gendeng yang tidak pernah memberi iba kepada orang yang sudah menghina mereka, jangankan kepada arwah yang sudah pernah menghina mereka seperti ini, bahkan kadang arwah yang sedang diam saja mereka datang untuk membully dan mengatakan bahwa mereka adalah kuntilanak yang terdepan.
Ini sedang duduk anteng dan membicarakan tentang kasus mereka malah mendadak saja kena hina seperti ini sehingga sudah pasti rasa tidak terima muncul begitu saja di hati duo gendeng, memang mereka menyukai rambut yang berwarna seperti ini dan Untung saja bukan warna pelangi karena biasanya mereka kan aku kalah dengan yang kelap-kelip.
"Kau adalah gundik yang dapat karma, kau mati di pijak kuda karena sedang menemani gadun mu itu!" sengit Nilam.
"Astaga dia tau semua nya." kuntilanak kota semakin kena mental.
"Kami jelas lebih baik karena kami tidak pernah jadi simpanan, kami punya suami yang tampan dan juga mapan!" imbuh Maharani.
"Tetap saja kalian adalah orang yang norak, aku yakin ini semua hasil operasi plastik!" kuntilanak kota menunjuk wajah mereka.
Baru saja Maharani akan menjawab tapi bau tubuh Sadewa kembali tercium di hidung mereka berdua sehingga mereka langsung saling pandang dan mencari asal bau itu, namun mereka juga agak heran karena bau Dewa malah bercampur dengan bau gosong yang sangat menyengat seperti ini.
Selamat siang menjelang sore, jangan lupa like dan komen nya ya guys.
alamaaaak .... terlambat sedikit lagi pasti Niko akan mati Krn racun dr kaki seribu itu 😱😱
benar kn feeling ku kalau si Dukun itu belum mati walaupun sdh di tusuk lehernya sama pedang nya Bagas 😱😱
hantu baju hitam salah sasaran tuh 🤣🤣
apalagi si Kunti Hitam / gosong kn sempat mengejek si Dukun itu setelah Bagas pergi bawa Dewa
masih memikirkan nasib nya Niko ini yg ada di dalam sumur 😱
aku bisa membayangkan kesedihan nya Yudith 😔
kasian niko kena racun di kaki