Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Maut & Lele Goreng
Matahari sore di Jakarta sedang cantik-cantiknya, memancarkan semburat jingga keunguan yang memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit. Tapi keindahan itu tidak terasa di meja kerjaku. Tumpukan faktur sudah habis kukerjakan (terima kasih, Chrono, mode auto-pilot-mu penyelamat hidupku), tapi ada satu benda asing yang tergeletak di atas keyboard komputerku.
Sebuah amplop hitam doff dengan aksen emas yang elegan. Di tengahnya, tertera namaku yang ditulis dengan tinta emas kaligrafi indah: Sifa Adistia.
Jantungku berdegup kencang. Amplop ini terlihat terlalu mahal untuk berada di meja admin gudang yang penuh debu ini.
Dengan tangan gemetar, aku membukanya. Aroma kertas mahal menyeruak.
“Kepada Yth. Saudari Sifa Adistia,
Atas permintaan Bapak CEO Adi Pratama, Anda diundang secara khusus untuk menghadiri Malam Puncak Golden Anniversary NVT Group ke-50.
Hari/Tanggal: Sabtu, 20 Oktober
Tempat: Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski
Dresscode: Black Tie / Evening Gown”
Mulutku menganga. Undangan khusus? Dari Mas Adi?
Darahku berdesir panas naik ke wajah. Bayangan kejadian kemarin saat Mas Adi memuji intuisiku berputar ulang di otakku seperti film romantis. Apa ini artinya dia... dia benar-benar memperhatikanku? Apa dia ingin aku ada di sana?
"Ya ampun... aku diundang ke Kempinski..." gumamku lirih, mataku berkaca-kaca. Seumur hidup, masuk hotel bintang lima cuma bisa kulihat di sinetron. Dan sekarang aku diundang, oleh CEO-nya langsung!
"Hmm. Menarik," suara Chrono tiba-tiba memecah lamunan indahku. Nadanya datar, tidak antusias sama sekali.
"Kenapa, Chrono? Kamu nggak ikut seneng?" bisikku sambil mengelus undangan itu. "Ini kesempatan langka lho. Aku bisa ketemu Mas Adi lagi."
"Jangan keburu baper, Nona," kata Chrono tajam. "Coba lo scan barcode di pojok undangan itu pake kamera gue. Sekarang."
Aku mengerutkan kening. "Buat apa? Ini kan undangan resmi."
"Lakuin aja. Kecuali lo mau dateng ke sana terus diusir satpam karena undangannya bodong."
Kata-kata "bodong" membuatku tersentak. Dengan ragu, aku mengangkat pergelangan tanganku, mengarahkan sensor kecil di samping jam ke arah barcode emas di undangan itu.
BIP!
Layar hologram kecil muncul di udara, hanya bisa dilihat olehku.
[ANALYZING DATA... QR CODE INVALID.]
[ORIGIN: PRINTER PRIBADI - IP ADDRESS 192.168.1.XX (RANA ADIWANGSA'S LAPTOP)]
[TIME CREATED: YESTERDAY, 23:45 PM]
Duniaku runtuh seketika. Harapan yang tadi melambung tinggi, langsung dihempaskan keras ke tanah.
Undangan ini palsu.
Dibuat oleh Rana.
Jam dua belas malam kemarin.
Air mata yang tadi karena haru, kini berubah menjadi air mata kecewa. Sakit. Sakit sekali rasanya dipermainkan perasaannya seperti ini. Mereka tahu aku naksir Mas Adi (siapa sih yang nggak naksir?), dan mereka pakai itu buat mancing aku.
"Jahat..." desisku pelan, meremas ujung amplop itu hingga kusut. "Kenapa mereka nggak bisa biarin aku hidup tenang sehari aja?"
"Tunggu, gue lagi nge-tap ke mikrofon HP Rana. Gue retrieve rekaman percakapan mereka semalam di kamar," lanjut Chrono.
Dalam hitungan detik, suara rekaman jernih terdengar di telingaku via bone conduction. Suara Rana dan Rani yang tertawa jahat.
"...Kita bakal bikin dia malu karena baju jelek... Kita masukin kalung berlian Mama ke tasnya... Tuduh dia maling... Mas Adi bakal jijik..."
Setiap kata mereka seperti tusukan jarum beracun. Mereka bukan cuma mau mempermalukanku. Mereka mau menjebakku jadi kriminal. Mencuri kalung berlian? Itu bisa bikin aku dipenjara! Ibu gimana kalau aku dipenjara?
Aku terduduk lemas di kursi. Wajahku pucat pasi.
"Rencana yang cukup ambisius buat dua amuba otak udang itu," komentar Chrono sinis. "Mereka mau main drama Cinderella versi horor. Lo mau gimana, Fa? Mau nangis di pojokan, robek undangan ini, terus kabur?"
Aku menatap undangan palsu itu. Menatap nama Mas Adi yang dicatut di sana. Amarah perlahan membakar rasa takutku. Mereka keterlaluan. Mereka mau menghancurkan hidupku dan masa depan Ibu demi kepuasan ego mereka.
Aku menghapus air mataku kasar. Tidak. Aku nggak boleh nangis. Sifa yang cengeng harus "mati" hari ini.
"Nggak, Chrono," jawabku dingin. "Kalau aku nggak datang, mereka menang. Mereka bakal ngetawain aku sebagai pengecut. Dan mereka pasti bakal bikin rencana lain yang lebih jahat."
"Terus?"
"Aku bakal datang," kataku mantap. "Tapi aku nggak bakal datang sebagai tikus yang siap dijebak. Aku bakal datang sebagai tamu kehormatan."
"Wow. Gue suka gaya lo. Terus soal jebakan kalung berlian itu?"
"Kita punya waktu seminggu, kan?" Aku tersenyum tipis, senyum yang belum pernah kusunggingkan sebelumnya. "Kamu kan AI super canggih. Kamu pasti bisa bantu aku menghindari jebakan itu... dan membalikkannya ke mereka."
"Oh, tentu saja. Gue bisa manipulasi CCTV, gue bisa deteksi logam mulia dari radius 50 meter. Mereka mau main jebakan? Kita kasih mereka perangkap tikus raksasa."
Aku menyimpan undangan palsu itu baik-baik ke dalam tas. Ini bukan lagi undangan pesta. Ini adalah tiket perang.
Jam lima sore. Aku keluar kantor dengan perasaan campur aduk; marah, takut, tapi juga bersemangat.
Di depan gedung, aku memesan ojek online. Bukan taksi, apalagi mobil pribadi. Cuma ojek motor bebek biasa.
"Mbak Sifa ya?" tanya abang ojeknya ramah.
"Iya, Mas. Ke Pasar Ikan Muara Angke dulu ya sebentar, baru pulang," pintaku.
Aku mampir ke pasar sore yang becek dan bau amis. Kontras sekali dengan kemewahan undangan tadi. Di sini, orang-orang berteriak menawar harga ikan asin, lalat beterbangan, dan kucing liar mengeong di bawah meja lapak.
Tapi di sinilah realitasku.
Aku membeli satu kilo ikan lele segar dan seikat kangkung.
"Tumben beli banyak, Neng?" tanya ibu penjual ikan.
"Iya, Bu. Mau syukuran kecil-kecilan," jawabku sambil tersenyum. Syukuran karena aku selamat dari rencana jahat Rana—setidaknya untuk hari ini. Dan syukuran karena aku punya teman baru yang setia di pergelangan tanganku.
Sepanjang perjalanan pulang naik ojek, angin sore menerpa wajahku. Aku memeluk bungkusan plastik hitam berisi lele yang bergerak-gerak. Baunya amis, tapi bagiku ini bau kehidupan.
"Lo tau nggak, di masa depan, ikan air tawar udah punah. Manusia makan pil protein," celoteh Chrono tiba-tiba, berusaha mencairkan keteganganku.
"Kasihan banget orang masa depan," balasku dalam hati. "Nggak bisa ngerasain nikmatnya pecel lele pake sambal terasi."
Sampai di rumah, Ibu menyambutku dengan wajah cemas.
"Nduk, kok tumben jam segini baru sampe? Macet ya?"
"Iya, Bu. Tadi mampir pasar dulu," aku mengangkat bungkusan plastik tinggi-tinggi. "Malam ini kita makan enak, Bu! Lele goreng sama tumis kangkung!"
Mata Ibu berbinar. Sederhana sekali cara membuat Ibu bahagia. Cukup dengan ikan lele seharga dua puluh ribu.
Malam itu, dapur kecil kami penuh asap dan aroma bawang putih yang ditumis. Suara minyak mendesis saat aku menggoreng lele adalah musik yang menenangkan. Ibu duduk di kursi kayu reyot, membantuku memetik kangkung.
"Fa..." panggil Ibu pelan. "Ibu denger tadi tetangga bilang, kamu dapet undangan pesta kantor ya? Yang di hotel mewah itu?"
Berita cepat sekali menyebar di gang sempit ini. Mungkin ada tetangga yang kerja cleaning service di NVT juga.
Aku terdiam sejenak, membalik ikan di wajan. "Iya, Bu. Tapi Sifa bingung... Sifa kan nggak punya baju bagus."
Aku tidak menceritakan soal undangan palsu atau rencana jahat Rana. Ibu nggak boleh tahu. Jantungnya nggak akan kuat.
Ibu tersenyum lembut, meletakkan baskom kangkung. Dia berjalan tertatih ke lemari pakaian tua di kamar.
"Sebentar ya, Nduk."
Tak lama kemudian, Ibu keluar membawa sebuah kebaya encim tua berwarna putih tulang dengan bordiran bunga halus. Kainnya sudah agak menipis, tapi masih terlihat sangat terawat dan bersih. Bau kapur barus menyeruak.
"Ini kebaya nikahan Ibu dulu," kata Ibu, matanya menerawang. "Dulu Nenekmu yang jahit sendiri. Masih bagus kok. Modelnya klasik, nggak ketinggalan jaman. Kalau kamu pake ini, pasti cantik kayak bidadari."
Aku menatap kebaya itu. Sederhana. Sangat sederhana jika dibandingkan dengan gaun-gaun Dior atau Chanel yang pasti akan dipakai Rana dan Rani. Kalau aku pakai ini ke Black Tie event, aku pasti akan terlihat aneh. Terlihat miskin.
Tapi melihat mata Ibu yang penuh harap dan bangga... hatiku luluh.
"Bagus banget, Bu..." suaraku serak menahan tangis. "Sifa mau pake ini."
Ibu memelukku. Hangat. Bau minyak angin dan kasih sayang. "Anak Ibu pasti jadi yang paling cantik. Bukan karena bajunya mahal, tapi karena hatinya baik. Orang yang hatinya baik, auranya bakal bersinar, Nduk. Ngalahin berlian manapun."
Kata-kata Ibu menohokku. Berlian.
Rana mau menjebakku dengan berlian curian. Tapi aku punya "berlian" yang lebih berharga: doa Ibu dan kebaya warisan penuh cinta ini.
Malam itu, kami makan lele goreng dengan lahap. Sambalnya pedas nendang, bikin keringat bercucuran.
Setelah Ibu tidur, aku duduk di teras rumah, menatap langit malam yang mendung. Chrono menyala redup.
"Chrono," bisikku. "Rencana Rana mau bikin aku malu karena baju jelek. Tapi aku bakal pake kebaya Ibu. Menurutmu gimana?"
"Secara fashion, lo bakal out of place. Tapi secara strategi psikologis? Itu brilian," jawab Chrono.
"Maksudnya?"
"Semua cewek di sana bakal pake gaun malam buatan desainer yang mirip-mirip. Pasaran. Kalau lo pake kebaya vintage, lo bakal stand out. Lo bakal beda. Dan asal lo tau, Adi Pratama itu tipe cowok nasionalis. Gue baca profilnya, dia suka banget sama budaya lokal. Lo pake kebaya itu, lo menang telak di mata dia."
Aku tersenyum lebar. Ternyata keputusanku benar.
"Dan soal kalung berlian itu..." lanjut Chrono, "Gue udah punya ide gila. Gimana kalau kita bikin kalung itu 'jalan-jalan' sendiri ke tempat yang nggak terduga?"
"Ke mana?"
"Ke tas pemilik aslinya. Atau lebih seru lagi... ke saku jas Tuan Adiwangsa pas dia lagi pidato anti-korupsi?"
Aku tertawa kecil. Tawa yang jahat tapi puas. "Kamu nakal banget, Chrono."
"Belajar dari User-nya dong."
Malam semakin larut. Di rumah sempit ini, dengan perut kenyang makan lele dan hati yang penuh tekad, aku merasa siap.
Tunggu aku, Pesta Golden Anniversary.
Tunggu aku, Rana, Rani.
Cinderella dari Gang Senggol siap datang. Bukan dengan kereta kencana, tapi dengan ojek online dan jam tangan AI. Dan dia tidak akan pulang sebelum tengah malam. Dia akan pulang sebagai pemenang.
semangat kakak