setelah tiga tahun menjalani rumah tangga bersama dengan Amran, Zahira tetap tidak bisa membuat lelaki itu mencintainya. Amran selalu memperlakukan Zahira dengan sangat kejam. Seakan Zahira adalah barang yang tidak berguna.
sebaik apapun hal yang sudah Zahira lakukan, selalu saja tidak bernilai dan kurang di mata Amran.
" aku ingin bercerai!" ucap Zahira dengan lugas. meskipun tanganya mengepal kuat, namun semua itu adalah refleksi dirinya agar kuat dan tidak goyah dengan rayuan Amran.
" memangnya kau bisa apa setelah bercerai dariku?" Amran selalu bisa menghina Zahira dan melukai harga diri wanita itu.
Amran membuang wanita itu dan Zahira bertekad untuk tidak memberikan kesempatan bagi Amran. Lelaki yang tidak bisa lepas dari hutang budinya pada wanita lain, tidak akan Zahira pikirkan lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lafratabassum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Mereka dengan sigap langsung mendekati nyonya dan menawarkan menu apa yang di inginkan Zahira.
" aku sedang tidak berselera. Kalian siapkan saja air hangat untukku mandi" jawab Zahira tidak bersemangat. Wanita itu sama sekali tidak mengeluh, dia tampak tidak keberatan dengan kepulangannya.
Padahal sebenarnya dia sedang tidak mau berargumen. Kepulangannya ini tidak akan bisa mengubah keputusan nya untuk meminta cerai pada Amran.
Sedangkan Amran sejak tadi tidak banyak berbicara. Dia sudah sedikit lega karena Zahira yang bersedia kembali bersama dengan dirinya.
Bahkan saat malamnya pun Zahira tetap bersedia tidur di ranjang mereka. Tidak seperti kebanyakan wanita yang Amran tau. Zahira seakan kembali menjadi nyonya Renaldi.
Amran melihat Zahira yang sudah terbaring menyamping di atas ranjang. Dia memutuskan untuk untuk bergabung dengan Zahira. Sudah hampir sebulan mereka tidak saling bersama.
Awalnya dia hanya ikut berbaring saja, namun beberapa saat setelahnya tangannya mulai merayap masuk mencari celah memeluk pinggang istrinya.
Di rasa tak ada penolakan, membuat Amran semakin berani. Tubuhnya bahkan semakin rapat dan mencium rambut Zahira.
" apa kamu sedang menginginkannya Amran?" suara Zahira terdengar datar.
Amran tidak menjawab, dia terlalu asyik dengan aktivitas yang sudah sangat dia rindukan.
Zahira memutuskan untuk membalik badannya menatap Amran. Dia juga beranjak duduk sambil menatap dalam ke arah Amran.
Kini padangan mereka saling bertemu, sayangnya Amran menatapnya dengan penuh tanya.
Zahira perlahan menurunkan tali gaunnya. Membuat Amran mengernyit sambil menahan nafsunya.
Hingga penampilan Zahira hanya menyisakan baju dalam hitam saja.
" bukankah kamu menginginkan nya? Lakukanlah dengan cepat. Aku sedang tidak berselera"
Seharusnya saat mengatakan hal ini, wanita harus memberikan raut wajah yang menggoda dan penuh sensual.
Berbeda dengan Zahira, raut wajahnya benar-benar tanpa emosi. Bahkan cenderung kesal.
" apa kamu pikir pernikahan ini hanya tentang ini Zahira? Aku bukan lelaki yang seperti itu?" Amran merasa tidak terima. Dia merasa bukan lelaki yang haus dengan kenikmatan.
" jadi kamu tidak mau, kalau begitu tidurlah dengan tenang"
Balas Zahira dan kini kembali berbaring sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Dia masih lelah untuk berargumen. Wanita itu hanya berharap agar pagi segera datang dan dia bisa memiliki alasan untuk pergi dari sini.
Amran tidak terima, dia memeluk Zahira dari belakang. Mendadak dia kembali teringat dengan nasehat ibunya soal Zahira yang mungkin salah paham dengan Amel.
" Zahira, selama ini mungkin aku selalu memaksamu saat melakukannya. Aku pikir kamu juga menikmatinya. Namun beberapa hari ini aku berfikir, kalau aku terlalu egois. Sekarang aku tidak ingin kehilangan mu. Aku ingin memiliki anak dengan mu Zahira. Namun yang lebih penting adalah aku bisa menerima cinta mu lagi... "
Jelas ini bukankah ucapan tulus dari hati Amran. Dia sedang menyusun rencana agar bisa membuka hati Zahira. Karena mana mungkin Amran mengais cinta dari seorang wanita.
Namun yang dia herankan mulut nya dengan lancar mengucapkan semua itu. Apa mungkin dia terlalu larut dalam sandiwara sampai terlihat mendalami.
" Zahira, untuk kedepannya. Aku berjanji akan lebih memperhatikan Arfan dan keluarga Malik. Aku akan lebih mementingkan mu.. " lanjut Amran.
" kamu pikir semua ini hanya tentang itu Amran? Lalu bagaimana dengan Amel? " Zahira kembali terpancing. Dia sudah tidak kuasa memendam nama ini dalam perdebatan mereka. Akhirnya Alasan besar yang membuat Zahira berani meminta cerai di ketahui oleh Amran.
Tadi sewaktu Amran mengatakan jika menginginkan anak darinya. Sungguh dia begitu senang. Hatinya bergetar dan semacam ada kupu-kupu terbang.
Namun saat kembali menyinggung Arfan. Zahira malah kecewa.
Amran terdiam lama. Lelaki tampak berpikir keras. Ternyata benar apa yang ibunya katakan. Zahira cemburu dengan kedekatan nya dengan Amel
" jadi ini tentang dia, Kalau begitu aku tidak akan menemuinya lagi"
Terlihat begitu mudah dikatakan. Kalimat itu mengalun pelan seakan waktu berhenti sejenak. Zahira bahkan seperti sedang mengalami gangguan pendengaran. Apa benar Amran mengatakan jika dia tidak akan menemui Amel lagi.
Kenapa selama ini susah sekali mendengar kalimat ini. Apa memang harus dengan cara meminta cerai dulu baru membuat Lelaki ini sadar.
untuk memastikan nya, Zahira membalikkan badannya menatap tepat ke arah mata Amran. Mencari kebohongan yang mungkin di sembunyikan lelaki itu.
" aku benar Zahira. Aku ingin kita kembali bersama. menjadi keluarga yang utuh dengan anak-anak kita" Amran kembali menggugah pendirian Zahira.
Kalimat ini adalah kalimat termanis yang Amran ucapkan padanya selama 3 tahun kebersamaan mereka. Rasanya tidak percaya bisa mendengar kalimat ini langsung dari mulut Amran Renaldi.
Amran merasa berbangga hati, melihat Zahira yang tertegun menatap. Membuat nya yakin jika kali ini Zahira juga akan luluh padanya. Amran tidak perlu bersusah payah lagi membuat wanita ini kembali padanya.
Amran tidak kuasa menerima tatapan dalam dari Zahira. Terlalu mengganggu nuraninya. Akhirnya Amran membawa Zahira ke dalam pelukan nya. menempelkan kepala istri ke dadanya.
" mau ya?. aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi. dan aku juga sudah siap memiliki anak denganmu Zahira" Amran kembali mengulang tentang anak. Zahira benar -benar tergugah.
Wanita itu mengangguk pelan. Dia menerima Amran kembali. Mungkin inilah kesempatan kedua untuk pernikahan mereka.
Pergerakan kepala Zahira yang mengangguk itu, dengan cepat membuat Amran bersenang hati. Dia sangat puas dan lega. Zahira nya akan kembali menjadi nyonya Renaldi yang patuh.