Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASAKAN SANG RATU
11:00 AM. Dapur Lantai Atas, Analogue Heart.
Dapur itu biasanya adalah wilayah kekuasaan Raka. Sejak mereka menetap di Yunani, Raka telah mengubah disiplin militernya menjadi ketelitian kuliner. Ia memotong bawang dengan presisi milimeter, mengatur suhu oven seakurat koordinat satelit, dan menjaga kebersihan meja dapur seperti area steril di laboratorium.
Namun pagi ini, Liana mengumumkan sebuah "kudeta".
"Raka, kau dilarang masuk ke dapur sampai jam makan siang," deklarasi Liana dengan celemek bunga-buku yang terikat miring di pinggangnya. "Aku akan memasak Moussaka tradisional. Ibu Kostas sudah memberiku resep rahasianya. Kau selalu mengurusku, sekarang giliran Ratu-mu yang memberimu makan."
Raka berdiri di ambang pintu, menyilangkan tangan di depan dada dengan rahang yang menahan tawa. "Li, terakhir kali kau mencoba merebus telur di pangkalan Maladewa, kau hampir memicu alarm kebakaran karena airnya habis menguap."
Liana melemparkan serbet ke arah wajah Raka, yang ditangkap pria itu dengan refleks kilat. "Itu dulu! Sekarang aku punya motivasi. Dan tolong, singkirkan tatapan analisis risiko-mu itu. Keluar!"
Raka akhirnya menyerah, mengangkat tangan tanda menyerah, dan turun ke toko buku untuk merapikan stok novel misteri. Namun, telinganya yang sudah dilatih untuk mendengar suara jatuhnya pin dari jarak seratus meter tetap siaga.
Sepuluh menit berlalu.
Prang! (Suara tutup panci jatuh).
Dua puluh menit berlalu.
"Aduh! Sialan, panas!" (Suara Liana mengumpal pelan).
Tiga puluh menit berlalu.
Bau sesuatu yang tajam bukan wangi rempah, melainkan aroma gosong yang halus mulai merayap turun melalui tangga kayu.
Raka mencoba bertahan. Ia berpura-pura sibuk memindahkan buku-buku Tolstoy, namun saat ia mendengar suara Liana menghela napas panjang yang terdengar sangat frustrasi, pertahanannya runtuh. Ia naik ke atas dengan langkah kaki yang sengaja diperberat agar tidak mengejutkan istrinya.
Apa yang ia temukan di dapur adalah sebuah "zona perang" kuliner. Tepung bertebaran di lantai seperti bedak sisa ledakan. Saus tomat memercik di dinding putih bersih yang baru dicat bulan lalu. Dan di tengah-tengah itu semua, Liana berdiri dengan bahu yang merosot, menatap sebuah loyang berisi terong yang menghitam di bagian pinggir dan saus béchamel yang menggumpal aneh.
Liana tidak menoleh saat Raka masuk. Ia hanya menunduk, tangannya yang memegang spatula sedikit bergetar.
"Li?" panggil Raka lembut.
"Jangan tertawa," bisik Liana. Suaranya pecah. "Jangan berani-berani tertawa, Raka."
Raka mendekat, mengabaikan noda tepung di lantai yang biasanya akan membuatnya segera mengambil pel. Ia berdiri di belakang Liana, menyentuh pundaknya. "Aku tidak tertawa, Sayang."
Liana berbalik, dan Raka terkejut melihat matanya merah berkaca-kaca. Ada noda saus di pipinya dan tepung di keningnya. "Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang normal, Raka! Aku ingin menjadi istri yang bisa memasak makan siang yang enak setelah semua yang kita lalui. Tapi lihat ini... aku bahkan tidak bisa mengikuti resep sederhana tanpa merusaknya. Aku merasa... tidak berguna."
Raka menarik spatula dari tangan Liana dan meletakkannya di meja. Ia menarik Liana ke dalam pelukannya, mengabaikan celemeknya yang kotor akan mengotori kemeja birunya.
"Dengar aku," kata Raka, suaranya rendah dan sangat emosional. "Kau adalah wanita yang bisa meretas satelit keamanan tingkat tinggi dalam tiga menit di bawah hujan peluru. Kau adalah orang yang menjaga kesadaranku tetap utuh saat kita membeku di Arktik. Loyang terong yang gosong ini tidak akan mengubah fakta itu."
Liana menyembunyikan wajahnya di dada Raka, terisak kecil. "Tapi aku ingin memberikanmu kenyamanan, Raka. Aku ingin kita punya kenangan tentang bau masakan rumah, bukan hanya bau oli senjata dan pelitur rak buku."
Raka menjauhkan sedikit tubuhnya, menghapus noda tepung di kening Liana dengan ibu jarinya. "Kenyamananku bukan ada pada rasanya Moussaka ini, Li. Kenyamananku ada pada fakta bahwa kau ada di sini, di dapur ini, mencoba merusak peralatan masaku. Itu adalah kemewahan yang dulu tidak pernah berani aku impikan."
Raka mengambil sedikit saus yang menggumpal dengan jarinya dan mencicipinya. Ia mengernyit sedikit, lalu tersenyum manis. "Sedikit terlalu banyak garam, tapi kejunya terasa enak. Kita bisa menyelamatkan bagian tengahnya."
Liana tertawa di sela tangisnya, memukul dada Raka pelan. "Kau pembohong yang buruk, Kapten."
"Aku serius," Raka mengecup hidung Liana yang terkena tepung. "Sekarang, ganti strateginya. Ini bukan lagi misi solo. Ini operasi gabungan. Aku akan mengurus sausnya, kau urus bagian menyusun lapisannya. Bagaimana?"
Mereka mulai bekerja bersama. Raka dengan cekatan membersihkan meja sementara Liana memotong bagian yang gosong. Suasana yang tadinya tegang dan sedih perlahan berubah menjadi cair. Mereka saling menggoda, melempar tepung secara tidak sengaja, dan tertawa saat Raka mencoba mengajari Liana teknik memotong bawang yang benar.
Saat loyang baru masuk ke dalam oven, dapur kembali tenang. Aroma yang keluar kali ini benar-benar harum campuran kayu manis, daging domba, dan keju yang meleleh.
Liana bersandar di meja dapur, memperhatikan Raka yang sedang mengelap wastafel. "Kau tahu, Raka... terkadang aku merasa kita terlalu berusaha untuk menjadi normal. Sampai kita lupa kalau kita memang berbeda."
Raka berhenti mengelap, ia menatap Liana dengan tatapan yang dalam. "Normal itu membosankan, Li. Aku lebih suka kita yang seperti ini. Berantakan, penuh bekas luka, tapi nyata."
Raka berjalan mendekat, mengurung Liana di antara meja dapur dan tubuhnya. Sisa adrenalin dari "perang dapur" tadi berubah menjadi gairah yang panas dan intim. Ia mencium leher Liana, menghirup aroma campuran antara parfum vanila dan rempah masakan.
"Raka... makanannya sedang di oven..." desah Liana, jemarinya meremas bahu Raka.
"Masih ada tiga puluh menit," gumam Raka di bibir Liana. "Cukup waktu untuk menunjukkan padamu betapa aku sangat menghargai usahamu pagi ini."
Ciuman Raka kali ini terasa lebih dalam, penuh dengan rasa terima kasih yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Di atas meja dapur yang masih menyisakan jejak tepung, di tengah kekacauan yang mereka buat sendiri, mereka kembali menyatu. Gairah mereka adalah cara mereka merayakan hidup bahwa kegagalan kecil seperti masakan gosong adalah sebuah berkah, karena itu berarti mereka punya masalah "orang normal" untuk diselesaikan.
Sentuhan Raka yang biasanya protektif kini terasa menuntut, sementara Liana menyambutnya dengan keberanian yang liar. Di dapur yang berantakan itu, mereka menciptakan memori baru yang jauh lebih kuat daripada resep apa pun. Kenangan tentang rasa lapar yang bukan karena kekurangan makanan, tapi karena rasa cinta yang tak pernah kenyang.
Satu jam kemudian, mereka duduk di meja makan kecil di teras, menghadap ke laut. Moussaka hasil operasi gabungan itu terhidang di tengah meja. Rasanya tidak sempurna, ada beberapa bagian yang terlalu matang, tapi bagi mereka, itu adalah hidangan bintang lima.
"Untuk masakan paling berantakan yang pernah ada," Liana mengangkat gelas anggurnya.
Raka mendentingkan gelasnya dengan milik Liana. "Untuk istriku yang paling berantakan, paling jenius, dan paling kucintai."
Saat mereka makan, Bimo tiba-tiba muncul di tangga, hidungnya kembang kempis menghirup aroma udara. "Wah! Sepertinya ada yang habis melakukan serangan udara di dapur, tapi aromanya sukses besar! Sisakan sedikit untuk saudaramu yang malang ini!"
Liana tertawa lepas, ia menarik kursi untuk Bimo. "Duduklah, Bim. Tapi kau yang cuci piring. Itu hukuman karena mengganggu momen kami."
Raka hanya tersenyum, menyuapkan potongan terong terakhir ke mulutnya. Ia menatap Liana yang sedang tertawa bersama Bimo, dan ia menyadari satu hal: masakan yang berantakan, lantai yang penuh tepung, dan air mata karena gagal mengikuti resep... itulah arti "pulang" yang sesungguhnya.