Ceraikan Aku, Mas!
“ Zahira, adik kamu.. dia .. pingsan lagi. Sekarang mama sudah berada di rumah sakit, tapi mama tidak memiliki biaya. Apa kamu bisa membawakannya?”
Panggilan itu seketika membuat Zahira dilema. Zahira terkejut karena terakhir kali kondisi Arfan baik-baik saja. Kenapa bisa drop lagi.
Sayangnya bukan hanya berita kambuhnya penyakit adiknya yang membuat Zahira cemas. Melainkan permintaan ibunya yang meminta uang lagi.
“.. Zahira.. kau dengar mama?”
Panggilan itu belum terputus, Zahira terdiam beberapa saat, tidak tau bagaimana harus menjawabnya.
Zahira menarik nafas Panjang sebelum menjawab dengan suara gamang “ i.. iya ma. Akan aku usahakan”
“ segera datang ya, adikmu harus segera di tangani” timpal Rani dan langsung menutup panggilan.
Tangan kecil itu turun dengan masih menggenggam benda pipih. Saat ini dia memang berstatus sebagai nyonya Renaldi. Suaminya adalah pengusaha sukses dengan berbagai kantor cabang yang tersebar luas.
Tidak sulit jika dirinya memang mendapatkan hak sebagaimana orang lain pikirkan tentang status istri Renaldi. Sayangnya tidak. Kehidupan rumah tangga Zahira sulit untuk di jelaskan.
Tidak ada pilihan lain, Zahira segera menghubungi sang suami. Beberapa panggilan tidak terjawab. Hingga saat panggilan ke sekian kalinya terdengar sautan dari sebrang.
“… bukankah aku sudah mengatakan jika ada keperluan hubungi saja Sekertaris Erisa..”
Panggilan langsung terputus. Bersamaan dengan air mata Zahira yang juga ikut turun.
Belum juga Zahira mengucapkan satu katapun, suaminya sudah menolak dan memutus panggilan secara sepihak.
Menepis sejenak rasa marah dan kecewanya, Zahira segera menghubungi Sekertaris Erisa.
Sama seperti sebelumnya, panggilan pertama tidak terjawab. Barulah setelah beberapa kali panggilan itu di angkat.
“ hallo nyonya. Ada urusan apa nyonya Zahira?”
“ aku.. aku sedang membutuhkan uang malam ini, bisakah kau…”
Belum juga menyelesaiakn kalimatnya, sekertaris Erisa langsung memotong dengan nada tegas “ nyonya,.. harus berapa kali saya jelaskan. Jika nyonya membutuhkan uang haruslah berdasarkan persetujuan dari Tuan. Apakah anda tidak mengeti juga nyonya?“
Zahira di landa rasa tidak terima dan marah. namun saat ini bukan waktunya dia bertengkar dengan sekertaris suaminya ini. Ada hal penting yang harus Zahira lakukan.
“ tapi situasi saat ini..”
“ nyonya, saya tetap tidak bisa membantu anda tanpa persetujuan dari tuan Amran. Nyonya bisa langsung menghubungi tuan, dan uang yang anda inginkan baru bisa di cairkan”
“ tap…”
Panggilan di tutup.
Zahira menatap kosong layar ponselnya yang mati, lalu berganti pandangan ke lantai dengan pandangan sendu. Harga dirinya tidaklah penting di sini. Dialah satu-satnya harapan untuk kesembuhan sang adik.
Zahira tidak sekuat itu. Tubuhnya tidak sanggup menopang, Zahira terduduk di samping ranjang dengan kakinya menekuk. Meringkuk kedinginan atas sikap suaminya yang acuh. Langit sore terlihat indah dari jedela kamarnya. Namun tetap tak bisa menghiasi hidupnya.
Tangannya terulur berusaha menggapai langit senja, sesaat setelahnya pandangannya teralihkan dan tertuju pada benda kecil mengkilat, cincin berlian yang bertengger di jari manisnya. Begitu bersinar dan … terlihat mahal.
Zahira menyadari jika inilah satu-satunya harta yang bisa dia gunakan tanpa memerlukan persetujuan siapapun. Cincin pernikahannya dengan Amran, dia berhak melakukan apapun pada cincin ini.
Zahira akhirnya beranjak, dia akan menjual cincin pernikahannya. Zahira berfikir jika memang ini jalan satu-satunya yang dia miliki, terlepas apakah nanti akan menimbulkan masalah, Zahira tidak terlalu memusingkan.
Setelah menghapus air matanya, Zahira segera meninggalkan villa besar milik Amran Renaldi, suami yang sudah menikahinya selama 3 tahun ini.
“ .. Zahira akhirnya kau datang,..” mama Rani tersenyum senang setelah melihat kedatangan anak perempuannya.
Dengan segera meminta Zahira untuk melunasi semua biaya pengobatan agar Arfan bisa segera mendapat penanganan khusus.
Malam ini Zahira tidak kembali ke Villa, wanita itu memilih menemani Arfan di rumah sakit Bersama dengan Rani. Lagipula Amra juga tidak akan pulang, dia baru mendapatkan informasi jika Amran sudah berada di kota Kalaya.
Sengaja menepis atas rasa keingintahunya, karena Zahira tau betul Kota Kalaya adalah kota dimana Amel berada. Wanita yang di rumorkan sedang dekat dengan suaminya karena hutang balas jasa.
Saat Arfan sudah tertidur kini di dalam kamar itu tinggal Rani dan Zahira yang masih terjaga.
“ ma, .. aku akan meminta cerai pada Amran”
Terdengar ada rasa putus asa dari kalimat yang Zahira katakan. Tentu saja Rani amat kaget mendengar penuturan Zahira.
“ kau tau kan, adikmu masih membutuhkan biaya yang banyak. Hanya keluarga Renaldi yang bisa menolong kita. Apa susahnya menjadi istri Amran?!”
Dengan tanpa simpati sedikitpun Rani malah mengkhawatirkan kehidupan Arfan daripada Zahira.
Padahal keduanya sama-sama anak kandungnya!.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments