"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ada pilihan lain
"Bu Ara, apakah Anda yakin dengan apa yang Anda katakan? Dokter Yasmin adalah salah satu dokter terbaik di negara ini, dan saya sudah bekerja bersama beliau selama lima tahun. Saya tidak bisa percaya Dokter Yasmin tega melakukan hal seperti itu." Dokter Tyas mengernyitkan dahinya dengan tatapan yang penuh kebingungan.
"Saya yakin dengan apa yang saya lihat, Dokter!" Ara meningkatkan suaranya sedikit, membuat dirinya merasa sedikit pusing akibat gerakan yang terlalu cepat.
"Dokter Yasmin membenci saya karena saya hamil anak dari Dokter Jacob, anak yang dia idam-idamkan selama ini tapi tidak bisa dia dapatkan. Dia pasti sengaja mendorong saya agar saya kehilangan anak ini!" lirih Ara. Dokter Tyas menutup mulutnya yang menganga, apa yang Ara katakan sulit untuk dipercaya.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dengan sedikit keras dan Jacob memasuki ruangan dengan wajah penuh khawatir. Kemejanya sedikit kusut dan rambutnya tampak acak-acakan seolah dia datang dengan tergesa-gesa. Dia langsung mendekati tempat tidur Ara, meraih tangannya yang menggenggam seprai dengan lembut namun erat.
"Ara, tenang saja. Aku sudah bicara dengan Dokter Tyas, keadaanmu sudah membaik sekarang. Tapi kenapa kamu terlihat begitu marah?" Ujar Dokter Jacob dengan suara menenangkan, meskipun wajahnya menunjukkan betapa khawatirnya Dia.
"Bu Ara tidak mau ditangani oleh Dokter Yasmin, Dokter Jacob," jelas Dokter Tyas dengan sopan.
"Bu Ara menyatakan bahwa Dokter Yasmin adalah orang yang telah mendorongnya dari atas tangga dan Dia takut Dokter Yasmin akan melakukan hal jahat lagi padanya." Adu Dokter Tyas. Tangannya terkepal erat, karena merasakan sakit yang Dokter Yasmin rasakan.
Setelah melihat Dokter Jacob begitu peduli pada Ara, Dokter Tyas semakin yakin kalau Ara memang mengandung anak dari pria itu.
"Ara, itu tidak mungkin. Yasmin adalah istriku, aku sudah mengenalnya selama lima belas tahun, sebelum kami menikah. Membunuh semut saja Yasmin tidak akan tega, apalagi menyakiti orang lain, apalagi seorang wanita hamil. Kamu pasti salah melihat saja, Ara. Mungkin karena kondisi kamu yang lemah saat itu, pandanganmu jadi kabur dan kamu salah menilai sosok yang kamu lihat." Jacob mendengus pelan, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya.
"Aku tidak salah melihat, Dokter Jacob!" Ara menarik tangannya dari genggaman ayah dari janin yang Ia kandung dengan sedikit kasar.
"Aku melihat wajah orang itu dengan jelas, orang itu adalah Dokter Yasmin! Dia selalu memandangku dengan tatapan penuh kebencian setiap kali bertemu. Dia bilang sendiri bahwa anak yang aku kandung adalah pencuri hak waris keluarga Anderson!" Ucap Ara dengan wajah penuh kesedihan namun meyakinkan.
"Benarkah Yasmin berkata seperti itu? Jadi Yasmin sudah tahu kalau kau sedang mengandung anakku?" Jacob sedikit meningkatkan suaranya, kemudian menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Yasmin memang kecewa karena tidak bisa punya anak sendiri, tapi dia tidak pernah menyalahkan kamu atau anak kita. Bahkan dia yang pertama kali menyarankan agar kita membawa kamu ke rumah sakit ini karena dia tahu fasilitasnya lengkap dan dokter-dokter kandungannya kompeten. Bahkan Yasmin juga bersedia membantu merawatmu selama kau dirawat jika diperlukan. Aku rasa Yasmin senang karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ibu meski anak itu tidak lahir dari rahimnya sendiri." Dokter Jacob menerka-nerka.
Melihat ekspresi Yasmin yang bersikap biasa saja walaupun sudah mengetahui Ara sedang hamil anaknya, membuat Dokter Jacob yakin kalau Yasmin juga sangat mengharapkan kehadiran anak ini dan bisa memaafkan kesalahannya yang telah mendua.
"Aku tidak percaya!" Ara menggeliat di tempat tidurnya, membuat perawat Sri yang berdiri di belakang segera mendekat untuk menenangkannya.
"Aku tidak akan pernah mau ditangani oleh Dokter Yasmin! Lebih baik aku pindah rumah sakit saja daripada harus dirawat oleh Dokter Yasmin yang ingin membunuh anakku!" Ara terus membantah. Tidak mungkin Ia mau dirawat oleh orang yang telah ia fitnah habis-habisan. Cari mati namanya.
"Dokter Tyas, bukankah kau dan Yasmin bersahabat cukup lama. Tolong jelaskan pada Ara betapa pentingnya perawatan yang akan diberikan oleh Yasmin, anak dalam kandungan Ara adalah harapan kami satu-satunya." kata Jacob sambil menghadap Dokter Tyas dengan tatapan meminta bantuan.
"Baiklah." Dokter Tyas mengangguk kecil. Walaupun Dokter Tyas tidak tahu kebenarannya, tapi menyelamatkan nyawa pasien lebih penting.
"Bu Ara, saya mengerti kekhawatiran Anda, namun kondisi kandungan Anda sangat lemah dan membutuhkan perawatan intensif. Jika Anda menolak perawatan dari Dokter Yasmin, saya khawatir saya tidak bisa memberikan perawatan yang maksimal karena kemampuan saya tidak secakap Dokter Yasmin. Selain itu, kasus seperti ini membutuhkan keahlian khusus yang hanya dimiliki oleh Dokter Yasmin di rumah sakit ini. Jika Anda memutuskan untuk pindah rumah sakit, proses pemindahan bisa membahayakan kondisi Anda dan janin, terutama karena jalan raya ke rumah sakit lain yang memiliki spesialis serupa macet dan bisa memakan waktu lama." Ujar Dokter Tyas dengan suara penuh empati.
Ara terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca antara rasa takut yang mendalam pada Dokter Yasmin dan keinginan kuat untuk melindungi anak di dalam kandungannya. Bayangan saat Dia memfitnah Dokter Yasmin telah mendorongnya hingga terjatuh dari tangga masih jelas terngiang di benaknya. Ara takut Dokter Yasmin akan balas dendam. Balas dendam karena telah merebut suaminya, juga karena telah memfitnahnya.
Jacob meraih tangan Ara kembali dengan lembut, mencium punggung tangannya dengan penuh kasih sayang.
"Ara, aku tidak akan pernah memaksamu melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman. Tapi untuk kebaikan kamu dan anak kita, tolong pikirkan lagi. Yasmin sudah bersedia bertemu denganmu dan menjelaskan segala sesuatunya jika kamu mau. Dia bahkan bilang akan melakukan apa saja untuk membantu menyelamatkan anak kita." Ucap Dokter Jacob dengan nada meyakinkan.
Ara menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan pikiran yang sedang berantakan. Di satu sisi, dia takut akan apa yang mungkin dilakukan Dokter Yasmin padanya. Di sisi lain, dia tidak bisa membayangkan kehilangan anak satu-satunya yang dia miliki. Anak yang akan menjadi pintu gerbang bagi dirinya memasuki hati Dokter Jacob. Dan mungkin saja kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali.
Bersambung...