Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.
Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.
Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.
Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁
Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Aku Tidak Perduli.
Andrea menelan ludahnya dengan kasar. Ia dan Arthur tak berjarak. Pria itu memeluk pinggangnya dengan erat.
“Arth, lepaskan aku.” Gadis itu memberontak. Ia berusaha mendorong tubuh Arthur.
Namun, pria itu justru semakin mengeratkan tangannya pada pinggang gadis itu.
“Arth, nanti ada yang masuk.”
“Tidak ada yang berani masuk tanpa seijin ku.” Pria itu menatap lekat pada wajah gadis dalam dekapannya.
‘Apa yang telah kamu lakukan padaku, Rea? Kamu selalu saja menghantui pikiranku.’
“Arth, di depan ada mbak Dona.”
Satu tangan pria itu kemudian terulur, meraih ponselnya.
“Jangan ada yang masuk ke ruanganku.” Ucap pria itu saat panggilan telah tersambung. Dan tanpa menunggu jawaban, Arthur begitu saja memutus panggilan.
“Kamu mau kemana buru-buru?” Tanya Arthur kemudian.
“Audrey sedang menungguku di rumah.” Tukas Andrea.
Arthur mencebikan bibirnya. “Audrey tau, mama sekarang sedang bersama dengan papa.”
Andrea pun mendengus kesal.
“Kita harus bicara, Rea. Pernikahan tinggal tiga minggu lagi.” Ucap pria itu serius.
Andrea menghela nafas pelan. Ia pun menurut dan tak lagi memberontak.
“Apa aku boleh meminta sesuatu?” Tanya gadis itu kemudian.
Arthur mengangguk. Ia kemudian menyelipkan anak rambut di balik telinga gadis itu.
“Katakanlah.”
“Aku ingin, pernikahan ini hanya di hadiri keluarga. Dan di rahasiakan dari pihak hotel.”
Dahi Arthur berkerut mendengar permintaan calon istrinya itu.
“Apa maksudmu?”
“Mm, aku kan baru bekerja di hotel, jadi untuk sementara waktu, aku ingin pernikahan ini di rahasiakan. Aku tidak mau, orang-orang hotel, dan teman kerjaku mengira jika aku bekerja disana karena campur tangan dirimu. Ya, walau aku tau, kamu sudah pasti memiliki andil.” Ucap gadis itu panjang lebar.
Arthur menghela nafas pelan. Ia membuang pandangan ke arah lain.
“Apa tidak ada syarat lain?”
Kepala Andrea menggeleng. “Atau kita batalkan saja. Aku akan menjelaskan lagi pada nyo—mama tentang kita. Lagi pula, kamu sudah memiliki kekasih. Aku tidak mau merusak hubungan kalian.”
“Siapa yang memiliki kekasih?” Tatapan pria itu mulai tak bersahabat.
“Mm, dirimu. Siapa lagi?” Andrea berucap polos.
“Tau darimana kamu?”
“Lalu nona Celine?”
Arthur mencebik. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Andrea.
“Bukannya sudah pernah aku katakan. Tidak semua yang kamu lihat itu adalah kenyataan yang sebenarnya.”
Andrea perlahan memundurkan wajahnya.
“Arth. Apa yang kamu lakukan?” Gadis itu memalingkan wajahnya, sehingga bibir Arthur berlabuh pada pipinya.
Pria itu pun berdecak kesal. Ia kemudian menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Namun tangannya masih setia memeluk pinggang Andrea.
“Arth. Bagiamana? Kamu setuju dengan permintaan ku, kan?” Tanya gadis itu lagi.
“Bicarakan saja dengan mama. Dia yang mempersiapkan semuanya.” Ucap pria itu kemudian.
Andrea pun mengangguk paham. Ia kemudian mencoba bangkit, karena pelukan Arthur di pinggangnya melemah.
“Arth.” Gadis itu menggerutu karena Arthur kembali mengeratkan tangannya.
“Arthur, mama bisa marah jika tau kita seperti ini.”
“Tidak ada mama disini.” Pria itu menarik satu kaki Andrea, sehingga gadis itu duduk menghadapnya.
“Kamu harus membayar cincin tadi.”
“Tapi aku tidak punya uang, Arth.”
“Kamu bisa membayar dengan yang lain.” Ucap Arthur dengan pandangan mata yang tertuju pad bibir gadis itu.
Hal itu tanpa sadar membuat Andrea menggigit bibir bawahnya.
“Jangan di gigit. Hanya aku yang boleh melakukannya.” Ucap Arthur yang kemudian menyatukan bibir mereka.
Seperti biasa, Andrea memberontak. Ia berusaha melepaskan diri, namun Arthur semakin menguasainya.
“Arth, nanti Mmhh ada yang datang.” Ucap Andrea di sela decapan yang pria itu lakukan.
Namun Arthur seolah tuli. Pria itu kini bahkan menekan tengkuk gadis itu semakin dalam.
Andrea pun akhirnya pasrah. Ia pun melingkarkan kedua tangan, pada leher Arthur.
Pagutan itu semakin dalam. Manik mata Arthur bahkan sampai terpejam menikmati rasa yang sangat memabukan.
‘Apa pria ini begitu menghayati?’
Andrea yang duduk menghadap ke arah jendela samping pintu masuk, tanpa sengaja melihat seulet seseorang di depan pintu.
“Arth, Mmhh ada Celine di depan.” Ucap gadis itu asal.
“Aku tidak perduli.”
Pria itu bahkan semakin berani, ia mengeksplor seluruh wajah Andrea.
“Arth, jangan meninggalkan jejak. Nanti mama curiga.” Ucap Andrea saat merasa Arthur menghisap lehernya.
“Kamu takut sekali dengan mama.”
“Aku hanya tidak mau dia semakin marah padaku.”
Arthur terkekeh. Ia kemudian kembali menyesap bibi Andrea.
“Arth.”
Bukan Andrea yang menyerukan namanya. Tetapi suara itu terdengar bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.
“Si-al.” Pria itu mengumpat.
Sementara, Andrea menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher pria itu.
Dengan tetap memangku Andrea, Arthur melihat kearah pintu.
Benar seperti yang di katakan Andrea, Celine sedang berdiri disana dengan mata yang hampir melompat keluar.
“Arth, apa yang kamu lakukan?” Wanita satu anak itu menatap tak percaya. Ini untuk pertama kalinya, ia melihat Arthur tak berjarak dengan seorang wanita.
“DONA!!”
Pria itu bukannya menjawab pertanyaan sang sahabat, justru menyerukan nama sekretarisnya dengan lantang.
Andrea yang masih setia menyembunyikan wajahnya pun sampai memejamkan mata.
“DONA.” Seru Arthur lagi.
Sekretaris yang di panggil namanya pun muncul dengan tergesa.
“I-iya, pak.” Dona bahkan melewati Celine begitu saja.
“Bukankah sudah aku katakan, jangan ada yang masuk ke ruanganku?” Arthur menggeram marah. Bukan karena Celine melihat apa yang ia dan Andrea lakukan. Tetapi, karena ada orang yang menganggu kegiatan menyenangkannya.
Dona menelan ludah kasar. Ia kemudian melirik ambang pintu. Celine berdiri disana dengan tatapan tak percaya.
“M-maafkan aku, pak. Tadi aku turun untuk mengambil laporan di bagian keuangan.”
Dona menundukan kepalanya. Ini untuk pertama kalinya Arthur mengamuk padanya.
“Arth..”
Mendengar langkah kaki mendekat, membuat Andrea semakin menyembunyikan wajahnya. Ia bahkan membuka kancing kemeja Arthur untuk menyembunyikan wajahnya.
“Arth, jangan biarkan Celine melihatku.” Bisik Andrea dalam dekapan Arthur.
Pria itu pun melindungi kepala Andrea dengan tangannya.
“Arth. Apa ini? Apa kamu benar Arthur?” Celine menggeleng tak percaya.
“Cel, tolong pergi dulu. Aku sedang tidak ingin membahas pekerjaan.”
Celine tersenyum getir. Selama ini, Arthur tidak pernah mengabaikannya, bahkan saat bersama mama atau mendiang adiknya. Tetapi, apa sekarang? Hanya karena seorang wanita yang ia tak tau siapa? Pria itu bahkan mengusir dirinya?
“Arth, aku tidak sedang membahas pekerjaan. Siapa gadis itu? Apa dia—
“Nanti kamu akan tau, Cel. Untuk saat ini, Silahkan kamu pergi dulu.” Arthur menghela nafasnya pelan.
“Dona, tolong antar Celine keluar. Lain kali, ingat perintahku. Terulang kembali, siap-siap tinggalkan mejamu.”
“Arth, jangan begitu.” Bisik Andrea merasa kasihan dengan Dona.
Dona menggelengkan kepala. Ia tak mau di pecat hanya karena lalai dalam menjalankan tugas.
“Maafkan aku, pak.”
Dona kemudian mendekati Celine.
“Mari, Bu. Saya antar keluar.”
“Aku menunggu penjelasan darimu, Arth.” Ucap Celine sebelum memutar tubuh menuju pintu.
Setelah pintu terdengar tertutup kembali. Andrea pun mengangkat wajahnya. Ia kemudian menarik dan membuang nafas berulang kali.
“Arth. Bagaimana ini? Celine bisa marah padamu. Kenapa kamu mengusirnya? Kenapa tidak mengejarnya?”
Arthur terkekeh mendengar pertanyaan calon istrinya.
Masih dengan menggendong gadis itu, Arthur kemudian bangkit dari duduknya.
“Arth, mau kemana? Turunkan aku. Aku berat, Arth.”
“Jangan banyak bicara, Rea.”
Pria itu membawa tubuh Andrea kedalam kamar pribadi yang terletak di dalam ruang kerjanya.
.
.
.
Bersambung.
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an