Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Baru Untuk Andini
"Rin, gimana? Kamu kok malah berdiri di sini?"
Seorang wanita paruh baya menepuk pelan pundak Rini yang terlonjak kaget. Dia ibu angkat Rini, Karmila. Wanita itu mengintip ke ruang tamu dan tersenyum tipis melihat keberadaan Arga dan suaminya.
"Aku gugup, Bu," aku Rini sambil tersenyum kikuk.
"Gugup kenapa? Lamaran Arga sudah pasti diterima," kata Karmila yakin.
Rini memeluk tangan ibunya. "Ih, Ibu... aku kan belum pernah deket sama pria manapun, jadi aku bingung harus bersikap kayak gimana sama Mas Arga. Takutnya dia ilfil," ujar Rini sambil cengengesan.
"Hualah kamu ini, jaim banget. Masa lawan preman aja berani, tibang ngadepin calon suami... cupu," ejek Karmila sambil mengibaskan tangan di depan wajah.
"Beda lah, Bu. Kalo lawan preman kan nggak pake perasaan," ucap Rini sembari menunduk menyembunyikan pipinya yang merona.
"Nenek, Bu bidan emangnya suka berantem sama preman?" tanya Andini yang sejak tadi menyimak pembicaraan kedua perempuan itu dengan tatapan polos.
Karmila tersenyum lebar sebelum menganggukkan kepala. "Bu bidan ini waktu kecil nggak ada gemes-gemesnya kayak kamu. Dia kayak laki-laki," sahutnya.
"Ih, Ibu... jangan dijelasin," rengek Rini sambil menggoyangkan lengan ibunya.
Karmila tertawa kecil. Ia menarik tangan Rini masuk ke ruangan. Kehadiran mereka langsung membuat ruangan yang sempat beku itu cair.
"Udahlah, Mas. Jangan suka bikin orang jantungan, terima aja langsung!"
Karmila duduk di sofa. Sementara Rini, memilih berdiri di belakang tubuh orangtuanya. Kalimatnya berhasil memecah ketegangan.
"Lagian anaknya juga sama-sama pada mau," lanjutnya.
Bagas tiba-tiba tertawa kecil. "Biar terasa formal aja, sayang," sahut Bagas.
Karmila yang dipanggil sayang, Rini dan Arga yang salah tingkah.
Karmila mengalihkan perhatian ke arah Arga. "Arga, Ibu nggak bakal kasih syarat apapun. Selama kamu bisa bahagiain Rini, kamu boleh nikahin dia. Cuma..." Ia menjeda kalimatnya.
"C-cuma apa, B...?"
Lidah Arga terasa kelu, ingin memanggil Ibu namun rasanya hubungan mereka saja belum afdol. Ia mencuri-curi pandang ke arah Rini yang menundukkan kepala.
"Cuma... Rini ini anaknya pecicilan. Andini nanti malah diajarin manjat sama dia," seloroh Karmila.
"Ibu...," protes Rini.
Tatapan Arga masih terkunci pada wajah memerah Rini. Ia tersenyum lebar, sebentar lagi akan memiliki dua wajah menggemaskan yang pasti bisa menghibur hatinya.
Rini menaikkan wajah, tatapannya bertemu beberapa saat dengan netra coklat Arga sebelum menundukkan kepala lagi.
"Astaghfirullah, dadaku rasanya sangat sakit," batinnya, merasakan jantung menghentakkan keras di dalam dadanya.
"Rini bukan gadis yang anggun, Arga. Tapi, meskipun begitu... dia bisa diandalkan. Bisa masak, dan mengurus pekerjaan rumah," lanjut Karmila, mengabaikan protes putrinya.
"Pekerjaan rumah tangga bisa dikerjakan sama-sama, Bu. Rini juga kan punya aktifitas, jadi saya nggak akan terlalu membebani dia sama tugas rumah," sahut Arga dengan lugas.
"Wah, bagus kalo kamu sudah berpikir ke arah sana, Arga. Berarti Rini memang nggak salah pilih suami," kata Karmila, sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Rini yang kembali dibuat salah tingkah.
"Sudahlah. Ibu dan Ayah percaya sama kamu, kami menerima lamaran kamu," ucap Karmila tanpa pikir panjang.
Baginya, asalkan Rini suka tidak akan menghalang-halangi.
"Rini, ayo... kita sajikan makan malamnya. Calon suami datang masa dibiarin kelaparan," goda Karmila.
Rini rasanya ingin menenggelamkan diri. Begitu juga Arga yang hampir saja melarikan diri karena perasaan malu bercampur dengan kegembiraan.
"Eh, sebentar...," sela Arga, menghentikan langkah kedua wanita itu.
"A-ada apa, Mas?" tanya Rini, menaikkan sedikit pandangan.
Arga merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah dompet kecil.
"Ini... hanya sebagai tanda saja."
Rini melirik ke arah ibunya yang memberi kode dengan anggukan kepala. Ia mendekat dan meraih dompet tersebut.
"Ayo, buka," bisik Karmila.
Rini membukanya dengan perlahan dan menemukan sebuah cincin emas yang memiliki tiga mata kecil. Ia tersenyum tipis, matanya berbinar cerah.
Meskipun bisa membeli sendiri, tapi dikasih seseorang yang spesial itu terasa istimewa.
"Makasih, Mas."
"Ayo, pake, Rin," perintah Karmila lagi. Dia begitu gemas karena putrinya itu lemot.
"Ah, atau pasangkan saja sama Arga," usul Karmila, yang mendadak membuat ruangan kembali gugup.
"Eh, aku pake sendiri!" seru Rini cepat memasang cincin itu di jari manisnya.
Ketiga pria di sana hanya tertawa kecil. Sementara Andini, dia nampak kebingungan sendiri.
"Jadi, sekarang Bu bidan udah jadi ibu baru Dini, Nek? Udah boleh dibawa pulang, kan?" tanya Andini dengan polos.
Semua orang tergelak mendengar ucapan Andini. Yang bersangkutan hanya tersenyum malu-malu.
"Belum dong. Kan belum nikah," jawab Karmila.
"Terus kapan nikahnya, Nek?"
"Nanti kita bicarakan lagi, ya. Sekarang makan dulu. Kamu pasti udah laper."
Andini mengangguk. Ia pergi ke dapur bersama dia perempuan itu, ikut membantu.
Selepas kepergian para wanita, Bagas kembali membuka suara, "Soal mantan istri kamu, Arga. Apa urusan kamu dengan dia sudah selesai?"
Arga membeku, wajahnya berubah serius.
"Saya ingin, kalian menikah sah di mata hukum dan agama," tuntut Bagas, ingin memastikan tidak ada masalah yang perlu di hadapi putrinya di masa depan.
"Soal itu... sejak lama saya sudah melaporkan ke KUA soal perceraian saya, Mas. Seharusnya surat cerai sudah keluar," jawab Arga mantap.
"Bagus. Kalo gitu, kita bisa langsung tentukan hari pernikahan kalian!" kata Bagas sambil tersenyum lebar.
Makan malam telah dihidangkan. Semua orang menikmati dengan perasaan bahagia dan hangat.
Tak terkecuali Andini yang paling excited, bercerita Arga dan Rini yang saling cinta dalam versinya. Membuat kedua calon pengantin itu gugup dan malu.
Keesokan pagi...
"Eh, bidan Rini. Mau ketemu Mas Arga, ya," sapa salah seorang warga yang kebetulan lewat rumah Arga dan melihat Rini baru turun dari motor.
"Iya, Mbak. Saya mau berangkat ke puskesmas, sekalian aja mau antar Andini ke sekolah," sahut Rini dengan ramah.
Dalam satu malam, kabar lamaran itu menyebar cepat ke segala penjuru desa.
"Bu bidan!" Andini muncul dari balik pintu dan sudah mengenakan seragam sekolah. Senyumannya lebar.
"Udah siap?" tanya Rini, dia mendekat sembari membawa rantang.
Andini mengangguk.
"Udah. Nunggu Ayah goreng telur dulu buat sarapan, Bu," sahut Andini.
Ia menarik tangan Rini, memintanya masuk. Namun, bidan itu menolak.
"Bu bidan di sini aja, Din. Nggak enak sama tetangga kalo masuk ke dalam," ucap Rini.
"Ini, Bu bidan bawain kalian sarapan. Makan ini aja, nggak perlu masak," lanjutnya sambil menyerahkan rantang itu.
Mata Andini berbinar. Ia segera menerima rantang itu. "Ayah! Ayah nggak usah goreng telur! Bu bidan bawain makanan!" seru Andini dari ambang pintu.
"Dini mau makan dulu ya, Bu bidan. Sebentar aja." Tanpa menunggu jawaban, gadis itu melesat masuk dengan penuh semangat.
Tak seberapa lama, Arga muncul. Dia mengulas senyuman tipis yang terlihat canggung pada Rini.
"Kenapa harus repot-repot bawa sarapan? Kamu kan harus segera berangkat kerja?" tanya Arga lalu duduk di ambang pintu.
"Sekalian aja, Mas. Aku juga mau antar Andini ke sekolah. Tadi malam udah janji," sahut Rini tanpa beban.
"Loh, Andini minta kamu antar dia?" tanya Arga terkejut.
Rini tertawa kecil. "Enggak. Aku yang janji mau antar dia."
"Oh... pantesan aja pagi ini dia bangun subuh-subuh dan semangat mandi. Biasanya harus dibujuk rayu dulu baru mau bangun," tutur Arga.
"Bu bidan, ayo!"
Andini datang dengan mulut masih penuh nasi.
"Telen dulu makanannya, Din. Kenapa buru-buru? Bu bidan nggak bakal ninggalin kok."
"Takut Bu bidan nunggu lama," jawab Andini dengan polos. Ia menelan makanannya cepat.
"Ck... biasanya kamu seneng bikin Ayah nunggu," ledek Arga.
Andini tertawa. "Itu kan Ayah. Andini sekarang anaknya Bu bidan." Ia menjulurkan lidah ke arah Arga.
Arga dengan gemas mencubit pipi putrinya yang langsung memekik dan pura-pura menangis.
"Sakit!" teriak Andini sambil mengusap pipi.
"Ayah jahat! Sakit banget pipi Dini!" keluhnya.
Arga mendelik horor. "Ayah pelan loh nyubitnya, Din."
Andini memeluk tubuh Rini. "Bu bidan, Ayah sering banget cubit pipi Dini. Padahal Dini kan nggak nakal," adunya.
Rini mengusap pipi Andini. "Udah, nggak usah nangis. Nanti Bu bidan marahin ayah kamu," kata Rini menenangkan.
Ia meraih sepatu Andini dan membantu memakaikannya.
"Kita berangkat duluan, ya, Mas. Jangan lupa sarapan dulu sebelum berangkat," pamit Rini sambil menyalakan mesin motor.
Arga mengangguk singkat. "Hati-hati di jalan, ya. Maaf udah ngerepotin," ucap Arga.
Rini tersenyum tulus. "Enggak kok. Cuma membiasakan diri aja," jawabnya sambil tertawa, tawa yang berhasil membuat Arga kembali terhipnotis.
Andini mengecup punggung tangan Arga lalu naik ke atas motor, duduk di depan Rini.
"Bu bidan juga salam dulu sama Ayah dong," pinta Andini dengan tatapan yang membuat orang dewasa tak berdaya.
Rini dan Arga saling pandang sesaat, sebelum keduanya saling mengulurkan tangan lalu menatap ke arah lain.
Cup!
Andini bertepuk tangan, merasa puas karena keinginannya dipenuhi.
Rini segera menarik tangannya dan memegang setir kemudi dengan tangan gemeter, gugup. Ia melajukan motornya tanpa menoleh lagi, hanya melihat dari kaca spion yang memperlihatkan sosok Arga berdiri menatap kepergian mereka.
---
Di tempat lain...
"Kita bawa gerobak, Mbak?" tanya Nadira saat melihat gerobak gorong kotor di hadapannya.
Sri mengangguk. "Iya. Biar muat banyak."
"Ayo, udah siang. Kita harus segera berangkat!"
Sri mulai mendorong gerobaknya dan Nadira hanya mengekori dengan sebagian wajah tertutup kain, merasa malu berjalan bersama perempuan itu.
"Kalo cuma cari rongsokan, bisa lama aku dapat uang. Nanti setelah di sana, aku akan pergi sendiri nyari kerja," batinnya.
Bersambung...